
Haruskah ia menggunakan taktik lama? Berpura-pura sekarat kemudian menyerang musuh di saat mereka lengah? Tapi kalau ia berniat pura-pura sekarat maka ia harus menerima luka yang cukup parah dari landak sialan itu untuk membuat musuh percaya.
Terlambat. Xika terlalu lama berpikir. Sebelum ia memutuskan harus melakukan apa, ekor landak itu telah menepisnya duluan. Dan sekali lagi jarak Xika dan Yun Xingzhao kembali menjauh.
Tes!
Setetes darah mengalir dari sudut mulut Xika akibat serangan landak itu. Luka yang ia terima itu tidak seberapa. Yang ia khawatirkan bukanlah luka barusan, melainkan keselamatan Yun Xingzhao. Salah langkah sedikit bisa-bisa nyawa Yun Xingzhao melayang. .
Tunggu dulu! Apa mereka pernah membunuh orang? Salah satu alasan kenapa sekte kecil dan menengah masih kalah jauh pertumbuhannya dibanding sekte besar adalah karena pengalaman bertarung. Selain itu, tekad. Kebanyakan murid sekte kecil dan menengah masih memiliki hati yang cukup baik sehingga tidak tega membunuh orang. Berbeda dengan murid dari sekte besar yang kebanyakan tidak berperasaan.
Bagaimana kalau ia memanfaatkan kelemahan sekte kecil dan menengah itu untuk menyelamatkan Yun Xingzhao?
"Hei, aku menyerah!" Xika mengangkat kedua tangannya membuat para musuhnya kebingungan. "Bisakah kau lepaskan temanku? Aku akan segera mengirimnya keluar babak ini, setelah itu aku juga akan keluar. Bagaimana? Tidak ada pertarungan lagi. Kalian bisa bergabung dengan teman kalian dan menghabisi temanku yang lain."
Sambil bicara, Xika berjalan maju secara perlahan. Ketika ia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat, maka ia akan menggunakan elemen angin untuk mengambil Yun Xingzhao. Tapi sayangnya, rencana Xika kembali gagal.
"DIAM! Maju selangkah lagi dan akan kubunuh pria ini!" ucap pria yang sebelumnya telah menusukkan tombaknya ke leher Yun Xingzhao sedikit.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan maju lagi. Tapi bisakah kau melepaskan temanku? Aku janji kami akan segera pergi."
"Tidak! Tidak ada tawar menawar! Sebaiknya kau kirim dulu dirimu keluar baru kami keluarkan pria ini."
Ck, sialan. Rencananya kembali gagal.
"Apa? Lalu bagaimana aku tahu kau akan mengirimnya keluar dan bukan membunuhnya?" tanya Xika sambil memutar otak mencari jalan lain.
"Tidak ada jaminan. Tapi kau tidak punya pilihan lain." ucap pria pertama dengan niat membunuh yang cukup kental.
Xika mengerutkan keningnya melihat niat membunuh sepekat itu berasal dari murid sekte menengah. Aneh. Itu bukan hal yang umum ditemui. Selain itu, ia juga merasakan ada yang tidak beres. Sejak kapan murid-murid dari sekte menengah dan kecil begitu kuat?
Hampir semua anggota yang tersisa saat ini berada di Forming Qi 9. Memiliki ratusan atau puluhan murid di Forming Qi tidak terdengar seperti sekte kecil dan menengah. Bagaimana mereka bisa memiliki kekuatan sebesar itu? Semakin dipikir, Xika semakin yakin ada yang tidak beres dalam kompetisi ini. Tampaknya ada beberapa pihak yang campur tangan sekalipun ia tidak tahu siapa.
"He-hei! Itu kedengarannya kurang adil. Bagaimana kalau kita mengadakan pertarungan satu lawan satu? Yang kalah akan meninggalkan babak ini. Bagaimana?"
"Sudah kubilang tidak ada tawar menawar! Cepat tinggalkan tempat ini! Atau akan kami bunuh pria ini lalu membunuhmu!"
"Oh? Kenapa kau tampaknya yakin sekali dapat membunuhku setelah membunuh temanku?" Mendadak nada bicara Xika berubah. Matanya kembali menajam dan wajahnya tampak seolah ia tidak akan peduli apakah Yun Xingzhao dibunuh atau tidak.
Perubahan sikap yang drastis itu membuat sebagian anggota lawan ketakutan. Tapi pemimpin mereka(Xika menganggapnya begitu karena dari tadi ia yang berbicara dan memutuskan) tampaknya tidak goyah. "Apakah aku yakin atau tidak, kau dapat mencobanya sendiri."
Xika menghitung berapa orang yang mengepung Yun Xingzhao.
"Heh."
Tujuh orang. Setelah ia melesat ia akan menerbangkan tujuh orang itu sekaligus membentuk penghalang angin di sekitar Yun XIngzhao.
"Kalau begitu biar aku coba!" ucap Xika sambil melesat maju. Tapi kali ini ia tidak melesat hanya berbekal elemen angin. Ia menggunakan sesuatu yang sudah lama ia sembunyikan.
Sret!
WHUSH!
__ADS_1
"Hati-hati! Ia datang dengan sesuatu di punggungnya!"
Tapi sebelum anggota yang lain sempat berbuat sesuatu atau mengancam akan membunuh Yun Xingzhao, Xika sudah melesat lebih dulu dan mengambil Yun Xingzhao dari tangan musuh. Kemudian ia terbang dan memberikan senyum kemenangan pada musuhnya.
Kali ini, ia tidak terbang dengan elemen angin, namun dengan sayapnya. Tentu saja, ia masih melapisi sayapnya dengan qi sehingga bentuk sayapnya terlihat seolah tidak terlalu nyata.
"S-sayap? D-dia punya sayap!"
"Jangan bodoh! Lihat baik-baik! Itu hanya teknik, bukan sayap sungguhan! Tidak ada manusia yang memiliki sayap!"
"E-eh? Benar juga."
"Memangnya kenapa kalau hanya teknik? Ini sudah lebih dari cukup untuk menghabisi kalian!" Xika berputar kemudian melemparkan puluhan bulu pada musuhnya.
Selagi musuhnya terkejut, Xika melesat ke balik pepohonan yang cukup rimbun kemudian meletakkan Yun Xingzhao di sana. Ia menghela nafas menatap temannya itu.
"Tadinya aku berniat menyimpan sayapku untuk babak final. Tapi apa boleh buat. Selain itu, tolong rahasiakan satu hal lagi."
Xika mengarahkan tangannya menuju Yun Xingzhao kemudian tanah naik dan menutupi tubuh Yun Xingzhao. Setelah itu, di sekeliling tanah yang menutupi Yun Xingzhao, muncullah kolam kecil. Xika menaburkan beberapa bubuk racun ke dalam air itu.
Ini adalah bentuk pertahanan terakhir kalau Yun Xingzhao ditemukan oleh lawan. Sekalipun ia harus menggunakan elemen tanah dan air, tapi biarlah. Lagipula lawan saat ini masih belum tahu kekuatannya.
"Di mana dia? Ia pasti sedang menyembunyikan temannya! Cepat cari dia!"
Xika mengintip dari balik pohon. Kalau ia keluar sekarang, musuh pasti akan mengetahui lokasinya dan keberadaan Yun Xingzhao. Tampaknya ia harus memberikan beberapa serangan pengalihan. Dari balik sakunya, ia mengambil kartu dan melemparkannya ke arah yang berbeda. Setelah itu, kartu-kartu tersebut melesat menyerang musuhnya dari berbagai arah hingga membuat musuh kebingungan.
SYUT!
"Di situ!" ucap pria pertama yang melihat kartu Xika datang menyerang. Beberapa anggota terdekat segera mendekati asal serangan itu, tapi mereka tidak menemukan apa-apa.
SYUT!
"Sialan! Serangan itu hanya pengalih perhatian! Pasang mata kalian baik-baik. Perhatikan dari arah mana ia datang!"
Sayangnya, ketika lawan menyadari rencana Xika, itu sudah terlambat. Xika sudah berada di atas mereka sambil mengepakkan sayapnya.
"Di sini, bodoh!" ucap Xika sambil menukik dan berputar melemparkan bulunya ke berbagai arah.
"Sial, ia di atas! Cepat menghindar!"
SYUT!
SYUT!
SYUT!
Sudah lama Xika tidak menggunakan sayapnya. Ia lupa betapa efektif sayapnya baik dalam hal pertahanan, serangan, maupun kecepatan. Sekalipun kekuatan musuh diluar dugaan, tapi serangan bulu Xika masih berhasil menjatuhkan tiga empat orang.
Xika melihat sekelilingnya setelah mendarat. Harusnya jumlah musuh tinggal belasan.
Set!
__ADS_1
Eh? Kenapa jumlah musuh tampaknya tidak berkurang? Tidak, bahkan jumlah mereka bertambah. Bagaimana-ah, ya. Dasar sialan. Terkutuklah Battle Royale. Selagi ia berurusan dengan dua puluh orang pertama, dua puluh orang yang lain telah datang. Kurang lebih begitu perkiraan kasarnya.
Sekarang, sepertinya ia harus memikirkan strategi baru. Pertama-tama, hilangkan dulu sayapnya. Jangan biarkan musuh curiga karena ia menggunakan sayapnya terlalu lama.
Syut!
Sayap Xika mulai mengecil, kemudian menghilang. Setelah itu, ia berpura-pura kehabisan nafas.
"Ia kelelahan! Teknik barusan pasti menghabisikan banyak qinya! Ia tidak akan bertahan lama!"
Hehehe.....bagus. Musuh tertipu. Sekarang yang harus ia lakukan adalah menjaga gerakannya agar terlihat lelah. Agar semakin meyakinkan, ia memakan beberapa pil yang sebenarnya adalah pil gagal buatan Xika, tapi musuh tidak akan tahu hal itu.
"Serang dia!"
Mendengar aba-aba itu, sisa empat puluh orang lainnya menyerang Xika secara serempak. Ada yang melesat maju dan melakukan pertarungan jarak dekat baik dengan senjata maupun tidak, ada juga yang tetap di tempat dan hanya berfokus dengan serangan jarak jauh dan memberi dukungan pada rekan setim.
Syut!
Sebuah pukulan mengicar wajah Xika. Ia baru menangkis pukulan itu ketika sebuah tendangan dari bawah nyari mengenai dagunya. Xika melangkah mundur untuk menjaga jarak tapi musuh di belakangnya telah menunggu dan menyabetkan pedangnya. Xika segera saja menunduk, namun sebuah duri muncul mengincar perutnya.
Terpaksa ia melompat mundur, namun tendangan musuh telah menunggunya dan karena tidak ada tempat untuk menghindar saking banyaknya serangan yang datang maka tendangan itu berhasil mengenai punggung Xika dengan telak.
Sayangnya, musuh tidak membiarkan dirinya beristirahat walau sebentar. Bahkan sebelum Xika menabrak tanah, lawan telah kembali menyerangnya.
Dari bawah sebuah kepalan tangan yang terbentuk dari tanah muncul dan meninju wajah Xika. Xika menyilangkan kedua tangannya dan menerima serangan itu. Tapi serangan yang datang bukan hanya itu saja. Dari kiri dan kananya, melayanglah dua tendangan tepat ke rusuknya.
Belum cukup, dari atasnya datanglah seorang pria berbadan besar hendak menghantam Xika dengan sikunya.
Brengsek, serangan yang ini harus ia hindari!
Xika balas menendang salah satu pria di sebelah kirinya sehingga ia terdorong ke sebelah kanan, kemudian menggunakan Space Shifter, ia melompat ke atas untuk menghindar serangan lawan.
Namun, siapa yang mengatakan bahwa udara bebas dari serangan? Sekalipun Xika sukses melompat ke atas, berbagai serangan jarak jauh telah menunggunya. Untungnya, Xika masih bisa menggunakan elemen angin.
Ia menggerakkan tubuhnya untuk menghindari serangan lawan, dan untuk yang tidak bisa ia hindari, ia tangkis. Sayangnya, semakin banyak serangan yang datang. Bahkan musuh yang menunggu di bawahpun ikut melayangkan serangan jarak jauh.
Xika berputar beberapa kali sambil mengumpulkan angin di Space Shfifter. Ia hendak menggunakan teknik yang sama ketika menghancurkan tornado lawan untuk memecah lawan. Karena di bawah sudah dikepung musuh maka ia akan menggunakan teknik ini untuk membuat musuh terpencar agar lebih mudah di tangani.
SRRRR!!!!
Angin sudah berkumpul di ujung Space Shifter. Xika mengangkat tangannya dan hendak melemparkan Space Shifter ketika sebuah ekor raksasa sukses menghantamnya.
DUAK!
SYUSH!
BLAR!
BRAK!
Sekali lagi, Xika terhempas karena ekor landak itu. Brengsek! Bagaimana ia bisa lupa bahwa mahkluk itu masih ada di sini? Dan lagi, timing penyerangannya sangat tepat hingga berhasil mengacaukan serangan Xika. Sekalipun ia berhasil melayangkan serangannya, tapi hasil yang di dapat tidak sesuai harapannya.
__ADS_1
Akibat ekor landak sialan itu, arah serangan Xika berbelok sehingga hanya mengenai sebagian anggota yang berada di samping, bukan di tengah seperti yang Xika harapkan. Setidaknya, ia bisa menjauh dari musuh walau hanya sesaat.
Baiklah, tampaknya sudah cukup main-mainnya. Musuh telah percaya bahwa ia telah kelelahan dan tengah mengerahkan seluruh tenaga mereka. Kalau begitu, sudah saatnya ia mengeluarkan kemampuan aslinya.