Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-310


__ADS_3

Kesepuluh sosok itu saling berpandangan. Mereka bukannya tidak menyadari perginya Huo Bing dan Heiliao, tapi ada masalah yang lebih penting daripada keduanya, yaitu lima buah kehidupan yang tergeletak di tanah seperti barang tak berharga.


Memang tugas yang diberikan pada mereka adalah menangkap ketiga orang tadi, namun dengan tujuan mendapatkan buah kehidupan. Sekarang buah kehidupan sudah ada di depan mata, haruskah mereka mengejar ketiganya?


Sementara itu Huo Bing dan Heiliao terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Meskipun mereka tak tahu bagaimana cara Xika mengeluarkan buah kehidupan itu, tapi untuk saat ini yang terpenting adalah mereka harus lari sejauh mungkin selagi perhatian musuh teralihkan.


"Di sini."


Suara Xika terdengar dari atas pohon tidak jauh dari mereka. Huo Bing dan Heiliao menoleh, kemudian melompat ke dahan yang sama.


"Cepat. Hubungi para serigala, kita tidak punya banyak waktu." ucap Xika setelah membiarkan keduanya menarik beberapa nafas.


Heiliao mengangguk kemudian menutup matanya berkonsentrasi menghubungi Lang Yan, pemimpin dari kaum serigala selain dirinya sendiri.


Sementara menunggu, perhatian Huo Bing teralihkan oleh kedua tangan Xika. Tangannya penuh dengan darah dan samar-samar ia dapat melihat warna putih di baliknya, yang ia curigai sebagai tulang. Mendadak burung itu mengerutkan keningnya. Seingatnya Xika tidak bertarung dengan siapapun sepanjang pelarian mereka. Selain itu, di ruang bawah tanah sebelumnya juga tak ada yang berhasil melukai Xika separah itu.


"Ada apa dengan tanganmu?"


"............ bukan apa-apa."


Huo Bing menarik tangan Xika dengan kasar untuk memeriksa kondisinya, dan anak itu segera meringis kesakitan, bahkan Huo Bing bisa merasakan tangan anak itu bergetar. Cepat-cepat ia melepaskan tangan anak itu dengan hati-hati.


"Kau......"


Mendadak Huo Bing tersadar dari mana Xika mendapatkan luka tersebut. Buah kehidupan yang muncul secara tiba-tiba, tangan Xika yang terluka begitu parah, kini semuanya menjadi masuk akal.


"Kau mengambil buah kehidupan itu langsung dengan kedua tanganmu?!" ucap Huo Bing setengah tidak percaya setengah panik.


"Shttt..... kau bisa membuat lokasi kita ketahuan." ucap Xika seolah yang ia lakukan bukanlah apa-apa.


"Persetan dengan itu! Untuk apa kau mengambil buah-buah kehidupan itu?! Bukankah Heiliao sudah memberitahumu kau masih belum bisa mengambil apapun dari lubang hitam untuk saat ini? Apa kau gila?!"


"Berisik! Memangnya kalau aku tidak melemparkan buah-buah kehidupan itu kau dan Heiliao bisa melarikan diri dengan mudah?!"


Huo Bing terdiam sesaat tak tahu harus berkata apa. Ia memang bersyukur Xika membantunya, tapi memikirkan kondisi tangan Xika yang sekarang sebagai bayaran agar ia bisa melarikan diri membuatnya merasa buruk. Setelah menarik nafas beberapa kali, ia kembali membuka mulutnya,


"Lantas bagaimana dengan buah-buahan itu sekarang? Kau memberikannya secara cuma-cuma seperti itu saja?"


"Kata siapa? Aku tidak pernah memberikan barangku secara cuma-cuma." ucap Xika sambil tersenyum licik sekaligus percaya diri.


Ia membuka kedua telapak tangannya, lalu sedetik kemudian muncullah lima buah kehidupan yang sebelumnya Xika lemparkan. Xika meringis kesakitan dan segera menjatuhkan kelima buah itu. Huo Bing buru-buru menangkapnya sebelum jatuh.


Usai mengamankan Buah Kehidupan itu, Huo Bing menatap Xika dengan mata lebar.


"Hehehe........aku meletakkan semacam jejak elemen ruang sebelum melemparkan buah-buahan itu. Aku dapat memanggilnya kemari kapan saja aku mau dengan jejak itu."

__ADS_1


Huo Bing terpana sesaat, kemudian ia melirik kembali tangan Xika dan hendak memberikan omelan lagi, namun Xika berpaling lebih dulu ketika melihat Heiliao membuka matanya. Sayangnya, binar harapan di mata Xika memudar ketika melihat ekspresi muram Heiliao.


"Hei......ada apa? Bagaimana tanggapan mereka?" tanya Huo Bing.


Heiliao menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara, "Aku tidak bisa menghubungi mereka."


"Apa?!"


SET!


Heiliao melompat ke dahan lain.


"Aku akan menceritakan di jalan, untuk saat ini kita harus melarikan diri dulu karena tampaknya bantuan tidak akan datang dalam waktu dekat."


"Apa-Hei!"


Huo Bing masih tidak puas dengan penjelasan Heiliao yang tiba-tiba, tapi serigala itu memaksanya menyusul bersama dengan Xika. Jadi mereka mulai melompat dari satu dahan ke dahan lain seperti monyet hanya saja jauh lebih cepat. Mereka bepergian di pohon untuk memudahkan mereka bersembunyi dibanding tanah kosong di bawah.


"Hei, Serigala Gosong! Apa maksudmu kau tidak bisa menghubungi kaum serigala?" tanya Huo Bing setelah dirinya kurang lebih sejajar dengan serigala itu.


"Aku tidak bisa menghubungi mereka. Entah bagaimana komunikasi kami di blokir."


"Apa kau tidak pernah menghubungi mereka sebelum ini? Bukannya kau berdua dengan Lang Yan sama-sama menjadi pemimpin para serigala?"


Aku tidak mempedulikannya karena kukira ia sedang sibuk. Sebelumnya memang pernah begitu beberapa kali. Hanya saja aku tak menyangka bahwa ia menjadi tak bisa dihubungi sama sekali."


"Apa kau sudah menghubungi serigala lain?"


"Aku sudah menghubungi semua serigala yang aku tahu, bahkan Lang Xuehao sekalipun."


"Dan semua hasilnya nihil?"


Heiliao mengangguk dengan ekspresi muram.


"Sialan!"


Selagi mendengar pembicaraan keduanya, Xika berusaha kembali atau menghubungi Lang Jin, Lang Hu, dan beberapa serigala lainnya. Namun hasilnya sama dengan yang dikatakan Heiliao, nihil. Ia tidak mendapat respon apapun, dan jejak spasial yang sebelumnya ia taruh di hutan serigala, tak bisa ia rasakan entah sejak kapan.


"Menurutmu apa penyebab mereka tak bisa dihubungi? Apakah ini hanya sementara atau......"


"Aku tak tahu ini akan berlangsung berapa lama. Dugaanku, kuharap aku salah, mereka sedang menghadapi konsisi kritis yang mengharuskan mereka menutup semua akses ke hutan mereka. Perang, tebakan terburukku. Tapi menurutku, daripada memusingkan mereka, lebih baik kita mencari jalan keluar untuk saat ini."


Memang, pada saat mereka berbicara, Huo Bingpun merasakan keberadaan kesepuluh sosok tersebut mulai mendekat meskipun ia tidak tahu pasti mereka berada di mana.


"Kalau begitu apa rencana kita sekarang?" tanya Xika setelah diam sekian lama.

__ADS_1


"Kabur secepat mungkin dan jangan sampai tertangkap."


"................"


Kemudian suasana menjadi hening dan tak ada lagi yang memulai pembicaraan. Ketiganya berusaha bergerak secepat mungkin, tapi masih menyisakan energi cadangan kalau-kalalu mereka harus bertarung dalam situasi terburuk.


SYUT!


Sebuah bola kuning dengan ukuran cukup besar melesat dari arah samping. Ketiganya terpaksa berpencar untuk menghindari serangan tersebut.


CPRAT!


Bola itu menabrak sebuah pohon besar dan membuat cipratan ke mana-mana. Tidak lama kemudian pohon besar tersebut meleleh. Hal yang sama terjadi pada pohon yang terkena cipratan tersebut.


"Brengsek!" Huo Bing mengumpat sekaligus bersyukur bahwa ia memilih untuk menghindari bola itu bukannya terus maju tanpa peduli.


"Maju! Jangan berhenti!" ucap Heiliao kembali melesat maju. Huo Bing dan Xika hendak menyusul ketika sebuah suara terdengar.


"Hisss.......apa kalian yakin ingin maju? hiss......"


Di hadapan mereka tampaklah seorang pria tua dengan jubah kuning cerah berdiri di salah satu dahan pohon sambil memutar-mutar kumisnya. Di belakangnya, tampaklah ratusan ular memenuhi pohon-pohon di sekitarnya.


Huo Bing melotot hebat melihat kemunculan ratusan cacing pohon itu. Bagaimana mungkin mereka mengetahui keberadaannya? Seingatnya ia sudah menghapus jejak mereka sejak berada di kota. Para ular tak mungkin memiliki mata di dalam ibukota.


Splash!


Swosh!


Cprat!


Beberapa ular memuntahkan sesuatu dari mulut mereka yang segera dihindari oleh ketiganya. Masing-masing serangan bersifat asam korosif seperti serangan sebelumnya. Ketiganya menghindari serangan itu dengan sigap.


"Ups! Itu tadi adalah pengganti salam dariku. Nah sekarang, bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?"


CUH!


Huo Bing meludah ke pria tua itu yang dihindarinya dengan mudah.


"Bah! Kau mengobrol saja dengan ludahku. Aku sibuk, sampai jumpa."


Tanpa menunggu respon pria berjubah kuning itu, ia berbalik dan pergi bersama Xika dan Heiliao.


Namun baru satu dahan mereka berpindah, tampaklah sosok-sosok yang tak asing. Mereka adalah kesepuluh sosok yang mengejar mereka sebelumnya.


Di belakang ada ratusan ular sementara di depan ada sepuluh kultivator Royal Realm. Tepat di tengah keduanya adalah Xika, Huo Bing, dan Heiliao. Dan mereka terjebak.

__ADS_1


__ADS_2