
".........."
Xika terdiam tak menyangka Heiliao akan mengatakan itu setelah menghentikannya menyerang Hei Bao. Heiliao melihat tatapan Xika dan mengerti pikirannya.
"Apa? Kau pikir aku akan melarangmu melakukan hal lainnya?"
"Sekilas, ya. Kau terdengar seperti orangtua."
Heiliao menghela nafas mendengar ucapan Xika. Ia membalikkan badannya menatap Hei Bao. Kemudian berkata,
"Cepatlah. Atau kita akan kehilangan dia."
Xika mengangguk. Tapi ketika kia melangkahkan kakinya, ia teringat sesuatu. Ia merogoh sakunya kemudian mengeluarkan sebuah kartu. Bukan kartu remi pemberian ayahnya, tapi kartu yang menegaskan identitasnya sebagai anggota Stellar Joker.
Kartu itu memiliki empat simbol di atasnya. Dan keempatnya bersinar terang. Xika melihat keempat simbol yang bersinar terang itu kemudian menghela nafas lega.
Lian Minjie, Lin Zhu, dan Qin Mo baik-baik saja. Mereka masih hidup dan sangat sehat. Di sampingnya, Huo Bing dan Heiliao juga ikut melihat kartu itu.
"Mereka baik-baik saja." ucap Huo Bing.
Xika mengangguk. Ia menatap kartu itu selama beberapa detik.
"Haruskah aku mengubah wajahku menggunakan kartu ini?"
Kedua mahkluk itu diam sesaat kemudian berkata,
"Tidak."
"Kenapa? Bukankah itu lebih aman? Kalau ketahuanpun mereka tidak akan tahu siapa diriku bukan?"
"Kita tidakĀ akan ketahuan. Ingatlah itu."
Huo Bing mengangguk menyetujui ucapan Heiliao. Kemudian menambahkan,
"Untuk sementara kita tidak perlu menggunakan kartu itu. Tapi simpanlah di sakumu untuk jaga-jaga."
"Baiklah. Lagipula aku selalu menyimpan kartu ini di sakuku berserta kartu pemberian ayah."
"Kenapa kau menyimpannya di sakumu selama ini? Bukankah itu lebih berisiko?"
"Yah, aku menyimpan benda-benda berhargaku di dekat tubuhku. Tidak pernah di dalam cincin. Itu membuatku merasa tetap terhubung dengan pemiliknya."
Huo Bing tersenyum dan bergumam pada Heiliao,
"Sayangnya si boneka es itu tidak memberinya sesuatu. Kalau tidak pasti akan ia jadikan boneka tidurnya."
Tapi Xika mendengar itu. Ia menatap Huo Bing dengan tajam. Huo Bing langsung bersiul-siul melihat tatapan Xika.
"Cih, bilang saja iri karena kau tidak punya kekasih."
"Kekasih? Sejak kapan kau dan Xingli-"
"-Baiklah cukup. Kembali ke pertanyaanmu sebelumnya, resiko apa yang kau maksud?" ucap Xika mengubah topik ketika melihat wajah Huo Bing yang makin menjadi-jadi.
"Resiko kehilangan tentu saja. Dicuri misalnya."
__ADS_1
"Pertama, tidak akan ada orang yang mau mencuri kartu. Untuk apa mereka mencuri kartu? Kedua, tidak akan ada yang bisa mencuri dariku."
"Kenapa kau percaya diri sekali?"
"Karena aku sudah mendapat pelatihan khusus." ucap Xika bersikap misterius tapi tidak memancing penasaran Huo Bing maupun Heiliao. Wajah mereka seolah mengatakan 'oh'.
Kemudian Xika berbalik dan melihat Hei Bao hampir menghilang dari kerumunan. Ia mendecakkan lidahnya.
"Ah sial! Gara-gara kalian aku hampir kehilangan dia."
Kemudian ia buru-buru mengikuti Hei Bao tapi masih dengan sikap wajar sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
"Tenanglah. Kau tidak akan kehilangan dia, setidaknya untuk saat ini. Aku punya kabar baik dan kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?"
"Maunya sih tidak ada kabar buruk. Kabar baik saja."
"Baiklah. Kabar baik sekaligus kabar buruknya adalah Hei Bao juga menuju Paviliun."
Xika diam sebentar dengan wajah bingungnya.
"Kenapa Hei Bao menuju Paviliun adalah kabar buruk dan kabar baik?"
"Karena itu berarti kau tidak akan kehilangan dia dan tidak pelru takut dicurigai karena tujuanmu memang ke Paviliun. Tapi itu juga berarti kau tidak bisa mengikutinya lagi. Paviliun menjaga keamanan dan privasi pelanggan mereka."
Xika menghela nafas berusaha merelakan Hei Bao yang sudah berada di depan mata. Tapi tujuannya mengikuti Hei Bao mirip dengan tujuannya ke Paviliun. Mencari pamannya. Bedanya, ia akan menambahkan ekstra pukulan pada Hei Bao.
Kini ia berada di depan gedung putih yang memiliki tiga lantai dengan patung mutiara besar terletak di kiri kanan pintu masuknya. Gedung itu terlihat mewah. Semua jenis kalangan memasuki gedung itu. Mulai dari bangsawan kaya raya yang hendak membeli berbagai macam peralatan, sampai rakyat jelata yang berusaha menguji peruntungannya.
Xika mendesah. Ia berharap Paviliun dapat memberikan kabar tentang pamannya. Kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki gedung putih bersih nan elegan itu.
Di mana-mana dapat terlihat orang-orang kalangan bawah yang membuka kios kumuh dan cukup kotor. Hampir tidak ada benda bagus di tempat ini. Xika hendak keluar dari tempat ini tapi Huo Bing menghentikannya.
"Tenanglah. Ini hanya lantai pertama. Jangan terburu-buru menyimpulkan. Lagipula kalau Paviliun hanya sebatas ini, maka mereka tidak akan memiliki pijakan di ibukota."
Xika mengangguk. Kemudian ia berjalan menuju lantai dua. Namun daritadi, banyak sekali pedagang yang memanggilnya. Pakaiannya tidak terlihat mahal, tapi juga tidak terlalu murah. Pakaiannya merupakan kalangan menengah yang masih bisa dijangkau oleh pedagang-pedagang ini, jadi tentu saja ia menjadi target bagi banyak pedagang ini.
Berbeda dengan seorang pemuda yang mengenakan pakaian mahal. Sekali lihat saja kau pasti sudah tahu bahwa ia tidak akan berhenti di lantai satu. Tidak ada satupun pedagang yang memanggil pemuda itu.
Xika menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya. Ia berjalan dengan mulutnya yang terus menerus bicara 'Tidak, terimakasih.' atau 'Maaf, tidak tertarik' atau 'Mungkin lain kali.'
Akhirnya Xika berhasil melewati pedagang-pedagang itu yang bagi Xika terasa lebih menakutkan dibading Cobra. Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Namun di tangga teratas, seorang wanita menghalangi jalannya.
Wanita itu tersenyum dan membuat Xika merasakan firasat buruk. Ia berkata,
"Selamat datang. Anda perlu membayar 1 keping perak untuk naik ke lantai dua."
"Ck, sial. Kenapa dimana-mana selalu uang?"
"Karena hal itulah yang menjadi penyebab dari hampir semua masalah yang ada."
Xika memberikan satu koin perak kemudian melangkah melewati wanita itu yang sudah memberinya jalan.
Omong-omong, Xika bisa dibilang cukup kaya sekarang. Cincin Bai Feng berisi uang yang cukup untuk bertahan hidup di kota ini selama beberapa tahun. Ditambah, ular-ular yang Xika lawan sebelumnya juga memiliki cincin spasial yang berisi uang. Ada juga benda-benda lain yang Xika tidak tahu apa kegunaanya. Ia mengabaikannya untuk sementara.
Xika melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa inilah yang ada dalam bayangannya.
__ADS_1
Lantai dua ini sangat bersih juga elegan. Lantainya berwarna putih, tapi memancarkan cahaya dan aura yang tidak biasa. Xika tidak tahu terbuat dari apa lantai ini. Kemudian jendela-jendelanya juga memiliki posisi yang cukup baik. Mereka memberikan pencahayaan yang cukup, tapi tidak berlebihan. Membuat perasaan pelanggan lebih tenang dan juga bisa menyegarkan pikiran untuk melihat pemandangan di bawah.
Di sepanjang tembok, berbagai macam benda dipajang. Lantai dua ini tidak seperti lantai satu yang masing-masing memiliki kios tersendiri. Disini semuanya dipajang dengan bebas tanpa terbagi menjadi milik pihak yang satu atau yang lain.
Ada banyak pelayan baik wanita maupun pria disana-sini yang akan menemanimu berbelanja. Tapi pelayan itu mengikuti kemanapun kau pergi dan membuat Xika kurang nyaman.
Selagi Xika melihat-lihat, seorang pelayan wanita memperhatikan dirinya dan memperlihatkan pandangan jijik. Ia merasa Xika hanyalah bocah miskin yang beruntung dapat sampai di lantai dua. Kemudian ia menoleh ke kiri dan kanannya namun tidak menemukan rekannya.
Ia mendecakkan lidahnya. Sepertinya ia harus menemani bocah miskin ini.
Ia berjalan mendekati Xika dengan senyum setengah hati.
"Ada yang bisa dibantu?"
Xika menyadari tatapan pelayan wanita itu sejak awal. Tapi ia mengabaikannya untuk saat ini. Ia menoleh ke tangga yang menuju lantai tiga dan bertanya.
"Berapa biaya masuk untuk lantai tiga?"
Pelayan wanita itu memutar matanya yang tentu saja tidak lepas dari pandangan Xika. Ia berkata dengan senyum yang setengah menghina.
"Lantai tiga tidak terbuka untuk umum. Hanya orang-orang penting atau yang diundang secara khusus yang dapat naik ke sana."
Ia jelas-jelas mengatakan bahwa Xika tidak cukup penting untuk bisa naik ke lantai tiga. Tapi Xika masih mengabaikannya. Untuk saat ini.
Ia berjalan menuju sebuah pedang.
"Berapa harga pedang ini?"
Kali ini si pelayan wanita tersenyum menghina tanpa berusaha menyembunyikannya sedikitpun.
"200 keping perak."
Xika mengerutkan keningnya. Pedang itu setidaknya di tingkat Low-Diamond. 200 keping perak terlalu mahal.
"Tidakkah itu terlalu mahal? Pedang ini hanya di tingkat Low-Diamond. Bahkan gelangku saja dapat dengan mudah menghancurkannya."
Kini pelayan wanita itu menatap Xika dengan amarah.
"Kau bilang 'hanya'? Heh, aku bahkan ragu apakah kau memiliki artefak. Kau pasti ingin membelinya tapi tidak memiliki uang yang cukup jadi berusaha menurunkannya bukan? Heh, berhentilah membual. Bila gelangmu benar-benar bisa menghancurkan pedang ini, maka aku akan menjadi pelayanmu."
"Apa kau yakin?"
Pelayan wanita itu tersenyum meremehkan.
"Tentu saja."
"Jangan menyesal." ucap Xika. Kemudian ia mengangkat Space Shifter yang berbentuk gelang di tangan kanannya. Ia memukul pedang itu dengan Space Shifter.
Untuk sedetik, tidak ada yang terjadi. Dan senyuman menghina di wajah pelayan itu semakin menjadi-jadi. Tapi detik berikutnya retakan muncul di pedang itu. Kemudian menyebar ke seluruh tubuh pedang itu dan akhirnya hancur berkeping-keping.
Tindakan Xika itu sukses menarik para pengunjung yang berada di lantai dua. Sementara si pelayan wanita itu membuka dan menutup mulutnya kembali tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tanpa sadar, kini Xika sudah dikelilingi para pengunjung lantai dua yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Dari balik kerumunan terdengar sebuah suara.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?"