Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-150


__ADS_3

Xika bangun saat matahari sudah mencapai puncaknya. Kemarin malam, ia tak bisa beristirahat sama sekali. Banyak serigala datang untuk mengucapkan selamat tinggal meskipun lebih banyak yang menahannya agar tidak pergi. Terutama Lang Hu.


Tapi setelah mereka semua tertidur, Xika menyelinap pergi dan meninggalkan mereka. Ia berjalan ke satu tempat yang cukup sentimental. Tebing milik Xuehao. Di sana, Xuehao jatuh cinta pada Heiliao untuk pertama kalinya. Di sana, ia melihat Heiliao menolak Xuehao. Di sana, ia melihat Heiliao dan Lang Yan saling membunuh dan menghentikan keduanya dengan bantuan Huo Bing.


Saat itu sudah dini hari, tapi ia masih belum tidur. Ia sibuk memandangi para bintang yang telah menyaksikan semua kejadian di tempat ini. Berbagai kejadian melintas di kepalanya mulai dari pertama kali ia datang, hingga ia melakukan pidato tadi.


Ia menghabiskan waktu mengenang keluarga barunya sampai lupa waktu. Hasilnya, ia baru bangun dan merusak momen para serigala yang mengira ia akan pergi saat pagi hari. Saat ia berjalan bersama Heiliao dan Huo Bing, bukannya menerima tatapan sedih, ia malah mendapat tatapan kesal.


Xika berdiri berdampingan dengan Huo Bing dan Heiliao. Ketiganya menghadap ribuan serigala yang menatap mereka. Masing-masing memberi hormat dengan cara kaum mereka. Xika membungkuk, Heiliao menundukkan kepalanya dan menekuk kaki depan kanannya, sementara Huo Bing melebarkan sayapnya dan menundukkan kepalanya. Meskipun ia adalah burung, ia juga bagian dari para serigala.


Kemudian, tanpa ada salam perpisahan lagi, ketiganya pergi menghilang di balik pepohonan lebat. Mereka tidak butuh kata-kata. Mereka mengerti apa yang ada di benak masing-masing hanya dengan tatapan. Xika menunggangi Heiliao sementara Huo Bing terbang di sampingnya.


"Xika, sebelum kita keluar aku akan mengajarkanmu jalan masuk ke hutan para serigala."


"Eh, bukankah itu tidak perlu? Meskipun aku tidak tahu letak pastinya, tapi kurang lebih dekat dengan kota kemarin bukan? Hanya perlu berjalan beberapa saat sebelum menemukannya."


Heiliao tertawa keras.


"Tentu saja perlu. Hutan para serigala ini tidak terletak di Dinasti Lin. Hutan ini terletak di bagian terdalam dari sebuah pegunungan yang dikelilingi berbagai dinasti."


"Apa? Lalu kenapa kau hanya membutuhkan waktu beberapa saat untuk mencapai hutan ini dari Kota.......tunggu sebentar. Aku tidak tahu nama kota itu. Apa namanya?"


"Aku menggunakan elemen ruang untuk menutupi seluruh tubuhku sebelum bergerak. Kelihatannya memang hanya berlari sebentar, tapi sebenarnya aku menempuh jarak yang sangat jauh." ucap Heiliao mengabaikan ucapan terakhir Xika.


Xika hanya mengangguk-ngangguk mendengar pernyataan Heiliao. Ia bertanya-tanya kapan ia akan bisa melakukan hal itu juga. Sepertinya akan sangat mudah bepergian bila menggunakan elemen ruang seperti yang Heiliao gunakan.


Setelah itu, Heiliao memberitahu batas-batas hutan para serigala dan bagaimana cara untuk masuk dan keluarnya. Ia menunjuk beberapa pohon yang menjadi patokan. Masing-masing memiliki formasi yang terpasang untuk melindungi hutan kalau-kalau ada serangan.


"Bagaimana? Kau ingat? Kita sudah hampir keluar dari hutan para serigala."


"Mmm....ya, kurang lebih. Kita mau kemana sekarang?"


"Harusnya kita yang bertanya begitu. Yang memimpin kan kau!"


"Ho? Jadi Tuan Huo Bing bersedia mendengarkan perkataanku?"


"Bukan itu maksudku sialan!"


"Baiklah, baiklah. Itu cukup. Kemana kita akan pergi?"


Xika berpikir beberapa saat kemudian menjawab,


"Celah yang ditunjukkan Paman Kong Yan. Ia mengatakan aku boleh pergi ke sana saat tingkat kultivasiku sudah mencapai Forming Qi 2. Dan aku memang sudah mencapainya. Ah, ia juga berpesan agar aku pergi bersama kalian."


"Dasar bocah cacat! Tahu begitu kita tidak perlu keluar dari hutan para serigala. Apa yang akan mereka katakan kalau kita kembali lagi sekarang?"


Xika tertawa kering sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Ah, tidak perlu kembali kok. Masih ada cara lain."


Huo Bing mengangkat sebelah alisnya bingung. Saat Xika membuka jalan menggunakan Nexus, Huo Bing masih sibuk mengumpulkan qi, jadi ia tidak memperhatikan keadaan sekitar dan tidak tahu ada jalan lain menuju Simulocus.

__ADS_1


Xika melepas Nexus yang sebelumnya melapisi tubuhnya. Selama ini, ia melapisi dirinya menggunakan Nexus sebagai perlindungan, sementara Cosmos ia biarkan begitu saja tanpa kotaknya diam di dalam saku jubahnya. Nexus kembali menjadi kotak setelah lepas dari tubuh Xika. Ia melemparnya dan kotak itu beprutar hingga membentuk portal.


"Hmm.....lumayan. Ayo masuk."


Huo Bing tidak terlalu mempedulikan portal yang sebelumnya berbentuk kotak kartu, sementara Heiliao menatap portal di depannya dengan pandangan kagum sekaligus penasaran. Ia harus meminta Xika meminjamkan kotak itu nanti.


Ketiganya memasuki portal yang langsung menutup setelah semua masuk.


Di dalam Simulocus, Kong Yan menyambut mereka. Xika mengambil Nexus yang sudah menjadi kotak kembali. Kelihatannya, Kong Yan sudah tahu tujuan mereka.


"Yah, kurasa kalian sudah siap?"


Ketiganya mengangguk. Kemudian Kong Yan mengantar mereka pada celah yang menjadi tujuan mereka, meskipun sebenarnya itu tidak perlu. Xika bisa mencarinya sendiri, tapi ia tak enak menolak Kong Yan. Lagipula, sepertinya ia tidak memiliki pekerjaan.


Xika melambai pada Kong Yan sebelum melangkah masuk melewati celah itu. Tapi untuk sesaat, ia melihat wajah Kong Yan yang penuh dengan ragu. Paman Kong Yan seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi pada akhirnya. Xika tidak terlalu memikirkannya karena sudah teralihkan dengan pemandangan di depan matanya.


"Wow. Ini seperti dalam cerita yang biasa ayah bacakan padaku sebelum tidur."


"Ayahmu membacakan cerita tentang hutan bambu untuk membuatmu tidur?" tanya Huo Bing dengan bingung. Burung itu menatap Xika dan hutan bambu di depannya bergantian. Ia benar-benar bingung dengan ayah Xika ini. Biasanya hutan bambu hanya ada dalam cerita yang penuh dengan bela diri. Kenapa cerita seperti itu dijadikan cerita pengantar tidur?


Heiliao menatap hutan bambu di depannya dengan mata menyipit. Hutan bambu ini terasa aneh. Kabut tebal yang mengelilinginya menambah kesan misterius. Dan ia tak suka itu. Hutan itu memberinya perasaan tak enak. Seolah ia dapat diserang dari mana saja dan tak tahu dari mana serangan itu berasal dari mana.


"Heiliao? Ada apa?"


"Hm? Tidak. Tak ada apa-apa."


"Kalau begitu ayo masuk."


"Tunggu! Firasatku mengatakan kita tak boleh melewati kabut ini."


"Apa? Lalu bagaimana kita akan masuk?"


Huo Bing, yang juga merasakan perasan tidak enak dari kabut itu ikut bicara,


"Apa kau yakin kita harus memasuki hutan ini? Bisa saja celah itu mengantar kita bukan untuk hutan ini."


"Kalau bukan hutan ini, kita harus ke mana?" tanya Xika sambil melihat sekelilingnya yang kosong melompong. Selain hutan bambu yang dipenuhi kabut, tak ada apa-apa lagi di tempat itu. Hanya tanah kosong sejauh mata memandang. Huo Bing baru sadar akan hal itu.


"...........entahlah." jawabnya sambil memalingkan wajah.


"Aku yakin kita harus memasuki hutan ini-"


Ucapan Xika terhenti karena ia merasakan sesuatu memanggilnya. Ia menyentakkan kepalanya ke arah yang ia duga berasal dari 'sesuatu' itu.


"Xika? Ada apa?"


Xika tak mempedulikan Heiliao maupun Huo Bing. Ia berjalan menuju arah perasaan itu berasal. Huo Bing dan Heiliao mengikuti di belakang dengan bingung. Keduanya bertukar tatapan dan sama-sama menemukan kebingungan dalam mata masing-masing.


Xika terus berjalan tak mempedulikan kabut yang semakin menebal atau Heiliao dan Huo Bing yang terus memanggilnya. Kedua mahkluk itu sadar dengan kabut yang semakin bertambah banyak itu dan semakin waspada.


Akhirnya Xika berhenti.

__ADS_1


"Huo Bing! Heiliao! Di sini tidak ada kabutnya. Kita bisa masuk lewat jalan ini."


Burung dan serigala itu menatap jalan yang ditunjuk Xika dengan curiga. Hutan ini dikelilingi kabut. Kenapa ada satu tempat yang tidak dikelilingi kabut? Agar mereka melalui jalan itu? Apakah ini jebakan? Tapi mereka merasakan bahwa perasaan bahaya yang dipancarkan kabut itu lebih kuat dibanding jalan ini.


"Ada apa? Bukankah kalian yang bilang tak mau melewati kabut? Kenapa masih tak mau masuk juga padahal ada tempat yang tak dikelilingi kabut?"


Heiliao dan Huo Bing kembali bertukar tatapan. Mereka saling mengangguk. Jalan itu adalah satu-satunya pilihan. Entah apa yang menunggu mereka di dalam nanti. Tapi mereka harus melindungi Xika. Apapun yang terjadi.


"Ayo, ayo. Kita masuk."


Xika melompat ke punggung Heiliao dan memaksa serigala itu agar melangkah maju. Lagipula, kabut terus menebal dan jalan itulah satu-satunya pilihan mereka.


"Wahh......ternyata hutan bambu ini indah juga ya......."


Baik Heiliao maupun Huo Bing tak menjawab Xika. Keduanya sibuk memperhatikan sekeliling mereka, mengawasi kalau-kalau ada yang salah.


"Kenapa kalian serius begitu?"


"Apa kau tak merasakan ada yang aneh dengan tempat ini?"


Xika diam sebentar untuk merasakan tempat ini lebih baik. Ia tak merasakan apa yang dibicarakan Huo Bing. Sebaliknya, tempat ini malah mengingatkan dirinya dengan cerita pengatar tidur yang selalu dibawakan ayahnya. Ia mendengarnya setiap hari, bahkan ibunyapun menceritakan hal yang sama.


Hanya setelah ia benar-benar menghafal cerita itu, barulah mereka menceritakan kisah lain untuk membantunya tidur. Tapi sesekali mereka akan kembali mengisahkan cerita itu padanya. Bahkan ayahnya masih mengetes beberapa kali untuk membuatnya tidak lupa.


Saat ia baru berada di rumah Paman Fa Diala, ia terus mengalami mimpi buruk. Mimpi tentang ulang tahunnya yang begitu bahagia, kemudian mendadak semua berubah. Desanya hancur, warganya dibantai, ia nyaris mati dan orangtuanya menghilang tanpa jejak. Dan ketika ia bangun, mimpi itu adalah kenyataan.


Ia terbangun hanya untuk menyadari mimpi itu adalah kenyataan dan tak bisa tidur lagi. Entah berapa hari ia menolak untuk tidur, sampai Paman Fa Diala yang biasanya lembut memarahinya dan memaksanya untuk tidur. Tapi tidur hanya akan membawanya kembali ke tragedi yang berusaha dilupakannya.


Cerita ayahnyalah yang membantunya tidur saat itu. Selain hanya cerita itu yang ia ingat, ia merasa tenang saat mengingat cerita itu. Ia membacakan cerita itu untuk dirinya sendiri sebelum tidur, dan mimpi buruk yang ia alami mulai berkurang. Ia bahkan sempat menulis cerita itu takut dirinya akan lupa, tapi ia tak mau ada orang lain yang tahu cerita orangtuanya, jadi ia membuang kertas itu.


Cerita itu juga yang membuatnya suka pada buku. Ia membaca berbagai buku cerita di perpustakaan lantai satu sampai habis juga karena cerita itu. Setelah itu barulah ia mulai membaca buku-buku pengetahuan yang ada di sana.


"Xika? Kau baik-baik saja? Ini sudah kedua kalinya kau melamun."


"Hm? Ah, ya. Tempat ini mengingatkanku dengan cerita pengantar tidur yang biasa dibawakan ayah dan ibuku. Selain itu aku tak merasakan hal lain. Memangnya apa yang kau rasakan?"


"Lupakan saja. Mungkin hanya perasaanku saja. Ngomong-ngomong, apa cerita yang tadi kau bilang sama dengan cerita hutan bambu itu?"


"Ya, itu cerita yang sama."


"Coba ceritakan padaku. Aku jadi penasaran."


Heiliao disamping juga mengangguk. Serigala itu sama penasarannya dengan Huo Bing tentang cerita pengantar tidur Xika yang terdengar aneh. Xika tersenyum melihat keduanya. Kadang-kadang, ia suka membacakan cerita itu untuk dirinya sendiri agar ia tidak lupa. Meskipun tak mengalami mimpi buruk lagi, ia tidak ingin melupakan cerita itu.


"Baiklah. Cerita itu dimulai dengan hutan bambu yang penuh dengan kabut. Hutan itu hanya memberikan satu jalan bagi para pengelana. Dan semakin lama kabut itu semakin tebal, jadi kau harus memutuskan dengan cepat. Masuk atau tidak. Kemudian........."


Xika menghentikan ceritanya secara mendadak dengan mata lebar. Ia menoleh ke belakang seolah ada sesuatu.


"Menunduk!"


WHUSHHH!!!

__ADS_1


__ADS_2