Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-86


__ADS_3

Di tengah jalan menuju Paviliun, Heiliao terpikir sesuatu.


"Xika, masuk ke gang terdekat."


Ekspresi Xika berubah. Ia mengikuti perkataan Heiliao dan masuk ke gang terdekat.


"Ada apa? Apa kita diikuti? Berapa orang?" tanya Xika yang sudah merubah Space Shifter menjadi tongkat. Sepertinya ia salah mengerti maksud Heiliao.


"Tidak. Tidak ada yang mengikuti. Aku hanya ingin bicara sesuatu."


"Baguslah kalau begitu."


Ekspresi Xika kembali santai. Space Shifter pun kembali menjadi gelang.


"Ada apa?"


"Kau ingin mencari informasi mengenai kedua orangtuamu dan pamanmu kan?"


Xika mengangguk.


Heiliao diam sesaat, ragu untuk melanjutkan. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan apa yang dipikirkannya.


"Menurutku.......kau sebaiknya hanya mencari informasi tentang pamanmu saja."


Xika mengerutkan keningnya  mendengar ucapan Heiliao.


"Kenapa? Lalu bagaimana aku tahu orang tuaku?"


"Maksudku, kau jangan menanyakan apapun mengenai orangtuamu pada Paviliun."


Xika terlihat ingin protes dan Heiliao menyadarinya. Ia melanjutkan,


"Aku tahu saat ini Paviliun adalah cara tercepat untuk mengetahui keadaan orangtuamu. Tapi itu bukan satu-satunya cara.


Begini, menurutku ada baiknya kita berhati-hati. Dari dua pemuda yang kita temui di kedai tadi, kau sudah tahu bukan bahwa Paviliun yang ada di kota ini hanya cabang dari Paviliun yang ada di ibukota, kan? Itu berarti mereka memiliki kemampuan yang tidak bisa diremehkan. Sampai kita tahu bahwa Paviliun memang berada di pihak kita, sebaiknya kita tidak memberitahukan identitas kita."


"Apa maksudmu dengan pihak?"


Heiliao melirik Huo Bing kemudian berkata,


"Kau tahu maksudku. Kaum ular. Aku tahu itu memang urusan Spirit Beast dan tak ada sangkut pautnya dengan kaum manusia. Tapi kau harus ingat bahwa manusia adalah mahkluk yang paling tidak bisa ditebak. Kau tidak tahu mereka akan memilih pihak yang mana. Bahkan mereka bisa tidak memilih dan membuat pihak baru.


Paviliun memiliki akar di ibukota. Tapi percayalah, dunia ini luas, tidak sebatas hanya Dinasti Lin saja."


"Dinasti Lin?"


Heiliao menghela nafas sebentar. Ia lupa menjelaskan tentang hal ini pada Xika waktu di makam.


"Benar, Dinasti Lin adalah tempat di mana kita tinggal. Klan pamanmu itu berada di bagian terluar dan terpencil dari Dinasti Lin. Kemudian kota-kota yang kau rampok dan yang memiliki makam terletak di bagian tengah. Bukan bagian terluar tapi juga bukan bagian pusat. Kota Yuan yang kita singgahi ini juga masih termasuk ke dalam bagian tengah.


Ibukota tempat Paviliun utama berada adalah bagian pusat dari Dinasti Lin. Tapi Dinasti Lin bukanlah satu-satunya negara di Card Continent. Masih ada yang lainnya. Seperti Dinasti Dong yang berbatasan dengan Dinasti Lin.


Aku tidak tahu kenapa tapi aku yakin orangtuamu tidak berada di Dinasti Lin. Jadi bertanya pada Paviliun hanya akan membawa bahaya bagi kita."


"Lalu kenapa menanyakan pamanku tidak membawa bahaya?"


"Karena itu hal yang wajar untuk mengkhawatirkan keluargamu."


Xika menatap Heiliao dengan tatapan heran. Alisnya mengkerut sedalam yang ia bisa.

__ADS_1


"Mungkin kau tidak tahu, tapi bagi manusia 'orangtua' juga termasuk 'keluarga'."


"Aku tahu. Tapi tidak dengan Paviliun."


Heiliao berhenti sebentar hanya untuk melihat wajah Xika yang bertambah bingung.


"Paviliun tahu bahwa kau adalah keluarga dari Fa Diala. Tapi mereka tidak tahu kau adalah anak dari orangtuamu."


Xika terdiam untuk sesaat. Kemudian ia bertanya lagi.


"Tapi kenapa? Apa yang spesial dari orangtuaku? Kenapa identitasku sebagai anak mereka dapat membuatku dalam bahaya?"


"Karena orangtuamu bukanlah kultivator biasa."


Mata Xika melebar mendengar perkataan Heiliao. Percikan harapan muncul di matanya.


"A-apa kau......mengenal orangtuaku?"


"Aku tahu mereka. Tapi tidak mengenalnya. Mereka berhasil mengaduk dunia kultivator. Bahkan berita tentang mereka tersebar sampai ke Spirit Beast."


Percikan harapan di mata Xika semakin kuat.


"Kalau begitu.....apa kau-"


"-tidak. Aku tidak memiliki petunjuk tentang mereka. Aku hanya mendengar sepak terjang mereka di dunia kultivator, tidak pernah bertemu langsung."


"Kalau begitu bisakah kau menceritakan tentang orangtuaku?" tanya Xika dengan binar harapan. Tapi harapan yang berbeda dengan sebelumnya.


"Aku akan menceritakannya padamu. Tapi tidak sekarang."


Kalimat pertama Heiliao membuat Xika melebarkan matanya, sementara kalimat keduanya menciutkan mata Xika dan mengubur semua binar harapan dalam-dalam.


"Karena mengetahui sesuatu tidak selalu baik, Xika."


"Tapi mereka orangtuaku. Aku berhak mengetahui kabar mereka."


Heiliao mengangguk.


"Kau memang berhak. Tapi karena itulah aku tidak bisa memberitahumu sekarang."


Xika menghela nafas. Tampaknya apapun yang ia katakan tidak akan membuat Heiliao bicara. Selain itu, sikapnya kini bertambah misterius.


"Kapan kau akan memberitahuku tentang mereka?"


"Saat waktunya sudah tiba."


"Sangat jelas. Terimakasih." jawab Xika agak kesal dengan Heiliao.


Kemudian ia bertanya lagi.


"Apa kau mengetahui sesuatu tentang puisi atau ramalan?"


"Ada banyak puisi dan ramalan di benua ini. Yang mana yang kau bicarakan?"


"Sudahlah, tidak jadi." ucap Xika mengurungkan niatnya.


Ia sebenarnya hendak mencari tahu arti puisi sekaligus ramalan yang ia bicarakan dengan Huo Bing ketika ia masih di Shaking Card. Tapi ia ragu Heiliao akan memberitahunya arti puisi itu lebih jauh. Itupun kalau ia memang tahu.


Akhirnya Xika berbalik dengan perasaan kesal sekaligus penasaran. Ia keluar dari gang sepi tempatnya bicara sebelumnya.

__ADS_1


Mendadak ia melihat sesuatu yang berhasil menyulut amarahnya. Kedua tangannya terlapisi api sementara Space Shifter sudah menjadi tongkat dan dipegang oleh tangan kanannya, siap untuk menyerang. Kakinya terlapisi elemen angin bersiap melesat.


"Xika? Ada apa? Tenanglah!"


Baik Huo Bing dan Heiliao sama-sama tidak mengerti mengapa Xika bersikap seperti itu secara mendadak. Kemudian mereka mengikuti arah pandangan Xika dan menyadari mengapa ia bersikap seperti ini.


Di seberang gang sepi tempat mereka bicara, terlihat seorang pria sedang berjalan di tengah kerumunan. Pria itu memang tidak memakai sesuatu yang mencolok atau melakukan sesuatu yang menarik perhatian tapi mata Xika langsung mengunci pria itu. Karena itu adalah pria yang sama yang memimpin serangan menuju klan pamannya.


Benar, pria yang Xika lihat adalah Hei Bao, pemimpin kelompok yang menyerang klannya.


Xika tidak menunggu Huo Bing atau Heiliao mendiskusikan rencana dulu. Ia langsung melesat menuju Hei Bao.


Tapi belum ada satu meter ia bergerak, pundaknya menjadi berat sampai ia terpaksa berhenti, Ia mendecakkan lidahnya kesal sambil berpaling menuju arah berat itu berasal.


Pundak kanan, Heiliao.


"Apa yang kau lakukan?"


"Harusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan?"


"Apa kau bodoh? Kau sudah tahu ceritaku dari Huo Bing berarti kau juga sudah tahu siapa orang itu." kata Xika sambil menunjuk Hei Bao.


Heiliao melompat menuju tangan Xika dan membuat ia menurunkan tangannya. Kemudian kembali ke pundaknya.


"Jangan menunjuk. Jangan biarkan pria itu tahu kau ada di sini.


Aku tahu siapa pria itu dan karena itulah aku menghentikanmu."


"Apa?"


"Kau sudah gila? Apa kau tidak tahu berapa tingkat kultivasinya? Apa kau tidak lihat anak buahnya di sekitarnya? Apa kau pikir kau bisa mengalahkan mereka semua seorang diri? Bagaimana kalau mereka ternyata punya bantuan lain? Memang benar kau memiliki empat dantian dan kau lebih kuat dari kultivator Qi Gathering 9 normal. Tapi sebanyak apapun kultivator Qi Gathering yang ada tetap tidak bisa mengalahkan kultivator Forming Qi 8."


Xika terdiam. Ucapan Heiliao tadi bagaikan seember air dingin yang disiramkan pada kepalanya. Ia baru menyadari situasi. Tapi amarah masih belum reda.


"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja."


"Memang tidak. Tapi yang pasti kau tidak bisa menyerang mereka begitu saja."


Di pundak kiri, Huo Bing ikut bicara.


"Xika, aku benci mengakuinya tapi aku sependapat dengannya. Kau tidak bisa menyerang mereka. Bahkan yang terlemah dari mereka dapat mengalahkanmu."


"Belum tentu. Mereka bisa membuat kesalahan karena menganggap rendah diriku. Lagipula masih ada kalian."


"Masih ada kami kau benar." ucap Huo Bing sambil mengangguk. " Tapi kalaupun kita berhasil mengalahkan mereka, kita hanya akan menarik perhatian yang lebih besar. Dan itu tidak diperlukan. Bisa saja mereka memiliki sekutu disini."


Xika memutar bola matanya kesal. Tapi apa yang dikatakan kedua mahkluk penghuni bahunya ini memang benar.


"Kenapa kalian berdua mendadak menjadi menyebalkan?"


".........."


".........."


"Lalu kalian memintaku meninggalkan mereka begitu saja?"


"Tentu saja tidak. Kita tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja."


Di pundak kanan, Heiliao mengangguk setuju pada ucapan Huo Bing. Hal yang sangat jarang dilakukan serigala ini.

__ADS_1


"Kita akan mengikuti mereka." ucap serigala itu.


__ADS_2