
Xika terdiam melihat punggung Xuehao yang pergi dengan air mata berlinang. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Akan sangat tidak sopan bila ia membiarkannya lari begitu saja. Tapi juga akan menjadi canggung kalau ia mengejarnya. Xika tahu serigala putih itu membutuhkan banyak keberanian untuk membicarakan hal itu.
Setelah berpikir sebentar, Xika memutuskan untuk tidak mengejarnya.
Ruang terbelah dan seekor serigala hitam keluar darinya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap Xika yang menatapnya balik.
Xika tidak tahu harus mengatakan apa. Apakah Heiliao mendengar pembicaraan mereka tadi?
"Aku datang untuk bergabung." kata serigala itu. "Tapi sepertinya pestanya sudah selesai." Ia memandang sekelilingnya dan tidak ada serigala lain kecuali dirinya sendiri.
Tapi ada yang aneh. Daging yang tersisa masih sangat banyak sementara tidak ada serigala seekorpun. Ia menatap Xika.
"Eh, anu.......tadi senior Xuehao datang dan sepertinya serigala yang lain langsung melarikan diri."
Heiliao tidak bicara. Ia mendekati salah satu tumpukan daging dan memakannya. Xika juga ikut melakukannya. Mereka makan ditemani suasana yang hening. Tak ada yang bicara sama sekali.
"HOI! Kupikir kalian kemana. Aku bertanya pada semua serigala tahu!"
Huo Bing muncul dengan membawa beberapa kilo daging dan membuat serigala-serigala yang lemah ketakutan karena melihat beberapa kilo daging melayang sendiri. Sebenarnya ia bertanya pada semua serigala hanyalah alasan agar ia bisa mengambil daging lebih banyak. Ia bisa merasakan keberadaan Xika karena mereka masih satu tubuh.
Xika dan Heiliao tidak terganggu dengan Huo Bing. Mereka sudah biasa dengan mulutnya yang terus berceloteh tanpa henti. Kali ini ia berceloteh tentang berbagai daging yang tersedia.
Kemudian Huo Bing menyadari suasana yang ada dan iapun berhenti. Ia mulai makan dengan diam dan berusaha menebak apa yang terjadi.
Sebuah pertanyaan melintas di benak Xika untuk beberapa waktu. Ia ragu untuk bertanya. Di satu sisi ia tidak enak mengungkit masalah tentang kekasih Heiliao, apalagi dalam situasi seperti ini, tapi di sisi lain ia juga penasaran. Akhirnya setelah begumul berat, rasa penasarannya menang.
"Eh, Heiliao. Sebelumnya kau bilang, kekasih, eh wanita yang kau cintai bukan serigala? Lalu.......dia itu apa?"
".........."
Seperti biasa, Heiliao tidak langsung menjawabnya. Ia diam untuk beberapa waktu sebelum membuka mulutnya.
"Aku tidak yakin. Tapi sepertinya ia adalah.........bintang."
Ucapan Heiliao itu sukses membuat Xika dan Huo Bing berhenti memasukkan makanan ke dalam mulut mereka. Mereka menatap serigala itu dengan mata lebar.
"Eh, jangan tersinggung, tapi apa.......bintang itu hidup?"
Huo Bing mengangguk setuju. Kemudian ia teringat ucapan Heiliao yang mengatakan Xika adalah kartu bintang dan menatap anak itu dengan curiga.
"........aku tidak tahu."
Jawaban itu membuat Xika dan Huo Bing semakin bingung. Huo Bing terutama. Burung itu menatap Heiliao dengan bingung.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku memang tidak tahu mahkluk apa dia. Tapi kalian juga melihatnya bukan? Saat kita pertama kali bertemu, aku memperlihatkan sebagian memoriku."
Xika mengangguk. Ia teringat melihat bintang yang semakin lama semakin membesar. Bintang itu terlihat seakan hendak menabrak dirinya. Kemudian ia menutup mata dan bintang itu menghilang digantikan wanita yang cantik yang bersinar. Kecantikannya setara dengan Xingli.
Kalau dari memori yang dilihatnya, memang masuk akal mengatakan bahwa wanita yang dicintai Heiliao adalah bintang. Tapi mendengarnya seperti itu terasa aneh. Xika hendak bertanya kenapa hubungan mereka tidak berjalan baik tapi ia langsung mengurungkannya.
Tampaknya Heiliao telah merangkum memorinya sebelum membiarkan Xika melihatnya, jadi ia melihat keseluruhan cerita secara garis besar. Ia menebak bahwa penyebab hubungan mereka seperti itu adalah hilang dan munculnya wanita itu. Gambar yang ia lihat menampilkan Heiliao yang kadang bersama dengan wanita itu dan kadang ia sendiri. Apa muncul dan hilangnya wanita itu terkait dengan fakta bahwa ia adalah bintang?
"Eh, Heiliao. Sebelumnya kau menyebutkan tentang kartu bintang, bukan? Bagaimana kalau kau salah orang? Bagaimana kalau kau mengulang hidupmu untuk manusia yang salah? Bagaimana kalau orang yang kau tunggu bukan aku dan orang lain di luar sana?"
"Aku tidak salah."
Xika terdiam bingung.
"Ehhh....darimana kau tahu?"
"Entahlah. Aku hanya...........tahu."
Jawaban itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan Xika. Ia memikirkannya selama beberapa saat tapi masih tidak mengerti. Jadi ia mencoba mencari topik lain.
"Kartu bintang itu apa?"
"Tidak tahu."
".........."
__ADS_1
Kali ini Huo Bing yang berbicara.
"Kalau kau memang benar, kenapa Xika disebut kartu bintang?"
"Entahlah."
"........."
"Apa karena namaku? Xing Xi(星系 bintang) dan Ka(卡 kartu) jadi aku adalah kartu bintang? Bagaimana denganmu Huo Bing?"
"Hm? Tunggu dulu. Namaku berarti api dan es. Kalau begitu berarti aku adalah......."
"Burung setengah matang!" seru Xika dengan semangat.
"Sialan!"
"Eh, tunggu dulu. Namaku bukan berarti kartu bintang. Xing Xi(星系) dalam namaku diambil dari Heng Xing Xi(恒星系) yang berarti galaksi. Jadi arti namaku adalah kartu galaksi, bukan kartu bintang."
Kemudian ketiganya terdiam. Huo Bing dan Xika melirik Heiliao secara bersamaan untuk melihat bagaimana reaksi serigala itu. Yang dilihat hanya diam mendengus.
"Xing(星) dalam namamu juga bisa berarti bintang. Tapi jangan pikirkan itu dulu untuk saat ini. Setidaknya, kita tahu satu hal yang pasti."
Heilao bicara dengan wajah serius dan membuat keduanya penasaran. Mereka mendekatkan wajah dan bertanya.
"Apa itu?"
"Huo Bing."
"Ya?" jawab Huo Bing bingung karena panggilan Heiliao.
"Kau........"
Serigala hitam itu diam sejenak untuk melihat reaksi keduanya dan hal itu membuat mereka semakin penasaran.
"Adalah Burung Setengah Matang! Pftttttt........Puahahahahahaha............kau lihat ekspresinya? Kau lihat ekspresinya?"
Wajah Heiliao yang sebelumnya serius langsung berubah ketika ia tertawa. Demikian juga dengan dua mahkluk yang lainnya. Yang satu ikut tertawa, sementara yang lain menatap dengan bingung sekaligus kesal.
"Pfttttt.......Heiliao, dia-dia-ekspresinya itu.......pfttttttt......."
Heiliao sudah tidak bisa menjawab Xika karena ia sibuk tertawa. Kemudian Xika juga menyusul. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal selama beberapa saat dan membuat sosok burung setengah matang itu semakin kesal.
"Diam kalian! Bocah Cacat! Kau juga, Serigala Gosong!"
Kemudian Xika menjawab ucapan Huo Bing itu dan keduanya berdebat selama beberapa saat dengan Heiliao menyaksikan dari samping. Sesekali ia akan menimpali atau memanas-manasi salah satu dari mereka dan perdebatan merekapun semakin hebat. Serigala hitam itu tersenyum. Ia bersyukur telah membuat keputusan yang benar. Ia bersyukur mengulang hidupnya dan bisa bersama dengan kedua saudaranya sekarang. Seperti ini saja sudah cukup. Ia tidak perlu yang lain.
Di hatinya memang masih ada tempat yang kosong. Tapi ia sudah lelah mencari pengisinya. Biarkan saja seperti itu. Kalau langit mengijinkan, maka suatu saat tempat itu akan kembali terisi. Tapi kalaupun tidak, ia tidak peduli. Ia sudah cukup memiliki saudara seperti ini. Ia tidak akan meminta yang lain. Ia berharap dapat menikmati masa-masa seperti ini selamanya. Tapi sayangnya tugas-tugas menumpuk dan ia harus menyelesaikannya dulu.
"Ah, benar Heiliao! Bagaimana kau berencana menyelesaikan pekerjaanmu sebelumnya?"
"Entahlah. Tapi aku pasti akan menyelesaikannya tepat waktu."
Xika mengangguk.
"Tapi tiga tahun itu cukup lama kan? Apa yang harus kulakukan selama itu?"
"Tenanglah. Kau akan melaluinya dengan cepat. Tapi tidak untukmu Serigala Gosong. Kau pasti akan melaluinya dengan lambat. Sangat-sangat lambat."
"Diamlah, Burung Setengah Matang. Sebaiknya kau buat dirimu matang dalam tiga tahun ini."
"Sialan! Kenapa kalian semua memanggilku seperti itu?"
"Karena kau memang setengah matang."
"Setuju."
"Sialan!!!"
Kemudian mereka tertawa bersama dan menghabiskan hari dengan makan dan minum bersama. Serigala juga menyediakan minum, meskipun berupa kolam. Tapi kolamnya ada beberapa dan masing-masing memiliki rasa yang berbeda. Xika hanya bisa pasrah minum dengan cara serigala. Ia sudah menjadi bagian dari keluaga serigala. Ia juga harus minum dan makan seperti mereka.
__ADS_1
Kemudian ketiganya baru tertidur saat tengah malam. Dua sosok mengawasi mereka. Sosok putih dengan tatapan sedih, dan sosok lainnya yang berbulu baja dengan tatapan rumit. Dan malampun berlalu.
Xika bangun dengan sesak nafas. Sesuatu yang berbulu menutupi hidungnya dan membuatnya tidak bisa bernafas. Ia menggeser ekor Heiliao dan kembali bernafas. Ia membuka matanya dan langit masih gelap. Sepertinya ia bangun terlalu pagi. Sekarang pasti masih malam. Ia menutup matanya dan kembali tidur.
Tapi sebuah pikiran terlintas dan mencegahnya tidur. Ia berpesta dengan Huo Bing dan Heiliao sampai tengah malam. Mengingat kebiasaan tidurnya yang selalu mendapat protes dari Huo Bing, normalnya ia akan bangun saat hari sudah terang. Kenapa langit masih gelap?
Kemudian samar-samar ia mendengar bisikan-bisikan. Hal itu membuat dirinya semakin bingung dan curiga. Dan ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Butuh waktu beberapa detik agar penglihatannya bekerja dengan baik. Ia terkejut ketika yang dilihatnya bukanlah langit melainkan kepala-kepala serigala yang berada tepat di atasnya.
"AHHHHHHH!!!!!!"
Teriakan Xika itu sukses membuat para serigala yang mengelilinginya mundur sekaligus membangunkan Heiliao dan Huo Bing. Huo Bing tidak terlalu penting sih, soalnya ia masuk ke dantian Xika begitu tertidur. Ternyata yang dilihat Xika sebelumnya bukanlah langit melainkan kepala-kepala serigala.
"Yah, dia bangun."
"Kau bicaranya terlalu keras, sih."
"Sudah kubilang seharusnya kita bicara lebih pelan."
Xika langsung bangun terduduk dan melihat puluhan pasang mata serigala menatapnya.
"A-apa yang kalian lakukan?"
Mereka tidak menjawabnya. Mereka hanya bergumam satu sama lain dan kemudian pergi dengan kecewa sampai hanya tinggal beberapa serigala yang tersisa.
Xika menoleh. Ia menatap Heiliao yang baru bangun. Serigala itu tampak tidak peduli dengan serigala-serigala lain yang mengelilinginya tadi. Kemudian Xika mendengar sebuah pekikan.
"KYAAAAAA!!!!"
Pekikan itu berasal dari seekor serigala betina. Belum sempat Xika bertanya, serigala itu telah bicara.
"Pemimpin Heiliao sangat tampan."
Setelah mengatakan itu ia langsung lari ditemani beberapa teman serigala betinanya yang sama-sama terpesona dengan Heiliao dan kini hanya ada mereka bertiga. Xika kembali melirik serigala itu dan menemukan bulunya sangat kusut. Sepertinya para serigala suka juga penampilan yang berantakan. Kalau diibaratkan manusia, mungkin Heiliao seperti pria brewokan yang baru bangun tidur.
Heiliao menatap Xika dengan bingung.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kenapa kau tidak terlihat terganggu dengan serigala-serigala tadi?"
"Mungkin karena sudah terbiasa."
Xika mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu dengan sudah terbiasa?"
"Yah, setiap kali aku bangun aku selalu menemukan mereka."
"Sebentar. Jadi maksudmu mereka selalu melakukan itu ketika kau tidur?" tanya Xika sambil menjulurkan telapak tangannya meminta Heiliao menunggu beberapa saat.
"Sepertinya iya." jawab serigala itu peduli.
Xika menatap saudaranya itu dengan pandangan tidak percaya.
'Mo-monster.......'
Ia tidak akan bisa tidur kalau tahu ada puluhan kepala yang akan memperhatikannya ketika ia bangun. Heiliao mengalami hal seperti itu setiap hari? Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Heilao meregangkan tubuhnya beberapa saat kemudian kembali menatap Xika.
"Yah, kalau begitu, sampai jumpa."
Butuh waktu dua detik bagi Xika untuk menyadari apa yang serigala itu bicarakan. Kemudian ia mengangguk.
"Ya. Selesaikan tepat waktu."
Serigala itu balas mengangguk. Huo Bing bangun dan membentuk tubuhnya.
"Setelah tiga tahun, kita akan pergi untuk mencari kabar orangtua anak ini. Jangan sampai terlambat."
__ADS_1
Heilao mengangguk. Kemudian ia memberikan pandangan terakhir sebelum berlari pergi meninggalkan kedua saudaranya. Ia akan menyelesaikan tugasnya secepat mungkin. Setelah itu, mereka akan berkumpul bersama kembali.