Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-199


__ADS_3

Lantai satu perpustakaan Akademi Mu Zhan tidak ada bedanya dengan perpustakaan di Shaking Card Clan. Lebih besar tentunya, tapi selain ukuran, penampilan dan hal lainnya sama persis. Rak buku di mana-mana dan beberapa murid yang kelihatannya terpaksa berada di tempat itu.


Kalau dalam situasi biasa, Xika pasti akan langsung tenggelam dalam buku-buku ini dan baru kembali beberapa jam kemudian. Hanya saja saat ini ada Penatua Fen yang mencegahnya melakukan hal itu. Karena Penatua Fen juga termasuk bagian dari akademi, maka ia juga harus mewaspadai Penatua Fen.


Ia tak bisa bersikap seenaknya di depan Penatua Fen, hal yang cukup merepotkan sebenarnya. Tadinya Xika tak ingin peduli dan bersikap apa adanya, tapi Huo Bing memperingatkannya. Saat ini, besar kemungkinan banyak kekuatan besar yang mendendam pada mereka. Kalau ia bersikap tidak hati-hati, bisa-bisa kekuatan besar itu akan menyerang mereka.


Penatua Fen berjalan terus menuju tangga lantai dua. Tampaknya tidak ada yang menjaga lantai satu ini karena tidak ada yang perlu dijaga. Semua murid akademi bebas keluar-masuk tempat ini tanpa adanya batasan, jadi sepertinya tak perlu dijaga terlalu ketat.


Lantai dua agak berbeda. Tepat di samping tangga, Xika melihat elder tua yang sepertinya menjaga lantai itu. Penatua Fen mengangguk dan melambai pada Xika dan lainnya, menunjukkan keempatnya bersama dirinya. Sang elder mengangguk sopan sebelum mempersilahkan Penatua Fen masuk.


Sebenarnya lantai dua tidak terlalu berbeda jauh penampilannya dengan lantai pertama. Hanya saja disini tidak ada buku, melainkan berbagai macam gulungan. Xika mengingat penjelasan di Gedung Utama yang mengatakan bahwa biasanya buku digunakan untuk memuat hal-hal yang berbau pengetahuan. Seperti sejarah, sastra, kategori berbagai benda, dan semacamnya.


Sedangkan gulungan memuat hal-hal yang bersifat langsung pada kultivator, maksudnya yang berhubungan langsung dengan kultivator seperti teknik bertarung, bagaimana menyembuhkan luka beracun, cara melawan teknik tertentu dan lainnya.


Tentu saja ada juga gulungan yang memuat hal-hal berbau pengetahuan, seperti sejarah sekte besar atau kategori hewan beracun, tapi hal semacam itu sudah jarang. Katanya, gulungan lebih bersifat kuno dan asalnya memang dari masa lalu. Sementara buku dibuat pada masa kini, jadi untuk memudahkan pencarian dibagilah dua kategori tersebut.


Penatua Fen tidak berhenti sampai ia tiba di depan tangga yang menuju lantai tiga. Ia berbalik dan menatap masing-masing dari mereka dengan penuh penasaran, yang disembunyikan tentunya.


"Baiklah, dibelakang tangga ini tersedia hadiah kalian."


"Apa maksud anda, kami diperbolehkan naik ke lantai tiga yang hanya diperuntukkan pada Murid Inti dan para elder?"


"Hanya kali ini saja, tapi ya, kau benar. Apakah kau berani?"


Tentu saja Xika berani. Lantai dua sudah memuat banyak teknik yang dapat dianggap harta karun, lantai tiga pasti memiliki lebih banyak lagi harta. Dan sekarang jalan menuju harta itu terbuka, mengapa ia harus takut?


"Tapi, aku harus memperingatkan kalian lebih dulu. Lantai tiga tidak sama seperti lantai dua dan satu di mana semua teknik dapat kalian pelajari begitu saja. Di lantai tiga, kalian membutuhkan lebih dari sekedar keberuntungan. Oh, dan keberanian."


Tak ada yang mundur, tentu saja. Tapi Penatua Fen tampaknya masih ragu. Jadi ia kembali bicara.


"Mungkin kalian masih belum dapat gambarannya. Begini, alasan aku mengatakan kenapa kalian membutuhkan keberanian adalah karena kalian bisa saja terluka berat di lantai berikutnya. Disana, kalian membutuhkan keberuntungan yang tidak kecil untuk menemukan teknik yang cocok dengan kalian.


Setelah menemukannya, kalian tidak bisa mengambilnya begitu saja. Teknik itu bisa berbalik menyerang kalian. Jadi daripada keberanian, mungkin lebih tepat disebut kemampuan?" Penatua Fen menatap empat anak di depannya yang sepertinya tidak berniat mundur apapun yang ia katakan, jadi ia menyerah dan membiarkan mereka naik.


Elder yang menjaga lantai tiga tampaknya sudah diberitahu mengenai mereka, jadi elder itu tidak terkejut dan membiarkan mereka lewat begitu saja. Tapi anehnya, mereka harus melalui sebuah pintu terlebih dahulu sebelum bisa melanjutkan, dan kenapa elder itu berjaga di luar pintu?

__ADS_1


"Hati-hati." ucap elder itu yang membuat Xika semakin merasa aneh.


Xika mengangguk sopan kemudian melewati pintu itu, dikuti Xingli, Huo Bing, dan Heiliao.


Di balik pintu itu, hanya tersedia lima petak ubin untuk berdiri, sisanya seluruh ruangan ditutupi oleh kartu. Mulai dari lantai, dinding, bahkan sampai langit-langit, semuanya tertutupi oleh kartu.


"Apa benar ini perpustakaan? Bukannya ini tempat berjudi?" ucap Xika kebingungan.


Ia berjalan maju hendak mengambil salah satu kartu di lantai namun....


SRING!


Pedang Xingli keluar dan menghadang jalan Xika. Xika menatap pemilik pedang itu dengan bingung tapi yang diberikan sang gadis hanyalah gelengan.


Huo Bing dan Heiliao muncul tidak lama kemudian. Mereka juga sempat terkejut dengan ruangan ini namun tidak lama. Kemudian pandangan keduanya beralih pada pedang Xingli yang menahan Xika dan pandangan Heiliao sedikit mengernyit.


"Tak apa, Nona Xingli. Biarkan Xika tahu apa sebenarnya kartu-kartu itu. Jangan khawatir, ia tidak akan langsung mati, kok." ucap Huo Bing sambil tersenyum mengabaikan ekspresi Xika yang aneh.


Jadi Xingli menurunkan pedangnya dan membiarkan Xika maju selangkah. Xika baru melangkah ketika kartu yang ia injak langsung terbalik dan menampilkan sebuah judul. Xika hanya sempat membaca kata 'api' sebelum lidah api yang besar langsung melahap dirinya.


Xingli yang melihat itu bergegas mengumpulkan qi di tangannya, ketika Huo Bing menghentikannya.


"Tidak perlu, Nona Xingli."


Huo Bing tidak perlu menjawab karena Xika sudah mundur kembali dengan pakaiannya yang hampir terbakar habis.


"Ah, begitu rupanya. Jadi kartu-kartu itu merupakan teknik, dan itulah yang disebut Penatua Fen dengan menyerang balik." ucap Xika santai tak sadar pakaiannya yang kini terbakar habis.


Xingli, yang tujuan awalnya mengumpulkan qi untuk menyelamatkan Xika, kini malah menggunakan qi itu untuk menyerangnya dengan mata tertutup.


BUK!


Sebuah balok es menghantam punggung Xika yang langsung mendorongnya maju membuat berbagai kartu teknik melepaskan teknik mereka sendiri. Sebelum pandangannya disibukkan oleh teknik-teknik itu, Xika sempat melihat Xingli yang menyerangnya sama sekali tak bergerak dengan mata tertutup. Apa gadis itu........merona? Itu mustahil.


Baik Huo Bing maupun Heiliao tak mempedulikan Xika. Sekalipun kelihatannya berbahaya, tapi mereka tahu Xika dapat mengatasi teknik-teknik itu. Jadi mereka lebih berfokus untuk mengamati teknik-teknik yang ada di ruangan ini.

__ADS_1


"Heh, mari kita lihat teknik macam apa yang bisa disajikan akademi ini." kata Huo Bing sambil tersenyum sombong.


Kalau murid lain yang mendengar perkataan Huo Bing itu pasti akan marah karena merasa akademi direndahkan atau menduga bahwa Huo Bing memang berasal dari kekuatan besar. Tapi Xingli tidak terlalu mempedulikan hal itu.


Xika, yang sudah kembali dengan pakaian barunya, menatap Huo Bing dengan kaget.


"Kau bisa melihat teknik apa yang ada di balik kartu-kartu ini? Bagaimana caranya?"


"Heh." Huo Bing hanya tersenyum sombong dan tidak menjawab pertanyaan Xika, membuatnya sangat ingin memukul burung itu. Ia berbalik dan melihat Heiliao juga nampaknya bisa melihat teknik dibalik kartu itu, namun ekspresinya mengatakan ia tak akan memberitahu Xika. Sialan.


"Xingli, apa kau juga bisa melihat teknik di balik kartu itu?" Xika berbalik dan menatap Xingli. Tapi entah kenapa gadis itu tidak menjawabnya, bahkan menatapnya saja tidak sama sekali.


Suara Huo Bing dan Heiliao bergema bersamaan di kepala Xika, "Dasar bodoh."


Xika ingin membalas, tapi tampaknya masing-masing sudah sibuk memilih teknik, entah bagaimana caranya. Jadi Xika juga mencoba sebisanya. Pertama-tama ia menutup matanya, kemudian mulai menyebarkan qinya. Samar-samar ia merasakan qi lain yang akrab. Seperti yang lain juga menggunakan metode ini.


Berbagai tulisan muncul di kepala Xika. Tampaknya itu adalah judul dari berbagai kartu teknik yang berhasil dilihatnya. Tapi Xika tidak langsung memilih. Setelah berhasil melihat, kini dirinya malah kebingungan. Di tempat ini, tersedia berbagai macam teknik, mulai dari teknik menyerang, teknik bertahan, teknik penyembuhan, teknik kultivasi, teknik melarikan diri, teknik menyembuyikan diri, dan masih ada banyak lagi.


Semuanya mengagumkan. Tapi......apa yang harus ia pilih? Mengingat ia hanya diperbolehkan ke tempat ini sekali, ia harus memikirkan baik-baik teknik yang akan dipilihnya. Tapi apa?


Teknik menyerang? Sepertinya tidak, ia masih punya Capsah Technique di kepalanya yang belum selesai ia pelajari. Teknik penyembuhan? Ia punya elemen air dan segudang pil buatan Heiliao. Teknik kultivasi? Ia telah memiliki yang terbaik. Teknik melarikan diri? Menyembunyikan diri? Ia punya sayap untuk melarikan diri, dan kemampuannya akan empat elemen memudahkannya untuk menyembunyikan diri.


Sepertinya masih ada yang kurang. Apa lagi ya? Ah,benar. Teknik bertahan. Apa itu perlu? Sebenarnya dengan kartu ayahnya dan sayapnya, perlindungannya sudah cukup. Lagipula di tubuhnya tersebar puluhan dantian yang membuatnya Body Cultivator sekaligus kultivator.


Tunggu. Itu dia! Tubuhnya, ia perlu memperkuatnya. Memang, Ultimate Deck Method memberinya arahan berkultivasi  sebagai kultivator biasa sekaligus sebagai Body Cultivator. Tapi kalau ditanya, sepertinya dari segala aspek, tubuhnya yang paling banyak memiliki kekurangan. Kalau bisa, ia ingin menemukan teknik yang terkait dengan penguatan tubuh.


Setelah menentukan tujuannya, Xika mulai mencari teknik yang diinginkannya dengan lebih giat. Mendadak ia merasakan hembusan angin dingin yang membekukan tulangnya. Ia penasaran apakah itu berasal dari Xingli, tapi ia harus memeriksanya itu nanti.


Saat ini, ia harus menemukan teknik penguat tubuh. Xika sudah menilik lebih dari setengah teknik yang ada di ruangan itu. Sulit menentukan jenis teknik hanya dari namanya. Misalnya, Xika menemukan teknik berjudul 'Flame Body Protector' tapi siapa sangka itu ternyata teknik untuk menyerang?


Lalu ada lagi, 'Blue Flame Buster' yang dikira Xika teknik menyerang, adalah teknik untuk melarikan diri. Ia sungguh tak bisa menebaknya.


Kini sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau. Ia tak berharap banyak. Beberapa teknik yang agak mencolok memang memancarkan aura dan warnanya sendiri, tapi dari tadi tak ada yang cocok dengan Xika. Ia agak ragu dengan yang satu ini.


Namun ketika ia melihat judulnya, ia langsung tahu, teknik apapun itu, ia harus memilihnya. Karena judulnya adalah Star Glance.

__ADS_1


__ADS_2