Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-230


__ADS_3

Luo Shan langsung berlari memeluk Qing Hu yang menyambutnya dengan kedua tangan terbuka.


Huo Bing melirik keduanya sesaat dengan malas sebelum melangkah pergi. Qing Hu adalah masalah berjalan, ia harus menjauh selagi sempat.


"Eh? Kau mau kemana? Aku kan baru datang, apa kau akan langsung pergi?"


"Aku justru pergi karena kau datang." ucap Huo Bing sambil berlalu.


"Astaga......jahat sekali.....padahal aku sengaja kemari untuk menemuimu.....hiks......"


Huo Bing berbali menatap Qing Hu seakan kepala gadis itu bermasalah. "Kau kemari untuk menemuiku? Kenapa?"


Mendengar pertanyaan Huo Bing, Qing Hu tersenyum malu-malu.


"Aku.......aku hanya ingin menemuimu saja......" ucapnya sambil berpose imut.


"Kurang kerjaan." Setelah mengatakan itu Huo Bing kembali berjalan. Ia melirik Xika sekilas. Heiliao masih bersama Xika. Sepertinya tak apa bila ia meninggalkan Xika sekarang. Lagipula harusnya tak ada yang bisa mengancam Xika saat ini.


Tapi sebelum ia sempat berjalan jauh, para penonton sudah menutup jalan keluarnya. Masing-masing menatapnya dengan kesal.


"Pria sinting! Nona Qing datang jauh-jauh hanya untuk menemuimu. Berani sekali kau menolaknya?!"


"Hah?! Memangnya kau siapa? Berani sekali kau menggangguku?!" Huo Bing balas berteriak dengan lebih kesal sambil mengeluarkan auranya.


Para penonton langsung mundur. Tapi mereka menolak membiarkan Huo Bing melangkah lebih jauh.


"Sialan! Apakah kau punya harga diri? Seorang wanita cantik datang hanya untuk menemuimu, tak bisakah kau menghargai usahanya? Dimana kebanggaanmu sebagai pria?"


BLAR!


Seketika itu juga aura Huo Bing meledak. Ia menatap pria yang barusan bicara.


"Kau mempertanyakan harga diriku?"


Bagi Xika, harga diri penting di saat-saat tertentu, sementara di saat-saat lain itu sama sekali tak penting. Sayangnya, bagi Huo Bing harga dirinya lebih penting dari nyawanya. Ia tak akan membiarkan siapapun meragukan harga dirinya. Seekor semut kecil berani mempertanyakan harga dirinya?


Sementara Huo Bing ditahan oleh para penonton, Luo Shan bercerita pada Qing Hu. Gadis itu berharap Qing Hu akan membantunya menegakkan keadilan. Qing Hu mendengarkan dengan baik sambil mengangguk sesekali.


"Tentu. Aku akan membantumu." Qing Hu mengangguk manis.


"Benarkah? Hu Jie memang yang terbaik!" Luo Shan kembali memeluk Qing Hu yang balas memeluknya sambil tersenyum.


Ketika Qing Hu mendekat, Huo Bing dan para penonton sudah bersiap bertarung. Masing-masing telah mengeluarkan aura mereka.

__ADS_1


"Tuan-tuan. Bisa tinggalkan kami sebentar? Aku memiliki hal yang harus dibicarakan." ucapnya sambil mengedipkan matanya.


Para penonton yang sebagian besar terdiri dari lelaki langsung menarik aura mereka. Beberapa langsung mundur memberikan ruang bagi Huo Bing dan Qing Hu bicara, sementara beberapa masih berusaha meninggalkan kesan pada Qing Hu dengan mengatakan mereka siap membantu kapanpun.


Melihat penonton yang menyingkir, Huo Bing berniat melangkah pergi, tapi Qing Hu menyadarinya dan menahannya.


"Halo? Sepertinya ada yang harus kita bicarakan. Tahukah kau bahwa perkataanmu telah menyakiti hatinya?" Qing Hu menunjuk Luo Shan.


"Rubah sinting, mulutnya telah menyakiti banyak hati. Biarkan ia merasakan apa yang dirasakan orang lain."


"Astaga! Teganya kau memanggilku begitu? Hiks.....hiks....."


Xika yang melihat perkembangan situasi ini mulai berniat untuk kabur. Sayangnya, burung sialan itu berniat menyeret Xika juga.


"Kau memang pantas dipanggil seperti itu, lagipula-BOCAH CACAT! MAU KE MANA KAU?"


Burung sialan, umpat Xika dalam hati. Ia berencana untuk kabur tapi tampaknya Huo Bing siap mengejarnya. Terlihat jelas burung itu tak akan membiarkannya pergi. Jadi dengan langkah gontai, Xika mendekat.


Sebelum Xika maupun Huo Bing bertukar umpatan, Qing Hu sudah berbicara.


"Aku benar-benar kecewa. Dimana harga diri kalian sebagai seorang lelaki ketika menghadapi seorang gadis yang lebih lemah? Apa kalian tak bisa memberinya belas kasihan? Dan lagi, mengalahkannya sekejam itu? Apa perlu melukainya sampai separah ini? Kau tidak melihat seluruh luka ini? Teganya kau melakukan itu?"


"Gadis sinting, aku punya segudang fakta untuk membantah ucapanmu. Tak perlu berbasa-basi. Aku tak percaya kau datang kemari hanya untuk melihatnya. Wajah seperti ini," Xika menunjuk wajah Huo Bing, "tak akan bisa membuat seorang gadis, yang buruk rupa sekalipun sampai terpikat. Apa tujuanmu datang?"


Qing Hu menatap Xika dengan tajam. Dalam hati Qing Hu mengumpat kesal.


Xika sedikit mengerutkan keningnya mendengar nama Wu Liao. Ia baru mau bertanya bagaimana Qing Hu bisa mengetahuinya ketika ia ingat bahwa keduanya berteman baik. Pasti Wu Liao yang menceritakannya sendiri pada Qing Hu. Para gadis suka berbagi kisah bukan?


"Kau bicara seolah aku memang berniat menyakiti hatinya."


"Bukannya memang begitu?"


"Wu Liao tersakiti karena kesalahannya sendiri. Kau tidak bisa menyalahkanku karena hal itu."


"Apa?! Kau sudah menyakiti Wu Liao dan kau tidak mau mengakuinya? Kau bahkan tidak mau disalahkan karenanya?"


Xika tak mempedulikan Qing Hu. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bicara mengenai Wu Liao, ia jadi teringat Xingli. Terakhir kali ia melihat gadis itu ketika sedang dipeluk Wu Liao. Sejak saat itu, Xika tak pernah melihatnya lagi. Ia sendiri juga tidak mencarinya. Ia masih bimbang dengan perasaannya sendiri.


Qing Hu menatap kesal Xika yang mengabaikannya. Ia menghela nafas kesal sebelum berbalik pada Huo Bing dan memberikan senyum manis.


"Lalu? Apa tujuanmu datang?"


"Kalau aku mengatakan aku membutuhkan bantuanmu, apa yang akan kau katakan?"

__ADS_1


"Aku akan mengatakan, minta saja bantuan pria lain. Aku tidak tertarik."


"Astaga~ Kenapa kau selalu terburu-buru? Dengarkan aku dulu. Aku tidak bilang meminta bantuanmu secara gratis."


"Memangnya apa yang bisa kau berikan padaku?"


Qing Hu melirik kiri dan kanannya sebelum mendekatkan mulutnya dan berbisik. Tentu saja hal itu membuat banyak penonton terbakar api cemburu.


"Flaming Dragonfruit? Blizzard Peach?"


Mata Huo Bing berkilat. Sekalipun sudah berlatih cukup rajin belakangan ini, masih ada jarak baginya untuk menembus tingkat berikutnya. Di sisi lain, sepertinya tak lama lagi bagi Heiliao untuk menerobos tingkat Mid-Jack. Ia tidak bisa kalah dari Serigala Gosong itu.


Namun, bila ia berhasil mengonsumsi kedua buah yang baru saja disebutkan Qing Hu, bukan tidak mungkin baginya untuk menerobos lebih dahulu dari Heiliao. Masing-masing adalah buah langka yang mengandung banyak elemen api dan es. Mungkin Flaming Dragonfruit tidak selangka itu, tapi Blizzard Peach memang langka.


Sangat sulit menemukan tanaman spiritual yang mengandung elemen es. Sejujurnya ia sendiri juga bertanya-tanya bagaimana elemen es bisa ada, padahal tidak termasuk dari unsur penyusun dunia. Ia hanya menebak-nebak bahwa beberapa elemen menyatu dan membentuk elemen baru.


Qing Hu mengangguk. "Benar. Bagaimana? Kalau kau bersedia membantuku, kau boleh memilih duluan."


"Aku harus memilih? Aku menginginkan keduanya."


Dilihat dari ekspresinya, jelas Qing Hu tidak menduga Huo Bing sangat serakah. Ia mengerutkan keningnya sambil memajukan bibir.


"Astaga. Kau sangat serakah. Tidak bisakah kau membagi salah satu padaku? Aku juga seorang kultivator, kalau kau lupa."


Huo Bing menyeringai. "Itu terserah padamu. Keduanya atau tidak sama sekali."


Sebenarnya bukan Huo Bing yang serakah. Tapi untuk membuat lompatan kualitatif seperti yang ia inginkan, ia harus mengonsumsi elemen api dan es secara bersamaan. Bagaimanapun juga, ia adalah Cygnix. Perpaduan dari Phoenix si burung api dengan Cygnus si angsa es. Lalu bagaimana dengan Xika? Ia tak tahu sama sekali tentang hal itu. Metode kultivasi Xika, Ultimate Card Method, sangatlah aneh. Lagipula dia memang tidak terlalu memahami metode kultivasi manusia.


"Bukankah itu berarti aku tak akan mendapat apapun? Apa kau berniat memintaku menjadi penunjuk jalan saja? Bahkan penunjuk jalanpun memiliki harganya masing-masing."


"Bodoh. Kalau benar seperti yang kau katakan, bahwa kedua tempat dengan suhu ekstrim itu terletak tidak jauh satu sama lain, maka pasti ada banyak tanaman langka yang lain yang tumbuh di sana. Aku hanya meminta keduanya, bukan memonopoli semuanya. Lagipula kau pikir aku tidak bisa memonopolinya kalau aku mau? Itu semudah membalikkan tangan bagiku."


Qing Hu berpikir baik-baik. Ia memejamkan matanya selama beberapa saat sambil mengerutkan kening. Kelihatannya ia sedang berpikir keras. Tapi Huo Bing ragu gadis itu bisa berpikir.


"Kalau ada tanaman lain yang cukup langka juga, maka kau bisa memiliki kedua buah itu. Tapi kalau seandainya tidak ada, maka kedua buah itu kita bagi masing-masing."


Huo Bing tersenyum tipis. Rupanya gadis ini tidak percaya padanya. Yah, wajar sih. Ia juga tidak terlalu percaya pada gadis itu.


"Yah, itupun kalau apa yang kau katakan memang benar."


"Apa? Kau tidak percaya padaku?"


"Kau juga tidak kan?"

__ADS_1


Perlahan, sambil berdebat keduanya melangkah menuju buah spiritual nan langka.


Sementara itu, Luo Shan, yang sudah dilupakan oleh Qing Hu, menatap Xika dengan kesal. Qing Hu sudah pergi dan ia tidak melakukan apa-apa pada Xika. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah memprovokasi para penonton untuk menantang Xika berharap ada yang bisa mengalahkannya.


__ADS_2