Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-308


__ADS_3

Qi yang ditahan ketiganya dilepaskan bersamaan kemudian menyatu dan membentuk sebuah tornado raksasa. Hanya saja, nama yang diucapkan kurang tepat karena warna dari tornado raksasa itu adalah hitam. Kegelapan sempurna yang menyelimuti tornado itu berhasil menutupi es-es kecil namun mematikan yang berada dalam tornado itu.


Heiliao dan Huo Bing tersenyum menyaksikan mereka berhasil menyelesaikan teknik gabungan itu. Namun Xika mengerutkan kening melihat hasil gabungan elemen mereka.


"Aneh. Seingatku warnanya dulu tidak seperti itu."


Mendengar ucapan Xika, Huo Bing mengangkat alisnya menyadari anak itu benar. Sementara Heiliao yang sudah menduga hal itu dari awal hanya diam dengan ekspresi masam.


WHISHHH!!!


Tornado hasil dari teknik gabungan ketiganya melaju tanpa arah dan menyerang siapapun yang berada di sekitar mereka, tidak peduli kawan maupun lawan. Penatua Fen yang melihat hal tersebut mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang dilakukan ketiganya sampai bisa menghasilkan serangan yang menakutkan seperti itu?


"Ck, trik murahan!"


Meng Fuqin, yang berada paling dekat dengan tornado itu selain Xika bertiga dan Penatua Fen mendecakkan lidahnya dan menolak untuk menghindar. Ia mengumpulkan qi di kedua tangannya kemudian melepaskan badai salju yang luar biasa besar.


FWUSH!


Sayangnya, badai salju itu masih belum cukup untuk menghancurkan atau sekedar menghentikkan tornado teknik gabungan Xika.


Kultivator Immortal Pearl Pavillion, yang berdiri di sebelah Meng Fuqin, juga sama keras kepalanya dan percaya bahwa pemimpin dari Northern Light Palace itu bisa menghalau serangan dari bocah kencur seperti Xika dan lainnya. Hasilnya, ia terhisap ke dalam tornado itu dan terdengar suara teriakan yang menusuk telinga disertai suara-suara hancurnya tulang manusia.


Bahkan Meng Fuqinpun mengernyitkan keningnya tak menduga tornado itu sangat kuat. Para pemimpin sekte yang lainpun terkejut dengan kekuatan tornado tersebut sehingga menghentikan pertarungan mereka.


Sementara di sisi lain, ekspresi Xika, Huo Bing, dan Heiliao yang merupakan sumber dari serangan tersebut menampilkan ekspresi yang tidak dapat dibaca. Xika, entah ia terkejut dengan apa yang bisa dilakukan tornado itu atau ia terkejut berhasil melepaskan teknik itu kali ini.


Huo Bing, tidak terlalu memusingkan masalah tornado itu. Selama hal itu bisa menahan atau bahkan memberikan serangan pada lawan-lawannya, itu sudah cukup. Ia mulai memikirkan bagaimana cara lolos dari situasi ini dan mencoba memperkirakan beberapa kemungkinan.


Heiliao, hanya menampakkan ekspresi masam melihat tornado hitamnya bergerak menuju para ketua sekte. Ia memang sudah menduga hal ini sebelumnya karena kali ini ia memang tidak bisa menggunakan elemen ruang. Namun entah mengapa warna hitam dari tornado itu membuatnya merasa buruk.


"Xika, selagi mereka masih teralihkan dengan tornado itu, berikan buah-buahan itu padaku. Kita perlu seseorang untuk menjaganya." ucap Penatua Fen tanpa bergerak dari posisinya yang tepat berada di samping Fa Diala.


Xika memaklumi tindakan Penatua Fen karena sejak mereka bertarung daritadi Penatua Fen tidak pernah beranjak dari samping Fa Diala. Mungkin memang ia berniat untuk menjaga pamannya, jadi Xika tidak keberatan.


Ia melambaikan tangannya dan memotong dua Buah Kehidupan, menyisakan dua buah terakhir karena letaknya yang paling jauh. Ia melemparkan kedua buah itu menuju Penatua Fen tanpa memperhatikan ekspresi tamak yang luar biasa gila di wajah pria paruh baya itu. Mungkin karena terlanjur percaya dengan Penatua Fen, ditambah keadaan sekitar yang membuatnya tidak bisa meragukan kawan seperjuangannya.


Selesai melemparkan kedua buah itu, Xika kembali berbicara dengan Heiliao dan Huo Bing. Tangannya terayun dan mengambil dua Buah Kehidupan terakhir yang ada di pohonnya.


"Sekarang, haruskah kita melarikan diri?" tanya Xika sambil melihat keadaan sekitar. Situasi yang kacau balau, ditambah perhatian semua orang tertuju pada tornado buatannya sehingga menjadikan ini saat yang tepat untuk melarikan diri.


"Benar. Serigala gosong, apakah kau tahu kemana kita harus pergi untuk keluar dari Dinasti ini?"


"Bisa kuperkirakan. Rutenya harusnya tidak akan menjadi masalah selama kita tetap menjaga diri dan tidak dikenali. Hanya saja......"

__ADS_1


Serigala itu menatap Fa Diala, yang masih berbaring tak sadarkan diri.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan pamanku. Tidak akan!" Xika langsung berteriak seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan Heiliao. Ia menatap Heiliao dengan tegas tepat ke matanya. Namun serigala itu membelalakkan matanya ketika melihat Fa Diala.


"Xika!"


"Tidak! Aku tidak peduli sekalipun ia menjadi beban, aku akan tetap membawanya!" ucapnya bersikeras.


"Bukan itu, pamanmu!"


Sebenarnya Heiliao ingin mengoreksi perkataannya bahwa yang perlu diperhatikan adalah Penatua Fen yang berada di samping Fa Diala, tapi ia sudah terlambat.


Xika menoleh dan menyadari ekspresi tamak di wajah Penatua Fen.


"Hehehe.......terima kasih atas buah-buahan ini! Sekarang aku sudah tidak memerlukan pria tua ini lagi!"


"Penatua Fen! Apa yang-"


"Sampai jumpa!"


Penatua Fen membentuk sebuah pisau angin di tangannya, kemudian tanpa menuggu Xika menyelesaikan ucapannya ia mengacungkan pisau itu lalu menusukannya tepat ke jantung pria yang telah Xika anggap sebagai ayahnya sendiri.


JLEB!


"TIDAK!"


"Brengsek! Lepaskan!" Xika tidak peduli siapa yang menarik kerahnya, ia hanya berusaha melepaskan dirinya secepat mungkin untuk menyelamatkan pamannya.


"Berhenti, bodoh!" Huo Bing memaki Xika.


"Kau yang berhenti, sialan! Pamanku akan mati kalau aku tidak bergegas!"


"Xika, sadarlah!" Huo Bing menarik kerah Xika lebih keras sehingga memaksanya berbalik menatap wajahnya.


"Apa? Apa yang kau mau? Duduk manis selagi pamanku sekarat disana? Dia pamanku, brengsek! PAMANKU!"


PLAK!


"LIHAT SEKELILINGMU, BODOH!"


Entah tamparan Huo Bing, atau ucapannya yang memaksa Xika menoleh dan memperhatikan sekelilingnya. Situasi sudah tak lagi sekacau seperti sebelumnya, bahkan bisa dibilang sudah mulai terkendali. Tornadonya kini sudah mulai kehilangan tenaganya dan tak lagi ditakuti seperti sebelumnya. Yang paling parah adalah, beberapa perhatian mulai tertuju pada dirinya.


"Kita harus pergi dari sini. Sekarang. Atau tidak akan ada yang selamat diantara kita semua."

__ADS_1


"Tapi......tapi......pamanku.......aku.....aku......"


"Sadarlah, Xika! Bahkan sebelum Penatua Fen menusuknya, kondisi pamanmu memang sudah buruk. Kau sendiri tahu bahwa kemungkinannnya untuk hidup kecil!"


"Tapi.......Heiliao sebelumnya bilang......"


"Astaga.......kau percaya perkataannya? Jauh di dalam hatimu kau tahu bahwa pamanmu sudah tidak punya banyak waktu lagi, bukan? Benar, kita mungkin bisa menyelamatkannya dengan memberikan satu atau dua Buah Kehidupan. Tapi apa kaupikir mereka akan membiarkan kita melakukan itu?" tanya Huo Bing sambil menunjuk Meng Fuqin, Han Li, dan lainnya.


"Ya, kita mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa, tapi hal itu berarti membuang nyawamu sendiri, juga nyawaku dan nyawa Heiliao. Satu nyawa untuk tiga nyawa? Apa itu yang kau inginkan? Menyelamatkan pamanmu sebentar, kemudian mati bersama dengannya dan duduk bercengkrama di dunia bawah?" Huo Bing melanjutkan.


"...................."


Selagi Xika dan Huo Bing berdebat, Penatua Fen tertawa seperti orang gila. Penampilannya yang kacau menambah kesan bahwa dia memang orang gila. Sementara Jing Wei, dan rekan-rekannya yang lain menatapnya dengan pandangan heran, bingung, tidak percaya, dan masih banyak lainnya.


Tentu saja, kalau itu Penatua yang lain, Jing Wei masih mengerti karena selain Penatua Fen sisanya memiliki sejarah yang tidak bisa dibilang baik dengan Xika. Jadi masuk akal bila mereka lebih memilih harta daripada nyawa paman Xika. Tapi Penatua Fen? Dari semua Pelindung, bahkan termasuk Jing Wei sendiri, Penatua Fen merupakan orang yang paling dekat dengan Xika.


Penatua Fen mengabaikan beragam tatapan yang diberikan rekan-rekannya, ataupun musuhnya dan terus tertawa layaknya orang gila sambil menatap Buah Kehidupan yang diberikan Xika sebelumnya.


Xika menatap kesintingan Penatua Fen sambil menetapkan satu hal dalam hatinya.


"Kita harus pergi. Sekarang." ucap Huo Bing dengan nada yang lebih lembut, tapi tetap tegas.


Perlahan, air mata berkumpul di mata Xika. Butiran demi butiran berkumpul hingga menjadi aliran yang tak dapat dibendung. Aliran berubah semakin deras hingga membasahi seluruh wajahnya dan membuatnya merasa seperti anak kecil.


Ia menutup matanya kemudian memfokuskan sisa qinya untuk membawa mereka bertiga keluar dari sana. Qinya bisa menjangkau Heiliao dan Huo Bing, tapi tidak bisa membawanya pergi. Bahkan hanya sekedar pergi kembali ke kamar mereka di Akademi saja tak bisa.


Entah apa yang salah. Mungkin qinya yang kurang banyak, atau fokusnya yang kurang baik, atau tubuhnya yang sudah kelelahan dan tak bisa bergerak lagi, atau....... atau.......entahlah.......ia bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.


Xika kembali membuka matanya. Dan pemandangan yang menyambutnya adalah batuk darah yang dikeluarkan Fa Diala. Bahunya bergetar hebat menahan amarah. Isak tangis yang tertahan dapat terdengar dari sela-sela mulutnya.


Didorong dengan amarahnya, Xika memakan kedua Buah Kehidupan yang ada di tangannya secara bersamaan, tak mempedulikan luapan energi kehidupan yang masuk dan hampir membuat tubuhnya meledak. Keempat dantiannya seketika menerobos ke Forming Qi-9 dan hanya tinggal selangkah lagi baginya untuk mencapai Royal Realm.


"Brengsek!"


"Kita harus mendapatkan dua buah yang tersisa itu, bagaimanapun caranya!" Han Li berteriak. Ia tak bisa membiarkan rencana yang sudah ia susun sejak lama dihancurkan oleh bocah kemarin sore seperti Xika. Namun ketika ia hendak melesat menuju Xika, tubuhnya mendadak berhenti melihat tatapan yang diberikan Xika.


Dengan energi kehidupan yang meluap-luap di seluruh tubuhnya, Xika menatap satu-persatu semua orang yang ada di tempat itu.


"Aku akan mengingat baik-baik hari ini. Hutang budi ataupun dendam, aku akan membalas semuanya. Sebaiknya kalian berharap nasibku sial dan menemui ajalku atau aku akan datang kembali di salah satu tidur kalian yang tidak akan nyenyak lagi, dan mengambil nyawa kalian dengan tanganku sendiri!"


Kemudian ia berbalik dan menatap Penatua Fen.


"Sebaiknya kau menyembunyikan dirimu dengan baik atau aku akan membuat kematianmu lebih menyedihkan daripada seekor anjing."

__ADS_1


Terakhir, Xika melirik Tian Yin. Entah apakah bajingan itu sudah sadar atau tidak, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Kemudian ia menutup matanya, dan sesaat kemudian qi hitam menyelimuti tubuhnya berserta Heiliao dan Huo Bing, dan merekapun hilang dari pandangan.


(Arc 3: A Rising Star-Completed)


__ADS_2