Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-78


__ADS_3

"Formasi sebelumnya? Madsukmu formasi yang menyerap qi para kultivator itu?"


"Benar." jawab Huo Bing sambil mengangguk.


"Menyerap qi saja sudah cukup mengerikan, sekarang ada yang lebih mengerikan lagi." ucap Xika sambil merasa cukup takut.


"Apa yang dilakukan formasi itu?" tanya Heiliao.


Huo Bing diam sebentar sebelum menjawabnya.


"Kalau aku tidak salah...........formasi ini menyerap darah, daging, tulang dan qi."


"Apa?"


"Ja-jadi........formasi itu menyerap mahkluk hidup?"


"....................benar."


Xika menelan ludahnya. Ia sangat bersyukur Heiliao menghentikannya menginjak formasi itu.


"Jadi? Apa yang akan kita lakukan dengan kadal-kadal ini?" tanya Xika sambil menunjuk kadal-kadal yang melayang di dekatnya.


Tanpa sadar, ada sebuah benang qi kecil yang menempel ke tangan Xika.


"Biarkan saja. Ah, tapi lebih baik berikan pada serigala gosong itu saja. Siapa tahu salah satu dari kadal itu akan jalan-jalan dan tanpa sengaja mneginjak formasi ini. Meskipun sedikit, tapi formasi itu tetap saja memperoleh energi."


"Tunggu. Bicara tentang memperoleh energi..........bukankah cacing-cacing yang kita lemparkan tadi juga memberikan formasi itu energi?" tanya Xika baru ingat.


"Benar juga."


Syuttt!


Mendadak Xika menggerakan tangannya sehingga kadal-kadal yang melayang terlempar ke formasi itu dan memberinya energi.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak tahu. Tanganku bergerak sendiri."


Huo Bing memperhatikan tangan Xika dan melihat sebuah benang qi yang sangat tipis sedang menempel. Ia buru-buru menggigit benang itu sampai putus agar tidak mempengaruhi Xika lagi.


Setelah Huo Bing memutuskan benang itu, Xika merasakan tangannya kembali pada dirinya. Sebelumnya ia merasa tangannya seolah bukan miliknya.


"Aku merasa tanganku lebih baik. Apa yang kau lakukan tadi?"


Huo Bing melebarkan sayapnya dengan cepat dan waspada.


"Mundur! Cepat!"


Ia menatap mayat raksasa itu dengan tatapan tajam.


Seutas benang muncul menuju Huo Bing.


Huo Bing membuka mulutnya dan langsung membakar benang itu. Tapi itu ternyata hanyalah pengalih perhatian. Sesuatu yang bersinar keluar dari mayat ular besar itu dan menuju kepala Xika.


"Xika, awas!"


Heiliao berteriak memperingati Xika. Tapi sudah terlambat. Sinar itu sudah masuk ke dalam kepalanya. Lagipula kalaupun Xika sempat bertindak, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa. Ia sama sekali tidak tahu benda apa yang terbang ke arahnya.


Tubuh Xika tersentak sesaat. Kemudian mulai bergetar. Pandangan matanya kosong.


"Sial! Ini pasti jiwa ular tua sialan itu!" kata Huo Bing. Kemudian ia menoleh pada Heiliao dan berkata,


"Serigala gosong! Kau jaga tubuhnya, aku akan bantu ia mempertahankan alam jiwanya!"


Heiliao mengangguk. Kemudian Huo Bing kembali ke dantian Xika.


Dari dantian, jiwanya naik ke kepala Xika dan masuk ke alam jiwa Xika.


Di alam jiwa Xika.........


Xika melihat sekelilingnya dan tampak begitu gelap. Tapi ada beberapa benda yang bersinar di tempat itu.


Yang pertama berbentuk sebuah kartu. Sementara yang lainnya berbentuk bintang. Benda yang kedua benar-benar mirip dengan bintang di dunia nyata karena sinarnya membantu Xika melihat lebih jelas di tempat ini.


Dan sinar dari bintang itu membuat Xika menyadari bahwa ada mahkluk lain di tempat ini.


Ia menoleh dan menemukan sesosok ular besar yang tampaknya cukup familiar.


Xika merasa seolah pernah melihatnya di suatu tempat.

__ADS_1


"Hehehe........"


Ular itu tertawa. Tapi Xika yakin tawanya tidak berarti baik. Karena tidak ada hal baik yang datang dari ular.


Xika menatap ular itu. Ular itu juga balas menatap Xika. Tatapan yang tdiak berarti baik.


"Menyerahlah." katanya.


Ia melanjutkan.


"Menyerahlah dan jangan buat aku menghabiskan tenagaku."


"Menyerah untuk apa?" tanya Xika dengan waspada.


"Untuk ini!"


Ular itu langsung membuka rahangnya dan menerjang Xika.


-------------------------


Sementara itu, Huo Bing kesulitan mencapai alam jiwa Xika. Ia memang tidak pernah ke tempat ini sebelumnya, tapi harusnya tidak ada sesuatu semacam ini.


Ada sesuatu yang menghalangi Huo Bing mencapai alam jiwa Xika. Sesuatu yang bukan berasal dari Xika.


-------------------------


Xika berguling menghindari gigitan ular itu. Kemudian ia mundur untuk menjaga jarak. Ia membuka telapak tangannya namun tak ada yang datang.


Ini aneh, pikirnya. Harusnya Space Shifter ada di tangannya.


Kemudian ia melihat tangannya dan tidak melihat Space Shifter sama sekali. Biasanya, ia menaruh Space Shifter di pergelangan tangannya dan mengubahnya menjadi gelang. Tapi bukan hanya itu saja yang tidak ada.


Kartunya, pelindung punggung yang diberikan Lian Minjie, dan pisau-pisaunya, semuanya tidak ada!


"Kau.........apa yang kau lakukan padaku?" tanya Xika marah.


"Hehehe........dasar manusia bodoh. Kau bahkan tidak tahu tempat ini."


Xika mengerutkan keningnya mendengar perkataan ular itu.


"Tempat? Apa dia membawaku ke suatu tempat?" batin Xika.


Dan ular itu tertawa mendengar perkataan Xika. Ia tertawa terbahak-bahak.


"Aduh! Kau benar-benar bodoh! Saking bodohnya sampai membuatku tertawa." katanya.


Kemudian setelah mengatakan itu, ia tertawa lagi.


"XIKA!"


Terdengar suara Huo Bing entah dari mana.


"Huo Bing? AKU DISINI! DIMANA KAU?" teriak Xika.


Ular itu berhenti tertawa ketika mendengar suara Huo Bing.


"Heh, burung itu cepat juga. Ia datang lebih cepat dari perkiraanku. Tapi tenang saja. Ia tidak akan bisa datang untuk membantumu."


"Kau! Apa yang kau lakukan pada Huo Bing?"


"Daripada mengkhawatirkan burung itu, lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri."


Selesai bicara, ular itu kembali menyerang Xika.


Xika mengepalkan tangannya. Ia menyerang ular itu dengan api, tapi api tidak muncul di tangannya. Ia menggerak-gerakkan tangannya tapi tidak ada api yang muncul. Ia mencoba elemen lain tapi hasilnya sama saja.


Ia tidak bisa menggunakan elemen. Jadi ia hanya bisa melapisi tangannya dengan qi.


Tapi ternyata di tempat ini juga tidak ada qi.


"Sial! Bahkan qi pun tidak ada? Tempat apa ini sebenarnya?"


Xika tidak bisa terus berpikir karena rahang ular itu kini tepat didepanya.


"Cih. Meskipun tidak ada qi, aku tetap bisa menyerang. Tubuhku harusnya lebih kuat dari kultivator normal."


Xika menghindari ular itu. Kemudian menendang rahangnya dari bawah. Tapi.......


Duak!

__ADS_1


"Aw!"


Xika memang berhasil menendang ular itu, tapi ular itu tidak tampak kesakitan. Sebaliknya malah Xika yang merasa sakit di bagian punggung kakinya.


"Kau bahkan berusaha menyerangku? Aku tidak tahu kau hidup di mana." ucap ular itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"XIKA!"


Suara Huo Bing kembali terdengar.


"HUO BING! AKU DISINI! APA YANG TERJADI? KENAPA AKU TIDAK BISA MENYERANGNYA? TEMPAT APA INI?"


"Dengarkan aku. Kau tidak bisa menyerangnya. Jiwamu terlalu lemah. Cobalah ulur waktu selama mungkin. Aku sedang berusaha ke sana secepat mungkin."


Kali ini Huo Bing berbicara dengan suara yang cukup kecil sehingga hanya Xika yang dapat mendengarnya.


Ular itu memang tidak bisa mendengar suara Huo Bing, tapi ia tahu bahwa Xika sedang berbicara dengan burung itu. Darimana ular itu tahu? Xika berada disana tanpa melakukan apapun. Ditambah lagi, ekspresinya berubah-ubah setiap beberapa saat. Itu peristiwa yang normal ketika bicara dengan orang lain.


Tapi ia tidak akan membiarkan Xika terus bicara dengan Huo Bing. Ia harus memakan Xika secepat mungkin. Ia tidak tahu berapa lama penghalangnya dapat menahan Huo Bing.


Jadi ia bergegas menuju Xika dengan rahang terbuka.


Xika menghindari ular itu. Tapi serangan lain terus datang mengincar dirinya.


Selagi menghindar, Xika berpikir dengan keras. Tentang ucapan Huo Bing, tentang ucapan ular itu, dan tentang dirinya yang tidak bisa memanggil Space Shifter, menggunakan elemen, dan juga qi.


Kemudian Xika menyadari sesuatu.


Ular itu dari tadi hanya menyerangnya dengan serangan fisik. Bukan serangan jarak jauh yang menggunakan qi ataupun racun.


Jadi Xika menduga bahwa ular itu juga tidak bisa menggunakan qi sama seperti dirinya. Selain itu, melihat ular itu tidak menyerangnya menggunakan racun, sepertinya tempat ini memiliki hukum yang berbeda dengan dunia luar.


Ular itu mengayunkan ekornya. Xika melompat, tapi didepannya rahang besar yang cukup untuk menelannya bulat-bulat sedang mengarah padanya.


Ia menendang ujung moncong ular itu agar terlempar ke belakang. Meskipun agak sakit, tapi ia harus melakukan hal itu. Kalau tidak, ular itu akan memakannya.


---------------------------------


Di luar, tempat tubuh Xika berada yang dijaga Heiliao.......


Heiliao menatap Xika dengan cemas. Pandangan matanya masih kosong. Sementara itu, sesekali tubuhnya gemetar kesakitan. Bahkan kadang, ia berteriak entah karena apa.


Ia tidak bisa diam seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu.


Kemudian matanya yang cukup gelap bersinar. Dan ia melihat apa yang terjadi di alam jiwa Xika.


Disana, Xika sedang bertarung dengan ular yang penampilannya mirip dengan mayat di ruangan ini. Xika terlihat terdesak sekaligus kebingungan.


Heiliao berusaha keras membantunya. Tapi ia tidak bisa masuk ke alam jiwa Xika karena ia tidak terikat dengan Xika, tidak seperti Huo Bing yang jiwanya telah tinggal di dantian Xika.


"Sial! Apa yang dilakukan burung bodoh itu?"


Kemudian Heiliao mulai berpikir mencari cara untuk membantu Xika. Ia mengingat-ingat apakah ia pernah memberikan Xika sesuatu yang membuat mereka berdua terikat sehingga ia bisa membantu Xika. Dan ia ingat sesuatu.


Pengulangan hidupnya terkait erat dengan Xika. Ia masuk dulu ke dalam tubuh Xika sebelum keluar menjadi telur dan akhirnya menetas. Harusnya, masih ada sedikit ikatan antara dirinya dan Xika.


Kemudian serigala itu menutup matanya dan berusaha berbicara dengan Xika.


"Xika. Xika. Kau bisa mendengarku?"


"Heiliao? Ada apa? Aku bisa mendengarmu." 


"Pikirkan sesuatu untuk mengalahkan ular itu. Pikirkan tentang pedang, pisau, api atau apapun yang dapat mengalahkan ular itu."


"Aku sudah berusaha tapi tidak ada yang berhasil."


"Bukan itu maksudku." kata Heiliao pada Xika yang salah mengerti maksudnya.


Yang ia maksud adalah membayangkan sesuatu yang dapat digunakan untuk mengalahkan ular itu. Tapi yang Xika dipahami Xika adalah Heiliao memintanya mencari cara untuk mengalahkan ular itu.


Heiliao menunggu selama beberapa saat, tapi tak ada jawaban lagi dari Xika.


"Xika? Xika? Bukan itu yang kumaksud. Bayangkanlah benda yang bisa kau gunakan!"


Tapi tetap tidak terdengar jawaban dari Xika.


Sepertinya ular itu yang mengganggu pembicaraan mereka.


Heiliao menghela nafas.

__ADS_1


"Untuk saat ini. Hanya itu yang bisa kulakukan."


__ADS_2