Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-109


__ADS_3

Lang Xuehao menghentikan langkahnya. Xika bersyukur dalam hati karena hal itu.


"Hm? Ah, benar juga ya. Kau belum tahu. Maaf aku lupa."


Heiliao hanya diam dan memberikan pandangan datar.


"Yah, isinya hanya tiga hal. Kegilaan, kehormatan, dan kelicikan. Tidak ada yang spesial. Semua serigala juga seperti itu."


Selesai bicara, Xuehao kembali mendekati Xika, dan membuat anak itu kembali mengumpat dalam hatinya.


"Itu saja?"


"Itu saja."


Xuehao menjawab tanpa menoleh.


"Tidak ada batas waktu atau semacamnya? Pelanggaran aturan dan lain-lain?"


Xuehao berhenti. Ia menghela nafas. Entah karena ucapan Heiliao atau karena ia harus berhenti dari mendekati Xika lagi.


"Heihei. Kau ini sudah berapa lama sih menjadi serigala? Apa kau tidak tahu bahwa serigala itu menyukai kebebasan dan tidak suka hal yang rumit? Tentu saja hanya itu."


Heiliao mengerutkan keningnya.


"Tapi setidaknya harus ada batas waktu bukan?"


Xuehao kembali menghela nafas.


"Ada. Batas waktunya sampai salah satunya akan mati. Saat itu baru kami akan turun tangan. Seperti yang dilakukan Lao Yan tadi."


Selama Xuehao berbicara dengan Heiliao, ia terus-menerus berjalan mengelilingi Heiliao untuk mengejar Xika. Dan Xika tidak berhenti untuk sesaat. Akhirnya ia tidak tahan lagi dan bertanya.


"Eh, kenapa kau terus-menerus mendekatiku?"


"Apa? Lihat anak ini. Apa ia belajar bicara seperti itu darimu? Kau sungguh contoh yang buruk."


Heiliao hanya mendengus sementara Xika memasang ekspresi bingung.


"Apa aku salah bicara?"


Kini Xuehao menatap Xika dengan aneh. Kemudian ia melompat dan memakan kepala Xika. Tapi Heiliao tidak bergerak. Ia hanya menatapnya seolah itu adalah kejadian biasa.


"Lihat dirimu. Kau bahkan masih tidak tahu kesalahanmu. Karena itu aku harus menghukummu."


Xika menggumamkan sesuatu tapi tidak terdengar jelas karena kepalanya berada dalam mulut serigala berbulu putih itu.


"Apa kau mengerti kesalahanmu?"


Kali ini Xika menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ya.


"Bagus. Apa kesalahanmu?"


"Mmhmm" (tidak tahu)


"Apa? Tadi kau bilang tahu! Anak ini benar-benar. Biar kumakan kau!"


Dan tubuh Xika semakin masuk ke dalam mulut Xuehao. Kini sudah setengah lebih.


"MHMMMHM!!"


"Masih tidak mau mengaku juga? Sepertinya aku kurang menghukummu!"


"MHMMMHMHM!!!"


"Xuehao. Keluarkan dia."


Xuehao membentuk ekspresi cemberut tapi terlihat aneh karena ada manusia dalam mulutnya. Ia meludahkan Xika keluar. Setengah tubuhnya tertutupi ludah serigala putih itu. Dan ludahnya masih terus menetes.


Xika berjalan mendekat pada Heiliao tapi serigala itu berjalan menjauh.


"Jangan mendekat. Bicara saja dari situ."


Xika menatap tubuhnya dan sadar penyebab Heiliao menjauh. Ia melirik lendir-lendir yang menetes dari tubuhnya.


"Apa kesahalanku?"


Xuehao membuka mulutnya tampak seolah ia hendak menelan Xika lagi, tapi untunglah itu tidak terjadi. Ia hanya bicara, meskipun dengan nada setengah marah.


"Anak nakal! Kau masih tidak tahu kesalahanmu!"


"Kenapa ia bicara seolah-olah lebih tua dariku?"


"Aku memang lebih tua darimu anak nakal!"


"Apa? Benarkah itu?"


Xika menatap Heiliao dan serigala itu diam sebagai jawaban. Ia tidak menyangkal yang berarti benar.

__ADS_1


"Sekarang kau tahu apa kesalahanmu?"


"Ehhh.....tidak."


"Dasar bajingan kecil! Kau bersikap sopan pada Lao Yan tapi tidak padaku! Kau benar-benar kurang ajar!"


"Ehhh.....kau seumuran dengan senior Yan?"


"Tentu saja!"


Xika menggaruk-garuk pipinya. Ia tidak terlihat tua.


"Maaf.........."


Xuehao menaikkan sebelah alisnya.


"................senior."


Xuehao mengangguk puas. Begitu lebih baik, pikirnya.


"Kegilaan, kehormatan, kelicikan? Dari mana kau melihat hal itu dalam diri anak ini?"


Xuehao menatap Heiliao seolah ia idiot.


"Aku hanya ingin tahu pandanganmu."


"Aww......sejak kapan kau memperhatikan pandanganku?"


Xika merinding melihat hal itu.


"Kenapa ia bersikap seperti perempuan?"


"Aku memang perempuan anak kurang ajar!"


Xika melebarkan matanya tidak percaya.


"Ehem! Lanjutkan."


Xuehao memajukan moncongnya tapi tetap bicara.


"Kegilaan. Anak itu gila, sudah jelas. Ia berani bertarung dengan Lang Jin, yang lebih kuat darinya dengan konsekuensi ia akan diperlakukan sebagai musuh kalau kalah. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk memenuhi penilaian pertama. Selain itu ia juga melakukan tindakan gila ketika jatuh tadi.


Kehormatan. Anak itu tidak menghentikkan serangannya meskipun musuhnya terkapar tak berdaya. Mungkin terdengar kejam, tapi setiap serigala membutuhkan hal itu di alam liar. Ditambah, kejadian dengan putra bungsu Lao Yan. Ia tidak mengungkapkan identitasnya. Itu juga cukup untuk memenuhi penilaian kedua.


Kelicikan. Anak ini lebih licik daripada serigala. Buktinya, Putra sulung Lao Yan saja kalah. Ia menyembunyikan kekuatannya. Elemen ruang. Adiknya memang memberitahu hal itu. Tapi anak ini bahkan membuat rencana cadangan kalau-kalau rencana sebelumnya gagal. Ia menyembunyikan sayapnya. Apa itu sudah cukup?"


"Terima kasih."


"Kau mau pergi begitu saja?"


"Kau mau aku melakukan apa?"


"Setidaknya ucapkan halo. Kau bahkan tidak mengatakan sampai jumpa ketika pergi. Atau kalau kau mau memberikanku ciuman juga boleh."


Kemudian Xuehao menutup matanya dan menyodorkan pipinya. Heiliao dan Xika berjalan pergi secepat mungkin tanpa membuat suara.


"HEI!"


Xuehao kembali menyusul Xika dan Heiliao. Keduanya sama-sama mengumpat dalam hati. Xika sudah membersihkan tubunya dari ludah Xuehao, jadi ia mendekat pada Heiliao dan bertanya pada serigala itu sebelum Xuehao menyusul.


"Kenapa ia bisa bersikap seperti itu? Padahal sebelumnya aku pikir ia sejenis denganmu."


"Apa yang kau maksud dengan 'sejenis denganku'?"


Xika diam. Ia mengerutkan keningnya. Kemudian memandang langit dan seolah-olah mengingat masa lalu. Lalu berbalik kembali menatap Heiliao yang memperhatikan tindakannya.


"Begitulah."


"Apa kau percaya aku akan memasukkanmu ke dalam mulutku?"


Xika mundur beberapa langkah.


"Jawab saja pertanyaanku."


Namun bukan Heiliao yang menjawab, melainkan tamu tak diundang yang berbulu putih.


"Apa ini? Kau tertarik dengan hubunganku dan Heihei? Cukup imut."


Mungkin Xika akan tersipu kalau mendengar hal itu dari gadis. Tapi mendengarnya dari serigala? Tidak, terima kasih.


"Hei! Apa-apaan ekspresi itu?" Xuehao menghela nafas kemudian kembali berbicara. "Sebenarnya aku dan Heihei adalah kekasih."


Xika mundur lagi beberapa langkah. Ia melebarkan matanya selebar yang ia bisa, tidak percaya dengan pendengarannya.


"Ia belum bilang ya? Ahh....aku jadi malu." Kemudian Xuehao pura-pura bersikap malu-malu.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya kebetulan berasal dari kaum yang sama."

__ADS_1


Xika menatap Xuehao. Kali ini serigala itu tidak bereaksi seperti biasanya. Ia terdiam. Dan Xika melihat tatapan yang sungguh-sungguh mengandung kesedihan ketika mendengar Heiliao bicara. Kesedihan dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.


Xika jadi berpikir, apa yang akan ia rasakan kalau gadis yang ia sukai mengucapkan hal seperti itu? 'Kami tidak memiliki hubungan sama sekali. Kebetulan saja ia juga manusia sepertiku.' Brrr.....Xika tidak berani membayangkannya.


Ia mendekat dan berbisik pada Heiliao.


"Tidakkah kata-katamu itu sedikit keterlaluan?"


Heiliao menghela nafas.


"Aku minta maaf kalau ucapanku menyinggungmu, Xuehao. Bisakah kau membiarkan aku berdua dengan Xika?"


Xika menebak serigala itu pasti akan mengatakan 'Astaga! Hanya berdua? Awww.....apa yang mau kalian lakukan?' kemudian pergi sambil memberikan tatapan menggoda. Tapi tidak. Serigala itu tidak melakukannya. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Senyuman yang dipenuhi dengan kesedihan. Lagi. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Heiliao dan Xika.


Xika menatap sosok Xuehao yang berjalan pergi.


"Aku minta maaf untuknya. Ia memang kelihatan mengganggu. Tapi ia sebenarnya baik. Kadang-kadang."


"Heiliao........."


"Apa?"


"Aku merasa ia benar-benar mencintaimu."


Heiliao menghela nafas.


"Aku tahu. Aku tahu. Kau mahkluk yang ketigaributujuhratusempatpuluhlima yang mengatakan hal itu. Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membalasnya. Aku hanya bisa memberinya kata-kata pedas sepertinya yang tadi kulakukan untuk membuatnya sadar bahwa aku tidak bisa membalasnya dan agar ia mencari serigala lain."


"..........kenapa?"


"..............kau melihat kenanganku sebelumnya, kan?"


Xika mengangguk.


"Apa kau masih mencintai gadis dalam kenanganmu itu? Bukankah kau sendiri yang berkata sudah lelah berharap?"


"Kau benar. Aku memang sudah lelah berharap. Dan terlebih, aku sudah lelah terhadap cinta. Satu-satunya cinta yang kukenal adalah cinta persaudaraan. Aku tidak memiliki cinta yang lain. Aku tidak bisa memberikan cinta yang tidak kumiliki dan aku juga tidak berhak menerima cinta yang tidak kumiliki."


"..................kenapa serigala itu menyukaimu?"


"............aku tidak tahu."


"Lalu............kenapa kau mencintai gadis itu?"


"..................."


Heiliao terdiam cukup lama untuk mencari jawaban dari pertanyaan Xika. Tapi ia tidak menemukannya.


"Aku.........tidak tahu."


Xika menghela nafas dan tersenyum. Heiliao membawanya ke ujung tebing. Disana pemandangannya sungguh menakjubkan. Lautan yang bergulung-gulung dan membentur pasir pantai bertemu dengan bintang-bintang yang bersinar di langit. Ia duduk dan menatap lautan bintang itu.


"Cinta memang...........rumit."


Heiliao mengangguk setuju dan ikut duduk di samping Xika. Huo Bing juga membentuk tubuhnya dan duduk bersama mereka.


"Huo Bing? Kau sudah pernah mengalami cinta bukan? Apa pendapatmu tentang cinta?"


"Itu pertanyaan yang sangat sulit................ Aku juga tidak terlalu mengerti.................Aku pernah mengalami cinta. Tapi cintaku mati ketika aku menyadari apa itu cinta..........aku tidak bisa mengatakannya padamu. Suatu saat nanti kau akan mengetahuinya."


Xika mengangguk pelan menjawab Huo Bing. Kemudian giliran Heiliao yang bicara.


"Bagaimana denganmu Xika? Apa kau sudah mengalaminya?"


"Aku tidak tahu. Mungkin ya, mungkin juga tidak."


"Yang mana?"


"Apa maksudmu dengan yang mana?"


"Gadis yang mengacungkan pedang padaku atau gadis yang kau temui di Kota Yuan?"


"Tentu saja Xingli! Aku tidak pernah memikirkan Wu Liao barang sedetikpun."


Huo Bing memasang tampang penasaran.


"Benarkah? Kupikir kau mulai jatuh hati pada gadis itu dan melupakan si boneka es."


"Kalau kami bersama lebih lama lagi, mungkin ya. Ada kemungkinan seperti itu. Tapi tidak. Tidak setelah aku bertarung dengan bajingan itu."


"Kau menyalahkannya karena tidak menolongmu?"


Xika diam sebentar.


"Tidak." Ia menggeleng. "Aku tidak menyalahkannya. Tapi aku juga tidak bisa membuka hati padanya. Kami hanya orang asing yang kebetulan bertemu. Dan ia memastikan hal itu dengan tindakannya. Aku tidak menyalahkannya. Tapi aku juga tidak bisa bersikap lebih padanya."


Ketiganya menatap langit. Masing-masing melihat wajah yang mereka rindukan dalam benak mereka. Dan mereka menghela nafas bersama-sama. Kemudian Heiliao langsung membuang muka. Ia tidak memiliki cinta lagi. Dan ia tidak mengharapkan cinta lagi.

__ADS_1


Sementara itu para serigala sedang sibuk mencari keluarga baru mereka yang tidak hadir dalam perayaan.


__ADS_2