
Xika menunggu Huo Bing dengan berkultivasi. Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu dengan Xingli, tapi gadis itu terus berkultivasi dari tadi, jadi Xika juga ikut berkultivasi tanpa pilihan lain.
Jadi, selama sehari Xika berkultivasi untuk menunggu Huo Bing.
Esok harinya Xika berhenti berkultivasi. Ia mencoba merasakan Huo Bing dan memanggilnya.
Tapi tak ada jawaban.
Ia tidak terlalu khawatir pada Huo Bing, karena cukup yakin dengan pil pemberian Xingli. Tapi ia tidak melanjutkan kultivasinya.
Belakangan ini, ia naik tingkat cukup cepat. Jadi ia tidak mau terburu-buru naik tingkat lagi. Sebaliknya ia ingin membiasakan diri dengan kekuatannya. Hal itu juga bisa memperkuat fondasi. Huo Bing juga mengingatkan jangan hanya mengejar tingkat kultivasi, tapi juga harus mengasah kemampuan.
Jadi Xika berdiri dan mengubah Space Shifter menjadi tongkat.
Kemudian ia berlatih dan mengayunkan Space Shifter.
Ia menyerang beberapa pohon kemudian melompat beberapa kali untuk mengubah arah serangannya. Sesekali ia akan melemparkan kartunya dan menambahkan elemen.
Xika berhenti sebentar. Ia mengingat-ingat kembali apa yang pernah diajarkan Huo Bing sebelumnya.
Perbedaan paling mendasar antara Qi Gathering dan Forming Qi adalah penggunaan qi. Kultivator tahap Qi Gathering tidak bisa mengeluarkan qi dari tubuhnya. Paling-paling, ia hanya bisa melapisi tubuhnya, atau benda yang ia pegang. Sementara Forming Qi sudah dapat mengeluarkan qi dari tubuhnya dan menggunakannya untuk serangan.
Xika duduk dan mencoba mengeluarkan qi nya. Perlu konsentrasi, tapi akhirnya ia berhasil melakukannya. Setelah berhasil mengeluarkan qi nya, ia mencoba mengarahkannya pada rumput tidak jauh darinya. Qi Xika terbang sejauh 5 senti sebelum akhirnya menguap dan hilang.
Xika diam terkejut melihat hal itu. Ia mengira setidaknya qi nya bisa memotong atau menerbangkan rumput itu, tapi bahkan mencapai rumput itu saja ia tidak bisa. Padahal jarak antara dirinya dan rumput itu tidak lebih dari dua meter.
Xika menoleh melihat Xingli, memastikan ia masih berkultivasi. Kemudian kembali fokus mengarahkan qi nya pada rumput itu. Ia akan malu bila Xingli melihatnya tidak bisa mengarahkan qi nya lebih dari 5 sentimeter dari tubuhnya.
Tapi Xingli memang melihatnya.
Tidak lama setelah Xika memastikan Xingli masih berkultivasi, Xingli membuka matanya dan melihat Xika yang sedang berjuang menyentuh rumput dengan qi nya dari jarak sekitar dua meter.
Ia merasakan tatapan seseorang jadi ia membuka matanya dan memeriksanya. Tapi ia malah menemukan Xika yang sedang melakukan hal yang cukup memalukan menurut Xika. Entah kenapa, Xingli tidak melanjutkan kultivasinya, ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Ia lebih memilih menyaksikan Xika menyentuh rumput itu daripada berkultivasi.
Setelah berjuang selama sejam, akhirnya Xika berhasil menggoyangkan rumput itu sedikit.
"Bagus!"
Xika bersorak senang. Kemudian ia menoleh untuk memastikan Xingli masih berkultivasi.
Dan ia menemukan Xingli tengah menatapnya.
"........."
"........"
"Su-sudah berapa lama kau selesai berkultivasi?"
Xingli tidak menjawab.
"A-apa kau melihat apa yang baru kulakukan?"
Xingli mengangguk.
Xika segera memalingkan mukanya. Harga dirinya telah hancur. Ia menunjukkan sisi lemahnya pada Xingli.
"Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?"
Setelah bergumul cukup berat, akhirnya Xika mencoba mengajak Xingli bermain kartu, ia berniat membuat Xingli segera melupakan pemandangan tadi.
Ketika Xika berbalik dan melihat Xingli, Xingli mengarahkan energinya dan membuat rumput yang hanya bergoyang sedikit oleh Xika menjadi bergerak cepat beberapa kali dan akhirnya tercabut dan terbang entah kemana.
"......"
Xingli sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Tapi ia cukup menikmati ekspresi yang ditampilkan Xika saat ini.
__ADS_1
Xika tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang dan apa yang harus ia lakukan.
"Ka-kau juga bisa ya......Aku juga sedang melatih teknik itu.....Ah! Bagaimana bila kita bermain kartu sebentar? Kau bisa bermain kartu kan?"
Kemudian Xika duduk dan Xingli juga duduk berhadapan dengan Xika.
Xika mengeluarkan kartu yang pernah ia gunakan untuk menyerang Xingli sebelumnya. Dan Xingli melihat Xika dengan tatapan aneh bercampur waspada.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Meskipun sering kugunakan sebagai senjata, aku juga sering menggunakannya untuk bermain kartu."
Dan Xingli menatap Xika dengan pandangan yang semakin aneh. Biasanya kultivator tidak akan menggunakan senjata mereka untuk hal kecil atau tidak penting. Terlebih bila senjata itu merupakan artefak kelas atas.Tapi tidak dengan Xika. Ia menggunakan kartu yang adalah senjatanya untuk berbagai hal yang tidak terlalu penting, seperti memotong daging dan bermain kartu.
Xika tidak tahu apa yang biasa dilakukan oleh kultivator, tapi kalaupun ia tahu ia tidak akan peduli. Cara berpikir Xika agak berbeda dengan kultivator lain. Bagi mereka itu adalah senjata yang berharga, tapi bagi Xika itu adalah kartu remi yang kebetulan bisa dijadikan senjata.
"Apa kau tahu capsah?"
Xingli diam dan berpikir, kemudian ia mengangguk.
Xika mulai membagikan kartu.
Mereka bermain beberapa ronde dan Xika memenangkan semua putaran dengan telak.
"Cekih!" kata Xika dengan senyum lebar di wajahnya.
Xingli diam sebentar melihat kartunya dan menggeleng.
Xika menaruh kartu terakhir di tangannya dan menang lagi.
"........"
Xingli menatap tumpukan kartu di depannya selama beberapa saat. Kemudian ia berdiri dan menghunuskan pedangnya.
"He-hei..... apa-apaan ini? Kau tidak terima dikalahkan olehku ya?"
Xingli tidak menjawab, tapi ia menatap mata Xika dengan tajam. Dan Xika mengerti arti tatapan itu.
Tapi Xingli masih menodongkan pedangnya pada Xika.
"Hahhh..... Kalau tidak percaya, kau bisa mengocok kartu itu untuk mencegahku berbuat curang."
Xingli masih menatap Xika dengan tajam selama beberapa saat kemudian menurunkan pedangnya dan mengocok kartu. Ia masih tidak percaya Xika tidak curang, karena dari tadi memang Xika yang mengocok kartu.
Setelah semua kartu telah dibagikan, Xika mengambil kartunya. Tapi sebelum ia melihat kartunya, Xingli memberinya tatapan tajam.
"......."
Xika berpura-pura tidak melihat tatapan itu dan menyusun kartu di tangannya.
"Baiklah. Karena aku menang sebelumnya, aku yang jalan duluan."
Xika mengeluarkan 5 kartu sekaligus dan semua kartu itu memiliki lambang yang sama.
Xingli berpikir sebentar kemudian ia juga mengeluarkan 5 kartu sekaligus. Namun kartunya tidak memiliki simbol yang sama, tapi angka yang sama. 3 angka 10 dan 2 angka 7.
"Hmmm.....Threespair ya....."
Xika melihat kartunya.
Xingli berharap Xika tidak bisa mengeluarkan kartu lagi dan membiarkan ia jalan duluan di putaran berikutnya, tapi harapannya tidak terjadi.
Xika mengeluarkan 4 kartu dengan angka yang sama dan 1 kartu yang berbeda angka.
"......."
Melihat Xingli yang tidak mengeluarkan kartu lagi, Xika menganggap ia sudah menyerah. Jadi Xika mengeluarkan kartu lagi dari tangannya.
__ADS_1
Kartu itu bertuliskan 2 dengan gambar hati terbalik berwarna hitam dan memiliki garis kecil di bawahnya.
Mata Xingli melebar melihat kartu yang Xika keluarkan.
Sementara Xika hanya tersenyum melihat Xingli yang terkejut. Kemudian ia mengeluarkan dua kartu yang tersisa di tangannya dengan senyum lebar.
"Aku menang."
Berbeda dengan Xika yang tersenyum lebar, wajah Xingli sama sekali tidak menunjukkan senyum.
Xingli menatap Xika dengan tatapan seolah ingin memakannya.
"Ba-bagaimana kalau kita berlatih saja?"
Usul itu langsung disambut oleh Xingli yang mencabut pedangnya dan menebaskannya ke Xika.
Kartu-kartu yang tadinya menumpuk di depan Xika kini terbang dan menghalangi serangan Xingli.
Xingli menarik pedangnya dan menebas Xika dari arah yang berbeda. Tebasan itu tertahan oleh Space Shifter yang kini berbentuk tongkat.
Xika dan Xingli saling beradu tenaga selama beberapa saat. Kemudian Xika mengarahkan kartu yang sebelumnya menjadi perisai untuk menyerang Xingli.
Xingli terpaksa mundur untuk menghindari kartu Xika.
Xika berjalan maju dan mengarahkan kartunya untuk menyerang Xingli dari arah yang berbeda-beda.
Tapi Xingli menebas kartu-kartu Xika dengan kuat dan maju dengan tatapan tajamnya.
"Sepertinya aku dalam bahaya."
Pagi itu dihabiskan dengan Xingli yang menyerang Xika tanpa ampun. Ia tidak peduli apa yang Xika katakan atau lakukan, ia tidak berhenti menyerang Xika sampai serangannya mengenai Xika.
Saat matahari berada di puncaknya, Xika sedang terduduk lelah dengan luka tebasan pedang di seluruh tubuhnya.
Xingli duduk tidak jauh dari dari Xika tapi masih dengan tatapan yang menusuk Xika.
"Hei hei....kau sudah membuat seluruh tubuhku penuh dengan goresan pedangmu. Apa itu masih belum cukup?"
Xingli tidak menjawab Xika dan mengalihkan pandangannya.
Xika hanya bisa menghela nafas.
Setelah beristirahat selama beberapa saat, ia bangkit untuk mencari makan siang.
Ia berjalan menuju sungai tempat ia mandi sebelumnya. Ia hendak menangkap ikan untuk makan siang.
Ia menggulung celananya sampai selutut kemudian masuk ke dalam sungai.
Setelah berhasil menangkap beberapa ikan yang cukup untuk makan siang mereka berdua, Xika hendak kembali menuju Xingli.
Namun seekor mahkluk dengan tubuh panjang dan penuh corak menyerang Xika.
Xika menangkap mahkluk yang menyerangnya. Ternyata itu adalah ular air.
"Ular ya....lumayan juga. Pasti rasanya enak."
Mendadak Xika mengingat kembali apa yang ia lakukan sebelum terhisap oleh lubang hitam Heiliao.
"Sial!"
Xika segera bergegas menuju Xingli.
"Xingli! Ayo pergi. Cepat! Kita tidak punya banyak waktu. Sembunyikan auramu."
Xingli tidak mengerti apa yang Xika katakan, tapi melakukannya.
__ADS_1
Jadi Xika dan Xingli pergi tanpa sempat makan siang.
Tapi Xika lupa bahwa ular air yang ia pegang masih belum mati.