Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-246


__ADS_3

Pria itu keluar dengan tampang terkejut. Mungkin ia tidak menyangka akan ditemukan oleh Xika. Memang, kalau tidak merasakan hawa keberadaannya, Xika mungkin saja tidak menyadarinya. Seluruh pakaiannya berwarna gelap. Di kanan atas bajunya ada tulisan kecil 渊 yang berarti Abyss atau jurang.


Di babak penyisihan, Xika pernah mendengar beberapa sekte lain yang cukup terkenal. Salah satunya adalah Dark Shade Abyss. Kalau sekte lain terkenal karena kekuatannya, atau kemampuan lainnya yang cukup menonjol, Dark Shade Abyss ini berbeda.


Sekte ini terkenal karena kemisteriusannya. Tidak banyak yang mengetahui kekuatan dan kemampuan sebenarnya dari sekte ini. Karena itu, banyak orang mengkategorikannya sebagai sekte menengah. Namun, para petinggi sekte lain curiga bahwa sebenarnya Dark Shade Abyss ini memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan sekte besar lainnya.


Besar kemungkinan pria di hadapannya ini berasal dari Dark Shade Abyss. Berhadapan dengan seseorang dari sekte misterius yang serba tertutup, Xika harus berhati-hati. Ia tidak membuat gerakan tiba-tiba. Ia hanya diam di tempat dan menatap pria itu dengan senyum.


"Melihat simbol di bajumu itu, sepertinya kau berasal dari Dark Shade Abyss yang misterius itu ya? Jadi, ada urusan apa sampai menonton pertarunganku diam-diam?"


".................."


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Xika dengan hati-hati. Melihatnya seperti itu mengingatkan Xika akan Heiliao. Penampilan keduanya kurang lebih mirip, mengenakan pakaian gelap dan tidak banyak bersuara. Meskipun, Huo Bing selalu berhasil membuat Heiliao banyak bicara.


"Yah, dalam situasi seperti ini, kurang lebih aku menyimpulkan ada tiga jawaban. Pertama, kau datang untuk merebut mutiaraku. Kedua, kau datang untuk beraliansi denganku. Dan ketiga, kau hanya mengukur kekuatanku. Kalau aku tidak berhasil mengetahui keberadaanmu, entah kau akan menyerangku atau membiarkanku pergi saja."


"Aku.........ingin mengajukan kesepakatan....." ucapnya.


"Oh? Murid dari Dark Shade Abyss yang misterius itu ingin membentuk aliansi denganku?"


Pria itu terdiam sesaat sebelum menggeleng. "Bukan."


"Bukan aliansi....." Xika mengerutkan keningnya dan memasang pose berpikir. "Kesepakatan apa kalau bukan aliansi?"


"Kali berikutnya kita bertemu.......bisakah tidak saling menyerang?........tapi juga tidak beraliansi......"


"Hm....kurang lebih netral ya? Bukan ide yang buruk. Tapi, kenapa aku harus setuju denganmu?" Senyum Xika semakin melebar. "Daripada membiarkanmu pergi dan menjadi masalah di masa depan, lebih baik aku menghabisimu sekarang."


WUSH!


Pria itu langsung menghilang. Xika sampai terkejut dengan kecepatannya. Tapi bukan berarti ia tidak bisa mendeteksi pria itu. Dari belakangnya, datanglah sebuah tendangan. Xika berjongkok sambil memberikan tendangan sapuan. Namun pria itu kembali menghilang.


Syut!


Dari samping kiri, sebuah pisau datang. Dari depannya, pria itu muncul sambil menodongkan pisaunya. Xika masih bisa mengatasi ini. Tapi yang jadi masalah, dari tanah muncul lagi pria itu. Pria yang sama dengan yang berada di depannya. Tapi......bagaimana bisa ada dua?


Xika melambaikan tangannya dan pisau yang mendekat itu langsung terpental begitu saja. Ia bersalto ke belakang untuk menghindari genggaman tangan dari bawah dan sabetan pisau dari depan. Sayangnya, Xika luput memperhatikan belakangnya.


Dari belakangnya, muncul seorang lagi pria yang sama sambil melayangkan kakinya. Xika mengangkat kedua tangannya karena sudah terlambat untuk menghindar. Namun, tendangan pria itu berhenti beberapa senti dari Xika.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Xika.


"....kau sendiri?"


Ternyata, di belakkang pria ketiga melayang pisau-pisau angin. Nampaknya Xika membentuk pisau-pisau itu disaat pria itu meluncurkan tendangannya. Sekalipun tidak bisa menghindar, ia masih bisa memberikan serangan.

__ADS_1


Pria itu menarik mundur kakinya. Kemudian ketiga pria itu mendekat dan menyatu hingga hanya satu pria yang tersisa.


"Aku........hanya ingin menunjukkan kemampuanku........tawaran tadi....tidak akan merugikanmu....."


Rupanya serangan barusan itu hanya untuk menunjukkan kemampuan pria itu. Mungkin, ia ingin menunjukkan bahwa tidak mudah berurusan dengan dirinya. Jadi daripada menghabiskan tenaga di tempat ini, kenapa tidak membuat kesepakatan saja? Mereka tidak harus menunjukkan seluruh kemampuan mereka di babak ini. Masih ada babak ketiga dan mungkin keempat.


"Oh? Dan mengapa aku bisa yakin tawaran tadi tidak akan merugikanku?"


Syut!


Pria itu melemparkan sesuatu pada Xika. Namun, itu bukan pisau. Xika menangkapnya dan membuka telapak tangannya. Ia menemukan ada 7 mutiara. Ditambah dengan mutiara yang ia dapatkan beberapa saat sebelumnya, ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar lolos babak ketiga.


"Baiklah. Sepakat. Tapi sebelum itu, bukankah kita harus berkenalan? Setidaknya bertukar nama."


"............Li Tang."


"Xing Xika." ucap Xika sambil tersenyum. "Kalau begitu, sampai jumpa di pertemuan berikutnya. Dan kuharap, aku tidak perlu bertarung melawanmu di babak berikutnya." Usai bicara, Xika melangkah pergi.


Li Tang melihat kepergian Xika dalam diam, kemudian berbalik dan pergi ke arah yang berlawan dengan Xika. Entah apakah ia membuat langkah yang tepat atau tidak dengan membuat kesepakatan dengan Xika. Tapi ia bisa merasakan bahaya dari Xika. Mungkin ia bisa mengalahkannya kalau mengeluarkan seluruh kemampuannya, namun saat ini bukan waktu yang tepat.


Xika berjalan santai sambil memasukkan mutiara yang barusan ia dapat ke dalam saku jubahnya. Ia teringat dengan teknik aneh Li Tang. Pria itu dapat menggandakan tubuhnya atau membuat klon. Yang pasti, itu teknik yang merepotkan. Tampaknya, sekarang memang bukan waktu yang tepat untuk bertarung habis-habisan.


Mendadak ia berhenti. Ia merasakan beberapa pasang mata yang mengawasinya. Tampaknya ia jadi incaran banyak orang karena hanya sendiri. Yah, sampai tahap tertentu kuantitas memang bisa mengimbangi kualitas. Tapi, itu tergantung situasinya.


"Sudah bergerombol banyak, untuk apa sembunyi-sembunyi lagi?"


"Divine Mammoth Step!" Pria yang mengenakan jubah bermotif gading melompat dan mengarahkan kakinya pada Xika. Qi berkumpul di kaki pria itu dan membentuk tapak kaki mammoth yang besar dan memancarkan tekanan kuat.


"Thunderous String!" Seorang wanita yang mengenakan jubah ungu melipat tangannya kemudian merentangkannya lebar-lebar. Dari ujung jari-jarinya, keluar jaring putih yang dialiri petir ungu. Jaring itu saling menyatu hingga menutup jalan keluar Xika dari atas.


"Hawk Strike!" Seekor burung yang terbuat dari qi keluar dari tangan seorang pria bermantel bulu.


Terakhir, untuk menutup jalan keluar Xika dari sekelilingnya, muncullah batu-batu besar dari tanah. "Heh, Stone Tablet!"


Kini semua jalan keluar Xika telah ditutup. Ia tak bisa melompat ke atas atau menghindar ke kiri, kanan atau arah lainnya. Kecuali satu arah, ke bawah. Tapi tentu saja Xika tak bisa menghindar kebawah.


Atau setidaknya begitulah pikiran keempat orang itu.


Sebenarnya, Xika bisa saja menghindar ke bawah. Karena ia menguasai elemen tanah juga, ia bisa menenggelamkan dirinya ke tanah dengan mudah. Namun, karena ia sedang dalam penyamaran dan membuat kesan seolah-olah hanya bisa menggunakan elemen angin, ia tidak bisa menghindar ke bawah.


Ia harus mencari jalan keluar lain. Ke atas, tampaknya jaring yang dialiri petir itu cukup merepotkan. Di sekelilingnya, batu-batu berdiri menjulang. Hm, sepertinya itu lebih mudah. Xika menyelimuti tangannya dengan angin, kemudian memutar tubuhnya.


Hasilnya, Xika menyayat tanah di bawah batu-batu besar itu sehingga batu-batu itu tenggelam dan tak lagi menghalanginya menghindar.


Sepersekian detik kemudian, tiga serangan lain datang ke tempat Xika. Namun, Xika sudah berpindah tempat sebelum serangan-serangan itu mengenainya. Empat orang itu kini memandangi sekelilingnya dengan waspada, mencari tanda keberadaan Xika.

__ADS_1


Xika memang tidak boleh menyatu dengan tanah, tapi ia boleh menyatu dengan angin. Ia membiarkan angin mengalir di seluruh tubuhnya hingga perlahan, tubuhnya terbuyarkan oleh angin. Jadi keempatnya tidak bisa menemukan keberadaan Xika.


Kalaupun mereka berusaha mendeteksi Xika, yang mereka temukan hanyalah angin kencang yang berputar di sekeliling mereka.


"Kemana perginya pria tadi? Dan lagi, ada apa dengan angin ini? Kenapa mendadak ada angin besar seperti ini?"


SYUSH!


BUK!


Sebuah tendangan sukses menghantam dada pria berjubah gading. Namun, pria itu tersenyum sombong. Ia tidak kelihatan sakit karena tendangan Xika barusan.


"Hehehe.....setelah bersembunyi, hanya itu yang kau bisa? Tendanganmu bahkan lebih lemah daripada gigitan nyamuk! Kalau hanya itu yang kau bisa, biar aku saja yang membereskanmu."


Xika mengerutkan keningnya melihat pertahanan tidak biasa yang dimiliki pria itu. Ia melangkah mundur dan perlahan, tubuhnya kembali terbuyarkan menjadi angin.


"Bersembunyi lagi? Tak peduli berapa banyak serangan menyelinap yang kau berikan, kau tidak akan bisa mematahkan pertahananku!" ucap pria itu percaya diri.


Karena pria berjubah gading memiliki pertahanan absolut, maka Xika mengganti targetnya. Dari tiga orang lain, nampaknya perempuan berjubah ungulah yang paling lemah. Kemampuannya barusan, jaring yang dialiri petir, sepertinya tidak terlalu bagus untuk pertarungan jarak dekat.


Jadi Xika kembali muncul dan menyerang gadis itu.


WHUK!


BUK!


BZZZT!


BRUK!


"Ukh!"


Meskipun Xika berhasil menendang pinggir lengan gadis berjubah ungu itu, tapi kini kakinya mati rasa. Samar-samar, ia bisa melihat petir kecil berenang di kakinya.


"HUAHAHAHA.......Mengganti target karena aku terlalu kuat? Pilihan bagus. Sayangnya, kau salah pilih target. Mei Xu itu orang yang paling berhati-hati di antara kami berempat. Saat kau menyerangku sebelumnya, Mei Xu telah melapisi tubuhnya dengan jaring petir.


Sekarang, bagaimana rasanya kakimu? Masih bisakah kau memberikan tendangan seperti tadi?"


Xika hendak membuyarkan tubuhnya dengan angin lagi. Tapi petir yang mengalir di kakinya mengganggu. Tubuh Xika tak bisa sepenuhnya menyatu dengan angin. Kalau ia memaksa agar tetap menyatu dengan angin, keberadaannya akan mudah ketahuan karena gadis itu dapat mendeteksi petir di kakinya.


"Tadi seranganku meleset. Kali ini, pasti kena. Hawk Strike!" Pria bermantel bulu itu kembali memberikan serangan yang sama dengan serangan sebelumnya. Namun, kali ini ia mengeluarkan dua burung.


"Hahahaha......aku juga tidak akan kalah!" Pria berjubah gading kembali bicara. Ia menghentakkan kakinya dan membuat tanah bergoncang sebagian.


"Aku juga! Aku juga!" Pria yang sebelumnya membuat batu-batu menjulang juga tak mau kalah. Ia meletakkan kedua tangannya di tanah, kemudian dari sekitar Xika mencuatlah duri-duri tajam.

__ADS_1


"Ck. Sial!"


__ADS_2