Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-223


__ADS_3

Xika menepuk punggung Wu Liao dengan canggung. Ia tak menyangka bahwa gadis ini akan memeluknya tiba-tiba seperti itu. Kemudian, matanya menangkap pergerakan lain di Jalan Utama. Xingli. Gadis itu melihat mereka. Ia pasti salah paham.


"Xingli!"


Tap!


Tap!


Tap!


Gadis itu tidak menghentikan langkahnya sama sekali. Xika berusaha membebaskan dirinya dari Wu Liao, tapi gadis itu menolak.


"Xingli! Tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"


Tak ada gunanya. Gadis itu seolah tak mendengar ucapannya sama sekali. Xika menurunkan tangan Wu Liao dari pinggangnya, tapi gadis itu kembali memeluknya.


"Wu Liao, tolonglah! Aku harus mengerjarnya."


"Kenapa?"


"Apa?"


"Kenapa? Kenapa kau mengejarnya? Kenapa kau tidak bisa melihatku? Apa yang ia miliki yang tidak aku miliki? Apa yang harus kulakukan agar kau melihatku? Sebenarnya apa salahku?"


Dan raut wajah Xika berubah. Ia menghela nafas dengan kasar. Wu Liao melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Xika dan mendapati dirinya sakit hati melihat ekspresi yang terpasang di wajah Xika. Ia tak bisa medeskripsikan ekspresi itu. Beberapa ekspresi terlalu sulit untuk dideskripsikan. Tapi ia merasakan sakit saat melihatnya.


"Apa? Apa salahku? Kenapa kau terus memperlakukanku seperti ini? Apa aku bahkan tidak pernah ada di hatimu?"


Xika menutup matanya perlahan, seperti yang biasa dilakukan Heiliao. Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum membuka matanya. Ia mendapati Wu Liao yang tengah menatapnya dengan ekspresi rumit. Harapan, kekecewaan, kesedihan, dan yang paling terlihat, kebingungan.


"Kau tidak salah apa-apa. Aku yang salah karena berharap lebih padamu."


Ucapan Xika itu bagaikan hantaman telak bagi Wu Liao.


"Tapi.....tapi kenapa? Aku tidak melakukan apa-apa!"


"Ada yang bilang, orang baik yang tidak melakukan apa-apa adalah orang jahat."


Sekali lagi, Xika berhasil menusuk hati Wu Liao.


"Tidak, tunggu. Seingatku kau melakukan satu hal," Xika menatap Wu Liao. Kemudian kakinya melangkah mundur. "Inilah yang kau lakukan."


Wu Liao menggeleng.


"Kau melangkah mundur."

__ADS_1


"Tidak! A-aku tidak bermaksud........aku hanya......" Wu Liao terdiam. Ia tak bisa meneruskan ucapannya.


"Sebelumnya kau bertanya, apakah kau pernah ada di hatiku. Jawabannya adalah, hampir. Kau hampir berhasil membukanya. Sayangnya, kau melangkah mundur. Ingatlah, satu langkah mundur yang kau ambil di hari itu, tak akan bisa kau tebus berapapun langkah maju yang kau ambil di masa depan. Apa yang harus kau lakukan agar aku melihatmu? Tak ada. Kau tak akan bisa membuatku melihatmu."


"........................"


"Kalau begitu kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa tidak kau tinggalkan aku saja dari awal? Untuk apa repot-repot menyelamatkanku?"


"Entahlah. Tampaknya aku memang tidak seharusnya menolongmu."


Wu Liao sangat berharap bahwa Xika melakukan hal itu karena tanpa sadar dirinya sudah berhasil masuk ke dalam hati Xika. Namun tampaknya itu hanyalah kesalahan Xika. Atau mungkin hanya sebatas rasa kasihan Xika padanya.


"Apa kau menyesal menolongku?"


"...................tampaknya begitu."


Xika berjalan pergi, mengambil arah yang sama dengan Xingli. Wu Liao meneteskan air matanya. Ia berusaha menahannya, tapi tetesan-tetesan itu perlahan menumpuk hingga tak bisa dibendung lagi dan akhirnya menjadi aliran yang penuh dengan kesedihannya.


"Bagaimana dengan gadis itu? Apa yang ia lakukan? Kenapa kau selalu melihatnya? Apa sejak awal ia sudah berada di hatimu?" tanya Wu Liao. Ia menanyakan hal yang sudah dipikirkannya cukup lama.


Tep!


Xika terdiam sesaat. Kemudian melangkah maju lagi, mengabaikan Wu Liao sepenuhnya.


--------------------------------------


Ia tiba di depan gerbang Jade Village dan membukanya. Kosong. Tak ada lampu yang menyala. Heiliao dan Huo Bing memang hampir tidak pernah menyalakan lampu bahkan saat malam sekalipun. Tapi biasanya Xingli menyalakan lampunya bahkan saat siang sekalipun.


Apa yang dilakukan gadis itu? Harusnya ia tiba tidak lama setelah gadis itu bukan? Kenapa gadis itu tidak menunggunya? Kadang Xingli suka membiarkan pintu kamarnya terbuka, entah apa alasannya. Tapi kini pintu kamar gadis itu tertutup rapat.


Xika menghampiri kamar gadis itu. Ia hendak mengetuk pintu, tapi tangannya hanya mengambang di depan pintu. Apa yang ia lakukan? Apa yang akan ia katakan? Menjelaskan semuanya? Apakah Xingli akan mendengarkan? Kenapa ia harus menjelaskannya?


Pertanyaan Wu Liao masih terngiang di kepalanya. Ia berhasil memperjelas hubungannya dengan Wu Liao. Kini mereka tak lebih dari orang asing yang pernah bertemu beberapa kali. Lalu bagaimana dengan Xingli? Siapa gadis itu baginya? Apakah gadis itu berada dalam hatinya?


Setelah terdiam cukup lama, Xika menurunkan tangannya. Ia melangkah menuju kamarnya.


Bruk!


Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tubuhnya tidak dalam kondisi yang baik saat ini. Meskipun hanya menerima beberapa serangan dari Hua Zhantian, tapi masing-masing serangan berhasil melukainya cukup parah. Namun semua itu tidak sebanding dengan hatinya. Perasaannya masih kacau. Jauh lebih kacau daripada tubuhnya.


Hari ini ia mematahkan hati seorang gadis. Hal yang mustahil bahkan dalam mimpinya bagi dirinya bertahun-tahun yang lalu. Di Shaking Card, tak ada yang menyukainya. Di kota dekat klan itupun tak ada yang menyukainya. Seorang teman saja ia tak punya, apalagi pacar. Tak ada satupun gadis yang menyukainya.


Tapi kini ia berbeda. Ia sudah jauh berbeda dibanding dirinya yang dulu. Kini banyak gadis yang menyukainya. Dan ia berhasil mematahkan salah satunya. Ia sering mendapat tatapan dari berbagai gadis di Akademi. Mereka menaruh kekaguman dalam tatapan mereka. Ia bisa mendengar ketawa mereka dan ekspresi mereka yang malu-malu setiap kali ia melewati mereka.


Namun tak ada ketulusan dalam tatapan mereka. Ia bisa merasakannya. Mereka menyukainya hanya karena ia kuat. Karena ia berbakat. Karena ia mempunyai prestasi-prestasi lainnya, makanya mereka menyukainya. Bagaimana kalau ia tak memiliki semua hal itu? Kejadiannya akan sama seperti di Shaking Card dulu.

__ADS_1


Karena itu pada dasarnya manusia sama saja di dunia ini. Mereka hanya menyukai apa yang berguna bagi mereka. Lalu bagaimana dengan Xingli? Apakah gadis itu sama dengan manusia lain? Sejujurnya, ia tak tahu.


Apa arti gadis itu baginya?


Xingli adalah seorang rekan. Hanya itu yang bisa ia pikirkan saat ini.


Ucapan Wu Liao kembali terngiang di kepalanya.


*"Bagaimana denganĀ *gadis itu? Apa yang ia lakukan? Kenapa kau selalu melihatnya? Apa sejak awal ia sudah berada di hatimu?"


Apa yang Xingli lakukan?


Pikiran Xika kembali melayang ketika ia berhadapan dengan Heiliao. Gadis itu menodongkan pedangnya pada Heiliao setelah melihat aura Xika yang berantakan.


Ia menunjukkan kepedulian. Kepedulian yang sudah lama tak Xika terima dari orang lain.


Gadis itu juga menunjukkan punggungnya pada Xika. Kepercayaan. Gadis itu memberinya kepercayaan. Itulah yang dilakukan Xingli hingga membuat Xika selalu melihatnya.


Baginya, Xingli adalah seorang rekan yang tak tergantikan. Selain itu? Ia tak tahu. Apa ia mengharapkan lebih? Ia merasa senang saat Xingli yang terkenal dingin itu memeluknya. Ia merasa senang saat gadis itu mencurahkan air matanya pada Xika disaat orang lain bahkan tak pernah melihat Xingli berekspresi. Apa artinya semua itu?


Apa ia hanya senang karena ada seorang gadis cantik yang memeluknya? Atau lebih dari itu? Sejujurnya, Xika benar-benar tidak tahu.


Siapa dirinya menurut gadis itu? Bagaimana anggapan gadis itu padanya? Apa gadis itu juga menganggapnya sebagai rekan? Atau lebih?


Mereka sudah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Apa artinya itu?


Entahlah. Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Xika memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu secara berulang dalam kepalanya, sampai akhirnya kelopak matanya terasa berat dan iapun tertidur. Bahkan dalam mimpinya pun, pertanyaan-pertanyaan itu masih terus muncul.


Ia terbangun karena sinar matahari menyorot langsung ke matanya. Pikirannya masih sama kusutnya dengan kemarin, tapi tubuhnya sudah lebih baik, sedikit.


Ia membuka pintu hanya untuk melihat pemandangan yang sama seperti kemarin malam. Kosong. Heiliao dan Huo Bing nampaknya masih sibuk berkultivasi dan bersaing satu sama lain. Sementara Xingli.......ia tak tahu. Lampu kamarnya masih mati. Entah gadis itu masih ada di kamarnya atau tidak.


Tadinya ia hendak menemui Huo Bing atau Heiliao, tapi ia tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk bicara. Jadi ia melangkah menuju perpustakaan. Buku selalu bisa menenangkan perasaannya. Di saat pusing seperti ini, ia suka membaca buku, jadi pikirannya bisa teralihkan sejenak.


Di jalan menuju perpustakaan, jalanan dipenuhi banyak orang. Sebagian diantaranya tidak mengenakan seragam Akademi. Tampaknya mereka berasal dari klan lain dan besar kemungkinan mereka adalah lawannya. Semoga saja mereka tidak membuat masalah. Tidak pada dirinya. Ia sedang malas meladeni mereka.


Jadi Xika memutar tubuhnya dan memilih untuk mengambil jalan lain menuju perpustakaan meskipun itu lebih panjang. Tapi salah seorang dari kerumunan itu bergerak menghampirinya.


"Tolong tunggu sebentar!"


Apa orang itu bicara padanya? Tidak, tidak. Abaikan saja. Pura-pura saja tidak mendengarnya.


Tapi orang asing itu keras kepala. Ia berlari untuk mengejar Xika.


"Sebentar. Apa kau Xing Xika?"

__ADS_1


"..............."


__ADS_2