
Ketiga pemimpin itu diam. Pemuda ini cukup merepotkan. Kalau tidak ada yang mengambil langkah lebih dulu, maka hal ini akan berlanjut selamanya tanpa henti.
"Kalau kita menganggapnya teman, apakah ia bisa dipercaya? Dan apa yang terjadi kalau kita menganggapnya sebagai musuh atau orang asing?"
"Entahlah. Kenapa kalian tidak menanyakannya langsung padanya?"
Ketiga serigala itu saling berpandangan. Dan mereka tahu tidak ada tindakan lain yang bisa dilakukan selain berbicara pada manusia itu.
"Kalau begitu ayo." ajak Heiliao.
"Ayo apanya?"
"Ayo kita temui pemuda itu, tentu saja."
"Kenapa harus mengajakku? Tidak bisakah kalian pergi sendiri? Bukankah kalian adalah pemimpin para serigala? Kenapa harus ditemani?" kata Xika sambil mengusap matanya.
Kemudian ia tersadar bahwa ia seharusnya tidak bicara seperti itu. Ia menoleh dan menatap dua pasang mata memandanganya dengan tatapan yang hendak memakannya hidup-hidup. Dan mereka berdua sudah pernah melakukannya. Heiliao hanya diam saja tanpa peduli.
Xika langsung berdiri dan merangkul Heiliao serta Lang Jin. Ia merangkul keduanya agar tubuh Lang Jin dan Heiliao menutupinya jadi Lang Yan dan Xuehao tidak bisa memakannya. Ia mendekatkan wajah kedua serigala itu pada dirinya.
"Mereka tidak akan memakanku bukan?"
"Entahlah."
"Mungkin."
"Tidak bisakah kalian mendukungku?"
Dan kedua serigala itu, mengangkat bahu mereka secara bersamaan. Xika melihat hal itu dan menghela nafas dalam-dalam. Dengan berat hati, ia berjalan bersama lima serigala. Dua diantaranya ingin memakannya, dua tidak terlalu mempedulikannya, sementara satu mengikuti dengan bingung.
Lang Shu tidak tahu harus melakukan apa. Ia agak takut ketika tiga pemimpin mayor berjalan, tapi ia ingin bisa seperti Xika. Bersikap santai dan bicara biasa seolah mereka adalah temannya dan bukan pemimpin serigala yang penuh dengan kehormatan dimana salah satu keputusannya dapat menentukan hidup dan mati. Awalnya ia takut tiga pemimpin itu akan mengusirnya pergi atau semacamnya. Tapi ternyata tidak.
Ia melangkah maju dengan mempertanyakan apa yang ia lakukan di tiap langkahnya. Haruskah aku ikut? Tapi ini urusan para pemimpin dan aku tidak seharusnya ikut. Tapi aku ingin belajar dari Xika bagaimana caranya menghilangkan kegugupan.
Jadi ia mengikuti mereka di belakang secara perlahan, berharap tidak ketahuan. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Lang Yan berhenti. Ia tidak menoleh, tapi berkata,
"Gadis kecil. Kalau kau mau ikut, jangan berjalan di belakang seperti itu. Orang akan mengira kau membuntuti kami atau semacamnya."
"Y-ya!"
Lang Shu melangkah maju dan tiap langkahnya dipenuhi keraguan. Ia gugup berjalan beriringan dengan Pemimpin Yan dan Pemimpin Hao. Terlebih lagi ia ketahuan sedang menggosipkan Pemimpin Hao oleh serigala itu sendiri. Tapi tampaknya mereka tidak masalah dengannya. Anggapannya selama ini bahwa ia adalah serigala kecil yang tidak layak dibandingkan mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Lang Yan memperhatikan Lang Shu yang berjalan dengan gugup.
"Kita semua adalah serigala. Kita semua setara." Kemudian ia menatap Heiliao. "Jadikan itu motoku sekarang."
Lang Shu mengangkat kepalanya dengan bingung. Ia yakin bahwa Pemimpin Yan bicara dengannya sebelumnya. Dan rasa kepercayaan diri mulai muncul sedikit demi sedikit.
"Seingatku kau sudah mengganti motomu dua ratus kali."
"Ap-Sialan!" Lang Yan berjalan mendekati Heiliao dan berkata dengan pelan, "Tidak bisakah kau tidak mengatakannya di depan mereka?"
"Tidak."
Dan Lang Yan tidak tahu harus menjawab apalagi. Ia hanya bisa diam dengan mulutnya terbuka menatap teman lamanya yang menyebalkan seperti biasa.
Akhirnya mereka sampai. Mereka melihat seorang pemuda tengah berbaring di tengah-tengah rumput ungu yang memiliki bentuk aneh.
"Seingatku kita tidak memiliki rumput seperti itu." ucap Lang Yan bingung.
"Memang tidak. Itu semua disebabkan racunnya." ucap Lang Jin.
__ADS_1
Xika yang pertama maju. Ia mendekat sampai membuat serigala lain mengira bahwa rumput ungu itu tidak berbahaya. Untunglah Lang Shu mengingatkan mereka untuk hati-hati terhadap racun itu.
"Apa kabar?" sapa Xika dengan senyum di wajahnya.
Shu Mang tidak menjawab. Ia hanya menatap Xika dalam diam.
"Apa kau sudah membuat keputusan?"
"Ya dan tidak."
"Apa maksudmu?"
"Lebih baik kau tanyakan pada mereka." ucap Xika sambil menoleh pada tiga pemimpin yang berjalan mendekat.
Shu Mang mengerutkan keningnya memperhatikan para pendatang baru. Aura mereka berbeda dengan serigala sebelumnya yang ia temui. Bahkan lebih kuat dari serigala besar yang sebelumnya berhasil membuat ia agak takut. Ia memandang mereka dengan hati-hati.
"Siapa mereka?"
"Pemimpin para serigala."
"Apa yang mereka mau dariku?"
"Kau hendak membuat kesepakatan penting dengan serigala, tentu saja kau harus bicara dengan pemimpinnya. Dan satu hal lagi, tidak bisakah kau bertanya langsung padanya?"
Shu Mang tidak menggubris kalimat terakhir Xika. Ia mengerutkan keningnya dan berpikir sebentar. Sejak awal para serigala membicarakan masalah penting dengannya. Tapi kenapa baru sekarang para pemimpin serigala muncul? Karena masalah ini telah berkembang menjadi sebuah masalah yang tidak bisa Xika tangani. Masalah Tangan Ungu sama sekali diluar kekuasaan Xika.
Ia membutuhkan para pemimpin serigala untuk mendiskusikannya. Kalau ia tidak memberi tahu tentang Tangan Ungu, ia tidak akan bertemu dengan para pemimpin serigala, karena ini masih masalah kecil. Meskipun ia berbohong dengan mengatasnamakan kaum serigala, para pemimpin pasti akan memaafkannya karena ia memberikan mereka keuntungan. Dan sadarlah ia akan sandiwara Xika beberapa hari kemarin.
Lukanya selama beberapa hari ini telah membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Apalagi serigala besar itu memberikan aura luar biasa yang membuatnya takut. Yah, itu juga salahnya karena tidak mengamati sekelilingnya dengan baik. Dan ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ia telah jatuh dalam tipuan Xika, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah berharap agar Xika tidak akan mengkhianatinya. Dan kemungkinan terburuknya, ia mati. Kemudian ia berkata,
"Mereka bisa bicara kan?"
"Tentu saja."
"Mm-Hmm."
Xika tidak kelihatan terkejut ketika Shu Mang mengetahui kebohongannya. Sikapnya benar-benar santai dan tenang sampai membuat Shu Mang meragukan apa yang dipikirkannya sebelumnya. Xika memang pembohong yang pandai. Tapi bukan berarti Shu Mang bodoh. Ia mulai sadar ketika melihat ketiga pemimpin itu, bahwa ada sesuatu.
Kemudian ia memutuskan untuk bertanya dan jawaban Xika mengkorfimasinya. Pantas saja ia bingung kenapa para serigala itu hanya menggeram padahal memiliki kultivasi yang cukup tinggi. Biasanya hewan-hewan yang memiliki kultivasi tinggi dapat memahami dan bicara dengan bahasa manusia. Tapi harus ia akui, Xika benar-benar pembohong yang hebat.
"Jadi kau berada di sisi mereka?"
"Mm.....ya." jawab Xika setelah berpikir sebentar.
"Jadi apa yang akan kita bicarakan?"
"Kesepakatan." Kemudian Xika menoleh dan memanggil ketiga pemimpin itu. Lang Shu dan Lang Jin hanya diam di samping menonton.
"Tidak bisakah kalian mendekat kemari?"
"Ini adalah jarak terdekat yang bisa kami tempuh. Kau jadi juru bicara kami." tunjuk Lang Yan seenaknya. Xika ingin memprotes tapi ia sadar bahwa ini bukan saat yang tepat.
Shu Mang kembali menatap Xika.
"Jadi? Apa yang akan kita bicarakan?"
"Kami sudah mendiskusikannya. Kami tidak akan mengkhianatimu. Setidaknya saat ini. Perjanjiannya akan tetap berlaku. Kita akan membagi tambangnya seperti sebelumnya. Kami akan melawan Tangan Ungu, tapi bukan untukmu."
Ekspresi Shu Mang berubah. Mukanya terlihat lega dan bersyukur. Ia berusaha mengendalikannya, tapi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Saat ini ia hanya punya para serigala. Kalau para serigala mengkhianatinya juga maka ia tidak punya siapapun.
"Lalu? Apa lagi yang harus dibicarakan? Kukira hanya ini satu-satunya masalah. Kau tidak membawa para pemimpin serigala hanya untuk membicarakan itu bukan?"
__ADS_1
Xika menggeleng. Mukanya tidak seriang sebelumnya. Dan itu membuat Shu Mang kembali sadar dari perasaan bahagianya.
"Itu bukan satu-satunya masalah. Ada masalah lain yang harus dibicarakan. Untuk itulah mereka datang."
"Masalah apa?"
"Kami membicarakan masalah penyembuhanmu sebelumnya. Dan kami masih belum yakin bagaimana harus menyembuhkanmu. Karena itu katakanlah. Apakah kau teman? Atau musuh? Karena bagaimana kami menyembuhkanmu akan tergantung dengan jawabanmu. Kami tidak akan membunuhmu meskipun kau musuh. Untuk saat ini.
Tapi setelah masalah ini selesai, kami akan memburumu kalau melihatmu lagi. Jadi, tentukan pilihanmu sekarang."
Shu Mang tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia kembali bertanya.
"Aku juga masih belum yakin. Aku tidak bisa menjawabmu untuk saat ini."
Reaksi Xika tidak seperti yang dibayangkan Shu Mang. Ia berpikir Xika akan marah, kecewa, atau mengucapkan kalimat tajam lainnya yang akan memaksanya untuk membuat pilihan. Lagipula ia telah masuk ke dalam tipuan Xika, jadi siapa yang tahu anak itu akan menipunya lagi? Tapi tidak, Xika tidak melakukan itu. Ia menghela nafas, kemudian berbalik dan menatap para serigala.
"Sudah kuduga akan seperti ini. Kalau kalian sama-sama tidak berani percaya, maka kalian tidak akan punya teman lagi di masa depan. Kalian akan terjebak dalam hubungan abu-abu selamanya."
Heiliao setuju dengan Xika. Salah satu pihak harus mengambil langkah terlebih dahulu. Tapi ia masih ragu dengan Shu Mang.
Xika menunggu beberapa saat, tapi baik Shu Mang ataupun ketiga pemimpin serigala itu tidak ada yang bicara. Ia kembali menghela nafas. Kemudia ia menoleh pada Lang Yan. Ekspresinya berubah. Ekspresi yang mengatakan 'kau yang memilihku sebagai juru bicaramu, jangan menyesalinya'.
Lang Yan hanya membaca ekspresi Xika selama sesaat, kemudian anak itu sudah memalingkan wajahnya menatap pemuda yang tengah terbaring di rumput ungu yang penuh dengan racun.
"Baiklah, karena Pemimpin Yan sudah menunjukku sebagai juru bicara kaum serigala, maka itu berarti aku bisa dianggap mewakili para serigala."
Xika berhenti sebentar. Ia menrik nafas kemudian bicara,
"Aku Xing Xika, mewakili para serigala, menawarkanmu, Shu Mang dari Divine Array Clan untuk menjadi teman dari para serigala. Apa kau akan menerimanya?" tanya Xika dengan senyum tulus di wajahnya sambil mengulurkan tangan pada Shu Mang yang tertegun mendengar ucapannya.
Pemuda itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Xika. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan penerimaan. Penerimaan yang sesungguhnya. Dan tanpa ia sadari, air mata telah mengalir di wajahnya.
Lang Yan tadinya hendak protes. Ia sudah tahu bocah itu akan berbuat aneh-aneh ketika melihat ekspresinya. Tapi ia mengurungkan niatnya itu ketika melihat pemuda itu menangis. Tangisannya terasa begitu tulus dan melepaskan semua beban yang selama ini ditanggungnya.
Lang Yan menghela nafas. Sepertinya apa yang dilakukan bocah itu sudah benar. Meskipun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah meminta anak itu menjadi juru bicaranya lagi.
Tap!
Shu Mang meraih tangan Xika. Seluruh tangannya menjerit kesakitan dan kepalanya pusing karena melakukan tindakan secara tiba-tiba. Tapi ia tidak mempedulikannya. Ia tersenyum dengan tulus kemudian berkata,
"Ya."
Xika juga balas tersenyum. Akhirnya hubungan abu-abu yang dihadapinya selama beberapa hari ini berakhir. Ia berbalik menatap Lang Yan dan menunjukkan senyum juga. Tapi senyumnya berbeda dari senyum yang ia tunjukkan pada Shu Mang. Kali ini adalah senyuman penuh kemenangan, juga matanya mengatakan 'lain kali jangan memintaku jadi juru bicaramu seenaknya'.
Sebelum Lang Yan sempat untuk bicara atau memasukkan dirinya ke dalam mulut serigala itu, Xika memalingkan wajahnya.
"Nah, sekarang sudah selesai, kan? Kalau begitu aku tidur dulu."
Ia berbaring di samping Shu Mang kemudian tertidur tanpa seorangpun bisa mencegahnya. Lang Yan yang melihat hal itu sangat ingin mengumpat dan memasukkan bocah itu ke dalam mulutnya. Tapi ia menahan diri sekuat mungkin. Ia harus menjaga citranya di depan pemuda ini.
Shu Mang melihat tubuh Lang Yan yang bergetar. Ia menatap serigala itu dengan bingung. Apakah Xika melakukan kesalahan? Tapi bukannya Lang Yan sendiri yang menunjuk Xika sebagai juru bicaranya? Kenapa ia tampak marah pada Xika?
Akhirnya Lang Yan berbalik pergi. Ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Sebelum pergi, ia berkata,
"Sebaiknya kau ingat letak celah itu. Juga, jangan sia-siakan pertemanan yang belum tentu akan kau capai seumur hidupmu, kalau bukan karena anak itu."
Kemudian Shu Mang melihat sosoknya berjalan menjauh. Ia mengalihkan pandanganya pada Heiliao, serigala yang selalu bersama Xika. Serigala itu menatapnya selama beberapa saat kemudian pergi tanpa mengatakan apa-apa. Serigala terakhir berwarna putih dan kelihatannya ia betina. Serigala itu tersenyum padanya, dengan cara serigala, sebelum pergi menyusul kedua rekannya.
Shu Mang menatap tiga sosok yang bertemu dengan dua serigala lain yang bicara dengannya sebelumnya. Kemudian kelima sosok itu mengecil secara perlahan sampai tidak kelihatan lagi. Ia memalingkan wajahnya dan menatap Xika.
Anak itu tertidur dengan sangat nyenyak seolah tidak memiliki beban sama sekali. Tapi Shu Mang tahu, dibalik senyuman yang ceria, ada beban berat yang ditanggungnya. Beban yang tak seorangpun bisa menanggungnya selain dirinya. Juga kepedihan yang telah dialaminya. Semuanya tersembunyi dalam senyumnya itu.
__ADS_1
Tapi ia tidak akan memikirkakannya untuk saat ini. Ia berterima kasih pada Xika, sangat. Memang, anak itu telah menipunya. Tapi ia tidak menyalahkan Xika. Ia yang selama ini hidup dalam penghinaan juga akan tidak akan percaya dengan orang yang baru ditemuinya. Jadi menipu orang itu adalah tindakan bijak. Lagipula, kalau tidak ada Xika, mungkin dirinya sudah mati keracunan atau dimakan para serigala. Dan dirinya tidak akan bisa menjadi teman para serigala kalau bukan karena Xika.
"Terima kasih."