Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-240


__ADS_3

"Hahhhh......"


Jing Wei menghela nafas sambil melihat keluar jendela. Kompetisi penyambutan akan dimulai besok, dan harapannya hanya bertumpu di bahu seorang pemuda yang asal-usulnya bahkan tidak ia ketahui. Kemampuannya memang luar biasa, tapi bila dibandingkan dengan sekte lain.......ia tidak terlalu yakin.


Mendadak matanya menangkap sesuatu di luar jendela. Ada seseorang yang sedang melambaikan kedua tangannya. Jing Wei menyipitkan matanya dan melihat bahwa yang melambaikan tangan adalah......Xika. Kenapa anak itu melambaikan tangannya?


Samar-samar Jing Wei melihat bibir Xika bergerak. Ia mempertajam penglihatannya dan membaca gerak bibir Xika.


"Aku punya syarat lain. Kalau kau tidak mengabulkannya aku tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi." Selesai bicara, Xika memberikan senyum lebarnya yang sukses membuat Jing Wei naik pitam.


"Apa?!" Ia menggertakkan giginya. Jing Wei sudah merasa ada yang tidak beres sejak Xika muncul. Ia melambaikan tangannya dan pilar cahaya muncul di depan Xika. Tanpa menunggu lama, Xika memasuki pilar itu dan tiba di hadapan Jing Wei.


"Apa lagi yang kau mau?" tanya Jing Wei agak kesal.


"Hehehe.......aku baru tahu bahwa kau bukan kultivator biasa. Kau menguasai elemen cahaya bukan? Ajari aku."


Alis Jing Wei berkedut. Pria botak itu tidak yakin apakah Xika salah bicara atau tidak.


"Nak, apa menurutmu mudah mengajari seseorang berkomunikasi dengan elemen? Kalau aku memang bisa mengajarkannya pada seseorang, maka aku akan mengganti nama akademi ini sejak lama menjadi Akademi Cahaya Surgawi."


"Apa? Jadi kau tidak bisa mengajariku? Lalu untuk apa kau menjadi Kepala Akademi kalau kau tidak bisa mengajar?"


Jing Wei menjambak rambutnya frustasi dengan Xika di depannya. Pantas saja Penatua Lan sampai tak bisa berkutik di hadapan Xika. Lidah anak ini memang tajam.


"Kau tak mengerti. Tak semudah itu mengajari cara berkomunikasi dengan elemen pada orang lain. Apalagi bila elemen itu tidak umum. Bukankah kau sudah menguasai bermacam elemen? Kenapa kau ingin menguasai elemen lain?"


Xika menatap pria botak di depannya dengan pandangan malas. "Pak Tua, kalau aku berpikir seperti itu ketika menguasai elemen pertamaku, aku tak akan bisa menguasai elemen lain. Kau sama saja seperti bertanya kau kan sudah menguasai satu teknik, untuk apa mempelajari teknik lain? Karena itu tidak cukup."


"Dengar, itu perandaian yang berbeda, oke? Elemen bukanlah teknik. Memang benar kau membutuhkan teknik lain, tapi elemen tidak seperti itu. Kau sebaiknya fokus di satu elemen saja, kalau tidak mungkin kultivasimu bisa terhambat."


"Logika biasa tak mempan padaku. Menurutmu sudah berapa lama Hua Zhantian berkultivasi? Mungkin sejak ia bisa berjalan. Selama itu, ia hanya mampu berkomunikasi dengan satu elemen. Dan apa tingkat kultivasinya saat ini? Forming Qi 9.


Beda denganku. Aku baru mulai berkultivasi kurang dari lima tahun. Aku menguasai banyak elemen, dan saat ini aku berada di Forming Qi 7. Apa menurutmu kultivasiku terhambat sekarang?"


Jing Wei hanya bisa membuka mulutnya tanpa bicara sepatah katapun. Apa yang dikatakan Xika barusan sulit dipercaya, tapi kelihatannya Xika bukan tipe yang suka berbohong. Tapi kalau itu benar, bagaimana mungkin? Bahkan murid terbaik mereka saja, sekalipun menguasai dua elemen, tetap tidak secepat Xika.


"Baiklah, baiklah. Begini saja. Kalau aku menang, kau akan mengajariku segalanya tentang elemen cahaya. Bagaimana cara kau berkomunikasi dengannya, apa karakteristiknya, di mana tempat yang ideal untuk berkomunikasi dengan cahaya, dan lain sebagainya. Bagaimana?"


Jing Wei mengerutkan keningnya. Kedengarannya Xika sangat percaya diri ia bisa menang. Itu hal yang bagus. Tapi ia juga bersikeras akan mempelajari elemen cahaya, bagaimanapun juga. Entah itu hal yang bagus atau tidak. Yah, lagipula tawaran itu tampaknya bagus. Kalau Xika kalah, maka ia tak akan dapat protes lagi.


"Setuju." Jing Wei tersenyum.


Xika juga balas tersenyum. Tapi mendadak senyumnya luntur digantikan ekspresi dingin. "Kuanggap itu sebagai janjimu. Kuharap kau tidak mengingkari janjimu. Kalau kau mengingkarinya........Heh. Aku yakin di dunia ini kultivator cahaya tidak hanya satu. Juga, aku masih bisa mempelajarinya sendiri meskipun memakan waktu yang lama. Pada saat itu, aku akan mengalahkanmu dengan elemen cahaya itu sendiri."


"Nak, apa kau baru saja mengancamku?" wajah Jing Wei menggelap.

__ADS_1


"Anggap saja begitu." ucap Xika dengan tatapan tajam. Setelah itu, ekspresinya kembali berubah secepat sebelumnya. "Kalau begitu, saya permisi dulu." ucapnya sambil tersenyum dan pergi.


Jing Wei menatap lama kepergian Xika sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya.


Di jalan, Xika kembali teringat dengan pertanyaan Heiliao. Serigala itu juga menanyakan hal yang sama dengan Jing Wei sebelumnya.


"Kau sudah menguasai lima elemen dan masih berniat mempelajari yang lain?"


Ia tidak menjawab pertanyaan Heiliao itu. Ia juga tak meminta keduanya menemani dirinya. Bagaimanapun juga, Heiliao adalah kultivator elemen ruang, ia bisa berpindah tempat dalam sekejap bila merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Tapi ia merasa harus mempelajari elemen cahaya. Tidak, lebih tepatnya mempelajari semua elemen. Mungkin terdengar gila, tapi ia sudah sering melakukan hal gila sampai saat ini. Orang biasa tak akan mampu menguasai lima elemen, memiliki dantian banyak, dan lainnya.


Alasannya? Ultimate Deck Method. Itu adalah metode kultivasinya. Di sana tertera kalimat 'Tiang penyangga merupakan perwujudan dari 4 elemen utama, sehingga sang pengguna dapat menguasai seluruh elemen'. Xika mengulang kata itu dalam kepalanya, 'seluruh elemen'.


Ia ingat pernah bertanya pada Huo Bing, kalau elemen yang ada di dunia ini berjumlah 8, mengapa metode itu mengatakan sang pengguna dapat menguasai seluruh elemen padahal hanya menyebutkan 4 elemen? Huo Bing sendiri tidak tahu.


Tentu saja ia juga tidak tahu. Tapi sepertinya ada kaitannya antara elemen dengan kemajuan dalam kultivasinya. Ia tak mengerti pasti, tapi tampaknya ia harus menguasai semua elemen. Itulah sebabnya ia meminta Jing Wei mengajarinya elemen cahaya. Dengan adanya Jing Wei, maka akan lebih mudah untuk berkomunikasi dengan elemen cahaya.


Yah, meskipun kalau ia kalah Jing Wei tak akan mengajarinya, tapi itu urusan nanti. Mungkin itu memang bukan takdirnya. Lagipula, terkait dengan kultivasinya atau tidak, mempelajari elemen cahaya tidak akan membawa kerugian baginya.


Dengan pikiran itu, Xika bergegas ke kamarnya dan beristirahat sebaik mungkin untuk mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kompetisi esok.


Hari berlalu dan pagipun tiba. Akhirnya, hari yang ditunggu banyak orang telah tiba. Kompetisi penyambutan akan dimulai hari ini. Xika bangun dari kasurnya dengan bersemangat. Ia tak tahu bagaimana kekuatan peserta lain, tapi ia yakin ia pasti bisa menang. Harus. Agar namanya terkenal hingga pamannya dapat mengetahui dirinya, dimanapun pamannya berada.


Huo Bing dan Heiliao sudah menunggunya di depan pintu. Xika menatap mereka dan bergegas keluar Jade Village. Shu Mang dan Di Tian juga keluar untuk menonton sekaligus mendukung Xika.


"Jangan mati."


"Jangan mempemalukanku."


"Saran yang sangat memotivasi. Terima kasih." ucap Xika sarkasme. Shu Mang dan Di Tian hanya tertawa melihat ketiganya.


Mereka berlima berjalan bersama. Xika yang berjalan paling depan. Padahal ia tidak tahu harus ke mana. Untunglah ada banyak orang dan semuanya menuju arah yang sama, jadi ia tinggal mengikuti mereka.


Berbicara tentang banyak orang, mendadak Xika jadi merindukan Xingli. Ia kehilangan gadis itu. Sejak terakhir kali mereka bertemu, Xika tak pernah melihatnya lagi. Xingli memang pandai menyembunyikan diri. Xika jadi bertanya-tanya mengenai gadis itu. Akankah Xingli menyaksikan pertarungannya?


Dulu, mereka berjalan berempat. Dengan ia paling depan bersama Xingli, Huo Bing di tengah, dan Heiliao paling belakang karena tidak ingin dekat-dekat dengan Xingli. Kini mereka berlima, tapi semuanya lelaki. Tentu saja, ia senang memiliki teman baru. Bagaimanapun juga, ia tidak punya teman di klan pamannya dulu. Tapi tetap saja, ia merindukan Xingli.


Xika mengikuti orang banyak itu dan sampai ke Halaman Utama. Disana, sudah ada banyak orang dari sekte dan klan lain. Salah satunya adalah Liu Shang dan sektenya, Rising Flow Sect. Tapi pemuda itu tidak mendekatinya, hanya melambaikan tangan. Mungkin karena tatapan gurunya yang mengharuskan mereka diam di tempat.


Selain Rising Flow Sect, Xika juga melihat sekte-sekte lain yang mengenakan seragam familiar seperti Burning Abyss Sect dan Di Clan. Selain dua itu, masih ada sekte lain yang tidak Xika ketahui. Masing-masing terdiri dari seorang Penatua dan beberapa orang murid. Murid yang dibawa jumlahnya beragam, tapi sepertinya Mu Zhan Academy-lah yang memiliki peserta paling sedikit.


"Kepada semua peserta dan tamu yang hadir, saya ucapkan selamat datang!"


Suara Jing Wei terdengar menggema di seluruh penjuru Halaman Utama. Ia bicara menggunakan qi agar suaranya terdengar jelals dan keras. Setelah beberapa patah kata sambutan, Jing Wei menjelaskan peraturan dari kompetisi ini.

__ADS_1


Peserta tidak diperbolehkan menggunakan senjata sendiri. Peserta akan menggunakan senjata yang dipersiapkan Akademi. Peserta tidak diperbolehkan saling membunuh. Peserta dilarang mengonsumsi pil apapun selama pertandingan berlangsung. Peserta akan dianggap kalah bila tidak mampu bertarung lagi, sudah menyerah, atau menginjak tanah di luar arena.


Setelah itu, ia mengatakan bawah tinju dan tendangan tidak memiliki mata, jadi mendapat luka adalah hal yang wajar selama pertandingan. Ia juga berharap pertandingan ini akan berlangsung dengan jujur dan adil, serta dapat memupuk persahabatan antar kekuatan yang hadir. Sungguh omong kosong.


Kemudian para peserta diminta maju untuk mengambil undian. Xika melihat sekelilingnya. Tiap sekte dan klan yang hadir mengirimkan perwakilan satu orang, setelah itu mereka bebas menentukan siapa di antara murid mereka yang akan maju bertarung.


Kalau ini berubah menjadi pertandingan tim, maka itu akan menjadi hal yang buruk. Karena Xika cuma sendiri, sedangkan sekte lain paling sedikit membawa tiga orang murid untuk berpartisipasi. Yah, memang ia yang meminta Huo Bing dan Heiliao untuk tidak berpartisipasi. Lagipula, kalau mereka ikut, ia pasti akan menang mudah. Tidak seru.


Xika berjalan maju. Kebetulan Liu Shang berada di belakangnya. Pria itu agak terkejut melihat Xika maju, tapi kemudian ia menduga Xika hanya berperan sebagai perwakilan.


"Yo, Xingli! Kau mengambil undian untuk Akademi ya?"


"Begitulah."


Setelah memasukkan tangannya ke kotak undian dan mengambil selembar kertas, Xika berjalan pergi tanpa melirik isi kertasnya. Tapi di tengah jalan, Liu Shang kembali memanggilnya.


"Hei, Xingli! Lihat, aku dapat giliran pertama! Tonton aku ya!" Liu Shang mendekati Xika." Ah, ngomong-ngomong timmu dapat giliran ke berapa?" tanyanya kebingungan karena dari tadi tidak menemukan orang lain yang mendapatkan nomor satu.


"Entahlah." ucap Xika sekilas sambil melirik kertasnya. Dan ternyata di kertasnya tertera angka satu.


Glek!


"Wah, nomor satu. Itu artinya timmu akan bertarung dengan sekteku! Kira-kira siapa ya perwakilan dari akademimu? Kalau sekteku sih, sudah mengutus aku untuk pertandingan pertama."


"Yah, entahlah....."


Sial. Ini artinya, Xika akan bertarung melawan Liu Shang di pertandingan pertama. Dan penyamarannya akan segera terbongkar. Yah, apa boleh buat. Ia tak bisa membohongi Liu Shang selamanya.


"Pertandingan pertama, dari Mu Zhan Academy, Xing Xika melawan Liu Shang dari Rising Flow Sect!"


Suara Jing Wei kembali terdengar. Banyak murid dari sekte lain penasaran dengan Xika, mengingat namanya yang cukup tersebar luas belakangan ini setelah mengalahkan Hua Zhantian. Liu Shang juga salah satunya.


"Wah! Xingli, kau dengar itu? Aku akan bertarung dengan Xing Xika!" ucap Liu Shang kegirangan. Beda halnya dengan Xika yang bertampang suram.


"Kedua peserta dipersilahkan menuju arena 1!"


"Doakan aku ya, Xingli!" Usai bicara, Liu Shang langsung melompat ke arena 1.


Suara Jing Wei kembali terdengar mengumumkan pertandingan kedua. Karena sekte yang datang cukup banyak, maka di babak penyisihan ini beberapa pertarungan akan dilaksanakan bersamaan.


Xika hanya bisa berjalan tanpa daya ke arena 1. Ia penasaran akan seperti apa wajah Liu Shang nanti.


"Loh, Xingli? Kenapa kau naik kesini? Ini hanya untuk peserta pertandingan."


Pengawas pertandingan melihat Xika dan Liu Shang yang sudah berada di arena 1 mengangguk, kemudian berteriak, "MULAI!"

__ADS_1


"Tunggu! Apa?" Liu Shang menatap Xika dengan bingung. Dan lagi, kenapa pengawas sudah memulai pertandingan padahal pesertanya salah? Kecuali........


"Hai?" Xika menyeringai tanpa daya.


__ADS_2