Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-143


__ADS_3

"Aku sudah memikirkannya."


Heiliao menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku kemudian pergi dengan anak itu."


Lang Yan menatap Heiliao dengan amarah.


"Lagi? Bahkan setelah apa yang telah anak itu katakan? Apa kau benar-benar tak akan memberikan kami kesempatan?!"


Heiliao tersenyum kecil.


"Aku akan memberikan kabar. Lagipula, aku akan mengundurkan diri. Kau akan menjadi Alpha."


Kalimat pertama Heiliao membuat Lang Yan tenang. Tapi kalimat berikutnya kembali membangkitkan amarahnya.


"Dengar dulu. Aku sedang berusaha untuk berubah. Tapi itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Lagipula diriku saat ini berbeda dengan diriku yang dulu. Tidakkah kau merasakannya? Anak itulah penyebabnya. Aku harus menemaninya. Mereka adalah satu-satunya alasanku hidup."


"Mereka? Burung itu juga?"


"Ya. Dia juga keluargaku."


"Bagaimana dengan kami?"


"Akan kucoba."


Lang Yan terdiam. Ia memang tahu bahwa Heiliao akan pergi. Sejak awal ia sudah tahu bahwa Heiliao tidak akan tinggal bersama para serigala. Tapi ia tak menyangka bahwa serigala hitam itu akan mengundurkan diri. Lagipula, Xika telah berjuang keras untuk mendapatkannya.


"Apa kau yakin? Bukankah anak itu sudah berjuang keras untuk menempatkanmu kembali di posisi ini? Bukankah itu sama saja dengan tidak menghargai usahanya?"


Heiliao hanya diam. Lang Yan menghela nafas dan menatapnya dengan tidak suka.


"Hahhhhh.......Aku menginginkan posisi ini untuk melampauimu. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Aku tak suka. Aku benci mengatakannya tapi aku mengakui bahwa kau lebih layak menjadi Alpha daripada diriku. Aku masih belum melampauimu. Tak bisakah kau mempertimbangkannya kembali?"


Heiliao tersenyum dan menggeleng.


"Tidak. Keputusanku sudah bulat. Aku tak bisa meninggalkan anak itu. Lagipula aku tak akan bisa menjadi pemimpin kalian tanpa bersama kalian. Jadi kenapa tidak menyerahkannya pada serigala lain yang lebih layak? Aku yakin kau akan memimpin kaum serigala menuju ketinggian yang belum pernah tercapai sebelumnya. Buatlah perubahan. Jangan mengikuti pemimpin sebelumnya."


Lang Yan tak tahu apa yang dimaksud Heiliao dengan pemimpin sebelumnya adalah serigala hitam itu sendiri atau pemimpin yang memaksa Heiliao menjadi Alpha, tapi ia tetap tak suka.


"Sialan. Kau mau membuat perubahan? Buat saja sendiri."


Heiliao mengangkat satu alisnya. Biasanya, setelah mengatakan hal seperti itu, Lang Yan akan pergi sambil merajuk, namun ia akan menyetujui permintaan Heiliao. Tapi kali ini tidak. Ia tidak pergi dan masih terlihat seperti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.


"Aku tak terima. Kalau aku menjadi Alpha dengan cara seperti ini, maka aku tak akan melampauimu. Ayo jadi Alpha bersama."


Heiliao melebarkan matanya mendengar ide Lang Yan. Dua Alpha. Hal itu tak pernah terjadi sebelumnya.


"Tapi kau yang mereka khawatirkan. Bukan aku." ucap Heiliao teringat perhatian para pemimpin serigala kemarin malam.


"Mereka mengkhawatirkan kita berdua. Mereka menginginkanmu tetap hidup tak peduli apapun yang kau lakukan, dan mereka menginginkanku tetap hidup tak peduli apapun yang kulakukan padamu. Mengerti?"


"Tapi aku tak bisa menjadi pemimpin kalian bila berada jauh dari kaumku. Dan aku tak bisa meninggalkan Xika."


"Bukankah kau menguasai elemen ruang? Tak ada yang menandingimu dalam elemen ruang? Kenapa kau tak menggunakannya untuk menghadiri rapat kita sesekali? Atau sekedar berkunjung memberi kabar?"


Mata Heiliao kembali melebar tak menyangka akan ucapan yang keluar dari mulut Lang Yan. Ia tak pernah mempertimbangkan hal itu. Sejujurnya, hal itu tak pernah terlintas dalam pikirannya. Tapi ia masih tak yakin. Lang Yan menghela nafas melihatnya.


"Baiklah, baiklah......kalau kau masih tak yakin, tanyakan saja pada mereka. Kalau ada satu saja yang menolak atau keberatan, maka aku akan menjadi Alpha seorang diri, dan kau bebas pergi bersama anak itu kemanapun kau mau. Tapi kalau tidak ada yang keberatan, maka kau harus mengikuti rencanaku. Bagaimana?"


Heiliao tetap ragu. Tapi tak ada hal lain yang bisa ia lakukan jadi ia mengangguk dan membuat Lang Yan tersenyum mendapat respon yang diinginkannya. Kemudian serigala tua itu berbalik dan berkata,

__ADS_1


"Bocah sialan, sudah puas mengupingnya? Harusnya ini adalah pembicaraan rahasia yang tak boleh diketahui siapapun."


Xika terkejut. Ia kembali ke tubuhnya dan membuka matanya. Persepsinya telah meningkat banyak, terlalu banyak sampai di luar dugaannya. Ia tak menyangka dapat mendengar obrololan dari jauh seperti dirinya sedang berada di sana. Tapi ucapan Lang Yan berhasil mengejutkannya dan membuatnya kembali ke tubuhnya dengan buru-buru.


Jadi ia menstabilkan tubuhnya yang agak kacau karena pertama kali meluaskan persepsinya seperti itu dan caranya kembali kurang halus. Tepat setelah ia selesai menstabilkan tubuhnya, terdengar suara yang sama yang mengejutkannya sebelumnya.


"Kau kira kami tak menyadarimu? Kami sengaja memperbolehkanmu mendengar obrolan kami."


Xika tak menjawab. Ia masih kaget dengan Lang Yan.


"Apa? Bukankah kau bilang akan membasahi buluku dengan liurmu? Ayo, lakukan. Ayo, ayo!"


Procokasi Lang Yan itu membuat Xika tersadar. Ia menatap Lang Yan yang muncul dari balik semak-semak beberapa saat yang lalu dan Heiliao dengan tatapannya yang tenang. Kemudian ia berlari dan melompat ke punggung serigala tua itu kemudian berkata,


"Baiklah, kau yang minta. Jangan salahkan aku."


Hap!


Dan ia mengggigitnya.


"AH! Bocah! Kenapa kau menggigitku? Aku tak pernah menggigitmu!"


"Kau memang tak pernah menggigitku, tapi tahukah kau aku menghabiskan tiga jam mandi untuk menghilangkan baumu dari tubuhku? Lagipula gigitan dari manusia seperti diriku tak akan banyak menyakiti serigala sepertimu. Lagipula bulumu sekuat baja bukan?"


"Bah! Bauku sedap! Bauku membuatmu populer diantara serigala!"


"Tanpa baumupun aku sudah populer. Bahkan lebih populer darimu. Jadi biar kuberikan bauku agar kau sedikit lebih populer!"


Xika kembali menggigit Lang Yan. Serigala tua itu berlari dan melompat-lompat untuk mengenyahkan Xika dari punggungnya tapi Xika lebih gigih dari yang ia kira. Jadi ia membiarkan Xika menggigitnya sampai puas, kemudian barulah Xika melepaskannya.


Xika melompat turun dari punggung Lang Yan. Pandangannya kembali serius, menggantikan semua candaan sebelumnya.


"Apa.........kalian sudah berdamai?"


"Apa kau tidak masalah? Maksudku, kau sudah menginginkan posisi ini sejak lama dan sekarang saat posisi ini berada di depanmu, kau malah membaginya dengan Heiliao."


Lang Yan tersenyum bangga dan penuh keyakinan.


"Kau sudah mendengar obrolan kami. Aku tak akan mengubah keputusanku. Sekarang aku harus pergi mencari putra bungsuku. Ia tak pernah latihan dan hanya bermesraan. Aku harus memberinya pelajaran."


Dan dengan itu, Lang Yan pergi meninggalkan saingan, teman, sekaligus sosok serigala panutannya. Heiliao tak menghentikannya, begitu juga dengan Xika meski ia tak puas dengan jawaban yang ia dapatkan. Setelah sosok Lang Yan menghilang, Xika berbali menatap Heiliao.


"Jadi ia mencintai Xuehao? Dan Xuehao mencintaimu? Kenapa kau tak pernah menceritakannya?"


"Aku berusaha melupakannya."


"Yah, karena sekarang sudah teringat, mengapa kau tidak menceritakannya padaku?"


Heiliao tersenyum mendengar pertanyaan Xika.


"Mungkin lain kali. Sekarang kita harus menyembuhkan lukamu dulu. Setelah itu aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda karena tambang dan hal lain. Dan setelahnya, kita akan mencari orangtuamu."


Xika mengangguk.


"Ya!"


-------------------------


Tempat yang sama dengan tempat Heiliao dan Lang Yan bertarung sebelumnya.......


Terlihat beberapa serigala sedang berkumpul di situ dan mereka mengelilingi sesuatu. Serigala lainnya.

__ADS_1


"Lihat, lihat! Aku sudah bisa menggunakan teknik ini. Perhatikan baik-baik. Assault Claw!"


Serigala yang berdiri di paling kanan mengayunkan cakarnya yang dipenuhi qi menuju serigala yang tengah mereka kelilingi. Sasarannya hanya diam pasrah tanpa ada sedikitpun niat untuk melawan. Tubuhnya kecil, lemah, dan penuh dengan luka. Beberapa bagian tubuhnya tak memiliki bulu karena luka yang ia terima. Dan serangan tadi itu sukses menorehkan luka baru di tubuhnya.


Serigala lainnya memuji teknik itu. Kemudian mereka juga bergantian memamerkan teknik mereka dengan serigala kecil itu sebagai targetnya. Sama seperti sebelumnya, serigala kecil itu tak menunjukkan tanda-tanda perlawanan sama sekali. 


Setelah serigala-serigala nakal itu kehabisan qi, mereka menghajarnya dengan serangan fisik. Mereka semua bergantian menghajarnya. Serigala abu, yang pertama memberikan serangan, menggigit leher serigala kecil itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk memamerkannya pada teman-temannya. 


Teman-temannyapun ikut melakukan hal itu. Mereka bergantian mengggitnya dan saling tertawa. Kemudian mereka menghempaskannya ke laut di samping mereka. Mereka terus melakukan hal itu sampai seekor serigala hitam datang.


Serigala hitam itu memiliki pandangan mata yang sangat dingin sampai membuat serigala-serigala nakal itu merinding ketakutan. Mereka segera melepaskan serigala kecil itu tapi serigala hitam itu masih menatap mereka sama dinginnya dengan sebelumnya.


Kemudian mereka memutuskan untuk pergi secepat mungkin dari serigala hitam itu. Tapi serigala hitam itu tak membiarkan mereka pergi begitu saja. Ia menghajar mereka dengan teknik-tekniknya. Tentu saja para serigala itu tak tinggal diam. Mereka memberikan perlawanan. Tapi perlawanan mereka sia-sia dihadapan serigala hitam itu.


Kemudian setelah ia kehabisan qi, ia menghajar mereka dengan tubuhnya. Terakhir, setelah mereka menunduk tanda menyerah, ia menggigit leher mereka satu-satu dan melemparkannya ke laut. Persis seperti yang mereka lakukan pada serigala kecil itu. 


Esok dan beberapa hari setelahnya, serigala-serigala nakal itu kembali mengganggu serigala kecil itu dan serigala hitam yang sama kembali menolongnya. Jadi pada hari kelima serigala nakal itu tidak muncul lagi. Tapi karena rindu pada sosok penyelamatnya, serigala kecil itu menemui mereka yang mengganggunya.


Tentu saja para serigala nakal itu memukulinya karena kesal. Tapi itu semua tak apa asalkan ia bisa bertemu lagi dengan penolongnya. Hari sudah siang dan serigala hitam itu belum datang. Serigala kecil meyakinkan dirinya. Hari semakin gelap namun penyelamatnya masih belum datang. 


Ia ingat kemarin penolongnya memberinya tatapan marah. Tapi ia tak mengerti kenapa serigala hitam itu marah padanya. Apa yang harus ia lakukan? Ia hanya ingin bertemu dengan sosok penyelamatnya lagi. Tapi sosok itu tak lagi datang. 


"Heh. Mana penyelamatmu itu, hah?"


"Benar, panggil dia!"


"Kau jadi sombong ya mentang-mentang kami tidak mendatangimu. Kau malah mendatangi kami sendiri."


"Ayo hajar dia."


Para serigala nakal itu kembali memukulinya. Tapi kali ini mereka tidak puas. Jadi mereka memutuskan untuk menyerang serigala kecil itu menggunakan teknik mereka bersama. Serigala kecil itu gemetar ketakutan. Apa ia akan mati disini? Apa ia akan mati tanpa bertemu sosok penyelamatnya?


"Hiahhhhh!!!"


Para serigala itu menembakkan teknik mereka secara bersamaan menuju serigala kecil itu.


"Ice Breath! Snow Barrier!"


Salju turun dari langit dan membentuk kubah yang melindungi serigala kecil itu bersamaan dengan munculnya angin dingin yang menghalau serangan para serigala nakal itu. Dan untuk pertama kalinya, serigala kecil itu melihat serigala betina. Serigala betina tercantik yang pernah ia lihat.


"Howl of Snowflakes!"


Serigala putih itu melolong dan meniptakan ribuan keping salju yang siap menghujani para serigala nakal itu. 


"Waaaaaa!!!!"


"Lari! Cepat Lari!"


"Minggir! Aku duluan!"


Para serigala nakal itu langsung lari setelah melihat sosok serigala putih yang lebih kuat dari mereka. Serigala kecil itu masih terpana melihat sosok penyelamatnya yang baru. 


"Huh! Dasar! Mereka itu selalu mengganggu serigala yang lebih lemah," kemudian ia menoleh menatap serigala kecil itu, "Kau juga! Harusnya kau melawan mereka. Kau tak bisa mengandalkan orang lain terus tahu."


"E-eh? Y-ya...."


"Bagus."


Serigala putih itu tersenyum. Ia membantu serigala kecil itu berdiri.


"Siapa namamu?"

__ADS_1


"Lang Yan......."


__ADS_2