
"Hehehe......tampaknya kau punya cukup banyak teman ya. Tapi mereka tak akan bisa menyelamatkanmu."
"....................."
Xika tidak menjawab ular itu. Ia lebih memilih untuk memakai waktunya mencari cara mengalahkan atau setidaknya kabur dari ular itu.
Sebelumnya Huo Bing berbicara tentang jiwa. Berarti harusnya tempat ini ada hubungannya dengan jiwa. Apakah tempat ini adalah alam jiwanya?
Xika tidak terlalu mengerti tentang hal yang berkaitan tentang jiwa. Ia hanya pernah membaca sedikit di perpustakaan lantai satu. Tidak banyak informasi tentang hal itu di lantai satu.
Kemudian Xika mencoba mengaitkan berbagai hal, mulai dari Space Shifter dan perlengkapannya yang hilang, elemen yang tidak bisa digunakan, dan tidak adanya qi. Semuanya menjadi jelas. Tentu saja ia tidak memiliki perlengkapannya karena ini adalah jiwanya. Perlengkapannya hanya berfungsi pada tubuh fisiknya, bukan jiwanya. Bila ada perlengkapan jiwa, maka benda itu akan muncul di sini.
Selain itu tidak adanya elemen dan qi juga wajar. Tempat ini adalah alam jiwanya. Tidak ada qi di alam jiwanya. Dan juga, saat ia beusaha menggunakan qi nya, ia hanya bepikir untuk menggunakan elemen apa, bukan memikirkan tangannya terlapisi elemen tersebut.
Ia juga mengingat kata-kata Heiliao. Serigala itu memintanya membayangkan cara untuk mengalahkan ular tua didepannya. Xika mencoba membayangkan sebuah pedang.
Untuk lebih mudah, ia mencoba membayangkan artefak pedang yang didapatkan Bai Feng sebelumnya. Kenapa lebih mudah? Karena Bai Feng menyimpan pedangnya dalam cincin spasialnya dan cincin itu kini berada di tangan Xika. Xika melihat pedang itu berkali-kali saat ia mengeluarkan tanaman spiritual ketika ia belajar dengan Heiliao.
Tapi Xika gagal membuat pedang itu muncul karena ular itu menggangunya.
"Hoi, cacing tua!"
Ular itu tampak kesal dengan panggilan yang Xika berikan.
"Apa yang akan terjadi bila kau berhasil mengalahkanku?"
"Bukan bila. Tapi akan. Aku akan menyerap jiwamu dan mengambil alih tubuhmu."
Xika mengangguk-angguk. Ekspresi wajahnya tidak terlihat bermasalah dengan ucapan ular itu.
"Lalu kalau aku yang berhasil mengalahkanmu bagaimana?"
"Apa? Kau? Mengalahkanku? Pfttt.......kau benar-benar lucu nak! Sekaligus bodoh!"
Xika mengangkat bahunya tidak peduli. Ia melakukan pembicaraan itu hanya untuk mencegah ular tua itu mengganggunya membayangkan pedang Bai Feng.
Dan kini, ia berhasil membuat pedang itu muncul dengan pikirannya. Ia sedang memegangnya.
Xika mengayunkan pedang itu beberapa kali. Tidak terlalu berbeda dengan dunia luar menurutnya.
Sementara ular itu cukup terkejut melihat pedang di tangan Xika. Ia tidak menyangka Xika berhasil menciptakan senjata.
Memang tempat ini adalah alam jiwanya, tapi menciptakan sesuatu di tempat itu tidaklah mudah.
"Yah, mari kita coba."
Kemudian Xika menghentakkan kakinya memperpendek jarak antara dirinya dengan ular tua itu.
Xika menebas, ular itu menghindar. Ular itu mengayunkan ekornya ketika Xika menarik pedangnya, dan Xika melompat untuk menghindarinya.
__ADS_1
Di atas, ular itu sudah menunggunya dengan rahangnya, sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini Xika punya senjata. Jadi ia tidak harus menendang ular itu untuk menghindar dan membuat kakinya sakit. Ia bisa menyerang balik ular itu.
Xika memutar tubuhnya, kemudian menebaskan pedangnya ke moncong ular itu.
Srat!
Pedang itu berhasil melukainya. Tapi hanya sebatas goresan dan itu bukanlah luka berarti.
Ular itu cukup lega pedang Xika hanya berhasil melukainya sedikit. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah peraturungan jiwa. Setiap luka yang diderita tidak akan berdampak apapun pada tubuh fisik, tapi jiwalah yang terluka. Dan kalau menderita luka yang cukup parah, maka seseorang bisa mengalami gangguan kejiwaan.
Ada juga yang berakibat kematian. Hal itu terjadi bila serangan yang diterima benar-benar parah. Bila jiwa seseorang berhasil dimusnahkan, maka pemiliknya akan mati seketika itu juga. Ini termasuk salah satu metode membunuh yang paling efektif karena tidak terlihat jejak pertarungan dan sulit diselidiki.
Ular itu memang belum berhasil menyerang Xika. Tapi serangan Xika pada dirinya berhasil melukai jiwa manusia itu sendiri, meskipun tidak berakibat terlalu buruk. Saat ini, jiwa Xika hanya menderita kelelahan saja.
Xika kembali mengayunkan pedangnya.
Ia berhasil memberikan beberapa goresan di tubuh ular itu, tapi ular itu juga berhasil memberinya beberapa luka.
Mendadak Xika terpikir sesuatu.
Inikan alam jiwanya. Bisa dibilang ini adalah pikirannya dan isi kepalanya. Bukankah itu berarti apapun yang ia pikirkan akan menjadi kenyataan di tempat ini? Apa yang akan terjadi bila ia membayangkan ular tua itu musnah?
Tepat saat Xika berpikir seperti itu, ular tua itu merasakan dirinya diserang dari berbagai arah. Serangan yang sangat mengerikan. Serangan itu bahkan berhasil mengurangi jiwanya.
Tapi untunglah serangan itu tidak berlangsung lama. Ular tua itu tidak tahu apakah ini perbuatan Xika atau Huo Bing. Tapi ia lebih percaya bila serangan itu dilakukan Huo Bing, karena akan sangat tidak masuk akal bila anak itu bisa melakukan serangan jiwa yang sangat mengerikan seperti tadi.
Kemudian Xika menatap pedangnya dan membayangkan bahwa pedang itu dapat memberikan kerusakan berkali-kali lipat dibanding sebelumnya.
Tidak ada yang terjadi. Tentu saja. Xika harus menggunakannya untuk menyerang baru ia bisa mengetahui kekuatan pedangnya.
Tapi Xika tidak berhasil mengetahui kekuatan pedangnya. Pedangnya tidak pernah mengenai ular tersebut.
Karena ular tersebut mengira bahwa Huo Binglah yang melakukan serangan sebelumnya, jadi ia menduga bahwa Huo Bing tidak lama lagi akan tiba dan ia harus mengakhiri pertempuran secepatnya.
Karena serangan ular itu yang begitu liar, Xika jadi lupa bahwa ia bisa membayangkan sesuatu dan menjadikannya nyata.
Tidak butuh waktu lama, Xika sudah memiliki banyak luka disekujur tubuhnya. Mungkin ia tidak sadar, tapi di dunia luar ia berteriak dengan sangat keras berkali-kali membuat Heiliao semakin cemas.
Tanpa sadar, Xika berjalan menuju tempat salah satu dari benda yang bersinar di alam jiwanya karena serangan ular itu.
Xika melihat ke atas dan menemukan benda yang bersinar itu berbentuk kartu. Dan bentuk kartu itu begitu familiar.
Ia mengangkat tangannya dan meraih kartu itu.
Grep!
Ia berhasil menyentuh kartu itu. Ia mengamatinya baik-baik. Kemudian matanya membesar.
Ini memang kartunya. Kartu pemberian ayahnya. Bagaimana kartu itu bisa ada di tempat ini padahal ia tidak membayangkannya?
__ADS_1
Xika melihat kartu-kartu itu satu-persatu dan menemukan bahwa mereka semua sama persis dengan miliknya di luar. Jumlahnya pun pas 56, tidak kurang satupun.
Ia tidak terlalu memikirkannya untuk saat ini karena ada hal lain yang lebih penting yang harus diurus.
Ekor ular itu kini berada di depannya dan siap menghempaskannya.
Xika memegang setumpuk kartu itu di tangan kirinya kemudian mengambil selembar menggunakan tangan kanannya. Ia ingin mencoba melakukan teknik andalannya, satu-satunya teknik serangan yang diketahuinya.
"Capsah Technique, First Way : Single."
Kemudian Xika mengayunkan kartunya dan tercipta sebuah gelombang besar yang membelah ekor ular itu.
"AHHHHHHHHH!!!!!"
Ular itu menjerit kesakitan. Xika berhasil menebas ekornya dan kini ia kehilangan seperempat ekornya. Kalau di dunia luar mungkin luka ini tidak seberapa, tapi tempat ini adalah alam jiwa. Dan terlebih lagi alam jiwa musuhnya, jadi luka yang diterimanya sangat merusak jiwanya.
"Wow."
Xika cukup terkejut melihat Single berhasil melukai ular itu cukup banyak. Kemudian ia melempar kelimapuluhenam kartunya dengan tangan kiri dan menangkapnya dengan tangan kanannya sehingga membentuk lingkaran. Mirip seperti badut di sirkus yang melempar bola, hanya saja Xika menggunakan kartunya dan jumlahnya jauh lebih banyak dibanding badut sirkus. Di dunia luar ia bisa melakukannya, tentu saja ia bisa melakukannya di tempat ini.
Kemudian ia melempar beberapa kartunya menuju ular itu.
Ular tua itu menghindar, tapi semakin lama kartu yang dilempar Xika semakin banyak sementara jiwanya semakin lemah. Apalagi ia berhasil membangkitkan jiwanya hanya dari kumpulan kadal dan cacing-cacing gemuk. Tentu saja energi itu tidak sebanding ketika ia masih hidup, jadi ular itu tidak bisa lagi melakukan banyak perlawanan.
Whush!
Srat!
Beberapa kartu terlempar dan luka di tubuh ular itu semakin banyak.
Ular itu mulai menggila. Ia harus bertaruh. Apakah ia bisa membunuh Xika dalam satu serangan atau ia yang akan terbunuh.
SWOSHH!!
Ia melesat menuju Xika dengan rahangnya yang terbuka lebar.
Tepat ketika rahangnya hampir mencapai Xika, ular itu melihat sosok mahkluk yang sangat dibencinya.
Burung.
Huo Bing akhirnya berhasil mencapai alam jiwa Xika setelah melalui rintangan yang dibuat ular itu. Ia langsung terbang dan menangkap ular itu dengan cakarnya.
Tidak sulit, tentu saja. Huo Bing sudah memulihkan jiwanya menggunakan pil-pil yang ia dapat dari pemakaman palsu ini dan juga menyerap qi. Tentu saja ular yang jiwanya berhasil bangkit hanya oleh energi dari sekumpulan cacing dan kadal tidak bisa melawannya.
Lagipula, ular itu juga sudah cukup banyak menghabiskan energi jiwanya untuk membuat rintangan, ditambah serangan yang diberikan Xika juga cukup melukainya.
Api menjalar dari kaki Huo Bing dan mulai membakar tubuh ular itu.
"Tunggu! Jangan bunuh ular itu!"
__ADS_1