
Saat itu juga, Zheng Wei langsung tahu bahwa Xika adalah anak dari Xing Taiyang. Ia tak butuh bukti lain, ia sangat yakin akan hal itu. Tapi sayangnya tidak semua orang sama dengannya. Mereka tidak akan langsung percaya begitu saja.
Sambil berpikir, Zheng Wei tidak sadar bahwa ia membuka mulutnya. Hal itu membuat Xika kebingungan. Apa harusnya ia memberikan jawaban yang lebih jelas?
"Eh....apa kau baik-baik saja?"
Zheng Wei mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum sadar.
"Ah, ya......Apa kau.......benar-benar anak Taiyang?"
Deg!
Jadi pria ini memang mengenal ayahnya. Ia tidak salah dengar kemarin. Harusnya ia bukan musuh ayahnya mengingat bagaimana pria-pria itu menyapanya dengan ramah sebelumnya.
"Ya. Aku memang anaknya. Apa kau mengenal ayahku?"
"Mendadak aku merasa tua. Xing Taiyang? Memiliki anak? Dan sudah sebesar ini? Hahhh.......aku benar-benar sudah tua."
Xika jadi bingung bagaimana harus merespon. Kali ini giliran ia yang bingung dengan jawaban yang diberikan Zheng Wei. Sebelumnya ia berharap akan mendapatkan kenangan-kenangan apa yang pria itu lakukan bersama ayahnya atau kemana terakhir ia pergi. Tapi ini sungguh diluar dugaan.
"Ehhh....jadi? Apa aku boleh masuk desamu?"
Wajah Zheng Wei kembali serius.
"Aku tidak yakin akan semudah itu. Warga desa yang lain tak akan percaya denganmu seperti diriku. Mereka membutuhkan bukti bahwa kau benar-benar anak Xing Taiyang. Apa kau punya?"
"Aku tak yakin apa ini bisa dijadikan bukti atau tidak tapi kau periksa saja dulu." ucap Xika sambil menyerahkan Cosmos pada Zheng Wei. Pria itu menerimanya dengan mata lebar dan memegangnya dengan perlahan seolah itu adalah benda berharga.
"Ini......darimana kau mendapatkannya?"
"Ayahku, tentu saja."
Zheng Wei mengambil beberapa kartu dan membolak-balikkanya untuk dilihat lebih jelas. Setelah itu ia menggeleng dan menghela nafas.
"Aku tak yakin mereka bisa mengenali kartu ini. Taiyang pasti menggunakannya sangat sering sampai lusuh seperti ini. Maafkan aku, tapi kartu ini tidak bisa membuktikanmu sebagai anak Taiyang. Apa kau punya benda lain?" ucap Zheng Wei menyesal sambil memberikan kartu itu kembali pada Xika.
Xika menerima kartu itu sambil berpikir. Beberapa saat kemudian ia menggeleng.
"Sayangnya tidak. Kartu itu satu-satunya benda yang kumiliki yang berasal dari ayahku. Apa tidak ada cara lain?"
"Entahlah. Kita coba saja dulu. Mungkin beberapa penduduk akan mengenalimu. Ayo masuk."
Zheng Wei melangkah pergi sementara Xika kembali untuk mengajak Heiliao dan Huo Bing. Tapi kedatangan keduanya membuat Zheng Wei terkejut setengah mati. Tangannya kembali bergetar seperti kemarin.
"A-apa mereka juga.........kenal Taiyang......?"
__ADS_1
"Tidak. Mereka teman-temanku. Apa ada masalah?"
Zheng Wei menelan ludahnya sebelum bicara. Tapi tatapannya tertuju pada Heiliao.
"S-saranku....jangan bawa mereka masuk.....kalau kau masih ingin diterima oleh para warga......"
Xika kebingungan melihat reaksi Zheng Wei, tapi ia tahu itu bukanlah reaksi yang dibuat-buat. Dari kakinya, ia bisa melihat bahwa Zheng Wei berusaha keras untuk tidak melarikan diri.
"Baiklah," ucap Xika, kemudian ia berbalik, "Kalian tunggu dulu disini sebentar. Aku akan kembali kalau sudah selesai."
Heiliao mengangguk mengerti sementara Huo Bing mendengus kesal. Setelah itu Xika berjalan masuk dipimpin oleh Zheng Wei dengan kakinya yang bergetar hebat.
Desa yang dimasukinya tidak jauh berbeda dari desa lainnya, tapi Xika dapat merasakan kedamaian dan rasa kekeluargaan hanya dari bangunan-bangunan yang ada. Kaki Zheng Wei masih bergetar tapi sudah lebih baik. Ia melihat beberapa warga desa yang baru pulang memancing.
Mereka melihat dirinya kemudian tersenyum ramah sambil menyapanya.
"Oi, Taiyang! Kemana saja kau sialan!"
Tapi wajah mereka berubah saat berjalan mendekat dan menyadari bahwa yang bersama dengan Zheng Wei bukanlah Xing Taiyang. Mereka langsung meletakkan hasil pancingan mereka dan berdiri waspada. Dan sekali lagi, Xika melihat ekspresi ketakutan.
Zheng Wei langsung maju dan berusaha menenangkan rombongan yang baru pulang memancing itu.
"Tenang, tenang. Dia tak berbahaya."
"Zheng Wei. Siapa dia?"
"Tenang dulu. Coba kalian lihat baik-baik dirinya. Tidakkah ia mirip dengan seseorang?" tanya Zheng Wei berharap mereka dapat melihat Xing Taiyang dalam putranya sama seperti yang ia lakukan.
"Aku tidak peduli dia mirip siapa. Yang aku pedulikan adalah siapa dia dan kenapa dia ada disini. Bisa kau jelaskan itu, Zheng Wei?"
Yang lain mengangguk penuh persetujuan sambil menjaga kewaspadaan mereka. Zheng Wei kehabisan kata-kata. Ia tak menduga akan ditolak secepat ini. Ngomong-ngomong, ia sama sekali tidak tahu siapa nama anak ini.
"Kau dengar apa yang mereka katakan. Bisa kau perkenalkan dirimu?" ucap Zheng Wei tak memilki pilihan lain.
"Namaku Xing Xika, putra Xing Taiyang. Aku berhasil sampai ke tempat ini setelah melewati hutan bambu berkabut dan sosok penjaga yang tidak lain adalah ayahku sendiri."
Sebenarnya, mengucapkan nama Xing Taiyang di awal cukup bagus dan dapat menambah kesan pada warag desa. Tapi entah mengapa rombongan itu justru malah tambah curiga karena nama Xing Taiyang. Yah, meskipun harus diakui bahwa rombongan itu terkejut ketika ia menyatakan dirinya sebagai putra Xing Taiyang.
"Xing Xika, putra Xing Taiyang, huh?"
Sesosok pria kekar maju dan memperhatikan Xika dari atas sampai bawah. Pria itu menatap wajahnya selama 30 detik tanpa berkedip sekalipun mengingatkan Xika dengan lomba tatap mata yang dulu ia mainkan dengan ayahnya.
Melihat Xika yang mulai terganggu, Zheng Wei segera menyudahi kegiatan yang dilakukan pria kekar itu.
"Ah, Fu Shang. Bukankah kau baru pulang memancing? Kau pasti lelah. Istirahat saja dulu. Jangan pikirkan aku dan anak ini."
__ADS_1
Kemudian Zheng Wei melesat pergi sambil membawa Xika mengabaikan tatapan menusuk yang diberikan rombongan memancing itu. Ia berhenti setelah menemukan tempat yang cukup sepi.
"Maaf. Mereka memang tak mudah percaya orang. Tapi harusnya mereka dapat melihat Taiyang dalam dirimu. Aku tak mengerti apa yang mereka pikirkan. Apa kau ingin mencoba menemui warga yang lain?"
Xika mengangguk. Zheng Wei mengajaknya berkeliling hanya untuk mendapatkan respon yang sama dengan sebelumnya. Disapa ramah karena disangka Xing Taiyang, kemudian diperlakukan seolah binatang buas. Xika memang kesal, tapi ia lebih penasaran dengan alasan kenapa mereka bersikap seperti itu.
Saat ini ia mengikuti Zheng Wei yang kelihatannya sudah lelah. Pria itu cukup baik. Ia meminta maaf setiap kali para warga menolak Xika dan memberikan beberapa kata penyemangat. Tapi pria itu juga kelelahan. Ia hanya berjalan tak menentu dan mengenalkan Xika pada setiap orang yang ditemuinya.
Mendadak Xika melihat sesuatu yang bersinar. Bentuknya terasa familiar. Ia berjalan mendekati benda bersinar itu tanpa mempedulikan Zheng Wei yang berjalan ke arah lain.
"Hahhhh......aku tak tau apa yang salah dengan mereka. Apa kita coba lagi besok? Bagaimana menurutmu, Xika? Xika? Dimana kau?"
Zheng Wei berjalan di depan jadi ia tidak terlalu memperhatikan Xika. Meskipun begitu, karena jarak mereka yang cukup dekat, harusnya tak butuh waktu lama untuk menyadari Xika hilang. Sayangnya, saat ia sadar Xika menghilang, Xika sudah sampai di depan tugu bersinar.
"Xika! Apa yang kau lakukan?" Zheng Wei langsung berlari mendekati Xika hendak menariknya pergi. Tapi sudah terlambat. Beberapa warga desa melihatnya dan memanggil yang lain dengan muka tak suka. Kali ini, ekspresi tak suka mereka lebih besar dibanding ekspresi ketakutan mereka.
"Zheng Wei? Aku menemukannya. Aku merasakan tugu ini yang memanggilku."
"Itu tidak penting sekarang. Kita harus pergi."
"Tunggu sebentar. Aku harus melihat tugu itu lebih dekat."
Xika berjalan maju tak mempedulikan peringatan Zheng Wei. Ia semakin dekat hingga akhirnya berdiri di depan tugu batu bersinar itu. Tangannya ia angkat hendak menyentuh tugu itu, tapi sebuah pisau melayang dari kumpulan massa yang entah sejak kapan mulai berkumpul.
"Dasar sialan! Mau apa kau?!"
Beruntung, Xika menarik tangannya tepat waktu sehingga pisau itu tidak mengenai sasarannya. Ia berbalik dan baru menyadari bahwa para warga sudah berkumpul dan mereka menatapnya dengan tidak suka. Amat tidak suka.
Para warga lain mulai mengeluarkan senjata mereka dan bersiap bertarung melihat Xika yang tidak berniat pergi dari tugu itu. Mereka tak bisa membiarkan tugu itu dinodai. Mereka akan melindunginya sekalipun harus mengorbankan nyawa.
"Turun kau, bocah sialan!"
"Pergi saja kau!"
"Apa maumu?!"
Tadinya Xika ingin mundur melihat betapa hebohnya mereka. Tapi sepertinya ia tak akan mendapat kesempatan menyentuh tugu ini lagi berikutnya. Jadi ia putuskan untuk mengabaikan mereka dan menyentuh tugu itu.
SYUT!
Sebuah pisau kembali melayang. Kemudian pisau-pisau lainnya juga. Tapi Xika tak mempedulikannya. Bahkan menolehpun tidak. Ia mengambil selembar kartu dan menangkis pisau-pisau itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya ia sentuhkan pada batu yang sudah memanggilnya sejak lama.
"ZHENG WEI!"
Tap!
__ADS_1
Sesaat setelah Xika menyentuh tugu batu itu, cahanya bertambah terang hingga membuat semua orang termasuk Xika menutup matanya.