
"XIKA BODOH! CEPAT BANGUN SIALAN!"
Itulah hal pertama yang Xika dengar. Huo Bing sialan itu mengapa mendadak berisik sekali sih? Biasanya juga berisik tapi kali ini sangat mengganggu.
"Xika, ini bukan waktunya main-main. Cepatlah bangun."
He? Nada suaranya berubah? Baiklah. Kita coba lihat dulu.
Xika mencoba membuka matanya tapi betapa terkejutnya dia ketika wajah Xingli hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Seketika itu juga Xika langsung menahan nafas, takut membangunkan gadis itu. Lebih tepatnya takut kalau-kalau gadis itu sadar dan melihat Xika ada di kasurnya, bisa-bisa ia menjadi sate.
Dan Xika mulai memikirkan apa yang ia lakukan sebelumnya. Mengapa ia bisa melakukan hal bodoh seperti tidur di kasur Xingli bersama Xingli?
Lalu semua kenangan itu kembali mengalir. Xingli yang memeluknya tiba-tiba, lalu menangis tanpa alasan di bahunya, dan akhirnya tertidur di pelukannya tanpa melepaskan Xika. Tunggu, kalau begitu ini tidak semuanya salah Xika bukan? Lagipula Xingli lah yang memeluknya duluan.
Dan gadis itu tidak melepaskannya sama sekali semalaman. Pantas saja lehernya sakit.
"Pst.....Huo Bing, sedikit bantuan?"
"Kau sebaiknya membangunkan dia juga. Ada hal lain yang lebih penting yang harus diperhatikan."
Xika berdecak kesal karena Huo Bing menolak membantunya. Tapi ia jarang bicara serius seperti ini. Dan setiap kali ia berbicara seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi. Dengan berat hati, Xika berusaha membangunkan Xingli perlahan, berharap gadis itu tidak mencincangnya.
"He-hei Xingli......ini sudah pagi.......Bisakah kau lepaskan aku...?"
Orang lain mungkin akan salah paham kalau mendengarnya bicara seperti itu, tapi hampir seluruh tubuhnya pegal-pegal saat ini.
"Hmm......?"
Xingli membuka matanya perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Xika berjarak beberapa meter darinya. Maju sedikit dan mereka akan resmi berciuman. Sama seperti Xika, apa yang terjadi kemarin malam terputar kembali di kepala Xingli.
'Ap-apa yang kulakukan....? Kenapa aku memeluknya? Dasar bodoh. Dan kenapa ia masih disini?'
Gadis itu melihat tangannya dan sadar bahwa dirinyalah yang memeluk Xika. Dan wajahnyapun memerah tanpa bisa dicegah.
'Apa karena aku berharap ia tak meninggalkanku, jadi aku memeluknya sekuat itu hingga ia tidak bisa pergi? Apa yang telah kulakukan?'
"Anu...Xingli? Kelihatannya kau sudah bangun, bisa lepaskan aku dulu? Leherku sepertinya akan patah sebentar lagi."
Ucapan Xika menyadarkan Xingli dari pikirannya. Gadis itu langsung menendang Xika dari kasurnya dan menutupi wajahnya yang memerah.
"Aw!"
Sekalipun sakit, tapi wajah merah Xingli adalah hal yang akan selalu Xika ingat sampai kapanpun juga. Sangat jarang gadis itu menunjukannya.
"Kurasa sudah cukup bagi kalian untuk bermesraan. Sebaiknya kita mengurus hal lain dulu." ucap Huo Bing masih dengan wajah serius. Itu bukan dia yang biasa. Huo Bing yang biasa pasti akan mengejek mereka habis-habisan.
"Baiklah. Ada apa?" Xika membetulkan posisi duduknya dan menatap Huo Bing dengan wajah serius, sekalipun wajah merah Xingli masih terbayang jelas di kepalanya.
Huo Bing tidak menjawab. Ia menatap Xika selama beberapa saat, kemudian menatap Xingli.
"Sepertinya kalian telah membawa masalah untuk kalian sendiri."
__ADS_1
"Apa? Masalah apa? Bicara yang jelas, dong!"
"Xika, apa menurutmu Nona Xingli itu populer?"
"Ya, tentu saja. Lima Gadis Tercantik atau apalah itu......lagipula penggemarnya cukup banyak untuk membuatku menantang Seratus Besar."
Xingli tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, terlebih lagi mengapa Huo Bing dan Heiliao ada disini menyaksikannya tidur bersama Xika, tapi ia diam saja.
"Lalu menurutmu bagaimana bila kabar seorang pria memasuki kamar dari gadis populer itu dan tidak keluar semalaman?" Heiliao meneruskan.
Xika membuka mulutnya tapi tidak mengatakan apa-apa. Ekspresinya menunjukkan ia sudah mengerti. Ia tahu hal ini akan terjadi karena itulah ia berusaha keluar kemarin malam. Tapi Xingli menahannya. Yah, lagipula karena itu ia bisa jadi melihat wajah merah Xingli yang jarang diperlihatkan.
"Kita bisa kembali ke kamarku menggunakan elemen ruang. Setelah itu bersikap seolah tak ada yang terjadi. Sekalipun tak bisa membungkam mereka, tapi setidanya bisa membuat mereka agak bingung." Xika berpendapat.
Huo Bing dan Heiliao mengangguk setuju. Lagipula itulah satu-satunya jalan.
"Tidak." Namun Xingli menolak, yang tentu saja membuat semuanya kaget.
'Apa masa bicaranya sudah berlaku lagi?' pikir Xika.
"Sekalipun kalian melakukan hal itu, rumor tetap akan tersebar. Malahan, sekarang ini rumor harusnya sudah diketahui seluruh akademi."
Xika tak menduga Xingli akan bicara.
"Kalau begitu apa yang akan kita lakukan?"
"Tidak perlu melakukan apa-apa. Keluarlah dari kamarku seperti biasa."
"Aku tak peduli." Xingli terlihat tegas sekaligus dingin. Tapi di balik itu matanya menatap Xika, meminta persetujuannya. Apa ia takut Xika keberatan dirumorkan bersamanya?
Justru Xika yang sebenarnya takut gadis itu keberatan dirumorkan bersamanya. Tapi kalau gadis itu tak keberatan, maka tentu saja ia tak akan keberatan.
"Heh. Baiklah. Kalau begitu kita tak perlu melakukan apa-apa." Xika tersenyum.
Huo Bing juga ikut tersenyum. Sama halnya dengan Heiliao. Mereka tahu bahwa mereka akan mendapat masalah, tapi mereka tetap tersenyum.
"Ayo kita keluar." Huo Bing berdiri dan hendak membuka pintu tapi Xingli menghentikannya.
"Tidak. Yang akan keluar dari kamarku hanyalah aku dan Xika. Kalian kembalilah ke kamar kalian dengan cara yang sama."
Biasanya kalau seorang pendiam mulai banyak bicara denganmu, itu artinya hubunganmu atau setidaknya orang pendiam itu sudah merasa dekat denganmu. Tapi sekalipun Xingli sudah bicara, Huo Bing tak merasakan kedekatan apapun dengan gadis itu. Ia masih merasakan bahwa Xingli adalah gadis dingin yang sama, kecuali di hadapan Xika.
"..........."
Dan Huo Bing tidak tahu sama sekali harus berbuat apa. Heiliao mendengus kesal dan membuka lubang hitam. Ia pergi tanpa bicara. Huo Bing menggaruk kepalanya kebingungan sebelum akhirnya memasuki lubang hitam Heiliao juga.
Kini tinggal Xika dan Xingli berdua di kamar mereka. Entah mengapa suasana jadi terasa canggung. Xika berusaha memecah kecanggungan. Bagaimanapun juga masalah ini disebabkan oleh dirinya yang tidak keluar dari kamar Xingli bukan? Setidaknya ia harus mengucapkan maaf.
"Ah, hei.....mengenai malam kemarin, aku-"
Xingli berjalan pergi begitu saja. Tidak membalas ucapan Xika sama sekali. Dan hal itu malah membuat suasana lebih canggungg dari sebelumnya. Tapi Xingli berdiri diam di depan pintu.
__ADS_1
Xika menebak-nebak alasan gadis itu tidak membuka pintu selama beberapa saat, kemudian ketika melihat tatapan kesalnya, barulah Xika sadar bahwa gadis itu menunggunya.
Cepat-cepat Xika menyusul Xingli. Dan merekapun keluar bersamaan. Xika masih tak bisa melihat ekspresi Xingli, tapi ia yakin apapun yang terjadi, mereka akan menyelesaikanya bersama.
Cklek!
Di hadapan mereka semua penghuni Jade Village sudah menunggu. Sebagian membawa senjata dan memasang wajah buruk.
Kemarin, ketika kabar bahwa Dewi Xingli pindah ke Jade Village, semua penghuni bersorak gembira. Setidaknya mereka dapat melihat Dewi Xingli setiap hari. Bahkan mereka rela bangun pagi demi melihat wajah Dewi Xingli sebentar.
Tapi ketika malam hari, entah bagaimana mereka menemukan bahwa mereka sedang tidur di taman. Lalu ada suara berisik yang membangunkan mereka dan beberapa dari mereka melihat Xika, murid baru yang banyak dibicarakan itu membawa Dewi Xingli ke kamarnya dan belum keluar sama sekali sampai pagi ini.
Kini, di hadapan mereka Xika dan Xingli keluar bersamaan. Hal itu mengkonfirmasi dugaan mereka sebelumnya. Hampir semuanya merasa sakit hati. Sekalipun tidak semuanya adalah penggemar Xingli, tapi membayangkan gadis secantik dan seanggun Xingli menghabiskan malam bersama Xika itu sangat......
Untuk beberapa saat, Xika dan Xingli saling pandang dengan para penghuni Jade Village. Kemudian salah seorang bicara.
"Dasar bajingan sialan! Beraninya kau menodai Dewi Xingli!"
Dan pria itu melayangkan tinju api yang kemudian disusul oleh berbagai macam serangan lainnya.
"Kemarilah! Kami menantangmu! Aku tak akan membiarkan pria yang menodai Dewi Xingli pergi begitu saja."
Hinaan dan serangan datang secara beruntun dan di saat yang hampir bersamaan.
Tadinya Xika hendak menghadapi ini semua sendirian, tapi melihat wajah Xingli, Xika tahu ia tak bisa meminta gadis itu menunggu di belakang.
Bersama, keduanya bertarung melawan seluruh penghuni Jade Village. Xingli dengan pedangnya, dan Xika dengan tongkatnya. Itu bukan pertarungan yang mudah.
Penghuni Jade Village tidak bisa dibilang sebagai Murid Dalam yang paling kuat, tapi juga tak bisa disebut sebagai yang terlemah. Rata-rata kultivasi mereka di tingkat Forming Qi 5-7. Kalau hanya seorang dua orang, Xika bisa menghadapi mereka dengan mudah.
Tapi puluhan? Bukan jumlah yang bisa diremehkan. Untungnya ada Xingli yang bertarung di sisinya. Melawan penghuni Jade Village yang berjumlah puluhan dan menang terlihat seperti hal yang mustahil, tapi Xika yakin ia dan Xingli bisa menyelesaikan ini.
Setiap kali Xika mengalahkan satu orang, setidaknya tiga sampai empat orang lain datang dan menyerangnya secara bersamaan. Beberapa serangan tidak dapat ia hindari, dan ia tidak menggunakan kartunya untuk pertahanan karena tidak ingin fungsi kartunya ketahuan semua.
Kondisi Xingli setidaknya lebih baik. Dari seluruh penghuni, kira-kira hanya seperempatnya yang menyerang Xingli, sementara sisanya mengarah pada Xika. Sebagian besar penghuni menyalahkan Xika, tapi ada juga beberapa yang marah terhadap Xingli karena bertindak begitu rendahan.
Tentu saja Xingli tidak pilih-pilih. Ia menghajar semua yang ada di dekatnya. Beberapa kali ia menyelamatkan Xika, beberapa kali ia diselamatakan Xika. Hal itu sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah mereka bertempur bersama.
Di depan kamar Xika, Huo Bing dan Heiliao berdiri santai mengawasi jalannya pertarungan. Heiliao hanya berhasil bertahan selama tiga detik, sebelum kakinya melangkah maju hendak membantu Xika.
Set!
Tapi Huo Bing menghentikannya.
"Tenanglah. Kalau kau terus membantunya setiap kali ia kesulitan, kapan ia akan berkembang?"
Heiliao tidak menjawab tapi ia tetap berusaha maju.
"Sudah kubilang, tenanglah. Anak itu pasti bisa mengatasinya. Lagipula ia punya rekan yang hebat. Tidakkah kau melihat bagaimana mereka bekerja sama? Apa kau tidak percaya padanya? Atau jangan jangan.....kau tidak percaya pada rekannya?"
"......"
__ADS_1