
Xika berjalan menuju rumah makan pertama yang ia temui lalu makan sepuasnya bersama Huo Bing dan Heiliao. Setelah itu mereka jalan-jalan mengelilingi kota dan melihat pemandangan. Sesekali Huo Bing membeli beberapa jajanan pinggir jalan seolah ia belum makan sebelumnya. Xika sendiri juga membeli beberapa dek kartu yang menurutnya memiliki tampilan cukup unik.
Mereka bersikap seolah tak tahu sedang diikuti. Pertama-tama, mereka akan membiarkan para mata-mata melihat kehidupan biasa mereka. Kalau beruntung, maka mereka akan pergi dan mempermudah segalanya. Tapi sayangnya, tak ada yang pergi sekalipun Xika sudah bersenang-senang seharian.
Matahari terbenam dan bulanpun menampakkan dirinya. Para warga mulai menyalakan lampu untuk menerangi jalanan. Beberapa pedagang membuat lampu unik agar menarik perhatian pelanggan. Tapi fokus Xika bukan untuk menikmati indahnya lampu jalanan, melainkan untuk berurusan dengan para ahli yang mengikutinya.
"Xika."
Xika terkejut mendengar suara Huo Bing di kepalanya, padahal kini burung itu sudah memiliki jiwa dan raga sendiri dan tak terhubung dengan Xika sama sekali. Tapi bagaimana bisa suara Huo Bing muncul di kepalanya?
"Jangan menoleh. Bersikap biasa. Mengenai hal ini akan kujelaskan nanti. Sekarang sebaiknya kita pikirkan cara bagaimana mengurus para penguntit-penguntit sialan ini."
"Ya. Mereka sudah mengikuti kita seharian. Aku curiga mereka akan terus mengawasi kita sekalipun sedang buang air."
Suara Heiliao juga terdengar di kepalanya. Kalau itu sih Xika tidak kaget. Heiliao sudah beberapa kali bicara dengannya seperti ini.
"Kira-kira ada berapa orang? Apa mereka semua berasal dari pihak yang sama?"
"Sekitar sepuluh orang. Dan mereka sepertinya berasal dari kekuatan yang berbeda mengingat perbedaan aura dan posisi mereka."
"Sepuluh? Lumayan juga. Kutebak mereka berasal dari kekuatan di belakang tiga orang yang kita kalahkan tadi bukan?"
"Masih kurang satu. Totalnya ada empat kekuatan berbeda yang berusaha menyelidiki asal-usul kita. Sepertinya akademi juga penasaran dengan kita."
"He? Akademi juga? Kalau begitu ini akan lebih mudah."
Xika kelihatan sudah memiliki rencana, jadi Huo Bing dan Heiliao tak lanjut bicara lagi. Kadangkala mereka memang seperti ini. Bukan berarti mereka tidak bisa menangani hal-hal ini, tapi mereka sengaja diam agar Xika terbiasa mengatasinya sendiri. Salah atau benar, itu adalah keputusan Xika. Kecuali Xika membuat pilihan yang sangat fatal, keduanya tak akan bergerak.
"Huo Bing, aku bisa merasakan beberapa orang terdekat, tapi aku tak bisa membedakan dari kekuatan mana mereka berasal. Bisa bantu aku?"
"Sebelah kanan, di depan penginapan, dua orang. Mereka berasal dari akademi."
Xika langsung berjalan mendekati arah yang ditunjuk Huo Bing. Ia mendekati dua orang yang sedang berpura-pura membaca koran.
"Ah, elder. Kebetulan sekali kita bertemu. Apa yang elder lakukan disini?" sapa Xika seolah tak sengaja menjumpai kedua pria paruh baya itu.
Dan keduanya terlihat jelas terkejut melihat Xika bicara dengan mereka. Mereka sama sekali tak menduga Xika akan menemukan keberadaan mereka.
"A-ah....ya."
"Elder Bai-"
Elder yang di sebelah kanan langsung berhenti bicara setelah mendapat pelototan dari rekannya.
"Elder Bai mengirim kami untuk memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
Pria paruh baya di sebelah kiri mengumpat dalam hatinya. Ia salah bicara.
__ADS_1
"Ekhem! Tempat ini merupakan Ibukota Dinasti Lin, siapa yang tahu berapa banyak bahaya yang ada di dalamnya? Apalagi untuk orang yang baru datang di kota ini seperti dirimu."
"Jadi begitu. Elder Bai sungguh baik. Tapi darimana ia tahu aku baru tiba di kota ini?"
Kini pria itu mengumpat berkali-kali dalam hatinya. Ia salah bicara lagi dan malah mengungkapkan hal yang tidak seharusnya.
"Ka-kami sering berpatroli di kota ini. Ada wajah baru yang muncul pasti kami langsung tahu."
Xika mengangguk-ngangguk mengerti.
"Kalau begitu apakah elder tahu tempat penginapan yang baik? Saya sedang mencari tempat untuk bermalam."
Kedua elder itu saling berpandangan. Xika dapat melihat kebingungan melintas di mata mereka dengan jelas.
"Penginapan? Kenapa kau tidak menetap di akademi?"
"Ehh....anu....tidak ada yang memberi tahu saya, jadi saya pikir kami harus mencari tempat bermalam sendiri."
Sebenarnya, Elder Bai lupa memberitahu Xika hal itu karena ia terlalu terburu-buru menyampaikan kedatangan Xika pada Kepala Akademi dan beberapa elder lainnya.
"Kalau begitu kau ikut kami saja. Kebetulan kami memang hendak pulang sekarang. Benar kan?" Pria di kiri menyenggol bahu temannya itu.
"Eh? Ya, ya...benar, tentu saja. Ayo ikut kami."
"Maaf sudah merepotkan elder." Xika menundukkan kepalanya.
Kemudian Xika dan lainnya berjalan mengikuti kedua elder itu. Tanpa disadari oleh siapapun, Xika tersenyum kecil. Rencananya berhasil. Ia berniat menggunakan mata-mata pihak akademi untuk menyingkirkan mata-mata lainnya. Meskipun ia tak menyangka mereka akan mengantarnya ke akademi.
Ditambah, ia mendapat beberapa informasi penting. Pertama, Elder Bai sendiri yang mengirim keduanya untuk mengawasi Xika. Meskipun ada kemungkinan Elder Bai bertindak atas perintah dari pihak yang lebih tinggi, tapi ia akan kesampingkan itu untuk sementara.
Kesan awalnya pada Elder Bai cukup baik. Tapi setelah ini ia harus berhati-hati dengan Elder Bai. Pria itu harus diwaspadai. Kalau Xika menebak, ada kemungkinan senyum di wajahnya itu hanyalah penyamaran. Entah bagaimana wajah aslinya. Tapi tentu saja ini semua hanyalah dugaan Xika.
Kedua, pihak akademi tahu bahwa ia baru datang hari ini. Itu menunjukkan bahwa Akademi memiliki kekuasaan di kota ini. Kalau tidak, mereka tak akan mengetahui informasi kedatangan Xika dengan cepat.
Tapi ia masih belum tahu seberapa besar kekuatan akademi. Ia juga harus mencari tahu mengenai kekuatan lainnya. Informasi adalah hal yang penting. Tapi untuk saat ini, Xika memutuskan untuk beristirahat dulu. Ia akan memulai langkahnya besok.
Kedua elder itu membawanya kembali ke akademi, hanya saja kali ini menuju bangunan yang berbeda. Mereka berjalan sampai tiba di kediaman para siswa. Bangunan itu memanjang ke samping dan cukup untuk menampung beberapa ribu murid untuk bermalam.
Melihat beberapa siswa yang masih berkeliaran di luar bangunan itu, Xika memutuskan untuk tidak merepotkan kedua elder itu lagi. Ia berterima kasih pada mereka kemudian berjalan mendekati salah seorang murid akademi yang duduk di bangku panjang.
"Permisi, apa benar ini kediaman para siswa?"
Pria itu menoleh menatap Xika. Matanya agak kabur mungkin habis minum arak, tapi tatapannya cukup tajam.
"Ya."
Hanya itu. Setelahnya pria itu membalikkan badannya lagi. Xika tak terlalu mempedulikan sikap pria itu yang terkesan sombong. Ia memberikan senyum terima kasih kemudian berjalan masuk menuju kediaman para siswa.
"Kalau kau baru masuk, sebaiknya mencari tempat bermalam lain."
__ADS_1
Tapi mendadak pria itu bicara lagi.
"Kenapa?"
"Ikuti saja perkataanku kalau mau hidup tenang."
Setelah mengatakan itu ia berdiri dan pergi meninggalkan Xika hanya bertiga dengan Huo Bing dan Heiliao.
"Hah! Kalau mau hidup tenang? Aku tak mau hidup tenang. Aku suka kerusuhan."
"Ayo masuk."
"Mm."
Xika tak mempedulikan ucapan Huo Bing dan berjalan masuk bersama Heiliao kemudian Huo Bing mengekor di belakang.
KRIETT!!!!
Xika membuka pintu dan masuklah pemandangan yang tak berbeda jauh dari rumah makan. Kursi dan meja tersedia di mana-mana. Selain itu ada juga meja panjang yang Xika duga fungsinya untuk memesan makanan. Suasana itu cukup nyaman kalau saja Xika tak dipandangi oleh seluruh pasang mata yang hadir.
Sejak ia membuka pintu, ia telah ditatap oleh ratusan pasang mata. Hanya saja ia terlambat sadar karena mengamati tempat itu. Ia memutuskan untuk mengangguk singkat pada semuanya kemudian melangkah masuk.
Pembicaraan yang semula terhenti karena kehadiran Xika kini kembali dilanjutkan meskipun dengan suara rendah. Selain itu, mereka masih memasang mata pada Xika dan terus memperhatikan gerak-geriknya.
Sejujurnya, Xika merasa aneh dipandangi terus seperti itu. Tapi ia mengabaikan mereka dan berjalan menuju meja panjang yang ia duga berfungsi untuk memesan makanan.
"Permisi, dimana saya bisa mendapatkan kamar?"
Xika bicara pada pria yang berada di balik meja itu. Tapi tanggapan yang ia terima sama sekali tak diduganya.
"Apa? Kau kemari karena hendak bermalam?"
"Ada yang salah?" Xika bertanya dengan bingung.
Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa. Semakin lama semakin kencang. Lalu perlahan-lahan seisi ruangan itupun ikut menertawakan dirinya.
Huo Bing menampilkan raut kesal yang jelas, berbanding terbalik dengan Heiliao di sebelahnya yang biasa saja. Kalau tak mengingat bahwa ia harus diam untuk membiarkan Xika berkembang, maka ia sudah membungkam mulut mereka satu persatu.
Tap!
Mendadak sebuah tangan memegang bahunya.
"Hei nak. Lain kali cari tahu dulu sebelum memasuki tempat ini. Sekarang sebaiknya kau keluar kalau masih mau hidup."
"Eh? Memangnya kenapa? Apakah akan ada bencana? Tapi aku tak melihat tanda-tanda adanya bencana." ucap Xika pura-pura bodoh.
"Bagaimana kalau sekarang?" Pria yang sebelumnya memegang bahunya kini mengayunkan lengannya menuju wajah Xika.
"Masih sama. Tak ada tanda-tanda bencana."
__ADS_1
Xika berhasil menghindari serangan pria itu dan membuat semua murid yang tadinya tertawa keras diam seketika. Bahkan pria yang menyerangnya tadipun mendadak diam.
"Aku masih tak melihat adanya tanda bencana." ucap Xika sambil tersenyum.