Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-269


__ADS_3

SWUSH!


Sesosok berbaju putih melintas dengan cepat di antara pepohonan meninggalkan hawa dingin sebagai jejak. Sesekali, darah menetes dari lukanya, tapi sosok tersebut tidak berhenti sama sekali. Alis Liang Jihua mengerut memikirkan percakapannya dengan Xika beberapa saat yang lalu.


Ia harus segera bergegas sebelum anggota kelompok mereka yang lain bertarung melawan kelompok gabungan sekte kecil dan menengah itu. Sekali ini, ia merasa kesal dengan kebanggaan yang dimiliki tiap perwakilan sekte besar itu. Kenapa mereka tidak mau mendengarkan suara Xika sih?


Li Tang dan Yun Xingzhao, besar kemungkinan keduanya mundur mengikuti saran Xika. Sisanya? Ia tidak yakin. Zhen Fang mungkin masih agak ragu dan mempertanyakan apa alasan Xika meminta mereka mundur, namun karena ia satu kelompok dengan Han Feng, besar kemungkinan pria api itu mendesak Zhen Fang untuk ikut menyerang kelompok lawan.


Tian Li dan Di Lang? Tidak perlu dipertanyakan. Mereka sudah pasti menyerang kelompok lawan dan mengabaikan suara Xika sepenuhnya.


Otaknya berpikir cepat. Kemana sebaiknya ia pergi lebih dahulu? Tapi dipikir seperti apapun, ia tidak menemukan jawabannya. Apalagi, ia bahkan tidak tahu anggota kelompoknya yang lain ada di mana. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus bergegas secepat mungkin tanpa arah dan berharap bertemu dengan salah satu anggotanya.


Sementara itu, Xika masih berbaring di tempatnya sebelumnya. Tapi ia sudah memulihkan sedikit qinya, jadi ia tak lagi tak berdaya. Setelah memastikan Liang Jihua benar-benar pergi, Xika segera memakan pil-pil buatan Heiliao untuk mengembalikan qinya.


Ia melakukan itu untuk menghindari pertanyaan tidak penting dari Liang Jihua seperti, 'Dari mana kau mendapatkan pil semacam itu?' atau 'Dari mana asalmu hingga memiliki pil semacam itu?' atau 'Siapa sebenarnya kau? Dari sekte apa kau berasal?'


Setelah itu, ia mengaktifkan Star Glance (dengan susah payah) untuk membantu pemulihan tubuhnya. Ia tahu, Liang Jihua pasti akan bertanya ketika melihat luka Xika sudah sembuh sebagian besar, tapi apa boleh buat. Mereka dikejar waktu saat ini.


Kira-kira setengah hari telah berlalu ketika Xika mendeteksi adanya gerakan. Matahari hampir terbenam saat itu. Luka Xika kurang lebih sudah pulih sebagian besar, meskipun ia masih merasakan sakit di beberapa bagian saat bergerak. Qi nya juga sudah pulih sepenuhnya berkat pil Heiliao. Serigala itu memang hebat.


Ia segera menyembunyikan dirinya di balik salah satu pohon sambil mengamati siapa yang mendekat. Kalau yang mendekat adalah kelompok lawan, maka tidak ada pilihan lagi ia harus lari.


SRAK!


Untunglah yang keluar bukan kelompok lawan. Liang Jihua muncul disertai dua sosok yang penuh luka di belakangnya. Han Feng dan Zhen Fang.


Luka yang diderita Han Feng lebih parah dibanding Zhen Fang. Terlihat jelas siapa yang menggagas ide untuk menyerang.


Xika keluar dari balik pohon dan menghampiri mereka. Han Feng menatapnya dengan tajam. Belum sempat Xika berkata apa-apa, pria itu sudah menyalahkannya.


''Dasar sialan! Apa kau tidak punya kata lain untuk diucapkan? Tidak bisakah kau setidaknya memberikan petunjuk bagaimana kekuatan musuh?!"


Xika mengangkat alisnya dan menatap Han Feng bagaikan orang gila.


"Apa? Jangan bilang Tuan Muda Han Feng dari Burning Abyss Sect yang terkenal itu kalah? Astaga! Jadi itu salahku? Bukankah aku sudah memperingati kalian dan menyarankan untuk mundur? Memangnya siapa yang mengabaikan saranku dan bergegas maju? Sekarang setelah Tuan Muda Burning Abyss Sect kalah, anda datang dan menyalahkan saya?"


Han Feng menggertakkan giginya kesal. Tentu saja apa yang dikatakan Xika itu benar. Tapi ia tidak mungkin menuruti saran Xika yang memintanya mundur begitu saja tanpa alasan yang jelas. Mau ditaruh di mana mukanya bila ia mundur tanpa alasan yang jelas?

__ADS_1


"Brengsek! Setidaknya kau bisa memberikan petunjuk mengenai kekuatan musuh!"


"Hahhhh......." Xika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Coba kau pikir dengan kepala kecilmu itu, apa aku akan meminta kalian mundur kalau lawan yang kita hadapi itu lemah? Tentu saja tidak bodoh! Justru karena lawan kita itu kuat makanya aku meminta kalian mundur. Bodohnya, setelah mendapat peringatan dariku, kau malah maju padahal tidak tahu kekuatan lawan."


"Sialan! Kau menghinaku?!" Han Feng mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Benar sekali. Aku menghina kau dan otak kecilmu itu yang tak bisa dipakai untuk berpikir. Oh, dan juga nyali bodohmu yang hampir membuatmu kalah." Xika menyeringai tanpa kenal takut. Dalam kondisi biasa saja ia tidak takut pada Han Feng, apalagi sekarang dimana Han Feng tengah terluka.


"Saudara Han, Saudara Xing, tolong berikan aku wajah. Ini bukan saatnya kita bertengkar diantara sesama. Kita seharusnya menyusun strategi untuk mengalahkan musuh."


"Saudara Zhen, daripada strategi mungkin sebaiknya kau pulihkan lukamu dulu. Setelah itu kita tunggu anggota yang lain bergabung baru pikirkan langkah selanjutnya."


Zhen Fang tersenyum lemah setuju dengan saran Xika, sementara Han Feng menatap Xika masih dengan amarah tapi tak mengatakan apa-apa. Kemudian, amarah di mata Han Feng bertambah kira-kira tiga kali lipat ketika melihat Xika mendekati Liang Jihua dan mengobrol.


Padahal apa yang dibicarakan Xika dan Liang Jihua berbeda dengan pikiran Han Feng.


"Bagaimana lukamu?"


"Lumayan."


Xika mengerutkan keningnya. Liang Jihua mengatakan hal yang sama sebelum ia pergi mencari yang lain. Xika tak yakin lukanya membaik sepanjang perjalanan itu. Malahan, besar kemungkinan lukanya semakin buruk karena gadis itu memaksakan diri untuk terus bergerak.


Liang Jihua tak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk sambill mengernyit menahan sakit. Dalam hati Xika merasa kasihan melihat seorang gadis menderita seperti itu, tapi tampaknya tak ada yang bisa ia lakukan.


"Saudara Zhen, aku akan mencoba mencari anggota kelompok kita yang lain. Ada kemungkinan aku tidak kembali hari ini. Mungkin ada baiknya kau mencari tempat yang lebih tersembunyi untuk memulihkan diri. Akan berakibat buruk bila posisi kita ketahuan lawan."


"Saudara Xing, aku setuju dengan saranmu untuk mencari tempat yang tersembunyi. Tapi tidakkah menurutmu mungkin lebih baik kau pergi esok hari saja? Hari sudah gelap, akan lebih berbahaya bila kau pergi saat gelap, apalagi sendirian."


"Aku juga berpendapat demikian Saudara Zhen, tapi sayang sekali saat ini kita sedang dikejar oleh waktu."


Zhen Fang seolah baru teringat sesuatu karena kalimat Xika barusan.


"Benar juga! Jadi kita harus menyembunyikan diri bukan hanya dari kelompok lawan saja, tapi juga dari para elder yang mencari kita?"


"Saudara Zhen, kurasa kita hanya perlu menyembunyikan diri dari lawan. Dari perkiraanku, sepertinya para elder tak akan ikut campur lagi masalah ini. Selain itu, kalau para elder ingin menemukan kita, aku ragu kita bisa bersembunyi."


"Boleh aku tahu alasanmu berpikir demikian, Saudara Xing?"

__ADS_1


"Hm, kurasa campur tangan elder sebelumnya karena kita telah menyalahi aturan, yaitu membuat kelompok yang terlalu kuat. Karena itu pada awalnya para elder hendak mengeliminasi kita. Tapi karena gagal, sepertinya mereka membuat langkah baru.


Kau sudah bertemu kelompok lawan sebelumnya, Saudara Zhen. Bagaimana pendapatmu mengenai mereka? Apakah itu kelompok yang lazim ditemui dalam kompetisi semacam ini?"


"Tidak. Gabungan dari seluruh sekte kecil dan menengah itu hampir tidak mungkin terjadi. Sekalipun membentuk kekuatan yang kuat, tapi akan menimbulkan perdebatan yang tidak sedikit. Tunggu! Jangan bilang-"


"Tepat," ucap Xika sambil mengangguk. "Besar kemungkinan bahwa para elder terlibat dalam hal ini. Kalau perkiraanku benar, mereka sengaja membuat kelompok yang sama kuat dengan kelompok kita. Jadi karena para elder telah terlibat dalam hal ini, mereka tak akan turun tangan secara langsung lagi. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mengalahkan kelompok lawan dan menuju babak berikutnya."


Zhen Fang mengangguk-ngangguk mendengar teori Xika yang masuk akal. "Kalau begitu, semoga berhasil Saudara Xing."


Xika mengangguk kemudian melesat pergi. Tapi sebelum ia pergi jauh, seseorang telah menunggunya. Han Feng. Pria itu melipat kedua tangannya dan berusaha tampak sombong seperti biasa, sekalipun ia merasa sakit karenanya.


"Ada yang perlu kita bicarakan." ucap pria api itu sambil bersandar pada pohon.


"Masa? Buatku sih tidak ada. Ngomong-ngomong aku dikejar waktu, jadi aku permisi dulu."


"Apa ini? Kau berani menantangku di depan Liang Jihua tapi ketika ia tak ada kau hendak kabur dariku?"


"Heh, aku tidak pernah kabur dari orang sakit." ucap Xika dengan senyum menghina.


"Bajingan! Kalau begitu lawan aku sekarang juga!" Han Feng menghentakkan kedua tangannya dan seketika telapak tangannya terbakar.


"Pertama, pertarungan kita akan membuat lawan menyadari keberadaan kita. Kedua, sebaiknya kau duduk manis saja pulihkan luka-lukamu. Setelah sembuh baru bicara lagi denganku. Saat ini kau bukan lawanku."


"BRENGSEK! Kalau kita semua berhasil lolos dari babak ini, sebaiknya kau berharap tidak bertemu denganku atau kau bisa ucapkan selamat tinggal pada kultivasimu."


"Oh? Masih belum jelas siapa yang sebaiknya tidak bertemu dengan siapa." Xika tersenyum meremehkan kemudian melesat pergi tak lagi mempedulikan Han Feng.


Dalam hati ia benar-benar merasa geli. Han Feng berniat melumpuhkan kultivasinya? Waktu ia berumur lima tahun saja, banyak kultivator yang lebih kuat memiliki niat yang sama. Nyatanya, saat ini ia masih bisa berkultivasi.


Setelah melesat beberapa meter, ia mendengar teriakan Han Feng yang berbunyi,


"Sebaiknya kau menjauhi gadis itu!"


Bodohnya. Sudahkah Xika mengungkapkan bahwa mereka harus bersembunyi dari musuh saat ini? Apakah Han Feng tidak tahu bahwa tindakannya itu bisa membuat musuh menyadari keberadaan mereka? Xika jadi curiga bahwa teknik Burning Abyss Clan telah membakar habis otak Han Feng.


Sebagai balasan, Xika menggunakan bisikan angin pada Han Feng.

__ADS_1


"Sampah."


__ADS_2