
"................."
Mendengar jawaban Xika itu, tak ada yang bisa bereaksi. Tak ada yang mengharapkan jawaban seperti itu.
"Apa? Jawaban macam apa itu?"
Xika hanya mengangkat bahu tak peduli. Ia berjalan menuju Huo Bing kemudian memberi tahu Heiliao kartu burung itu keras-keras. Tindakannya itu sukses membuat Huo Bing menjitak kepalanya dengan keras.
Tak mempedulikan seluruh pasang mata yang memandangnya, Xika duduk dan bergabung untuk bermain kartu bersama mereka. Kedatangannya membuat jumlah pemain menjadi genap 4. Xingli juga ikut bermain meskipun agak bingung.
Keempatnya benar-benar mengabaikan semua orang yang hadir. Kalau hanya Xingli, mereka sudah biasa. Karena gadis itu selalu bersikap demikan selama dua tahun ini. Lagipula gadis itu memiliki kekuatan yang layak untuk dapat bersikap seperti itu. Tapi kini ada tiga orang tambahan lagi. Dan sepertinya mereka juga memiliki kekuatan yang layak. Xika sudah membuktikan kekuatannya.
Memang, bukan hanya tindakannya saja yang mengejutkan para elder. Kemampuan Xika jauh diluar perkiraan para elder yang hadir. Tak pernah mereka sangka bahwa Xika seorang diri dapat mengalahkan semua murid yang hadir. Benar, semua murid.
Terlihat jelas bahwa kalau pertarungan dilanjutkan lebih jauh maka Xika yang akan keluar sebagai pemenang. Kalau ia bekerja sama dengan Xingli atau dua teman lainnya masih bisa diterima meskipun agak mengejutkan, tapi ia tidak. Xika benar-benar bertarung seorang diri. Dan menang.
Selain itu, Penatua Fen melihat bahwa serangan Xika tidak sesederhana kelihatannya. Ketika ia melempar kartu, sekilas ia terlihat seolah hanya melempar secara acak. Tapi sebenarnya kartu-kartu itu mendarat tidak jauh dari dantian para murid.
Orang awam mungkin mengira itu hanya keberuntungan, tapi Penatua Fen tidak. Ia tahu kalau Xika mau, ia bisa mengarahkan kartunya dengan tepat ke dantian para murid. Setelah selesai bertarungpun nafasnya masih tetap stabil, wajahnya juga selalu tenang, mulai dari awal sampai akhir pertarungan.
Terakhir, ia sengaja berhenti ketika jumlah murid yang tersisa sudah mencapai dua puluh. Anak itu juga sanggup memperhatikan sekelilingnya, padahal ia sedang dikepung oleh musuhnya. Anak itu memang bukan orang biasa.
Semua elder yang lain memandang Xika dan lainnya dengan tatapan tidak suka. Tindakan mereka itu sama saja dengan mengabaikan para elder dan tak menganggap para elder sama sekali. Tapi ketika melihat itu, justru Penatua Fen malah tertawa.
"Bagus, bagus sekali! Sekarang kita telah mendapatkan dua puluh murid terkuat. Seperti yangs sudah kukatakan tadi, pertandingan selanjutnya akan kita adakan besok."
Banyak murid menggelengkan kepalanya dengan kecewa karena tidak berhasil menjadi Murid Dalam, tapi ada juga yang senang karena sekalipun mereka gagal menjadi Murid Dalam, mereka berhasil menyaksikan pertarungan yang luar biasa.
"Tapi karena sekarang masih pagi, kenapa tidak kita lakukan sekarang saja? Bukankah kalian juga penasaran dengan juaranya?"
Ucapan Penatua Fen itu menghentikan langkah para murid yang hendak kembali ke kediaman mereka.
"Baiklah, karena tidak ada yang keberatan maka babak berikutnya akan dimulai setelah istirahat lima menit." ucap Penatua Fen mengabaikan tatapan penuh keberatan dari Xika.
Sadar bahwa Penatua Fen tak berniat merubah keputusannya, Xika menghela nafas dan melanjutkan permainan kartunya, tak sadar bahwa kartunya telah diintip oleh Huo Bing.
Melihat Xika yang paling kuat saja tak menolak keputusan Penatua Fen, para murid lainnya juga mengikutinya. Tapi mereka berkumpul membentuk lingkaran sendiri, menjauhi lingkaran Xika dan lainnya. Pertarungan dengan Xika sebelumnya berhasil membuat hubungan para murid senior dan junior itu menjadi dekat.
Mereka berkumpul bersama membahas bagaimana strategi mengalahkan Xika.
Penatua Fen tidak berkata apa-apa melihat para murid yang terbagi menjadi dua kubu seperti ini. Tapi matanya tidak lepas dari kelompok Xika. Samar-samar ia bisa melihat kilatan yang tidak biasa di mata Huo Bing dan Heiliao. Kilatan ganas yang kalau bisa ingin ia hindari.
"Baiklah, lima menit selesai. Mari kita mulai!"
Xika kembali menghela nafas, tapi kali ini sambil berdiri. Awalnya ia berdiri sejajar dengan Huo Bing, Heiliao, dan Xingli. Tapi kemudian burung sialan itu menendangnya. Sebelum sempat protes, burung itu berkata,
"Sedang apa kau? Cepat maju sana. Kau hanya diperbolehkan kembali setelah mengalahkan semuanya. Sana, hus, hus!" Burung itu membuat gerakan mengusir binatang.
Tentu saja, ucapan Huo Bing itu membuat semua yang hadir terkejut, tak terkecuali Xika maupun Penatua Fen. Apa yang dikatakan Huo Bing itu sama saja dengan merendahkan semua murid yang hadir. Ia mengatakan bahwa ketiganya lebih kuat dan tugas Xika hanyalah mencari satu lagi orang untuk menjadi lima besar.
__ADS_1
"Hoi, sialan! Apa-apaan maksudmu itu, hah?!"
"Apa kau menganggap kami lebih lemah darimu?"
Banyak murid mulai berteriak pada Huo Bing, bahkan tak sedikit yang sudah bersiap untuk bertarung.
"Hoo? Bagaimana ini? Sepertinya mereka menantangmu. Apa yang akan kau lakukan?" ucap Xika menggoda Huo Bing. Dari awal sampai akhir, baik Huo Bing maupun Xika sama sekali tidak menganggap tinggi para murid yang lain.
"Heh, sepertinya kita harus pamer lagi. Ayo, Serigala Gosong."
Heiliao melangkah maju tanpa bicara sama sekali. Bersama Huo Bing, ia mendekati para murid. Sekilas langkah yang mereka ambil terlihat biasa. Tapi para murid itu merasakan tekanan yang semakin bertambah seiring langkah yang diambil.
"A-apa....?"
"Kekuatan macam apa ini....."
"A-aku....tak bisa bernafas......."
Bruk!
Satu persatu para murid mulai jatuh tak kuat menahan tekanan yang diberikan Heiliao dan Huo Bing. Hanya tinggal satu orang yang masih bisa berdiri, itupun dengan susah payah.
"Yah, sepertinya kau akan jadi peringkat kelima. Selamat." Huo Bing menepuk pundak satu-satunya murid yang masih berdiri dua kali kemudian berjalan pergi.
Langkah yang diambil Huo Bing dan Heiliao saat mereka menjauh membuat tekanan yang ada semakin berkurang. Seperti langkah sebelumnya, hanya saja kali ini kebalikannya.
"Hehehe.....kali ini kau tidak jadi pamer...." Huo Bing tersenyum pada Xika.
Burung itu bersiul-siul pura-pura tak mendengar.
"Pe-penatua Fen, apakah ini diperbolehkan....?"
Para elder yang hadir sebenarnya tidak suka dengan sikap Huo Bing yang sombong dan seenaknya. Tapi mereka tidak bisa bertindak begitu saja, jadi mereka bertanya pada Penatua Fen.
"Yah, tak apalah. Lagipula aku juga belum mengatakan bagaimana peraturannya di babak kedua ini. Itu membuatku tidak perlu pusing memikirkannya lagi." Berbanding terbalik dengan para elder, Penatua Fen tidak terlalu peduli dengan Huo Bing, bahkan sepertinya senang.
Setelah itu Penatua Fen berbalik menatap keempat orang yang menjadi sorotan utama kali ini.
"Hei, kalian."
Xika dan lainnya berbalik ketika Penatua Fen memanggil mereka.
"Karena sekarang tinggal kalian yang tersisa, kalian harus menentukan pemenangnya bukan? Bagaimana kalian akan bertarung?"
Mendengar perkataan Penatua Fen itu, semua orang yang hadir langsung terkejut. Bahkan Xika mengerutkan keningnya dengan bingung. Penatua Fen bertanya pada mereka bagaimana mereka akan bertarung? Bukankah harusnya ia yang menentukan peraturan sebagai seorang Penatua?
Tapi Huo Bing dan Heiliao tak terlalu peduli. Penatua Fen yang dianggap tokoh besar yang tak bisa disinggung oleh semua orang, hanyalah orang biasa bagi Huo Bing dan Heiliao. Di masa puncak mereka, bahkan tanpa berkedip mereka bisa membunuh ribuan orang seperti Penatua Fen ini.
"Yah, kita sudah mendapatkan peringkat lima. Kita harus mendapatkan peringkat empat dan tiga bukan?"
__ADS_1
Heiliao melirik Huo Bing dan mengerti apa yang burung itu coba sampaikan. Mereka sebaiknya mengalah dan membiarkan Xika dan Xingli yang memperebutkan posisi. Kalau untuk Xika, ia tidak keberatan, tapi kalau untuk gadis itu......
"Kita tentukan dalam sekali jalan. Bagaimana?"
"Setuju."
Huo Bing dan Heiliao berjalan ke tengah Halaman Utama. Pandangan antusias memenuhi tempat itu. Kalau keduanya bersikap seperti ini, maka tidak akan ada banyak yang mau menonton mereka.
Tapi ketika mereka telah menyaksikan kekuatan Xika, banyak orang menjadi bertanya-tanya akan kekuatan kedua temannya ini. Bagaimanapun, mereka seharusnya tidak lebih lemah dari Xika bukan? Bahkan para elder, terutama Penatua Fen ingin tahu kekuatan mereka.
Adu tatap antara Huo Bing dan Heiliao membuat para penonton menjadi semakin tegang. Apa keduanya akan menunjukkan kekuatan yang tidak kalah dari Xika? Akankah mereka menonton pertarungan luar biasa lainnya?
"Hiyah!"
Whush!
Huo Bing membentuk kepalan tangan dengan apinya sementara Heiliao membuat tangan yang terbuka dengan qi hitamnya.
"Apa? Tidak mungkin! Aku kalah?!"
"Heh."
"Tidak, aku tidak terima. Ayo ulangi sekali lagi!"
"Tidak."
"Apa? Kau takut ya? Bilang saja kalau kau takut. Aku akan mengalah."
"Kau memang sudah kalah."
"Uhh....." Kali ini Huo Bing tak bisa menjawab balik.
Sementara Huo Bing masih protes tidak terima dengan kekalahannya dalam suit, semua orang yang hadir dibuat diam terkesima dengan tindakan Huo Bing dan Heiliao itu. Banyak yang merasa tertipu, termasuk para elder. Mereka mengira Huo Bing dan Heiliao akan bertarung. Apalagi sebelumnya mereka telah mengeluarkan aura yang cukup kuat.
Tapi nyatanya mereka hanya memutuskan peringkat tiga dan empat dengan suit. Para murid senior yang sebelumnya menempati peringkat lima besar dalam Ujian Peringkat pasti akan batuk darah kalau mendengar hal ini.
Namun tak ada yang berani protes. Karena bagaimanapun juga, Penatua Fen telah membiarkan mereka mengatur peringkat mereka dengan cara mereka sendiri. Dan sampai sekarang Penatua Fen masih tak bicara, artinya ia tidak keberatan.
Mengabaikan Huo Bing yang masih protes dengan kekalahannya, Heiliao menepuk bahu Xika.
"Giliranmu."
"Ya."
Setelah itu ia menatap Xingli yang juga menatapnya balik. Tanpa melepas pandang dari satu sama lain, keduanya berjalan menuju tengah Halaman Utama.
"Seingatku terakhir kali kita tidak berhasil menyelesaikan pertarungan kita karena ada pengganggu. Kali ini mari kita tentukan siapa yang lebih kuat." Xika tersenyum penuh semangat memandang gadis dewi di hadapannya.
Xingli tidak menjawab, tapi matanya menunjukkan bahwa ia siap.
__ADS_1
"Seperti dulu?"
Dan Xika mendapat anggukan sebagai jawaban.