
Ketiga mahkluk itu-manusia, burung, dan serigala-diam di tempat.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara di antara mereka.
Pertarungan sebelumnya cukup menguras, bahkan sangat menguras tenaga mereka, baik fisik maupun mental.
Setelah beristirahat sebentar, mereka bertiga saling mendekat.
Mereka saling memandang.
Masing-masing merasa telah terikat satu sama lain. Meskipun tidak ada diantara mereka yang berbicara, tapi mereka dapat mengetahui pikiran masing-masing melalui pandangan.
Xika dan Huo Bing memakan pil yang mereka curi di kota sebelumnya. Xika membagi pil jarahannya pada Huo Bing. Sementara Heiliao memulihkan diri menggunakan lubang hitamnya.
Beberapa hari berlalu tanpa ada yang bicara.
Mereka sibuk memulihkan luka masing-masing. Huo Bing memakan pil untuk memulihkan qi yang ia habiskan selama pertarungan.
Setelah masing-masing merasa cukup baik, barulah mereka berbicara.
"Jadi? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
Xika yang memulai percakapan.
"Coba kita kelilingi ruangan ini lagi. Mungkin saja masih ada pintu keluar lain atau formasi lain." ucap Huo Bing tidak putus asa.
Sementara Heiliao hanya diam saja. Tapi sepertinya setuju dengan usul Huo Bing.
Jadi Xika mengubah qinya jadi api dan melayangkannya di sekitar kepalanya.
Huo Bing masih membentuk wujudnya dan tidak masuk ke dantian Xika. Mungkin karena ia bosan di dalam dantian terus selama ini, jadi begitu ada kesempatan keluar, ia tidak menyia-nyiakannya.
Heiliao melompat dan kembali duduk di pundak Xika.
Mereka bertiga berjalan bersama, meskipun hanya Xika yang berjalan karena Huo Bing terbang dan Heiliao duduk di pundaknya.
Pertama-tama, mereka mengelilingi bagian tengah tempat ini.
Tapi tidak banyak petunjuk ataupun pola yang bisa ditemukan di bagian itu. Lantainya telah hancur akibat jatuhnya ruang atas tempat mereka berada sebelumnya ditambah pertarungan mereka bertiga semakin membuat lantai bagian tengah tidak karuan bentuknya.
Satu-satunya hal yang berguna yang mereka temukan hanyalah lingkaran yang ular-ular itu gunakan sebelumnya.
Xika tidak tahu apa yang bisa ia lakukan dengan benda itu, tapi untuk sementara ia menyimpannya.
Kemudian mereka pindah ke bagian sisi dinding.
Di sana masih banyak pola yang terukir meskipun di beberapa tempat sudah retak dan hancur karena pertarungan mereka.
Huo Bing dan Heiliao melihat pola-pola di dinding itu dengan seksama. Tapi tidak banyak yang mereka temukan. Pola itu masih sama seperti sebelumnya, selain pola yang Heiliao ubah.
Di dinding, tidak ada tulisan ataupun gambar seperti ruangan sebelumnya. Yang ada hanya pola formasi.
Mendadak muncul ide di kepala Xika.
"Huo Bing, ruangan di atas sepertinya belum hancur, hanya lantainya saja. Bisa kau bawa kita ke sana? Mungkin kita bisa menemukan beberapa petunjuk."
Huo Bing mengangguk kemudian ia merentangkan sayapnya dan Xika naik ke atas tubuhnya.
Ia mengepakkan sayapnya dan merekapun terbang.
Akhirnya mereka sampai di ruangan sebelumnya.
Tapi karena lantainya sudah hancur, mereka harus mengendalikan Huo Bing untuk berkeliling.
Xika mengamati bagian langit-langit.
"Huo Bing, kalau kita menghancurkan langit-langit di atas itu, apakah kita bisa keluar?"
__ADS_1
Huo Bing tidak menjawab. Heiliao yang menjawabnya.
"Tidak. Sebelumnya di kolam lava itu terdapat unsur ruang. Jadi kolam itu hanya membawa kita kesini, bukan berada tepat di atas kita."
Xika mengangguk-angguk mendengar penjelasan Heiliao.
Kemudian Huo Bing mengepakkan sayapnya lagi dan mendekat ke salah satu dinding. Sebelumnya ia tidak terlalu nyaman untuk memperhatikan tulisan di dinding karena merasa ada yang mengawasi. Jadi ia memutuskan untuk tidak membaca dinding itu.
Untunglah ia membuat keputusan yang benar. Entah apa yang akan terjadi bila ular-ular itu mengetahui keberadaan Huo Bing sebelum Xika mengungkapkannya.
Kini ia dapat membaca tulisan di dinding dengan santai tanpa khawatir.
Huo Bing membacanya dengan ekspresi serius hingga membuat Xika penasaran dengan arti tulisan itu. Heiliao yang duduk di pundak Xika juga ikut membacanya, membuat dirinya semakin bertanya-tanya apa arti tulisan di dinding itu.
Beberapa saat kemudian, setelah Huo Bing dan Heiliao selesai membaca tulisan di dinding itu, mereka berdua tidak berbicara.
Kalau Heiliao masih wajar karena ia jarang sekali berbicara, tapi kalau Huo Bing? Xika sampai terkejut paruh burung itu dapat menutup padahal ini bukan waktunya makan.
Akhirnya Xika tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya jadi ia bertanya.
"Apa arti tulisan itu?"
"Hm? Oh, aku hampir lupa ada kau. Aku hanya ingat serigala gosong ini dan aku yakin dia mengerti jadi aku tidak mengartikannya."
"Sialan! Cepat beritahu aku apa arti tulisan itu."
"Tempat kita datang ini bukan hanya makam dari burung suci itu saja. Tapi juga makam dari 'Tetua Agung' sialan yang ular-ular itu bicarakan.
Ruangan di bawah, tempat kita jatuh sebelumnya adalah makam ular besar sialan itu, sementara ruangan yang penuh dengan tulisan ini adalah makam burung suci.
Kedua mahkluk itu sudah memiliki permusuhan selama bertahun-tahun jadi akhirnya mereka berdua bertemu untuk menyelesaikannya. Dan tempat inilah yang mereka pilih.
Sebelumnya, tempat ini hanya berupa gua biasa saja. Tapi ketika kedua belah pihak sekarat, mereka menggunakan sisa-sisa energi mereka dan mengubah tempat ini menjadi makam.
Di saat-saat terakhirnya, burung suci menulis di dinding ini dan memberitahukan pada generasi mendatang apa yang sebelumnya terjadi.
Berbeda dengan burung suci itu, ular sialan malah menggunakan harta miliknya dan membuat makamnya menjadi tempat yang berharga untuk didatangi kultivator lain. Ia yakin bahwa suatu saat kaumnya akan datang dan mencarinya, jadi ia meninggalkan formasi mengerikan yang berfungsi menyerap vitalitas mahkluk hidup dan memindahkannya ke mahkluk lain.
Namun burung suci itu juga mengetahui rencana dan formasi yang ditinggalkan ular sialan itu. Beruntung, karena ular itu menulis berbagai pola formasi di dinding, ia menghabiskan energinya lebih cepat dari burung suci.
Jadi burung suci masih hidup beberapa saat setelah ular sialan itu mati.
Ia menggunakan sisa hidupnya untuk mempelajari formasi yang ditinggalkan ular sialan itu dan berusaha menggagalkan rencananya.
Kebetulan, saat aku menampakan diri meskipun hanya sesaat, aku menemukan beberapa pola dan tertulis 'ubah'. Jadi aku bertaruh bahwa pola ini bisa menggagalkan rencana ular itu dan meminta bantuan serigala gosong itu untuk mengubah pola formasi.Ternyata pola itu berhasil menggagalkan rencana ular-ular sialan itu. Belakangan baru aku tahu bahwa ini adalah rencana burung suci."
Xika mengangguk-angguk mendengar penjelasan Huo Bing sementara Heiliao hanya diam saja seperti biasa.
"Apa burung itu tidak memberi tahu cara untuk keluar dari tempat ini?"
Huo Bing melihat dinding-dinding yang penuh dengan tulisan sekilas kemudian menggeleng.
"Tidak." katanya.
"Ia hanya memberi tahu bahwa ia meninggalkan sedikit pola untuk mengubah formasi ular sialan itu dan mengubahnya menjadi formasi telerportasi untuk memindahkan semua orang yang tidak berkepentingan."
"Tunggu. Bagaimana formasinya bisa membedakan antara diriku dan yang lain? Bagaimana ia bisa tahu bahwa aku masih 'berkepentingan' sementara yang lain tidak?"
"Itu...............eh, aku juga tidak tahu. Bukan aku yang membuat formasi ini."
"Tentu saja karena benda ini." ucap Heiliao sambil menunjuk sayap kecil di punggung Xika.
"Oh iya! Aku sampai lupa bahwa aku memiliki sayap juga. Apa kau bisa melatihku menggunakannya Huo Bing?"
"Tentu." ucap Huo Bing sambil mengangguk.
Kemudian ia memiringkan tubuhnya dan membuat Xika jatuh.
__ADS_1
"TerimakasssSIALAN!"
Xika berusaha mengepakkan sayapnya tapi tidak berguna. Lagipula bila berhasilpun, sayap sekecil itu tidak akan bisa menghentikkannya jatuh.
Dan akhirnya.........
BRUAKKK!!!
Xika jatuh ke tanah dengan mukanya duluan. Sementara Heiliao membentuk lubang hitam ketika jarak antara Xika dan tanah semakin dekat, kemudian ia berpindah tempat.
"Burung sialan!"
Huo Bing datang dari atas kemudian menatap dengan bingung.
"Apa?"
"Kenapa kau menjatuhkanku?"
"Tadi kan kau yang minta." ucap Huo Bing masih dengan muka bingung.
"Aku tidak memintamu menjatuhkanku. Aku memintamu mengajari cara menggunakan sayap."
"Dan begitulah aku belajar bagaimana cara menggunakan sayapku."
"..................."
Xika tak mampu menjawab lagi.
Ia pernah membaca buku yang memberitahunya bagaimana induk burung mengajari anaknya terbang. Tapi ia tidak pernah berpikir bahwa suatu saat ia akan benar-benar mengalami cara itu.
Huo Bing masih menatap Xika dengan bingung dan tidak ada perasaan bersalah di mukanya.
Tapi kemudian ia menyadari sesusatu.
"Tunggu. Kenapa sayapmu bisa sekecil itu? Aku ingat sebelumnya tidak sekecil itu."
"Mana kutahu! Aku hanya memikirkannya dan-"
Xika menghentikkan ucapannya.
Ia menutup matanya kemudian berharap sayap itu kembali ke ukurannya semula.
Dan harapannya menjadi kenyataan.
Sayap itu kembali besar seperti ukurannya sebelumnya.
Tapi ukurannya yang lebih besar dari tubuh Xika membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Huo Bing langsung tertawa terbahak-bahak melihat Xika jatuh dengan ekspresi bodoh yang sama ketika Xika pertama kali berusaha mengenal elemen angin.
Heiliao hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Xika mencoba bangun lagi. Tapi ketika ia meluruskan kedua kakinya, sayapnya kembali membebani tubuhnya.
Dan ia jatuh lagi.
Huo Bing tertawa semakin keras. Sementara Heiliao juga mulai tertawa melihat ekspresi bodoh Xika.
Xika mencoba beberapa kali lagi, tapi semuanya berakhir dengan kegagalan dan ditertawai kedua kawannya itu.
Jadi ia tidak lagi mencoba berdiri. Ia mulai dengan duduk dulu.
Sebelumnya, waktu ia berusaha berdiri, ia hanya bisa menahan sayapnya dengan posisi duduk sebentar kemudian langsung berdiri.
Kini ia mau mencoba bertahan dengan posisi duduk dulu. Bila sudah lebih baik barulah ia akan mencoba berdiri.
Tapi duduk juga cukup sulit. Ia terus-menerus jatuh.
__ADS_1
Suara tawa kedua mahkluk lainnya pun semakin dan semakin keras.
Jadi Xika berusaha beradaptasi dengan sayapnya selama ia terperangkap di makam itu.