
Xika menoleh menatap Wu Liao dengan bingung. Ia tidak yakin dengan pendengarannya.
Wu Liao melihat ekspresi yang ditunjukkan Xika. Ia mengulangi pertanyaannya.
"Bisakah kita pergi bersama?"
Xika menaikkan sebelah alisnya sambil membuat ekspresi bingung. Setelah berpikir sebentar, ia mengangguk dan berkata,
"Eh, ya......"
Wu Liao tersenyum senang. Ia berjalan di samping Xika tidak mempedulikan ekspresi bingung sekaligus aneh yang diperlihatkan pemuda itu.
Dan bersama, mereka melangkah keluar dari Immortal Pearl Pavillion di bawah tatapan cemburu sekaligus tidak senang dari Cao Ping. Tapi pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa. Hal terakhir yang Xika lihat adalah ia masuk ke ruangan pribadi Gong Tao dengan tatapan tajamnya. Setelah itu Xika tidak tahu lagi dan tidak ingin tahu.
Xika dan Wu Liao berjalan beriringan. Xika dengan ekspresi aneh di wajahnya yang masih sama dengan sebelumnya dengan Wu Liao yang tersenyum cukup senang berjalan bersama.
"Ehh......Saudari Wu? Kemana tujuanmu?"
Xika berniat mengantarkan Wu Liao secepatnya agar bisa terbebas. Namun sayang, harapannya tidak terkabul.
"Entahlah. Aku hanya ingin berjalan-jalan."
Jawaban Wu Liao itu sukses menghancurkan harapan Xika berkeping-keping. Ia akan menemani gadis ini sepanjang hari untuk berjalan-jalan? Lebih baik ia bertarung lagi dengan Coral.
"Pstttt......Huo Bing? Heiliao? Bagaimana cara menyingkirkan gadis yang mengajakmu berjalan bersama?"
Tapi mereka tidak terlalu membantunya. Mereka hanya memberikan tawa yang cukup keras seolah-olah ia adalah orang bodoh. Dan memang itu yang ada dalam pikiran keduanya.
"Apa kau punya rekomendasi tempat yang bagus Saudara Xing?"
"Tidak. Aku baru tiba di kota ini kemarin. Aku tidak terlalu mengenal kota ini."
Xika tidak berbohong. Ia memang tidak mengenal kota ini. Memang ia telah berjalan-jalan selama beberapa jam kemarin, tapi dibutuhkan lebih dari berjam-jam untuk menjelajahi seluruh kota Yuan.
Bukannya kecewa, Wu Liao malah tampak tertarik.
"Benarkah? Lalu dimana kau sebelumnya?"
"Sebuah tempat yang tidak menyenangkan."
Wu Liao sedikit kecewa. Lagi-lagi Xika menyembunyikan sesuatu darinya. Xika sedikit merasa bersalah ketika gadis itu tidak bicara lagi.
"Bagaimana denganmu, Saudari Wu?"
Wu Liao menoleh menatap Xika.
"Kenapa aku harus memberitahumu kalau kau tidak memberitahuku?"
Xika mengangkat kedua bahunya.
"Tidak ada alasan khusus." jawab Xika tidak tertarik. Setelah itu ia melangkah maju meninggalkan Wu Liao yang semakin kecewa. Ia berusaha bersikap misterius. Jadi mereka akan bertukar cerita dan ia pun bisa mengetahui asal-usul Xika.
Tapi Xika tidak bereaksi sesuai keinginannya dan membuat Wu Liao sedikit tertarik. Bukan tentang asal-usulnya, tapi tentang pemuda itu. Ia adalah salah satu dari Empat Wanita Tercantik di Ibukota namun Xika tampak tidak tertarik sama sekali dengan dirinya. Malahan-meskipun ia agak sakit hati-Xika terlihat agak terganggu dengannya.
Biasanya siapapun akan bersikap ramah padanya setelah mendengar namanya. Tapi Xika bahkan tidak tahu siapa dirinya setelah mendengar namanya. Bagaimana ia bisa menggunakan latar belakangnya untuk membuat Xika bicara bila Xika sendiri bahkan tidak tahu siapa dirinya?
Tepat ketika ia bepikir seperti itu, Xika menoleh dan bertanya,
"Ah, benar juga. Saudari Wu, sebenarnya siapa dirimu? Kenapa semua orang terkejut ketika aku tidak tahu dirimu?"
Wu Liao tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
"Bahkan akupun terkejut kau tidak tahu diriku."
Dan respon yang diberikan Xika adalah garukan di kepalanya dengan ekspresi bingungnya. Ia ingin bertanya 'kenapa aku harus tahu dirimu?' tapi tidak jadi. Ia yakin Huo Bing dan Heiliao akan tertawa sangat keras bila ia melakukan itu. Terlebih, ia mungkin akan melukai perasaan Wu Liao. Yah, sebenarnya alasan pertama lebih pentin bagi Xika. Kedua mahkluk itu tidak tahu kata 'berhenti' ketika sudah tertawa.
"Kenapa kau tidak mencari tahu sendiri?"
__ADS_1
"Baiklah."
Jawaban Xika diluar dugaan Wu Liao. Ia berpikir Xika akan memintanya memberitahu. Tapi pemuda itu kini melangkah pada seseorang di pinggir jalan dan bertanya padanya tentang identitasnya.
"Hei, kawan. Apa kau tahu siapa itu Wu Liao? Bisa kau jelaskan padaku?"
Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia membuka telapak tangannya.
"Baiklah." ucap Xika sambil menghela nafas. Ia merogoh sakunya kemudian menyerahkan beberapa keping perak dan membuat mata orang itu berbinar.
Pemuda itu mengulurkan tangannya hendak mengambil keping perak yang disodorkan Xika. Tapi mendadak ia berhenti. Di belakang Xika, ia melihat seorang gadis dengan paras yang cukup menawan tapi memiliki tatapan yang mengatakan jangan-bicara-atau-kubunuh-kau!.
Ketika orang itu menyadari identitas gadis tersebut, ia langsung menarik kembali tangannya. Ia menatap ke arah belakang Xika dan melihat tatapan yang sama kemudian lari sambil berteriak,
"Aku tidak kenal diaaaaaaaa!!!!!"
Xika menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah orang itu. Ia menaikkan kedua bahunya dan tidak terlalu memusingkan hal tadi. Ia berjalan menuju beberapa orang lain dan menanyakan hal yang sama.
Tapi respon yang diberikan mereka semua sama. Awalnya mereka tertarik dengan uang yang ditawarkan, tapi mendadak mereka berhenti dan kemudian pergi untuk menutup mulut mereka, sama sekali tidak mau memberitahukan sesuatu tentang identitas gadis yang bernama Wu Liao. Ia menaikkan sebelah alisnya bingung.
Di sampingnya, Wu Liao tersenyum senang.
"Tidak berjalan baik sepertinya?"
"Begitulah." ucap Xika sambil kembali berjalan.
"Apa kau tidak penasaran dengan identitasku?"
"Sedikit." ucap Xika sambil mengangkat kedua bahunya.
Respon yang diberikan Xika kembali diluar dugaanya. Apanya yang sedikit? Xika tampak seperti tidak tertarik sama sekali dengan dirinya. Dan akhirnya Wu Liao menyerah untuk mengetahui asal-usul Xika. Ia menghela nafas dan membuat Xika menatapnya dengan bingung.
"Apa kau baik-baik saja, Saudari Wu?"
"Tidak." ucap Wu Liao dengan lesu. Xika menatap gadis itu untuk mencari tahu dibagian mana ia merasa tidak nyaman tapi tidak menemukannya.
Sejujurnya, ia tidak pernah menghadapi penolakan sebanyak ini sebelumnya. Ia pernah kecewa, tentu saja. Tapi tidak sebanyak ini, apalagi secara beruntun dalam satu hari seperti hari ini. Xika adalah orang pertama yang berhasil menolak dirinya berkali-kali. Dan jujur saja, ia merasa tertantang untuk membuat Xika 'melihat' dirinya.
"Saudara Xing? Hari sudah cukup terang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum melanjutkan?"
Xika tidak suka kata terakhir. Tapi yang bisa keluarkan dari mulutnya hanyalah,
"Eh......ya."
Mereka berjalan lagi untuk mencari tempat makan. Tapi tempat makan yang ada di pikiran Xika dan Wu Liao cukup berbeda. Apa yang Wu Liao inginkan sebagai tempat makan adalah restoran mahal yang mewah. Tentu saja pelayanan dan penampilannya harus memukau. Ia tidak terlalu mempermasalahkan tentang makanannya. Berbeda dengan Xika. Apa yang ia inginkan adalah makanannya. Selama makanannya enak, ia tidak peduli di mana tempatnya, sekalipun itu di pinggir jalan.
Dan ia menemukannya.
Tidak jauh di depannya, terdapat berbagai macam dagangan kaki lima. Xika langsung melangkah kesana. Ia lupa dengan keberadaan Wu Liao. Gadis impian dalam benak banyak pria yang tidak pernah mereka lupakan setiap malam, Xika lupakan begitu saja setelah melihat makanan.
Sementara itu, Wu Liao juga sedang memperhatikan hal lain sehingga tidak memperhatikan keberadaan Xika. Di dekat berbagai dagangan kaki lima yang sedang dituju Xika, berdiri sebuah restoran mewah yang tidak akan menjadi pilihan pertama Xika untuk makan siang. Sayangnya, itulah pilihan pertama Wu Liao untuk makan siang.
"Saudara Xing? Di sana ada sebuah restoran. Bagaimana kalau kita makan disana?"
Tapi Wu Liao tidak mendengar jawaban jadi ia memanggil Xika lagi.
"Saudara Xing?"
Akhirnya ia menoleh dan menemukan bahwa Xika tidak ada di tempat ia berdiri sebelumnya. Ia menoleh ke sana kemari sebelumnya menemukan Xika yang sedang memesan nasi goreng.
Wu Liao melangkah mendekat.
"Saudara Xing? Apa yang kau lakukan?"
Xika menoleh. Ia menemukan Wu Liao yang sedang berjalan mendekat. Ia benar-benar lupa dengan gadis itu.
"Ah, Saudari Wu? Aku sedang memesan makanan. Kau mau juga?"
__ADS_1
Wu Liao memberikan tatapan aneh pada Xika yang baru pertama kali ia tunjukkan. Tidak higienis, makanan murahan, tempat penuh penyakit dan banyak kata lagi yang akan ia keluarkan ketika melihat tempat itu. Tapi ia berusaha menahannya.
"A-ah? Kupikir kita akan makan disana?" tanya Wu Liao sambil menunjuk restoran yang ia lihat sebelumnya.
"Sayang sekali. Aku sudah memesan makanan. Akan sayang kalau ditinggalkan begitu saja." kata Xika yang merasa tidak sayang sama sekali. Dan sebuah ide melintas dalam kepalanya.
Yang dikatakan Xika adalah:
"Ah! Bagaimana kalau Saudari Wu makan saja disana? Aku akan menunggu disini."
Tapi yang ada dalam pikirannya adalah:
"Pergilah! Pergi dan makanlah di restoran itu. Aku akan langsung kabur selesai makan dan kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Tapi tampaknya Wu Liao menyadari rencana Xika. Ia terlihat ragu dan mengalami pergumulan berat. Akhirnya ia berkata,
"Tidak perlu. Kalau Saudara Xing sudah memesan makanan, maka aku juga akan makan disini."
Kali ini giliran Xika yang kecewa dengan jawaban Wu Liao. Rencananya untuk melarikan diri dari gadis ini gagal. Wu Liao menyadari kekecewaan Xika.
"Kenapa Saudara Xing tampaknya tidak senang?"
"Aku? Tentu saja aku tidak senang. Pesananku datang lama sekali."
Yang sebenarnya ingin dikatakan Xika adalah:
"Tentu saja aku tidak senang. Kau mengikutiku kemanapun aku pergi dan aku tidak bisa pergi darimu. Bagaimana aku bisa senang?"
Wu Liao tampaknya masih curiga dengan Xika tapi berusaha tidak mempedulikannya. Ia mengambil kursi dan duduk di samping Xika.
"Jadi......apa saja menunya? Dimana menunya?" tanya Wu Liao kebingungan. Ia tidak pernah makan di pinggir jalan sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya, tentu saja ia bingung. Sebagai salah satu dari salah satu Empat Wanita Tercantik di Ibukota, bagaimana mungkin ia akan makan di pinggir jalan kalau bukan karena Xika?
"Menu?" Xika bertatap-tatapan dengan penjual nasi goreng. Kemudian ia mengeluarkan suara-suara yang terdengar seperti "Ekhem-ekhem......."
Ia menepuk pundak si penjual nasi goreng kemudian bertanya,
"Kawan, ada makanan apa saja di tempat ini?"
"Nasi goreng, bihun goreng, mie ayam, mie kocok, ayam goreng, sate ayam, sate sapi, sate kambing, kwetiau goreng, ayam bakar, ikan bakar, ikan goreng, martabak asin dan manis, sop buntut, dan gorengan."
Xika mengangguk-angguk.
"Begitulah, Saudari Wu. Kau mau makan apa?"
Wu Liao mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Ia tampak kebingungan.
"E-eh? Anu.....bisa diulang?"
Penjual nasi goreng tidak keberatan. Ia mengulang kembali dagangan apa saja yang ada di tempat itu sambil mengaduk-ngaduk kuali di tangannya dan membuat nasi didalamnya melompat-lompat.
Wu Liao masih bingung. Akhirnya ia menyamakan pesanannya dengan Xika. Berbeda dengan Wu Liao bingung dan tampak tidak nyaman, Xika terlihat bersemangat apalagi setelah mendengar makanan apa saja yang dijual.
"Saudari Wu, tolong tunggu sebentar."
"Kau mau kemana Saudara Xing?"
Tapi Xika tidak menjawabnya. Ia meninggalkan Wu Liao yang kebingungan dan pergi menuju berbagai gerobak. Ia diam selama beberapa menit di gerobak yang satu kemudian melangkah ke gerobak yang lain. Ia melakukannya berulang kali sampai semua gerobak telah ia kunjungi.
Wu Liao tampak terpana dengan apa yang baru saja Xika lakukan.
"Apa yang kau lakukan Saudara Xing? Kenapa kau memesan semua makanan itu?"
Biasanya, jawaban yang akan diberikan sang pria pada wanita adalah 'Karena kau bingung mau pilih yang mana, maka kupesan semua agar kau bisa mencobanya'. Tapi jawaban yang diberikan Xika adalah,
"Hm? Tentu saja untuk kumakan. Apa lagi?"
Dan Wu Liao terdiam tanpa bisa menjawab Xika sepatah katapun.
__ADS_1