Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-137


__ADS_3

Lang Yan tidak menunda. Di tengah sorak-sorai bahagia para serigala yang tidak perlu mempertaruhkan nyawa, ia langsung pergi mencari pemimpin dari Snow Howl Wolf. Ia berlari selama tiga menit sebelum sampai ke gunung bersalju. Ia masuk ke bagian dalam gunung itu dan menemukan Lang Xuehao sedang membahas sesuatu dengan klannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Tapi ini situasi mendesak. Bisa kau ikut denganku?"


Xuehao memberikan beberapa patah kata lagi pada rekan-rekannya sebelum pergi bersama Lang Yan. Pemimpin serigala putih itu tahu ada yang tidak beres dari muka Lang Yan, jadi ia tidak mendunda lebih lama lagi. Mereka berdua berlari menuju lapangan dimana hampir seluruh kegiatan dilakukan.


"Apa yang terjadi? Apa Heihei, ekhem, maksudku Pemimpin Hei baik-baik saja?"


"Ya. Tapi ada masalah lain. Dan ia memintaku memanggilmu."


"Masalah apa?"


"Aku tak tahu. Ia tak mengatakannya. Ia hanya memintaku memanggilmu."


Kemudian mereka tidak bicara lagi. Satu menit berlalu dan mereka sampai di lapangan. Banyak serigala sedang mempersiapkan pesta. Di tepi lapangan, berdiri Lang Heiliao bersama seorang pemuda yang telah 'mencicipi' mulut mereka. Mereka berjalan mendekat, tak lagi berlari agar tak menarik perhatian.


"Aku sudah memanggilnya. Ada apa?"


"Ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Ikuti aku."


Lang Yan sangat ingin menggigit ekor Heiliao. Serigala hitam itu membuatnya berlari secepat mungkin, dan sekarang memintanya berjalan lagi? Sejujurnya, ekornya yang bergerak-gerak itu seolah menantangnya untuk menggigit.


Tapi kalau ia melakukan itu tidak diragukan lagi Heiliao akan marah dan bertarung dengannya. Yah, itu memang sudah lama sejak terakhir kali mereka bertarung. Jadi ia memutuskan untuk menggigit ekor Heiliao.


Hap!


Syung!


Heiliao memutar tubuhnya hingga Lang Yan terhempas dan melepaskan ekornya. Tapi Lang Yan tersenyum puas meskipun ia terjatuh.


"Tua bangka sialan! Apa yang kau lakukan?!"


"Tidak ada. Hanya melepaskan dendam lama." jawab Lang Yan masih dengan senyum puas di wajahnya.


"Kita akan selesaikan ini nanti malam. Tempat biasa. Sekarang ikuti aku."


Kali ini Lang Yan berjalan dengan damai. Ia memasang senyum puas di wajahnya sepanjang perjalanan. Mereka berhenti di hutan dekat celah itu berada.


"Jadi? Apa yang mau kau bicarakan?"


Huo Bing muncul. Heiliao menatapnya kemduian menatap Xika. Kemudian mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tunggu dulu. Jadi ucapanmu mengenai mahkluk itu yang sedang tidur itu bohong?"


"Ya."


"Lalu siapa yang membunuh Tangan Ungu?"


"Aku yakin mahkluk itu pelakunya. Hanya saja ia tidak tertidur. Membunuh Tangan Ungu sama seperti membunuh semut baginya."


Lang Yan merasakan setiap bulunya berdiri merinding. Ia memang percaya diri bisa mengalahkan Tangan Ungu, tapi tidak berani mengatakan bisa membunuhnya semudah membunuh semut. Xuehao juga mengalami hal yang sama. Ia bahkan memberikan tatapan tidak percaya.


"Aku tidak berbohong. Untuk apa aku berbohong? Mereka berdua bisa menjadi saksi."

__ADS_1


"Kalau begitu, kenapa kalian bisa keluar hidup-hidup? Mengapa mahkluk sekuat itu membiarkan kalian pergi?"


Huo Bing, Xika, dan Heiliao menatap Lang Yan dengan kesal.


"Apa kau tidak mendengarkan ceritaku? Atau di bagian permainan kartu?"


"Ahhh......ya, ya, ya........jadi mahkluk itu membiarkan kalian pergi karena bocah ini memenangkan permainan? Heh, kalau itu aku, tidak perlu tiga kali permainan. Aku akan mengalahkannya dalam satu permainan."


Huo Bing dan Heiliao saling berpandangan. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak seolah Lang Yan adalah badut yang sedang melucu. Sementara Xika hanya tersenyum canggung. Lang Yan mengerutkan keningnya melihat reaksi Huo Bing dan Heiliao.


"Apa? Kau tidak percaya?"


Setelah menenangkan tawanya, Heiliao bicara.


"Kau akan tahu sendiri. Kita bicarakan ini nanti. Kembali ke topik."


Lang Yan kelihatannya masih tidak senang, tapi ia juga tidak membahas masalah ini lebih jauh.


"Jadi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Apa kita tidak perlu kembali ke tambang itu lagi?"


"Tidak. Kita akan tetap kembali. Batu-batu spasial itu terlalu berharga untuk dibiarkan begitu saja."


"Tapi itu sangat berisiko dengan adanya mahkluk sekuat itu."


"Begini saja. Bagaimana kalau kita memeriksa tempat itu dulu? Baru kita putuskan akan mengambil batunya atau tidak. Lagipula, Lao Hei sudah terlanjur bicara bahwa tambang itu milik kita. Akan aneh kalau kita tidak mengambil batu dari tambang itu."


"Aku tidak menyangka pemikiran seperti itu akan keluar darimu, Lao Yan."


"Sejujurnya, aku juga."


Jadi mereka memutuskan untuk memasuki celah itu lagi. Dan mereka melakukannya sekarang, karena tidak mau menunda-nunda lagi. Heiliao yang pertama masuk. Kemudian Lang Yan, setelah itu baru Xuehao. Xika dan Huo Bing berada di punggung Heiliao seperti pertama kali mereka masuk.


WHUSH!


Tap!


Lang Yan sudah berlatih berpindah ruang beberapa kali, jadi ia tidak terlalu terganggu ketika memasuki celah. Serigala tua itu memandang sekitarnya dengan penasaran. Tapi tidak dengan Xuehao. Serigala putih itu belum pernah berpindah ruang, jadi ia merasakan sensasi aneh ketika berpindah ruang. Ia membutuhkan beberapa menit untuk menyesuaikan diri.


Heiliao membiarkan Lang Yan dan Lang Xuehao terkagum-kagum selama beberapa menit sebelum memimpin mereka menuju tulang Tangan Ungu terletak. Xika tetap di punggung Heiliao, begitu juga dengan Huo Bing. Sepanjang jalan, Lang Yan dan Xuehao tidak berhenti terkagum, terutama dengan banyaknya batu spasial yang ada di tempat ini.


Sambil berjalan, ketiga serigala itu mengobrol. Huo Bing juga ikut menimpali sesekali. Tapi Xika hanya diam sepanjang perjalanan. Sayangnya, tak ada yang menyadari hal itu. Mereka semua sibuk dengan tempat ini. Xika berusaha berkomunikasi dengan kesadaran yang ditakuti Heiliao itu.


"Emm......haloo.......?"


Tidak ada jawaban.


"Aku membawa teman kali ini. Kuharap kau tidak keberatan."


"Itu bukan urusanku."


Xika sedikit tersentak ketika sebuah suara muncul di kepalanya. Tapi tak ada yang memperhatikan dirinya. Suara itu terdengar cukup tua jadi ia merubah bahasanya.


"Kalau boleh tahu, siapa anda?"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu."


Xika terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Kesadaran itu kelihatannya tidak mau bicara dengannya.


"Eeh......apa saya melakukan suatu kesalahan?"


"Tidak. Dan aku tidak peduli kalaupun iya."


Xika jadi teringat pertemuan pertamanya dengan Heiliao dan Xingli. Kedua mahkluk itu sama dinginnya dengan suara ini. Kenapa ia sering sekali menemui mahkluk seperti ini? Xika mengurungkan niatnya untuk bicara lebih jauh. Kelihatanya suara itu kurang menyukai kehadirannya, jadi ia tak akan mengganggunya lebih jauh.


Tapi tepat di saat ia berpikir seperti itu, suara dalam kepalanya kembali bicara.


"Bagaimana kau mendapatkan kartu itu?"


"Maaf, saya tidak tahu kartu apa yang anda bicarakan."


"Kartu yang kau taruh di tugu batu sebelumnya."


"Maaf, pertanyaan itu sepertinya agak privasi. Bolehkan saya menolak untuk menjawabnya?"


Tidak terdengar jawaban lagi. Tapi Xika merasa suara itu kurang suka dengan jawabannya.


"Kenapa anda ingin mengetahuinya?"


"Karena itu penting."


Xika terdiam sebentar. Ia berusaha mencari tahu kenapa suara itu tertarik bagaimana cara ia memperoleh kartu ayahnya. Tapi ia tidak menemukan apa alasannya. Ia sudah diam cukup lama dan suara itu juga tidak bicara lagi, jadi Xika menduga mahkluk itu marah.


"Apakah anda akan menyerang saya?"


"Kenapa aku harus menyerangmu?"


Xika kembali diam dengan alasan yang sama. Bingung. Yah, ternyata mahkluk itu tidak marah padanya. Mungkin. Selain itu, ia tidak memiliki alasan lain. Kemudian ia kembali bertanya. Pertanyaan yang tengah dibincangkan Xuehao saat ini.


"Apa anda keberatan kalau kami mengambil batu-batu spasial ini?"


"Kenapa aku harus keberatan?"


"............"


Entah kenapa Xika jadi merasa kasihan dengan suara itu. Jawabannya memang membuat orang berpikir ia adalah mahkluk yang sombong, tapi setelah berbincang beberapa kali, Xika tak lagi berpikir begitu. Xika malah berpikir mahkluk itu cukup menyedihkan, karena dari caranya berbicara, ia seolah tidak memiliki hal untuk mengkehendaki apapun juga.


"Ayahku yang memberikan kartu itu padaku."


Suara itu terdiam cukup lama. Xika pikir suara itu tidak berniat bicara lagi setelah tahu darimana ia mendapatkan kartu itu. Tapi akhirnya suara itu kembali bicara.


"Ayahmu............siapa namanya?"


Xika semakin bingung. Kenapa suara itu penasaran dengan ayahnya? Ia agak ragu untuk memberitahukannya. Bisa saja mahkluk itu memiliki hubungan buruk dengan ayahnya, dan menyerang dirinya setelah tahu ia siapa. Tapi entah kenapa ia merasa harus memberitahu nama ayahnya pada suara itu. Jadi setelah ragu beberapa saat, Xika memberitahukan nama ayahnya.


"Xing Taiyang."


"....................."

__ADS_1


Suara itu kembali terdiam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Tapi samar-samar Xika merasa bahwa suara itu cukup senang setelah mendengar nama ayahnya.


__ADS_2