Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-187


__ADS_3

Semua orang yang hadir dibuat terpana dengan pertarungan keduanya. Bukan hanya para murid yang menjadi penonton, tapi para elder yang menjadi juri termasuk Penatua Fen pun terpana dengan Xingli dan Xika.


Kalau hanya Xingli saja, mereka tidak terlalu terkejut. Bagaimanapun juga, gadis itu memiliki identitas misterius yang tidak sanggup dilawan oleh kekuatan setingkat akademi. Namun saat ini pria yang datang dari antah berantah juga menampilkan kekuatan yang setara dengan gadis misterius itu.


Tapi entah kenapa, beberapa orang menebak Xika bukanlah orang yang memiliki asal-usul luar biasa. Meskipun Xingli tak pernah bicara, tapi melalui bahasa tubuhnya, banyak orang bisa melihat bahwa gadis itu memang tidak berasal dari Dinasti Lin.


Sayangnya Xika berbeda. Kalau membandingkan bahasa tubuh keduanya, mereka bagaikan dua orang yang berbeda bagai langit dan bumi. Jadi ada orang yang dengan tegas menyangkal dugaan bahwa Xika berasal dari kekuatan yang sama dengan Xingli dan merupakan tunangan gadis itu.


Sebagian menyangkal karena mereka tidak rela gadis impian mereka diambil pria lain sementara sebagian yang lain menyangkal murni karena logika. Penatua Fen termasuk dalam jenis yang kedua. Meskipun Xika memiliki kemampuan yang luar biasa, ia juga beranggapan bahwa Xika tidak berasal dari kekuatan yang sama dengan Xingli.


Salah satu alasan terbesarnya ia beranggapan begitu karena Huo Bing dan Heiliao. Keduanya begitu kuat hingga Penatua Fen curiga bahwa keduanya adalah pengawal Xika. Kalau benar Xika berasal dari kekuatan yang sama dengan Xingli, seharusnya anak itu juga bepergian sendiri tanpa pengawal.


Melepaskan jenius mereka ke dunia luar sudah biasa bagi kekuatan papan atas. Mereka percaya bahwa pengalaman dapat membuat jenius mereka semakin berkembang dan memang benar adanya. Namun biasanya mereka tidak melepas para jenius begitu saja.


Setidaknya mereka akan mengutus seorang pengawal untuk menemani jenius itu berkelana. Tentu saja pengawal itu akan menyembunyikan dirinya agar tidak diketahui jenius yang berkelana. Hanya disaat bahaya saja baru pengawal itu menunjukkan diri.


Penatua Fen sudah memeriksa bahwa Xingli tidak dilindungi oleh siapapun. Tidak ada pengawal yang bersembunyi dalam bayang-bayang. Hal semacam itu terbilang aneh bahkan ekstrim bagi kekuatan tingkat atas. Sementara Xingli tidak memiliki pengawal, Xika memiliki dua orang pengawal yang menunjukkan dirinya secara terang-terangan.


Dari situ bisa dilihat bahwa keduanya berasal dari kekuatan yang berbeda. Tapi tentu saja, semua dugaan itu berdasarkan tebakan bahwa Huo Bing dan Heiliao adalah pengawal Xika.


TRANG!


Pedang Xingli kembali bertemu Space Shifter Xika untuk kesekian kalinya dan keduanya masih belum menemukan pemenang. Keduanya sama-sama menjaga jarak untuk mengambil nafas.


Xika memperhatikan Xingli yang sedang mengatur nafas, begitu juga sebaliknya. Meskipun terlihat setara, tapi aura Xika lebih stabil. Perbedaannya sangat tipis sehingga Penatua Fen nyaris tak berhasil mengetahuinya.


Alasan aura Xingli lebih tidak stabil dibandingkan Xika sebenarnya sederhana. Gadis itu menggunakan qi untuk mengendalikan jarumnya sementara Xika hanya menggunakan pikirannya untuk mengendalikan kartu. Perbedaannya memang tidak terlalu kentara tapi kalau pertarungan dilanjutkan, lama-kelamaan Xingli akan kelelahan karena kehabisan qi.


Tentu saja itu kalau keduanya mempertahankan gaya bertarung seperti ini terus.


Kalau Penatua Fen yang hanya menjadi penonton saja sadar, maka Xika yang sedang bertarung pasti juga sadar bahwa Xingli akan kehabisan qinya lama kelamaan. Ia tersenyum kemudian mengecilkan, kalau dimata orang menghilangkan, pedangnya.


Setelah mengubah Space Shifter kembali menjadi gelangnya, Xika menarik selembar kartu dan mengeluarkan pisau dari cincin spasialnya. Pisau kembar yang diberikan Lian Minjie yang salah satunya Xika hilangkan dengan bodohnya.


Tangan kanan pisau, tangan kiri kartu. Begitulah cara Xika membuat para penonton termasuk para elder bingung. Sekilas Xingli juga bingung, kemudian ia mengerti maksud Xika.


Kalau bertarung dengan mengadu kartu dan jarum seperti tadi, bisa dipastikan Xingli akan kalah. Baik Xika maupun Xingli menyadari hal itu. Jadi Xika tidak ingin melanjutkan pertarungan itu. Bukan karena ia sombong, tapi karena ia menghormati lawannya.


Ia ingin menang dengan mengadu kelebihannya melawan kelebihan Xingli, bukan kelebihannya dengan kekurangan Xingli. Meskipun Xingli tidak mengerti, ia tetap menyarungkan pedangnya dan mengeluarkan pisau yang mirip dengan milik Xika dan beberapa jarumnya.


"Eh? Ada apa? Kenapa mereka tidak lanjut beradu pedang?"


Melihat bukan hanya Xika, tapi juga Xingli menyarungkan pedang, para penonton semakin bingung. Xika memang sudah biasa melakukan hal aneh, meskipun pada akhirnya mengejutkan, tapi kenapa Xingli juga ikut-ikutan aneh?


Diantara sekian banyak penonton, hanya Penatua Fen, Huo Bing dan Heiliao yang menyadari maksud keduanya.


Kali ini mereka bertarung murni menggunakan kemampuan fisik mereka. Kalau seperti ini, tidak akan ada yang memiliki keuntungan seperti tadi. Meskipun sebelumnya mereka juga mengadu fisik, tapi perlahan Xingli menggunakan qinya.


"Hehehe.....ini baru seru...." Usai bicara, Huo Bing memasukkan camilan ke dalam mulutnya dengan rakus.


"..........."


Syut!


Xika yang pertama memberikan serangan. Ia melempar kartunya. Xingli bersalto menghindar sambil melempar tiga jarumnya.


Tring! Wush!


Usai menangkis jarum Xingli, Xika kembali melempar kartunya.


Whush!

__ADS_1


Syut!


Tring! Trang! Tang!


Adu lempar kini terjadi. Xika melempar kartunya dan Xingli melempar jarumnya. Masing masing menyerang dan bertahan secara bersamaan melalui sudut yang tak terbaca hingga merepotkan para tetua untuk membuat penghalang agar serangan mereka tidak mengenai penonton.


Baik Xingli maupun Xika tak ada yang mengambil kartu atau jarum yang sudah terlepas dari tangan mereka. Itu semacam perjanjian tak terucap diantara mereka. Agar keduanya murni beradu fisik.


Sesekali, mereka akan melompat untuk mengambil kartu atau jarum yang tertancap. Tapi tak ada yang mengambilnya menggunakan qi atau konsentrasi. Keduanya sama-sama menggunakan fisik.


Akhirnya persediaan kartu dan jarum keduanya sama-sama habis, di waktu yang bersamaan pula. Jadi keduanya mengabaikan senjata rahasia mereka yang tertancap di lantai dan kembali menerjang satu sama lain.


Wung!


Xingli menyabetkan pisaunya menggores pipis Xika sementara anak itu berhasil menggores tepi pakaian Xingli.


Set!


Xika menusukkan pisaunya ke perut Xingli yang ditahan gadis itu dengan tendangan. Pisau Xika terlepas. Xingli tak menyia-nyiakan kesempatan. Gadis itu menebaskan pisaunya hendak merobek tubuh Xika.


Tap!


Xika menahan pergelangan tangan Xingli mencegahnya menebaskan pisau. Untuk beberapa saat, adu kekuatan terjadi. Xingli mengarahkan kakinya menuju kepala Xika. Ia tak menghindar. Ketika tendangan Xingli mengenai kepalanya, ia juga berhasil memutar lengan Xingli dan melepas pisaunya.


Kini keduanya sama-sama tak memiliki senjata. Tapi itu tak menghentikkan mereka untuk terus bertarung.


Pertama Xika mengayunkan kakinya, kemudian ditahan dengan sikut Xingli. Setelah bersalto ke belakang, Xika disambut dengan tendangan Xingli yang mengarah ke mukanya. Pemuda itu menggeser tendangan Xingli dan melayangkan tinjunya tepat ke wajah indah gadis itu.


Berbekal gaya dorong dari tepisan Xika terhadap tendangannya, Xingli memutar badannya untuk menghindari tinju Xika. Ketika matanya berhadapan dengan Xika, tinju keduanya bertemu.


KRAK!


Terdengar bunyi retak. Bukan dari tangan Xika, bukan juga dari tangan Xingli. Tapi dari lantai yang menahan keduanya bertarung.


Retakan itu semakin menyebar tak kuasa menahan serangan keduanya. Padahal Xika dan Xingli hanya beradu tenaga fisik, bukan menggunakan qi. Penatua Fen melotot hebat menyaksikan adegan itu.


Whush!


Keduanya sama-sama terlempar akibat tenaga masing-masing. Tak ada yang menang dari pertukaran barusan. Kekuatan fisik keduanya sama kuat. Teknik bertarung mereka juga sama kuat. Keduanya sama kuat. Tapi Penatua Fen tak mau menerima hasil seperti itu. Pasti salah satu lebih kuat. Hanya saja siapa?


Setelah pertukaran tinjunya yang sama kuat itu, keduanya tak melanjutkan pertarungan. Mereka hanya berdiri dalam diam dan saling menatap satu sama lain.


Xingli menatapnya tidak suka. Tatapannya terbaca jelas.


'Kenapa kau mengalah padaku?'


Xingli merasa Xika mengalah padanya karena tidak melanjutkan adu jarum dan kartu. Ia mengira bahwa Xika sengaja menahan diri.


Sesekali, Xika ingin membalas Xingli dengan tatapan juga. Jadi ia memberikan tatapan yang berarti,


'Aku tidak mengalah padamu. Bukannya kau yang mengalah padaku?'


Xingli sedikit terkejut ketika membaca mata Xika.


'Kau mengalah padaku. Kau tidak bertarung dengan menggunakan kartu seperti terakhir kali.'


'Terakhir kali adalah pertarungan hidup dan mati. Kau adalah musuhku waktu itu. Kali ini berbeda.'


Kali ini Xingli memberikan pandangan bingung.


'Ini hanyalah pertandingan persahabatan. Tidak perlu mengeluarkan seluruh kemampuan. Bukankah kau juga begitu?'

__ADS_1


Setelah pandangan kaget sesaat, Xingli memberikan pandangan yang tak terbaca. Keduanya kini tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah membaca tatapan Xika, Xingli sadar bahwa Xika juga belum mengeluarkan kemampuan penuhnya. Pria itu tidak menggunakan elemen atau racunnya. Tapi bagaimana pria itu bisa tahu bahwa dirinya juga tidak menggunakan kemampuan penuh?


Ketika Xingli bertanya-tanya mengapa Xika tahu gadis itu tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya, Xika sedang bertanya-tanya bagaimana kemampuan Xingli yang sebenarnya. Di pikirannya terbayang jelas jawaban dari pertanyaan yang berputar di kepala Xingli.


Kenapa Xika bisa tahu? Sederhana saja. Keduanya berada di tahap Forming Qi. Xika sendiri sudah bisa berkomunikasi dengan empat elemen sebelum dirinya mencapai Forming Qi, Xingli juga setidaknya saat ini sudah bisa berkomunikasi dengan alam.


Hanya saja gadis itu belum menunjukkan elemennya. Menyadari Xingli tidak menggunakan elemennya, Xika juga tidak menggunakan elemennya. Sayangnya, meskipun keduanya sepakat untuk mengeluarkan seluruh kemampuan mereka di awal, pada akhirnya mereka tidak mau mengungkapkan kemampuan penuh mereka.


Sementara keduanya saling berkomunikasi dengan tatapan, seluruh penonton dibuat bingung.


Setelah bertarung habis-habisan sebelumnya, sekarang mereka saling tatap? Apa maksudnya itu?


Bukan hanya penonton saja yang dibuat bingung. Bahkan Heiliao dan Huo Bingpun bingung dengan adu tatap keduanya. Penatua Fen juga berpikir keras mencoba mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.


Pertanyaan yang ada di benaknya sama dengan yang ada di benak semua yang hadir di sini. Kenapa mereka berhenti bertarung?


"Apa mereka sedang lomba tatap mata?"


Setelah mendengar pertanyaan entah dari siapa, Xika dan Xingli sadar bahwa semuanya menatap mereka dengan bingung. Jadi keduanya menoleh secara bersamaan menatap Penatua Fen.


"Ini....."


Penatua Fen memutar otaknya semakin keras mencoba memahami arti di balik tatapan keduanya. Tapi makna dari masing-masing tatapan, hanya Xika dan Xingli yang tahu. Hanya mereka berdua.


Akhirnya Penatua Fen menyadari sesuatu. Xingli dan Xika masih belum mengungkapkan kekuatan mereka seluruhnya. Bagaimana bisa ia baru menyadari hal itu sekarang? Pasti karena pertarungan keduanya begitu memikat.


Sepanjang pertarungan, keduanya tidak menggunakan qi atau elemen mereka. Kecuali lubang putih-hitam mereka dan jarum-jarum Xingli, keduanya tidak menggunakan qi.


Xingli hanya menggunakan qinya untuk mengendalikan jarumnya, bukan menggunakannya untuk menyerang secara langsung seperti membentuk pisau dari qi atau semacamnya. Sementara Xika sama sekali tak menggunakan qi.


Keduanya murni bertarung hanya mengandalkan fisik dan teknik bertarung mereka. Normalnya, kultivator yang berada di tahap Forming Qi sudah dapat berkomunikasi dengan alam dan menentukan elemen mereka.


Dengan bakat keduanya, Penatua Fen menolak untuk percaya bahwa mereka belum bisa berkomunikasi dengan alam. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya. Sepertinya keduanya menolak untuk menunjukkan kemampuan penuh mereka.


Mungkin itu juga alasan mengapa Xika menghentikan pertarungan adu pedang tadi yang disertai kartu dan jarum. Ia menggantinya dengan adu kartu dan jarum yang murni dengan kekuatan fisik. Xika ingin mencegah Xingli mengungkapkan kekuatan penuhnya.


Karena keduanya sudah sepakat untuk tidak menunjukkan kekuatan penuh mereka, bagaimana ia bisa menolak? Lagipula selagi identitas keduanya tidak diketahui, lebih baik untuk main aman.


"Hahaha.....sungguh pertarungan yang menarik. Baiklah! Ujian Peringkat sudah selesai. Lima besar dari keseluruhan murid, kalian akan menemuiku lagi disini besok. Dua puluh Murid Luar terkuat, kembali ke sini esok pagi untuk mendapatkan pin kalian. Itu saja. Sampai jumpa."


Selesai bicara, Penatua Fen langsung menghilang sama seperti bagaimana ia datang. Tapi ucapannya itu membuat hampir semuanya bingung. Para elder saling berpandangan sebelum membubarkan para murid dengan tidak yakin.


Baik para elder dan murid kembali memikirkan sebuah pertanyaan yang sama. Dari pertarungan tadi, diantara Xingli dan Xika, siapa yang menang? Siapa yang lebih kuat?


Sementara itu, dua orang tua yang menonton dari kejauhan sedang mengobrol.


"Tidakkah menurutmu pertarungan mereka terlalu berlebihan? Masing-masing serangan ditujukan untuk membunuh lawannya dan menargetkan titik fatal."


Pria tua yang satu lagi menggeleng.


"Dari luar memang kelihatan seperti itu. Tapi mereka tidak berniat saling membunuh satu sama lain. Keduanya menempatkan kepercayaan dalam setiap serangan yang mereka berikan."


"Kepercayaan?"


"Kepercayaan bahwa lawan mereka tidak akan kalah dan menerima serangan itu dengan mudah. Mereka yakin dan percaya bahwa lawan mereka bisa menghindari serangan yang mereka berikan. Karena itulah keduanya sama-sama memberikan serangan yang sengit. Sepanjang pertarungan, keduanya terus menempatkan kepercayaan dalam setiap serangan."


Kembali ke Halaman Utama.


Sebelum para murid bubar sepenuhnya, seseorang datang dengan tergesa-gesa dan tersenyum menemukan pria yang dicarinya. Tanpa sadar, kedatangannya menarik perhatian banyak orang.


Tap! Tap! Tap!

__ADS_1


"Hah.....hah.....akhirnya ketemu......jadi rumor itu memang benar....." ucap gadis itu dengan senyum di wajahnya.


__ADS_2