
Pandangan was-was memenuhi mata seluruh murid yang ada di Halaman Utama. Tapi untuk saat ini semua murid sepakat untuk menghabisi Xika lebih dulu.
"Xika, sini sebentar." Huo Bing menepuk pundak Xika.
"Ada apa?"
"Pinjam kartu."
"Untuk apa?" Xika mengeluarkan beberapa kotak kartu agar Huo Bing dapat memilihnya sendiri.
"Untuk dimainkan tentu saja."
"Ha? Kau tidak bertarung?"
"Tidak, aku malas. Kau saja. Aku masih belum puas mengalahkan Serigala Gosong."
"Heh. Harusnya aku yang bilang begitu, Burung Setengah Matang."
Dan dengan itu Huo Bing serta Heiliao duduk di tanah memainkan kartu Xika tanpa mempedulikan puluhan tatapan yang haus darah.
"........."
Xika hanya bisa menatap tanpa daya kedua saudaranya itu. Ia sudah tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Ia berbalik dan menatap Xingli.
"Yah....kurasa hanya kita berdua yang akan bertarung...."
"....."
Xingli tidak mengatakan apa-apa, seperti biasa, tapi tatapannya mengatakan bahwa gadis itu tidak keberatan.
Xika menarik nafas lega Xingli tidak berbalik dan ikut main kartu juga. Setidaknya ia memiliki rekan. Jadi ia berbalik untuk mengamati lawan-lawannya. Tapi yang tidak ia ketahui adalah bahwa dirinya sudah diamati dari tadi. Banyak yang merasa Huo Bing serta Heiliao sangat sombong dan berniat akan memberi mereka pelajaran.
Tapi itu bisa ditunda. Fokus utama mereka sekarang adalah menghabisi Xika, yang selalu dekat dengan dewi impian mereka.
"Nona Xingli, kenapa kau tidak ikut bermain bersama kami saja?"
Xingli berbalik dan Xika tahu bahwa gadis itu menatap Huo Bing dengan pandangan tanya. Tapi bukannya menjawab, Huo Bing malah menatap Xika.
"Apa kau tidak bisa melihat pandangan mereka semua terarah padamu? Sekalipun kami semua ikut bertarung, mereka semua hanya akan menyerangmu. Jadi daripada menghabiskan tenaga, kenapa tidak ikut main bersama kami saja? Lihat, aku sudah hampir menang."
"Hampir kalah lebih tepatnya."
"Apa? Sial!"
Huo Bing kembali fokus dengan permainan kartunya dan tak bicara lagi, tapi Xingli malah memikirkan semua perkataan Huo Bing. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Kenapa semuanya hendak menyerang Xika? Kenapa tidak Huo Bing saja? Atau temannya yang satu lagi.
__ADS_1
Xika menatap kumpulan murid yang mulai mendekat dengan waspada. Seperti yang dikatakan Huo Bing, semuanya hanya menatap Xika. Tidak ada yang menatap Huo Bing, maupun Heiliao. Ia menghela nafas sedikit kesal. Sepertinya ia memang harus menyelesaikan ini sendirian.
Ia maju selangkah dan mendapat pandangan penuh tanya dari gadis dewi disampingnya. Gadis itu......sepertinya sedikit, sedikit sekali mengkhawatirkannya. Menyadari hal itu, Xika tersenyum.
"Xingli, aku mau pamer sebentar. Kau tunggu dulu ya."
Dan dengan itu Xingli berbalik duduk dengan canggung disamping Huo Bing. Terlihat jelas bahwa gadis itu tidak suka dengan keberadaan Heiliao, dan demikian juga sebaliknya. Tapi baik Xingli maupun Heiliao tak ada yang bicara, jadi Huo Bing berpura-pura semuanya baik-baik saja.
"Bocah sombong, kau benar-benar berpikir bisa menghadapi kami semua sendiri? Memang, bodoh dan berani itu beda tipis."
"Kita harus mengajarkannya dengan jelas perbedaan keduanya."
Para murid itu mulai mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk menyerangnya.
"Hahhh........"
Xika hanya mendesah pelan, kemudian mengeluarkan Cosmos dan mulai mengocoknya. Setelah itu ia melempar beberapa kartu hingga melayang di sekitarnya sementara sisanya ia genggam. Ia tidak mengatakan apa-apa terhadap para murid itu, tapi pandangannya mengatakan bahwa ia siap kapanpun.
"Hajar dia!"
Entah siapa yang berteriak, tapi semua murid langsung berlari begitu mendengar teriakan tersebut. Pedang, tongkat, tombak, pisau, kapak dan senjata-senjata lainnya terarah pada Xika.
Sementara itu, dua orang tua yang sedang menonton pertarungan para murid dari tempat lain ini memiliki ekspresi yang cukup bingung.
"Kartu? Apa yang akan ia lakukan dengan kartu itu?"
Whush!
Serangan yang pertama sampai pada Xika adalah tusukan pedang. Ia menggeser kepalanya kemudian menendang pemiliknya entah kemana dan bersiap terhadap serangan kedua yang datang berturut-turut dengan serangan ketiga dan keempat.
Pisau dari kanan, tombak dari kiri dan pedang dari tengah. Xika menunduk dan menebas kaki ketiga penyerangnya dan berhasil menumbangkan mereka. Empat tumbang dan masih ada beberapa puluh lagi yang siap untuk menyerangnya. Tapi ini bukanlah hal yang sulit bagi Xika.
Bagaimanapun juga, ia telah bertarung melawan ratusan, mungkin ribuan ular dan masih hidup sampai sekarang. Baginya, melawan manusia seperti ini lebih mudah dibanding melawan ular ketika waktu itu, karena kebanyakan ular yang ia lawan bertubuh kecil sehingga mudah melancarkan serangan kejutan.
Beda halnya dengan para murid ini, meskipun tidak bisa dikatakan berbadan besar, tapi tidak sekecil ular sampai bisa masuk lengan bajunya.
"Ohhh....sudah dimulai, sudah dimulai!" ucap Huo Bing bersemangat. Ia menyaksikan Xika bertarung sambil memakan cemilan.
"Mau?" tawar burung itu. Xingli menggeleng pelan sementara Heiliao ikut memakan cemilan Huo Bing dan meninggalkan permainan kartu mereka untuk menonton Xika yang saat ini sedang dalam posisi terpojok. Xingli hanya menatap keduanya dengan bingung.
Menyadari posisinya saat ini kurang menguntungkan, Xika membuka sayapnya dan terbang ke tempat yang lebih luas. Namun sayapnya saat ini berbeda dari biasanya. Masih sama, berwarna biru kehijauan, tapi tidak terlihat nyata dan memiliki bentuk fisik, sebaliknya terlihat tidak nyata dan seolah terbentuk dari qi.
Huo Bing yang mengajarkan ini sebelum mereka pergi. Katanya, biar bagaimanapun juga sayap adalah kekuatan dan kebanggan mereka. Tidak menggunakan sayap sama saja mencoreng kebanggaan mereka sendiri dan melemahkan sayap mereka, tidak peduli apapun alasannya.
Jadi burung itu mengajarkan Xika metode untuk menggunakan sayapnya tanpa ketahuan oleh banyak orang, yaitu dengan menyelimuti sayapnya dengan qi sehingga terlihat seolah sayapnya tidak nyata dan merupakan hasil dari teknik rahasia.
Metode itu terbukti berhasil melihat mata para murid yang bersinar keserakahan, bukan hanya keterkejutan. Itu artinya mereka mengira bahwa Xika berhasil membentuk sayap menggunakan metode rahasia. Tentunya, mereka mengincar metode itu.
__ADS_1
Sesuai dugaan, ketika Xika pindah tempat, semua murid itu mengikutinya dan tak ada yang mempedulikan Heiliao, Huo Bing, serta Xingli.
Xika memang berhasil pindah ke tempat yang lebih luas dan mengubah posisinya, tapi tidak berbeda jauh. Dari posisi terpojokkan menjadi terkepung.
Ia berputar dan melempar kartunya. Setengah murid yang mengepungnya berhasil tumbang sementara sisanya berhasil menahan kartu-kartunya. Terbukti bahwa murid-murid yang memang ingin berpartisipasi dalam Ujian Peringkat memiliki kemampuan, bukan hanya kepercayaan diri saja.
"Maju!"
"Hiyah!"
"HAH!"
Setelah saling tatap selama beberapa detik, para murid itu kembali menyerangnya. Xika menyambut mereka dengan siap. Lima orang datang menyerangnya sekaligus dan puluhan sisanya melayangkan serangan qi jarak jauh yang pasti akan membuat Xika terluka parah kalau terkena. Tapi tidak mudah untuk mengenai Xika.
Sambil bertarung melawan lima orang bersamaan, Xika membuat perisai setengah lingkaran dari kartu-kartunya dan sesekali perisai itu menembakkan kartu yang berhasil menjatuhkan satu dua orang.
"Gila! Dia berhasil bertarung seimbang dengan lima murid senior? Selain itu ia juga mengendalikan perisai untuk menahan serangan yang datang dan masih bisa memberikan serangan balasan pada saat yang bersamaan?"
"Sebenarnya siapa pria itu? Bagaimana dia bisa sekuat itu?"
"Tidak heran dewi Xingli selalu bersama dengannya. Kekuatannya memang layak."
Saat itu, para murid yang pada mulanya menjadi penonton namun sudah terkapar sedang menyaksikan pertarungan Xika. Mereka cukup beruntung tidak dibuat pingsan oleh Xika. Dan hasilnya mereka tercengang melihat kemampuan Xika yang begitu diluar dugaan.
Duak!
Xika menendang seorang murid senior tepat di wajahnya dan berhasil membuatnya tidak bangun lagi. Setelah itu ia berdiri tak bergerak dan hanya menatap sisa murid yang ada.
Mengira Xika kelelahan, seorang murid senior maju dan melayangkan pukulannya, tapi ketika berjarak satu senti dari wajah Xika, tangannya berhenti tidak peduli sekeras apapun ia berusaha menggerakannya.
Swosh!
Angin kencang menghempaskan murid senior itu hingga mundur beberapa langkah. Terlihat jelas bahwa murid itu terkejut. Bukan karena angin kencang itu, tapi karena siapa yang menyebabkan angin kencang itu.
"Jumlah murid yang tersisa sudah mencapai dua puluh orang. Pertarungan dihentikan." Penatua Fen berbicara.
Selain Heiliao, Huo Bing, dan Xingli, semua murid terkejut ketika mendengar Penatua Fen. Merasa tak percaya, mereka melihat sekeliling dan menemukan ketakutan mereka berubah menjadi kenyataan.
Xika, seorang diri, berhasil mengalahkan lebih dari setengah murid yang ada hingga hanya tersisa dua puluh. Awalnya mereka menganggap satu sama lain sebagai saingan. Namun mereka memutuskan bekerja sama untuk sementara, sampai Xika dikalahkan. Setelah Xika dikalahkan, mereka akan kembali menjadi saingan.
Tapi entah sejak kapan, mungkin sejak mereka menyadari betapa kuatnya Xika, mereka mulai menganggap satu sama lain sebagai rekan untuk mengalahkan Xika. Ketika Xika menjatuhkan mereka satu persatu, mereka berharap bahwa ada murid lain yang cukup kuat hingga berhasil menjatuhkan Xika.
Jadi tentu saja mereka tak berharap bahwa rekan-rekan mereka akan berkurang secepat itu. Banyak yang terkejut mendapati hasil seperti ini. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka berteriak.
"Sialan! Siapa kau sebenarnya?!"
Xika tersenyum mendengar pertanyaan itu, karena bukan hanya banyak murid yang penasaran dengan identitasnya, tapi juga para elder termasuk Penatua Fen ingin tahu jawabannya.
__ADS_1
"Hanya seorang bocah antah berantah."