
Xika bingung apa yang harus dilakukannya ketika mendadak dirinya disuruh memilih 2 senjata di antara banyaknya senjata yang ada.
"Anu....Apa kak Lian yakin?"
Lian Minjie menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja aku yakin. Lagipula kau sudah mengalahkanku sepuluh kali, jadi kau harus mendapat hadiah."
Xika ingin bertanya kenapa dia hanya boleh memilih 2 benda sementara dirinya telah mengalahkan Lian Minjie sebanyak 10 kali, tapi ia urungkan niat itu.
"Jadi.....apa tadi itu semacam taruhan?"
"Kau bisa menyebutnya seperti itu."
"Lalu apa yang terjadi bila aku kalah?"
"Kau ditolak tentu saja."
"........."
Xika masih agak bingung dengan pemuda di depannya ini, tapi sepertinya Lian Minjie sudah tak sabar ingin melihat pilihan Xika, jadi ia tidak bertanya lagi.
Xika berjalan mendekati senjata-senjata yang tergantung di dinding. Xika harus mengakui bahwa dirinya cukup kagum dengan semua senjata di depannya ini.
Ada berbagai macam senjata yang tergantung. Mulai dari pedang, tombak, tongkat, rantai, kapak, palu, gada, pisau, bahkan ada senjata yang tidak pernah Xika lihat sebelumnya. Bukan hanya senjata, tapi alat pertahanan diri pun ada.
Ada perisai, baju besi, pelindung lengan, dada, kaki, helm, dan alat-alat lainnya yang berguna untuk pertahanan diri.
Setelah melihat-lihat selama beberapa saat, Xika menoleh pada Lian Minjie.
Ia berpikir Xika sudah menentukan pilihannya, tapi ia salah.
"Darimana kau dapatkan semua benda ini?"
Lian Minjie menghela nafas bingung dengan Xika yang malah mempermasalahkan hal tidak penting ketika berbagai berharga disajikan di depannya dan ia boleh mengambilnya.
Ia maju dan melingkarkan lengannya ke leher Xika.
"Saudaraku yang baru, kau tidak perlu memusingkan hal-hal yang tidak penting. Pilih saja 2 dari antara benda-benda luar biasa ini."
Xika diam dan berdiri agak kaku ketika Lian Minjie merangkulnya.
"Kalau kau kesulitan menentukan pilihan, aku bisa memberimu saran. Kau bisa memilih dua, jadi sebaiknya kau pilih satu senjata dan satu pelindung."
Xika masih memperhatikan senjata-senjata itu.
"Apa kau punya senjata lain? Yang belum kau tunjukkan mungkin?"
Lian Minjie melepaskan rangkulannya dan menatap Xika dengan aneh.
"Kau benar-benar serakah kawanku. Tapi aku tidak punya senjata lain. Hanya ini yang kupunya."
Kini Xika menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum canggung.
Lian Minjie yang melihat hal itu segera bertanya.
"Ada apa? Katakan saja apa yang ada di pikiranmu."
"Ehh....anu.....sepertinya aku.....ehh.....kau tahu........tidak.......yah.........butuh.....senjata-senjata ini......"
Dan Lian Minjie menatap Xika dengan mata yang kini dua kali lebih lebar dari sebelumnya.
"A-aku tidak bermaksud mengejek senjatamu, hanya saja aku......"
Lian Minjie menghela nafas.
"Tidak apa. Aku mengerti. Tapi kau harus menujukkan alasan kenapa kau menolak hadiahku."
"Eh?"
Setelah mengatakan itu Lian Minjie melompat dan mengambil pedang yang tergantung di dinding.
Ia menerbangkan pedangnya dengan qi dan mengambil satu pedang lagi.
Pedang terbangnya ia arahkan menuju Xika sementara ia sendiri berlari menuju Xika.
Xika menunduk menghindari pedang terbang, kemudian memutar tubuhnya untuk menghindari tebasan yang Lian Minjie berikan.
"Se-senior....."
Lian Minjie tidak mempedulikan panggilan Xika dan lanjut menyerangnya.
Tatapan mata Xika berubah. Karena sudah begini, maka ia tidak akan segan-segan. Lagipula sudah lama ia tidak bertarung dengan manusia.
__ADS_1
Kini Xika tidak lagi hanya menghindar. Ia mulai memberikan serangan balasan.
Ia menahan tebasan Lian Minjie dengan kartunya.
Mata Lian Minjie melebar melihat Xika menahan pedangnya dengan sebuah kartu.
Xika menggeser tubuhnya sehingga Lian Minjie hampir terjatuh.
Kemudian ia menendang kepala Lian Minjie. Lian Minjie menundukkan kepalanya, terlambat sedikit saja ia akan terlempar beberapa meter.
Xika melempar kartunya dan mengubah Space Shifter menjadi tongkat. Lian Minjie menangkis kartu Xika, namun kartu itu kembali menyerangnya setelah terlempar beberapa meter.
"Apa?"
Ketika Lian Minjie masih bingung dengan kartu Xika yang dapat menyerangnya setelah terlempar, Xika datang dan memberikan tusukan dengan Space Shifter.
Lian Minjie memutar tubuhnya sehingga serangan Xika meleset, namun kartu Xika berhasil menggores perutnya.
Lian Minjie semakin serius ketika ia mengetahui bahwa kartu Xika dapat melukainya. Ia berlari dan mengambil satu pedang lagi (pedang terbangnya sudah lama jatuh ketika ia terkejut melihat Xika menahan pedangnya menggunakan kartu).
Lian Minjie lebih percaya diri ketika ia memegang dua pedang. Sementara Xika mengirimkan sekitar setengah dek menuju Lian Minjie.
"Apa?"
Lian Minjie menunjukkan keahliannya dalam berpedang dengan menangkis semua kartu Xika. Namun kartu-kartu itu terus kembali sehingga Lian Minjie tidak bisa berhenti mengayunkan pedangnya.
Badan Lian Minjie diselimuti qi berwarna hijau. Kemudian kartu-kartu Xika terlempar lebih jauh dari sebelumnya. Lian Minjie menggunakan kesempatan itu untuk maju dan menyerang Xika.
Xika tersenyum mengetahui bahwa Lian Minjie ternyata adalah kultivator elemen angin. Ia jadi ingin mengadu elemen anginnya dengan Lian Minjie.
Kini Lian Minjie berlari dengan pedangnya yang diselimuti angin.
Xika menarik kembali kartunya untuk membentuk sebuah perisai.
Serangan Lian Minjie langsung menghancurkan perisai kartu Xika dengan mudah, tapi itu memang rencana Xika.
Dari samping, Xika menendang pedang Lian Minjie ke atas sehingga pertahanannya terbuka lebar.
Xika mengarahkan tinjunya yang kini sudah dilapisi elemen angin menuju perut Lian Minjie.
Tepat 2 cm di depan perut Lian Minjie, tinju Xika berhenti.
Sepertinya aku masih kalah, pikir Xika.
Sepertinya Lian Minjie menahan tangan Xika menggunakan angin. Xika mencoba memecah fokus Lian Minjie dengan menahan kakinya menggunakan tanah.
"Apa?"
Seketika itu juga konsentrasi Lian Minjie buyar dan Xika dapat menggerakkan tangannya lagi.
Langsung saja ia layangkan tangannya dan menghantam perut Lian Minjie cukup telak. Tanah yang menahan kaki Lian Minjie hancur begitu saja.
Lian Minjie terlempar dua meter dengan kakinya yang menyeret lantai.
Ia bengong sesaat kemudian tersenyum.
Matanya semakin serius.
Ia berlari lagi menuju Xika dengan angin di seluruh tubuhnya.
Lian Minjie menebaskan pedangnya dan ketika Xika menghindar, ia membuang pedangnya dan menggunakan angin untuk mengambil senjata baru.
Ia mengambil kapak.
Xika cukup kerepotan karena baru pertama kali menghadapi pengguna kapak.
Lian Minjie menebas Xika yang ditahan dengan Space Shifter.
Meskipun sudah ditahan, Xika tetap terlempar beberapa meter.
Xika bersalto dan menghentikan dirinya terlempar lebih jauh.
Ketika ia mengarahkan pandangannya pada lawannya, sebuah rantai dengan ujungnya yang tajam berada di depan mata Xika.
Xika memukul rantai itu, namun Lian Minjie menariknya sehingga rantai itu kembali menyerang Xika.
Kali ini Xika memukul dengan tambahan elemen angin. Hasilnya, rantai itu terbang lebih jauh dari sebelumnya.
Xika belum pernah menggunakan rantai sebelumnya, tapi ia tertarik untuk mencoba. Jadi ia mengubah Space Shifter menjadi lentur seperti rantai dan menajamkan ujungnya.
Kini Xika dan Lian Minjie beradu rantai.
Setelah beberapa serangan, rantai Lian Minjie melilit tangan Xika. Tentu saja Xika kalah dalam adu rantai itu karena ini adalah pertama kalinya ia mengggunakan rantai.
__ADS_1
Xika mengalirkan api dari rantai yang melilit tangannya sehingga Lian Minjie terpaksa melepaskan rantainya.
Mata Lian Minjie semakin melebar ketika ia melihat Xika.
Lian Minjie mengambil pisau dan berlari menuju Xika.
Xika membuat genangan air di depan Lian Minjie sehingga Lian Minjie hampir terjatuh.
Ketika Lian Minjie sedang menstabilkan tubuhnya, Xika datang dengan Space Shifter yang kini berbentuk pisau.
Mereka saling beradu pisau beberapa saat. Namun Lian Minjie yang lebih ahli dalam menggunakan pisau, membuat gerakan aneh sehingga Xika bingung menyerangnya. Ia berhasil menendang Xika. Ketika Xika balas menyerangnya, Lian Minjie menggunakan elemen angin untuk memperlambatnya.
Dan kini, Lian Minjie mengarahkan pisaunya menuju perut Xika yang sudah tidak bisa menghindar.
Namun yang terdengar bukanlah suara pisau menusuk perut melainkan suara pisau yang bertemu dengan besi.
DING!!
Pisau Lian Minjie sedikit memantul. Xika memukul Lian Minjie yang masih kebingungan.
Namun Lian Minjie berhasil menghindari pukulannya.
Xika membentuk sebuah batu dan melemparkannya ke depan Lian Minjie sehingga menciptakan kabut.
Ketika kabut mulai menghilang, Xika muncul dengan Space Shifter yang kini berbentuk kapak.
Xika mengayunkannya beberapa kali sebelum terlempar oleh tendangan Lian Minjie.
Menggunakan kapak lebih sulit di luar dugaanya. Terlebih ketika kau menggunakannya untuk pertama kali dalam sebuah pertarungan.
Xika berdiri dan menyadari bahwa nafasnya mulai memburu.
Di depannya, Lian Minjie juga sedang berdiri dengan nafasnya yang mulai tidak beraturan.
"Apa kau sudah menggunakan seluruh kemampuanmu?"
Xika diam. Ia takut dianggap sombong bila menjawab belum.
"Jawab saja. Tidak perlu takut menyinggungku."
"....belum."
"Bagus. Karena aku juga belum mengerahkan seluruh kemampuanku."
Xika langsung bersiap bertarung ketika mendengar Lian Minjie berkata begitu. Tapi Lian Minjie tersenyum dan tidak menyerangnya.
"Lain kali, kita akan bertarung dengan kemampuan penuh kita. Tapi tidak kali ini."
Xika menurunkan sikap bertarungnya, tapi ia masih bingung.
"Kau lupa alasan kita bertarung?"
Setelah Lian Minjie berkata begitu Xika baru ingat bahwa ia bertarung karena menolak hadiah Lian Minjie. Ia sampai lupa alasannya bertarung karena sudah lama tidak merasakan pertempuran yang menyenangkan.
Xika menggaruk-garuk kepalanya.
"Ehh....jadi......apa senior tidak keberatan...."
"Tidak. Aku masih keberatan."
"Eh?"
Lian Minjie berjalan dan mengambil dua buah pisau. Kemudian ia menuju bagian pertahanan dan mengambil benda yang bentuknya cukup aneh.
Ia menyerahkan dua buah pisau serta benda aneh itu pada Xika.
"Kedua pisau ini sepasang, jadi akan kuanggap sebagai satu. Aku tak tahu namanya, kau bisa menamainya sesukamu. Benda ini adalah pelindung punggung. Terdengar aneh memang, aku tahu. Tapi ini cukup berguna. Letakkan saja di punggungmu, ia akan menyesuaikan bentuknya dengan punggungmu. Aku tidak tahu benda-benda ini artefak kelas berapa, tapi harusnya cukup baik. Jadi gunakan mereka sebaik mungkin."
Ketika Xika membuka mulutnya Lian Minjie langsung menatapnya tajam dan berkata,
"Kau tidak bisa menolak."
Xika menggaruk-garuk lagi kepalanya.
"Kalau begitu.....terima kasih senior."
Lian Minjie mengangguk dan menepuk pundak Xika.
Ia mengantar Xika keluar toko kemudian berkata,
"Nanti malam jam 7, datanglah lagi ke sini. Kita akan melakukan acara kebersamaan.
Gunakan waktumu untuk melakukan hal yang bermanfaat. Ingat, jam 7. Jangan telat."
__ADS_1
Xika mengangguk dan meninggalkan toko Lian Minjie.