
Xika menatap kepergian Heiliao. Kemudian ia menoleh pada Huo Bing.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Entahlah. Ada banyak pilihan. Berlatih denganku, berlatih dengan serigala, berlatih membuat senjata, berlatih membuat pil, berlatih-"
"Eh, adakah sesuatu selain berlatih? Sesuatu yang lebih menyenangkan?"
Huo Bing diam sebentar untuk berpikir. Kemudian ia mendengar suara-suara mesra dari balik semak-semak yang sepertinya berasal dari Lang Hu dan kekasihnya. Ia tersenyum mendapat ide.
"Tentu saja ada."
Xika agak ragu melihat senyum sialan di wajah Huo Bing. Tapi ia tetap bertanya.
"Benarkah? Apa?"
"Berlatih."
Xika menghela nafas. Ia sudah tahu bahwa ia seharusnya tidak berharap banyak. Burung di depannya melihat ekspresi itu dan berkata,
"Jangan kecewa dulu. Kujamin latihan yang ini akan menyenangkan. Tapi kau harus cepat."
"Kenapa?"
"Karena kita akan kehilangan objek percobaan kita."
Xika masih tidak mengerti tapi Huo Bing memintanya berpindah tempat agak jauh. Burung itu memastikan keberadaan pasangan mesra dari balik semak sekali lagi sebelum membawa Xika pergi.
"Jadi apa yang akan kita pelajari?"
"Kita akan latihan mengubah suara."
"Memangnya itu mungkin?"
"Tidak ada yang tidak mungkin. Sekarang tutup matamu."
Xika menutup matanya. Kemudian ia mendengar suara Heiliao.
"XIKA!"
Anak itu langsung membuka matanya.
"Heiliao? Ada apa?"
Tapi ia tidak menemukan serigala itu dimanapun. Ia menoleh ke kiri dan kanan tapi masih tidak menemukannya. Ia menoleh pada Huo Bing.
"Di mana dia?"
"Disini."
Xika mundur beberapa langkah karena kaget. Yang bicara di depannya adalah Huo Bing tapi suara yang keluar adalah suara Heiliao. Ia langsung tahu bahwa Heiliao tidak benar-benar kembali melainkan Huo Bing yang sebelumnya bicara.
"Bagaimana bisa?"
"Akan kuajarkan."
Xika mengangguk dengan antusias. Huo Bing benar. Latihan kali ini akan menyenangkan.
"Pertama, kumpulkan qi di sekitar tenggorokanmu. Kemudian cobalah untuk bicara."
Xika melakukannya. Setelah qi terkumpul, ia mencoba untuk mengeluarkan suaranya. Dan yang keluar bukanlah suaranya. Yang keluar adalah suara aneh yang serak.
"Bagus. Kau berbakat. Selanjutnya coba atur suara apa yang akan kaugunakan."
"Bagaimana caranya?"
"Kendalikan sedikit banyaknya qi yang kau gunakan. Dengan begitu suara yang keluar juga akan berubah. Selain itu, bagaimana kau menyelimuti tenggorokanmu dengan qi juga cukup berpengaruh. Sekarang cobalah."
Xika mengangguk. Kali ini ia mencoba melapisi tenggorokannya dengan qi sesedikit mungkin. Suara yang keluar terdengar seperti suara anak kecil yang cempreng tapi juga serak. Kemudian ia mencoba melapisinya dengan cukup banyak qi. Suara yang keluar adalah suara berat seperti pria paruh baya.
Huo Bing mengangguk puas melihat muridnya itu. Anak itu memang berbakat.
"Sekarang coba untuk melapisinya dengan bentuk yang berbeda."
__ADS_1
Awalnya Xika tidak mengerti apa yang dikatakan Huo Bing. Yang ia tahu hanya mengurang atau menambah qi di tenggorokannya. Kemudian ia mencoba melapisi hanya setengah dari tenggorokannya dan suara yang keluar pun berubah. Kali ini terdengar seperti anak kecil, tapi tidak lagi serak. Benar-benar cempreng seperti anak kecil yang baru saja bisa bicara.
Ia mulai mengerti. Kemudian ia menyelimuti seluruh tenggorokan bagian kirinya saja, sementara yang kanan hanya setengahnya. Suara yang keluar berbeda lagi. Kali ini terdengar seperti remaja pria. Ia mencoba beberapa kali.
"Sekarang coba tiru suara wanita."
Xika mencoba tiga kali sebelum berhasil menemukan bentuk dan jumlah qi yang cocok. Tapi ketika Huo Bing mengatakan wanita, yang ada di pikirannya adalah Xingli. Meskipun gadis itu hanya bicara beberapa kali, tapi ia mengingat suaranya dengan jelas. Jadi ia mencoba mengubah suaranya sampai terdengar seperti gadis itu.
Setelah tujuh kali percobaan, Xika berhasil. Ia cekikikan sendiri karenanya. Huo Bing hanya menggelengkan kepalanya dari samping.
"Coba suara Serigala Gosong."
Xika cukup familiar dengan suara serigala itu, jadi tidak butuh waktu lama untuk menirunya.
"Sekarang coba suara Si Tua Yan."
Xika berpikir sebentar kemudian mengerti yang di bicarakan Huo Bing adalah Lang Yan, ayah Lang Hu dan Lang Jin. Ia tidak terlalu familiar dengan suara serigala itu jadi butuh waktu lebih lama untuk benar-benar menirunya.
Huo Bing tersenyum puas melihat Xika berhasil menirukan suara Lang Yan.
"Bagus. Ingat-ingat suara bentuk dan jumlah qi yang kau gunakan ketika meniru suara serigala tua itu. Sekarang ikuti aku."
Xika berjalan mengikuti Huo Bing menuju sebuah semak-semak yang mengeluarkan suara-suara mesra. Burung itu membisikkan sesuatu selama mereka berjalan dan itu membuat Xika tersenyum busuk.
"Dasar kau burung sialan."
Huo Bing juga balas tersenyum sama busuknya.
"Kau juga sama, bocah sialan."
Dan dengan itu, Xika mengendap-ngendap mendekati semak-semak tempat suara mesra itu berasal. Ia masih ingat bentuk dan jumlah qi yang ia gunakan sebelumnya. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian bicara.
"Lang Hu."
Xika cukup puas dengan suara yang ia keluarkan. Dua sosok serigala berdiri dengan kaku dari balik semak. Untunglah keduanya tidak menoleh. Sepertinya mereka berdua terlalu terkejut.
"A-ayah? Bukannya Ayah sedang dalam pertemuan?"
Xika mendengus. Untunglah dengusannya terdengar seperti Lang Yan juga.
Ekor Lang Hu berdiri tegak.
"A-aku.......aku............aku-aku akan berlatih sekarang, Ayah!"
Kemudian serigala itu langsung berlari pergi meninggalkan pacarnya yang mengutuknya dalam hati karena hal itu.
"Lang Hongbao, benar?"
"Y-ya, pemimpin Yan."
Xika diam selama beberapa saat untuk mengambil nafas, tapi hal itu malah membuat Hongbao semakin takut.
"Sudah berapa lama kalian bersama?"
Ekor Hongbao juga berdiri.
"Ba-baru beberapa hari, Pemimpin."
"Baru beberapa hari? Begitu cara bicaramu denganku?"
"Ma-maafkan saya, Pemimpin Yan."
Xika kembali diam. Dan Hongbao semakin gugup tiap detiknya.
"Kau berani bicara tanpa menatap wajahku?"
"Ma-maafkan saya, pemimp-"
Ucapan Hongbao itu langsung berhenti ketika mengangkat kepalanya. Serigala itu tidak menemukan Lang Yan. Sebaliknya, ia malah menemukan Xika. Ia menatap manusia itu dengan bingung. Kepalanya ia tolehkan ke kiri dan kanan tapi masih tidak menemukan sosok yang tadi bicara dengannya.
Kemudian ia melihat anak itu tertawa geli tanpa ada sebab dan membuatnya bingung.
"Xika? Kenapa kau?"
__ADS_1
Kemudian ekspresi Xika langsung berubah dan membuat Hongbao kaget.
"Kenapa kau? Begitu bicaramu denganku?"
Serigala itu mundur beberapa langkah sambil melebarkan matanya. Kemudian tahulah ia bahwa Xikalah yang dari tadi bicara.
"Ahahahahaha.........aduh, kalian sangat lucu. Aku sampai sakit perut."
Xika jatuh terduduk sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Tapi tawanya masih berlanjut. Sampai ia mendapati tatapan membunuh di depannya dan langsung melarikan diri. Mendadak ia sangat cinta dengan sayapnya. Terutama dalam situasi seperti ini.
Tapi Hongbao juga tidak lambat. Ia terpaku tiga detik sebelum berlari mengejar Xika.
Di tengah jalan, kebetulan Xika bertemu dengan Lang Hu yang sedang berlatih.
"Lang Hu! Sobat! Tolong aku!"
Ekspresi Lang Hu langsung waspada. Apa sesuatu mengejar Xika? Ia berhutang pada Xika. Ia harus membantu manusia itu.
"Xika? Ada apa? Kenapa kau kelihatan terburu-buru begitu?"
"Pacarmu mengejarku. Tolong aku. Aku tidak sengaja menabraknya, tapi ia sepertinya marah besar."
Lang Hu mengerutkan alisnya. Setahunya Hongbao bukan serigala yang mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Tapi ia tidak memikirkannya dulu untuk saat ini.
"Tenanglah. Aku akan bicara padanya."
Xika mengangguk.
"Kuserahkan dia padamu."
Kemudian manusia itu kembali mengepakkan sayapnya dan pergi dengan mukanya yang menahan tawa setengah mati.
Sayap Xika memang cepat. Jadi meskipun Hongbao telat tiga detik untuk berlari, ia membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengejar Xika. Ia sampai beberapa detik setelah Xika pergi. Nafasnya sedikit memburu. Ia menatap kekasihnya.
"Dimana dia?"
"Hongbao, tenang dulu."
"Dimana dia?"
"Dia kan hanya menabrakmu. Biarkan saja ya? Setahuku kau bukan serigala yang suka mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Kenapa denganmu?"
Hongbao menatap kekasihnya itu dengan bingung sekaligus kesal.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Bukannya kau mengejar Xika?"
"Benar. Dimana dia?"
"Kau mengejarnya karena ia menabrakmu kan? Biarkan sajalah, ya? Pasti ia tidak sengaja."
Hongbao menghirup nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan. Lang Hu tahu ada yang tidak beres. Kemudian Hongbao menceritakan yang sebenarnya pada kekasihnya itu. Lang Hu langsung membelalakkan matanya. Jadi ia ditipu Xika? Pantas sebelumnya ia merasa ada yang janggal.
"Jadi yang bicara sebelumnya itu Xika? Bukan ayahku?"
"Benar. Dan kau menahanku untuk mengejarnya."
"Xika!!!"
Setelah itu keduanya sama-sama berlari mencari manusia yang telah membohongi mereka. Keduanya berteriak keras-keras dan mencari Xika ke seluruh penjuru hutan. Mereka tidak berhenti mencari manusia itu sampai hari sudah mulai gelap.
---------------------
Di suatu tempat di hutan.........
"Sepertinya mereka benar-benar marah padaku ya? Ini semua salahmu, Burung Setengah Matang!"
"Apa? Tapi kau yang melakukannya bukan?"
"Tapi itu seru juga. Ayo kita lakukan lagi lain kali."
"Setuju."
__ADS_1
Kemudian keduanya sibuk membahas sasaran mereka selanjutnya hingga tidak menyadari dua pasang mata yang menatapnya dengan pandangan membara.