
Beberapa saat sebelumnya, ketika Elder Xu tengah digempur habis-habisan, ia mulai menahan pergerakannya. Kalau bukan serangan yang membahayakan nyawa, maka ia tak akan menahannya. Hal itu lumayan menghemat energi. Meskipun, setelahnya ia mendapatkan rasa sakit yang lumayan.
Beberapa saat setelah menyadari alasan pergerakannya melambat, Elder Xu tak lagi melawan. Alih-alih melawan gempuran Yun Xingzhao, Li Tang, dan Liang Jihua, pria tua itu lebih memilih untuk menyiapkan rencana selanjutnya. Kalaupun ia berhasil melawan gempuran ketiganya, masih ada Xika yang menahan pergerakannya.
Dan lagi kemampuan anak itu cukup hebat. Elder Xu tak yakin bisa mengalahkan Xika dengan tubuhnya yang melambat dan penuh luka. Jadi sang pria tua lebih memilih untuk menyusun rencana yang mampu mengalahkan keempatnya secara bersamaan.
Jadi Elder Xu mulai mengumpulkan qi nya untuk menghempaskan angin yang menahannya sekaligus mampu melukai tiga orang lainnya. Sekalipun ledakan itu bagaikan pedang bermata dua, Elder Xu masih bisa menahannya dengan tubuhnya yang kuat. Berbeda dengan Li Tang dan Liang Jihua.
Tapi sayangnya, rencananya kembali gagal.
Sesaat sebelum Elder Xu meledakkan qinya, Xika telah meledakkan angin yang berada di sekitar Elder Xu duluan. Hal itu sama sekali diluar perkiraan sang pria tua. Alhasil, Elder Xu hilang kontrol akan qi yang tengah dikumpulkannya dan ledakan angin Xika berhasil mengacaukan qi yang ia kumpulkan sehingga mengalir tak beraturan dan menyebabkan luka internal.
BLARRRR!
"UHUK!"
Tes!
Tes!
Tes!
Tetes-tetes darah mulai berjatuhan dari seluruh tubuh Elder Xu. Bahkan bibirnyapun dipenuhi darah akibat pendarahan internal. Elder Xu tak berlarut-larut dalam keterkejutannya. Ia menggertakkan giginya dan segera mengatur aliran qi di dalam tubuhnya agar kembali teratur.
Tapi belum selesai ia mengatur qinya, sebuah bayangan datang dan mengikat kakinya. Belum cukup, hawa dingin berkumpul di kakinya dan membentuk es yang tebal.
"Uhuk! Apa kalian-uhuk! pikir........ini akan-uhuk!......cukup....uhuk!.....?"
Seolah menjawab pertanyaan Elder Xu, Liang Jihua mengarahkan serbuk-serbuk esnya hingga menempel di seluruh tubuh Elder Xu. Kemudian sebelum Elder Xu menyadari apa yang terjadi, serbuk es yang telah menutupi tubuhnya menjadi boneka salju berubah menjadi ribuan es yang menusuk tubuhnya di saat yang bersamaan.
"GHAK!"
Crat!
Kalau ledakan angin Xika berhasil membuat Elder Xu meneteskan darahnya, serangan Liang Jihua kali ini berhasil membuat Elder Xu memuntahkan darahnya hingga membasahi duri-duri es yang putih menjadi merah.
Drrrrt! Drrrt! Drrrt!
Lutut Elder Xu bergetar hebat. Kalau tak ada es yang menahan kakinya, ia akan berlutut sejak lama. Tapi es di kakinya justru memaksa dirinya untuk terus berdiri, alhasil membuat lututnya gemetar hebat.
Liang Jihua menatap sosok Elder Xu dengan kening yang basah dengan keringat. Membuat bidang es, melempar jarum es, meluncurkan duri es berkali-kali, menyebarkan serbuk es dan mengubahnya menjadi duri es, dan serangan yang terakhir sangat menguras qinya. Apalagi beberapa hal seperti meluncurkan duri es membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
Tatapan gadis itu dipenuhi harap-harap cemas. Ia menyadari lutut Elder Xu yang bergetar. Dalam hati, ia berharap semoga saja sang pria tua bergetar karena kelelahan dan tak mampu berdiri lagi. Kalau getaran lutut Elder Xu bukan karena kelelahan.......
Syut!
"HEAH!"
Dari balik pohon, melesatlah Yun Xingzhao. Sebelumnya, ketika ledakan terjadi, ia terhempas ke belakang pohon dan bersembunyi di balik sana. Sekalipun berhasil bersembunyi, tapi bukan berarti Yun Xingzhao tidak terluka sama sekali. Tubuhnya kini tak sepenuhnya dilapisi batu meteor seperti sebelumnya.
Serbuk-serbuk batu berjatuhan dan memperlihatkan kulitnya yang penuh dengan luka. Nampaknya hasil dari pertarungan dengan Elder Xu sebelumnya. Tapi, meskipun tubuh meteornya tak lagi utuh, Yun Xingzhao masih melaju dengan penuh tekad.
Ia harus mengalahkan Elder Xu. Dan sekaranglah kesempatannya. Xika bilang tindakan ini hanya untuk berjaga-jaga, tapi itu berarti Xika sekalipun tidak yakin apakah serangan Liang Jihua akan berhasil mengalahkan Elder Xu atau tidak. Karena itu, ia harus memastikan bahwa Elder Xu telah benar-benar pingsan mereka kalahkan.
DUAK!
__ADS_1
BAK!
BUK!
Tinju Yun Xingzhao berhasil menghancurkan duri es Liang Jihua dan membuat serpihan esnya masuk ke dalam tubuh Elder Xu. Sekalipun begitu, Yun Xingzhao tetap tidak berhenti. Ia terus melayangkan tinjunya. Ia baru akan berhenti kalau sudah benar-benar yakin bahwa Elder Xu telah kalah.
BUK!
PAK!
DAK!
Bruk!
Setelah sekian banyak pukulan, akhirnya Yun Xingzhao berhenti. Ia ingin melayangkan satu pukulan lagi, tapi tubuhnya sudah tak kuat. Tangannya terasa berat setelah dihantamkan berkali-kali ke tubuh Elder Xu. Kakinya juga tak lagi memiliki tenaga. Yun Xingzhao jatuh dalam posisi terduduk. Kepalanya menengadah dengan cemas.
Kemudian, ia bertemu pandang dengan Elder Xu. Sejenak ia merasa kaget, bahwa semua serangan sebelumnya masih tidak bisa menjatuhkan Elder Xu. Tapi kemudian, Yun Xingzhao menyadari bola mata Elder Xu naik ke atas. Pria tua itu telah pingsan, entah sejak kapan.
"Fuhhh....."
Akhirnya ia bisa menghela nafas lega. Kemudian,
Bruk!
Iapun jatuh dan mukanya menghantam tanah. Tidak jauh darinya, terdengar suara Xika memanggilnya, menanyakan keadaannya.
"Saudara Yun! Apa kau baik-baik saja?"
Cepat-cepat Xika menghampiri Yun Xingzhao. Kemudian Xika melihat tubuh Yun Xingzhao yang penuh dengan luka memar bekas pukulan Elder Xu. Lapisan Meteor di tubuhnya sudah tak ada lagi, benar-benar mengungkapkan kondisinya yang lemah.
Xika menatap Yun Xingzhao dengan bimbang. Ia hendak menyembuhkan pria itu, atau setidaknya meringankan lukanya. Tapi kalau ia melakukannya itu berarti ia akan menggunakan elemen air yang sama dengan mengungkapkan kekuatannya.
Sesosok tiba di sampingnya. Xika mengangkat kepalanya dan melihat wajah dingin Liang Jihua yang tengah menatap Yun Xingzhao.
"Jangan bilang kau tak bisa menyembuhkannya?" tanya gadis itu.
"Ahahahaha......" Xika hanya menjawab dengan tawa kering.
"Kalau begitu apa gunanya kau menghampiri dia cepat-cepat? Cih." Meskipun menggerutu, Liang Jihua mengangkat kedua tangannya menghadap Yun Xingzhao.
"Nona Liang.......mungkinkah elemen esmu......?"
"Es juga masih memiliki hubungan dengan air. Jadi, ya. Esku mampu menyembuhkan."
Xika mengangguk mengerti. Ia melirik Yun Xingzhao yang perlahan-lahan ditutupi es. Ia terlihat mirip dengan Elder Xu sesaat sebelum Liang Jihua mengubahnya menjadi sasaran duri tajamnya. Xika berharap dalam hati semoga saja Liang Jihua tak berubah pikiran dan tiba-tiba menusuk Yun Xingzhao dengan ribuan durinya juga.
"Aku tak punya kemampuan penyembuh," Li Tang juga datang dan melihat kondisi Yun Xingzhao. Setelah itu ia menatap Xika dan Liang Jihua. "tapi aku memiliki salep dan beberapa pil."
Ia menyerahkan salepnya pada Xika sambil berkata, "Kau juga sebelumnya bertukar pukulan dengan Elder Xu kan? Sekalipun tak seperti dia, tapi kau juga pasti terluka."
Kemudian, ia menyerahkan beberapa pil juga pada Liang Jihua tanpa mengatakan apapun. Si gadis mendengus kasar.
"Huh, kau kira Northern Light Palace kekurangan pil penyembuh?" Tapi ia tetap mengambil pil yang disodorkan Li Tang padanya.
Tak lama kemudian, Yun Xingzhao membuka matanya. Merasakan perasaan dingin yang aneh namun nyaman, iapun menoleh dan melihat tubuhnya dilapisi es. Setelah terdiam sejenak, ekspresi damainya berganti ngeri.
__ADS_1
"Ada apa, Saudara Yun? Kenapa wajahmu begitu?"
"G-gadis ini........akankah ia menusukku dengan duri-duri seperti yang ia lakukan pada Elder Xu sebelumnya?"
Ah. Xika tersenyum mengerti. Siapapun yang melihat tubuhnya diselimuti es pasti akan berpikir begitu setelah melihat serangan penghabisan Liang Jihua.
"Ck, dasar tidak tahu diri. Sudah untung aku meringankan lukamu, bukannya berterima kasih malah menghina."
Liang Jihua tak lagi membantu Yun Xingzhao. Ia menurunkan kedua tangannya dan espun menghilang dari tubuh Yun Xingzhao, kemudian ia pergi menjauh. Mungkin untuk beristirahat sekaligus menyembuhkan dirinya sendiri.
Ketika es mulai menghilang dari tubuhnya, rasa sakit kembali menyerang Yun Xingzhao membuatnya menyesal telah menyebabkan Liang Jihua menjauh.
"Saudara Li, tolong jaga Saudara Yun. Mungkin aku sebaiknya bicara dengan gadis buas itu."
"Pfft...." Li Tang menahan tawanya mendengar panggilan Xika pada Liang Jihua sambil mengangguk.
Xika berjalan mendekati Liang Jihua. Tapi dari jarak beberapa meterpun, tatapan tajam gadis itu telah menusuknya seolah terganggu dengan kehadirannya.
"Apa yang kau mau?" ucapnya dengan ketus.
Xika menggaruk kepalanya dengan bingung. Seingatnya ia tidak pernah menyinggung gadis di depannya. Bahkan mereka sudah bertarung bersama sebelumnya. Kenapa gadis ini masih begitu ketus padanya?
"Anu, Nona Liang? Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak lihat aku kelelahan? Cepat pergi kalau kau hanya ingin basa-basi."
Kini Xika jadi makin bingung bagaimana harus menanggapi gadis ini.
"Yah, tampaknya kita memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan. Boleh aku tahu darimana kau mendengarku? Tidak bermaksud menyinggung tapi, seingatku aku tidak pernah bertemu denganmu. Bagaimana kau bisa bicara seolah-olah kau telah mengenalku? Dan lagi, kenapa kau sebelumnya menyelamatkanku?"
"Ck, tidak tahu terima kasih." Liang Jihua memalingkan kepalanya.
Xika menghela nafas dalam-dalam. Tampaknya, di depan gadis ini ia harus banyak-banyak bersabar. "Aku berterima kasih karena telah menolongku sebelumnya. Tapi aku penasaran dengan alasanmu melakukannya."
"Seorang teman........mengatakan padaku tentangmu. Ia mengatakan kau kuat, tapi rupanya kau sangat lemah. Temanku pasti sudah buta. Bisa-bisanya ia mengatakan kau kuat?"
Senyum canggung nan bingung terpampang di wajah Xika. "Jadi..........apa kau menolongku karena temanmu itu? Apa ia berasal dari sekte yang sama denganmu juga?"
Sekalipun Liang Jihua memalingkan wajahnya, Xika dapat melihat sedikit ekspresi gadis itu yang berubah menjadi murung ketika ia membicarakan temannya.
"Tidak...........ia sudah pergi."
"Oh..........kapan ia kembali?"
"Tidak tahu.......mungkin tidak akan......."
Ketika membicarakan temannya itu, nada Liang Jihua mulai melembut. Tidak lagi ganas seperti sebelumnya. Xika jadi bertanya-tanya bagaimana sosok teman Liang Jihua ini sebenarnya dan mahkluk macam apa yang ingin berteman dengan gadis buas semacam Liang Jihua.
"Kalau aku boleh tahu.........siapa namanya? Mungkin di masa depan aku bisa berterima kasih padanya." Xika tersenyum.
Syut!
Liang Jihua langsung berbalik menatap Xika tepat ke matanya dengan tajam. "Tidak! Aku tak akan memberitahumu apapun lagi tentang temanku. Kau terlalu lemah. Menangkan kompetisi ini dulu baru kembali lagi padaku. Sekarang pergilah dan lupakan percakapan ini. Anggap saja hal ini tak pernah terjadi."
Xika jadi bingung dengan perubahan mendadak Liang Jihua. Mengapa ia menjadi ganas lagi seperti sebelumnya? Apa ia sudah menyinggung Liang Jihua atau temannya tanpa sengaja? Tunggu dulu. Liang Jihua adalah salah satu dari Empat Gadis Tercantik. Mungkin ia sudah menyinggung penggemarnya tanpa sengaja?
__ADS_1
Mungkin saja. Tapi rasanya aneh kalau penggemar Liang Jihua membicarakan Xika pada Liang Jihua. Tunggu, mungkin bukan penggemarnya. Bisa saja Gadis Tercantik yang lain kan? Kalau diingat-ingat.......Wu Liao juga termasuk salah satu dari Empat Gadis Tercantik kan?
Jangan bilang, teman yang dibicarakan Liang Jihua adalah Wu Liao?