Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-68


__ADS_3

"Baiklah, akan kuulangi. Perhatikan baik-baik."


Huo Bing sedang memperlihatkan pada Xika bagaimana cara menempa.


Beberapa hari ini Huo Bing sedang mengajarinya menempa, namun Xika masih belum bisa. Karena menempa dengan teknik Huo Bing membutuhkan kontrol elemen yang luar biasa hebat. Meskipun Xika cukup hebat, tapi ia masih belum sampai di level Huo Bing.


Huo Bing membakar beberapa tulang Spirit Beast sampai meleleh, kemudian membentuknya menggunakan qi nya. Setelah itu ia dinginkan menggunakan esnya.


"Kau terlalu cepat. Lagipula aku tidak punya elemen es. Bagaimana aku harus mendinginkan senjataku?"


"Gunakan elemen air dan angin kalau begitu. Tidak terlalu berbeda."


Xika mencoba melakukan hal yang baru saja Huo Bing peragakan. Tapi baru saja ia menyalakan api, elemen air telah melahapnya sampai habis. Kemudian ia mencoba menyalakan api dulu baru air, hasilnya tidak jauh berbeda, api membakar elemen air sampai habis menguap.


Huo Bing menghela nafas melihat muridnya itu. Dalam hati ia bersyukur bahwa Xika belum menyentuh tulang Spirit Beast, kalau tidak benda itu akan terbuang sia-sia oleh Xika.


"Baiklah. Kau belajar mengendalikan elemenmu dulu. Apa kau belum pernah menggunakan dua elemen secara bersamaan?"


"Pernah, tapi tidak pernah elemen yang berlawanan. Seperti api dan angin."


"Kalau begitu sekarang cobalah dengan elemen yang berlawanan."


Xika mengangguk. Ia mencoba menggunakan dua elemen yang berlawanan.


Ia membuka tangan kanannya dan muncullah api. Kemudian ia membuka tangan kirinya dan mengisinya dengan air. Tidak lama kemudian, api di tangan kirinya meredup beberapa kali dan akhirnya mati.


Xika tidak menyerah. Ia mencobanya lagi.


Huo Bing dan Heiliao hanya mengamati dari samping.


Tadinya Heiliao ingin mengajari Xika begitu ia selesai dengan Huo Bing, tapi membuat pil juga membutuhkan kontrol qi yang tidak kalah dengan teknik menempa Huo Bing, jadi Heiliao membiarkannya berlatih.


Sesekali Huo Bing dan Heiliao akan saling bicara. Tapi mengigat hubungan kompetisi di antara mereka, biasanya hanya terdengar jawaban 'ya' atau 'Mmm' atau 'benar'.


Beberapa jam berlalu dan Xika masih belum bisa. Ia tiduran di lantai untuk menjernihkan pikirannya.


Setelah tiduran sebentar, Xika masih tidak yakin ia bisa menguasai kontrol elemen secepat itu, jadi ia mencoba hal lain.


Ia berdiri dan merentangkan kedua sayapnya, kemudian mengepakkannya.


Saat ini Xika sudah bisa terbang tanpa harus berlari terlebih dahulu.


Meskipun Huo Bing dan Heiliao mengajarinya menempa dan membuat pil, ia masih tetap berlatih menggunakan sayapnya.


Xika mengepakkan sayapnya semakin cepat dan ia terbang semakin tinggi.


Huo Bing dan Heiliao hanya menatapnya. Xika sudah melakukan hal seperti ini. Setiap kali ia bingung dengan pelajaran mereka, ia akan melakukan hal lain sebagai refreshing. Paling-paling, ia akan jatuh setelah terbang begitu tinggi.


Dan hal itu terbukti benar.


WHUSHHH!!!


DUAKK!!


Xika jatuh. Kali ini dengan posisi terlentang, jadi seluruh tubuhnya mengenai tanah pada saat yang bersamaan.


Tapi ia bangkit dengan tatapan bersemangat.


Kali ini ia jatuh setelah 1 meter lebih tinggi dari pecrcobaan sebelumnya.


Xika mencoba terbang setinggi mungkin beberapa kali. Hasilnya selalu sama, jatuh.


Ia berhenti terbang setinggi mungkin, dan sekarang ia mencoba terbang selama mungkin.


Xika merentangkan sayapnya dan melebarkannya. Kali ini ia terbang berputar mengelilingi ruangan itu.


Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk terbang selama mungkin, hanya saja.........


WHUSH!


DUAR!


Huo Bing menembakkan api dari mulutnya dan hampir mengenai Xika.


Xika merentangkan sayapnya untuk mengentikan laju terbangnya sehingga serangan Huo Bing hanya mengenai dinding di sampingnya.


Tapi itu belum selesai.


Heiliao menghilang dan muncul lagi di atas kepala Xika. Ia langsung oleng karena beban yang datang mendadak. Di saat ia mulai bisa menyeimbangkan dirinya, Heiliao menghilang dari kepalanya dan muncul dengan memeluk kaki kirinya.


Xika kembali oleng dan itu membuat kepalanya menabrak dinding.

__ADS_1


Tapi Xika masih belum jatuh. Ia mengepakkan sayapnya menolak untuk jatuh.


Kemudian Heiliao berlarian di seluruh tubuhnya membuat beban di tubuh Xika berpindah-pindah.


Xika masih melayang di udara meskipun posisinya sudah cukup miring. Huo Bing menembakkan bola es.


Dan akhirnya Xika jatuh.


"Sialan!"


Inilah yang selalu dilakukan Heiliao dengan Huo Bing. Mereka tidak pernah mengganggunya saat belajar terbang, tapi ketika ia selesai belajar dan mencoba bersantai, mereka mulai mengganggunya.


Mungkin hanya dalam hal ini saja Huo Bing dan Heiliao dapat bekerja sama.


Xika jatuh dengan punggungnya menghadap tanah. Jadi kini ia menatap langit-langit. Hanya di posisi inilah ia benar-benar bisa bersantai.


Ia diam dan menikmati kesunyian dan pemandangan langit-langit yang telah menjebaknya selama dua minggu ini.


Xika mempertahankan posisi itu selama beberapa saat. Kemudian ia duduk dan kembali berlatih mengendalikan elemen.


Di tempat itu, mereka tidak dapat mengetahui siang dan malam, jadi mereka makan hanya saat mereka merasa lapar.


Kali ini Xika berhasil menyalakan api dan air secara bersamaan tanpa ada yang mati. Meskipun itu hanya bertahan selama satu menit.


Tapi kemajuan itu membuatnya semakin bersemangat.


Ia mencobanya lagi. Namun setelah mencapai lima menit, ia tidak bisa menahan keduanya lagi.


Dan kini Xika berbalik menghadap Heiliao. Ia ingin mendengarkan penjelasan Heiliao tentang memurnikan pil lagi.


Heiliao menjelaskan bagaimana cara melakukannya, elemen apa saja yang dibutuhkan, dan di bagian apa saja ia harus fokus.


Beberapa hari berlalu dengan keseharian yang masih sama.


Kini Xika sudah cukup mahir mengontrol elemennya. Ia bisa menggunakan tiga elemen secara bersamaan tidak peduli elemen apapun itu. Tapi hanya elemen dasar.


Heiliao memberitahunya bahwa ia juga bisa menggunakan elemen ruang seperti empat elemen lainnya, tapi sepertinya Xika masih terlalu jauh untuk mencapai tahap itu.


Jadi Huo Bing mulai mengajari Xika.


Ia hanya memberikan satu buah tulang yang cukup kecil. Ketika Xika bertanya kenapa hanya satu dan yang ukurannya kecil, Huo Bing menjawab,


"Karena aku tidak tahu apakah kau akan berhasil atau tidak. Kalau kita memulai dengan tulang besar dan banyak sekaligus lalu kau gagal, maka semua tulang itu akan terbuang sia-sia. Lebih baik berhati-hati."


"Baik, pertama-tama angkat tulang itu."


Xika membutuhkan beberapa menit untuk berhasil melakukan hal itu.


Kemudian Huo Bing melanjutkan.


"Bagus. Sekarang arahkan apimu ke tulang itu perlahan. Pelahan kubilang!" ucap Huo Bing ketika melihat Xika mengarahkan apinya dengan cepat ke tulang itu.


Xika mempertahankan posisi itu selama beberapa saat.


"Pertahankan posisi itu, benar, benar begitu. Tungggu sampai tulang itu meleleh sepenuhnya. Baru kau bentuk."


Beberapa menit berlalu dan kini tulang itu telah meleleh sepenuhnya menjadi cairan berwarna putih.


"Sekarang bentuk tulang itu menjadi senjata yang kau sukai."


"Ehhh...........bagaimana cara membentuknya?"


"Gunakan qi mu."


Xika mencobanya tapi itu cukup sulit. Ia hendak membuat pisau karena benda itu kecil dan hanya benda itu yang bisa ia buat dengan tulang yang begitu kecil. Tapi ia malah melebarkan cairan itu.


Ia mencobanya selama beberapa saat tapi masih belum berhasil. Tanpa sadar, Xika menjauhkan apinya dari lelehan tulang itu dan benda itu mulai mengeras.


"AHHH!! Jangan biarkan tulangnya dingin dan mengeras, gunakan apimu!"


Tapi sudah terlambat. Lelehan itu sudah terlalu keras untuk dibentuk meskipun masih basah.


"Ahahaha............"


Xika tertawa sambil menggaruk kepalanya sementara Huo Bing hanya menghela nafas.


"Ayo coba lagi." ucap Huo Bing yang dibalas anggukan Xika.


Ia mengeluarkan sebuah tulang lagi dari cincin spasialnya dan mengulang proses sebelumnya.


Kali ini sebenarnya cukup baik. Xika tidak menjauhkan apinya, tapi karena masih bingung bagaimana cara membentuk lelehan tulang itu, ia hilang konsentrasi dan lelehan itu menetes ke kakinya.

__ADS_1


"PANAS!"


Dan seketika itu juga Xika kehilangan konsentrasinya. Apinya menghilang. Di saat Xika sudah kembali fokus, lelehan itu sudah mengeras seperti sebelumnya.


Kini sudah ada dua benda tak terbentuk yang merupakan produk gagal Xika.


Ia tidak menyerah dan mencobanya lagi.


Tapi setelah ia mengeluarkan enam tulang dan semuanya berakhir dengan kegagalan, ia berhenti untuk istirahat sejenak.


Huo Bing menatapnya dengan pandangan natural. Tidak ada hinaan sama sekali di wajahnya karena menempa memang sulit. Menggunakan tungku saja sudah cukup sulit, apalagi tanpa tungku.


Tapi Xika kesal. Bukan pada Huo Bing, melainkan pada dirinya sendiri.


Jadi ia berdiri dan menocoba hal nekat. Ia mengumpulkan semua produk gagalnya menjadi satu tumpukan kemudian membakarnya.


Huo Bing cukup mengagumi idenya itu. Tidak pernah tepikirkan baginya untuk menggunakan produk gagal berkali-kali. Tapi sepertinya Xika menggunakan cukup banyak.


"Tidakkah itu terlalu banyak?"


"Tidak." jawab Xika dengan nada yang memberitahu orang bahwa ia tidak akan mengubah keputusannya.


Jadi Huo Bing membiarkannya. Lagipula kalau gagal ia bisa melelehkannya dan menggunakannya lagi. Di samping itu, Huo BIng menemukan tatapan baru dalam mata Xika.


Tatapan yang mengatakan bahwa ia harus dan pasti berhasil. Sebelumnya hanya tatapan yakin bahwa ia bisa melakukannya, tapi tidak tahu kapan ia bisa. Kali ini tidak seperti itu. Tatapan kali ini menyiratkan bahwa ia pasti akan berhasil kali ini.


Xika membutuhkan waktu lebih lama dari sebelumnya untuk mengubah semua produk gagal itu menjadi cairan. Wajar saja karena ia melelehkan benda yang berjumlah enam kali lipat dari sebelumnya.


Setelah itu, ia membentuk cairan itu secara perlahan.


"Apa yang mau kau buat?"


"Pisau."


"Dengan semua cairan itu?"


"Ya."


"Berapa banyak?"


"Satu."


"..........."


Huo Bing tidak bisa berbicara lagi. Ia memang mengetahui bahwa Xika memang berniat membentuk pisau dari percobaan-percobaan sebelumnya, tapi ia tidak tahu Xika akan sangat gigih sampai-sampai ia membentuk sebuah pisau dari enam tulang.


Xika sudah lebih bisa membentuk cairan itu menjadi bentuk yang ia inginkan berkat percobaan-percobaan sebelumnya. Pertama-tama, ia mengumpulkan semua cairan itu dan memadatkannya. Setelah itu, barulah ia membentuk pisau.


Kali ini ia berhasil membentuk pisau. Kemudian ia berhenti dan bertanya pada Huo Bing.


"Selanjutnya apa yang harus kulakukan?"


Huo Bing belum mengajari tahap selanjutnya karena dari tadi Xika belum berhasil.


"Huh? Ah, pendinginan. Kau bisa menggunakan elemen air dan angin untuk mendinginkannya." jawab Huo Bing karena masih terpana Xika berhasil membentuk pisau ditengah kenekatannya. Ia tidak megajari Xika bagaimana cara mendinginkan senjata itu karena elemen yang ia gunakan dengan Xika berbeda.


Tapi sepertinya itu tidak perlu. Xika mencobanya sendiri dan berhasil. Ia menggunakan airnya yang telah bercampur dengan angin untuk mengelilingi pisaunya.


Semua proses ini ia lakukan dengan fokus tanpa ada sedikitpun kecerobohan atau kesalahan.


Perlu waktu yang cukup lama untuk mendinginkan pisaunya karena ia hanya mendinginkan lewat auranya, tidak menyentuh pisaunya dengan air secara langsung. Tapi memang seperti itu proses yang benar. Bisa-bisa pisaunya hancur bila elemen airnya menyentuh pisaunya.


Setengah jam berlalu tapi pisaunya masih belum kering sepenuhnya. Persediaan qi Xika semakin menipis.


Tapi Xika tidak kehabisan cara. Ia menggunakan lubang hitam untuk menyerap qi di sekitarnya dan mengisi dantiannya. Dengan cara itu ia akhirnya berhasil mendinginkan pisaunya sepenuhnya.


Lubang hitam, angin dan air menghilang. Kemudian Xika memegang pisau buatan pertamanya secara perlahan.


Ia hanya melihat pisau itu sebentar kemudian semuanya menjadi gelap.


Bruk!


Xika jatuh tertidur. Selama beberapa jam ini ia menghabiskan seluruh energinya. Baik fisik maupun mentalnya kelelahan, jadi wajar saja ia langsung tertidur.


Huo Bing menatap Xika dengan senyum karena senang Xika akhirnya berhasil membuat senjata pertamanya.


Heiliao menghampirinya dan bertanya.


"Kau tidak memeriksanya?"


Huo Bing diam sebentar kemudian menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak. Itu senjatanya, jadi biarkan dia saja yang memeriksanya."


__ADS_2