
Tak butuh waktu lama bagi Xika untuk tidur. Ia makan secukupnya sebelum terlelap. Pandangan yang dilihatnya hari ini cukup untuk menjadi pengantar tidurnya. Ia tidur dengan harapan sama seperti sebelumnya. Harapan bahwa semua yang ia alami selama ini hanyalah mimpi, dan ketika ia bangun orangtuanya akan menyambutnya. Dan ia tahu itu tak akan terjadi.
Xika bangun setelah Heiliao menggoyangkan tubuhnya beberapa kali. Sekalipun tak butuh waktu lama untuknya tidur, ia tidak terlalu menikmati tidurnya. Tapi melihat dua saudaranya bersama dengannya membuat Xika lebih tenang.
Mereka makan daging rusa sisa kemarin malam untuk sarapan. Kemudian Xika berjalan menuju desa. Tapi kali ini Heiliao dan Huo Bing ikut bersamanya. Tentunya, kedatangan mereka tak hanya disambut dengan tatapan mengerikan yang biasa diterima Xika. Kali ini bahkan lebih parah.
Mereka disambut dengan lemparan batu ketika berjarak beberapa puluh meter dari desa. Ketika jarak mencapai belasan meter, batu berubah menjadi pisau. Mereka semakin mendekat hingga tinggal beberapa meter dan serombongan pria bersenjatakan pedang dan tombak menyambut mereka dengan ayunan senjata.
Xika menahan kaki mereka dengan tanah kemudian memberatkan tubuh mereka dengan angin lalu menendang semua penyerangnya sampai pingsan. Setelah melakukan itu, tak ada lagi yang berani menyerang dirinya maupun Heiliao dan Huo Bing.
Mereka melewati banyak penduduk yang memberikan pandangan takut terutama pada Heiliao. Yah itu wajar mengingat Xika datang cukup pagi jadi belum ada warga yang pergi untuk bekerja. Lagipula Kepala Desa tak mengatakan sepagi apa ia harus datang.
Akhirnya mereka sampai di depan tugu batu yang Xika ceritakan. Zheng Wei terlihat sudah menunggu sejak lama. Ia meminta Xika untuk menunggu sebentar kemudian pergi untuk memanggil Kepala Desa. Pria itu datang bersama dengan Kepala Desa setelah hampir seluruh penduduk desa itu berkumpul di sekeliling tugu batu itu.
Kepala Desa sedang mendengarkan cerita Tang Chu ketika Zheng Wei datang dan mengatakan Xika telah tiba. Kedatangan yang tepat waktu karena Tang Chu baru saja menyelesaikan ceritanya.
Seluruh pasang mata bergantian memandangi Xika, Heiliao, dan Kepala Desa. Tapi tak ada yang menyembunyikan senjata mereka. Xika bertiga bagaikan sekelompok mangsa yang terkepung. Hanya saja mereka dikepung bukan dengan tatapan haus darah, tapi ketakutan yang penuh dengan teror. Teror yang cukup untuk membunuh mereka.
Zheng Wei cukup terkejut melihat seluruh desa sudah hadir hanya dalam jeda beberapa menit saat ia memanggil Kepala Desa. Demikian juga dengan Kepala Desa. Pria tua itu tadinya hendak bicara secara pribadi dengan Xika dan dua teman lainnya sebelum bicara di depan desa. Tapi melihat situasi sekarang, sepertinya sudah terlambat.
Ada jeda cukup lama yang terjadi sebelum seseorang memecahkannya. Dan orang itu bukanlah Kepala Desa.
"Tunggu apa lagi? Dia sudah terkepung! Ini saatnya kita membunuh dia!"
"Benar! Bunuh dia!"
"TENANG!"
Satu kalimat dari Kepala Desa langsung menghentikan semua penduduk yang bersorak-sorai untuk membunuh Xika bertiga.
"Wargaku sekalian! Aku percaya, hari ini kita tidak berkumpul untuk membunuh. Sebelum bicara lebih lanjut, aku ingin memperkenenalkan seseorang pada kalian. Seseorang yang berkaitan dengan penyelamat kita bertahun-tahun silam. Xing Taiyang."
Xika merasa ia harus maju, jadi ia melangkahkan kakinya dan berdiri di samping Kepala Desa.
"Anak ini adalah putra dari Xing Taiyang, Xing Xika!"
Hening.
Tak ada sorak sorai atau tepukan tangan. Mungkin, kalau Kepala Desa memperkenalkan Xika kemarin, akan ada sorak sorai dan tepukan tangan. Tapi saat ini tidak. Tidak setelah Xika bersama dengan serigala buas liar dan mengaku bahwa ia berteman dengan serigala itu.
__ADS_1
"Kepala Desa, langsung saja. Anda melarang kami untuk membunuhnya. Apa alasan anda melakukan itu?"
Pertanyaan itu langsung menuai sorak sorai dari penduduk desa lainnya.
Kepala Desa mengerutkan kening. Tidakkah pertanyaannya barusan cukup untuk menjadi alasan untuk tidak membunuh Xika? Ia terdiam beberapa saat tak tahu harus mengatakan apa.
"Xing Taiyang menyelamatkan kita. Dan yang kita berikan padanya adalah membunuh keturunannya?"
"Kepala Desa, tak ada jaminan bahwa ia anak Xing Taiyang. Kami pasti akan menghormati anak Xing Taiyang sebagaimana dirinya. Tapi apakah anda bisa membuktikan anak itu benar-benar anak Xing Taiyang?"
Sorakan persetujuan kembali terdengar.
"Aku percaya kemarin kita semua telah mendengar gelak tawa kebanggaan yang berasal dari seseorang yang sangat kita rindukan. Apa kalian semua masih ingat batu ini? Batu yang ditinggalkan Taiyang?" tanya Kepala Desa sambil menunjuk tugu batu. Tapi ia tak menyentuhnya.
Tak ada yang menjawab. Kepala Desa kembali melanjutkan.
"Tentunya kita semua masih ingat perkataan Taiyang mengenai batu ini. 'Jangan menyentuhnya atau kau akan mati. Hanya aku, dan mereka yang memiliki darahku yang boleh menyentuh batu itu.' Sekarang, apa semua sudah jelas?
Anak ini telah menyentuh batu itu. Separuh warga disini dapat menjadi saksinya. Dan kalian dapat melihatnya sendiri anak ini sehat tak ada luka sedikitpun. Sentuhannya pada batu itu yang membuat kita dapat mendengar kembali suara tawa yang sangat kita rindukan. Apakah itu sudah cukup menjadi alasan untuk tidak membunuhnya?"
Semua warga desa terdiam seribu bahasa. Tentu saja mereka masih ingat pesan Taiyang tentang batu itu. Banyak yang mulai percaya dengan Xika karena hal itu tapi masih banyak juga yang ragu.
Sebelum terdengar sorakan persetujuan lagi, Xika membuka suara.
"Sebelumnya kalian bilang akan menghormati diriku sebagaimana ayahku kalau aku memang benar putra Xing Taiyang. Sekarang kalian bilang tak akan ragu untuk membunuhku sekalipun aku putra Xing Taiyang? Lucu sekali."
Ucapan Xika itu berhasil membuat wajah beberapa warga desa memerah, tapi lebih banyak yang marah mengutuknya dan bersiap untuk menyerangnya.
"Diamlah, bocah!"
"Benar! Kau tak tahu apa yang terjadi pada kami! Mengapa kami bersikap begini sampai saat ini! Kau tak punya hak untuk menghina kami!"
"Kau benar. Aku memang tak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi itu tak berarti kalian dapat membunuhku seenaknya. Lagipula, bagaimana aku bisa tahu kalau tak ada seorangpun yang memberitahuku?"
Xika berdiri dengan dagu terangkat menandakan bahwa ia tak lebih lemah dari para penduduk desa. Ia sudah menerima cukup tatapan dan perlakuan seperti binatang. Kalau mereka tak mau berhenti atau setidaknya menceritakan alasan mereka bersikap seperti itu, maka ia tak akan segan pada mereka. Terutama setelah mereka hendak membunuhnya.
"Katakan alasanmu bersama dengan serigala itu baru kami ceritakan alasan kam."
Xika mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Dia saudaraku. Kalian dapat menebak sisanya sendiri."
Para penduduk merasakan ketakutan yang lebih dalam dibanding tadi malam ketika mendengar ucapan Xika. Mereka semua mengangkat senjata mereka. Tak ada lagi pembicaraan. Bahkan Kepala Desa sekalipun tak mampu menghentikan mereka.
"Heh." Xika tersenyum kecil. Ia membesarkan sayapnya kemudian mengepakannya.
"Kalian dapat mencegahku tinggal di desa kalian, tapi kalian tak dapat mengusirku!"
Banyak tombak maupun pisau diarahkan menuju Xika, tapi tak ada yang berhasil mencapai dirinya. Setelah mengepakkan sayapnya cukup kuat beberapa kali hingga membuat para warga terseret mundur, Xika pergi keluar desa. Heiliao memperlihatkan taringnya dan setengah warga menyingkir, setengah lainnya terhempas oleh sayap Huo Bing.
Tadinya Xika hendak berdiam di tempat sebelumnya, tapi sepertinya terlalu terlihat oleh para warga jadi ia memutuskan untuk pindah ke bawah pohon yang masih tidak jauh dari ladang bunga Hydrangea. Ia tak mau menjauh dari ladang bunga itu.
"Maaf karena harus mengalami hal itu."
"Tenang saja."
"Tapi apa kau yakin tak mau meninggalkan tempat ini? Kau sudah mendapatkan kartu yang menunjukkan orangtuamu masih hidup. Kau telah berkunjung ke tempat yang pernah mereka kunjungi. Apalagi yang membuatmu tidak bisa meninggalkan tempat ini?"
"Tidak. Tidak bisa. Belum saatnya. Sekalipun mereka menolakku aku harus tetap tinggal."
"Yah, kau yang memimpin. Aku ikut ikut saja."
Heiliao mengangguk setuju.
"Baiklah, mari kita ganti topik. Bisa kau jelaskan lebih rinci kenapa kau bisa dikepung para warga itu? Kemarin malam aku agak mengantuk."
"Mataku menangkap seekor rusa. Aku mengejarnya. Sayangnya aku lupa menahan suaraku. Mungkin ada warga yang mendengarnya. Saat aku berhasil menangkap rusa itu, beberapa warga telah melihatku."
"Kenapa kau tidak berpindah ruang saja?"
"Itu pasti akan membuat mereka semakin takut. Aku takut itu akan menggangu perjalanan Xika di desa. Jadi yang kulakukan hanyalah menggeram untuk menakut-nakuti mereka. Namun warga-warga lain datang dan terus datang. Aku tak yakin bisa meloloskan diri tanpa membunuh beberapa dari mereka. Jadi kuputuskan untuk memanggilmu."
Xika mengangguk-ngangguk.
"Yah, nasi telah menjadi bubur. Itu semua telah terjadi, tak ada gunanya menyesali hal itu. Aku mau berlatih lagi. Masih ada jarak antara diriku dengan si bajingan sialan itu."
Setelah itu Xika menekuk lututnya dan menyerap qi. Sisa waktunya ia habiskan untuk berkultivasi. Ia hanya berhenti untuk makan malam, kemudian kembali berkultivasi.
Sementara itu, tinggal beberapa hari lagi sampai tahun ajaran baru akademi Mu Zhan dibuka. Shu Mang telah pergi dan menyewa hotel di ibukota dekat akademi.
__ADS_1