
Benturan serangan itu menghasilkan kabut tebal yang menghalangi pandangan. Seharusnya para serigala bisa mengusir kabut itu dengan mudah. Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka takut. Takut untuk melihat apa yang ada di balik kabut itu. Takut untuk melihat tubuh kedua pemimpin mereka yang sudah tak bernyawa lagi. Takut untuk menghadapi krisis kepunahan sekali lagi.
Jadi mereka memilih untuk menunggu kabut tebal itu menghilang dengan sendirinya. Xuehao tidak berani menatapnya. Airmatanya mengalir deras dan membutakan indranya yang lain seperti pendengaran dan penglihatan. Ia tak menyadari hilangnya keberadaan Xika dan Huo Bing yang berada di sampingnya sebelumnya.
Beberapa saat berlalu dan kabut mulai memudar. Meskipun begitu, masih banyak yang menolak untuk melihat apa yang ada di balik kabut itu. Mereka memalingkan wajah. Karena mereka tahu apa yang akan mereka lihat di balik kabut itu dan mereka takut untuk memastikannya. Sampai sebuah suara memecah keheningan yang tercipta.
"Uhuk......aduh........Aku sudah menghabiskan seluruh qi ku tapi tubuhku masih sakit semua.........."
Mereka memaksa kepala mereka untuk menoleh pada asal suara itu. Suara yang sama sekali tak mereka duga.
Dan saat kabut benar-benar menghilang, mereka melihat sosok manusia dan burung yang hampir transparan berdiri di antara kedua pemimpin mereka. Dan keduanya masih hidup.
"Auuuuuuuuuuu!!!!!"
Entah siapa yang memulai, tapi lolongan pertama itu memicu lolongan lainnya yang berisi rasa syukur para serigala ketika melihat pemimpin mereka masih hidup, meskipun terluka berat. Air mata kembali mengalir. Tapi kali ini tidak mengandung kesedihan, melainkan kebahagiaan dan kelegaan.
"Ke-kenapa........"
Baik Heiliao, Lang Yan, maupun para pemimpin serigala lainnya menatap kedua sosok baru itu dengan bingung. Kejadian sebelumnya membutakan indra mereka sampai tak menyadari munculnya dua pendatang baru itu. Xika dan Huo Bing hanya tertawa seolah apa yang mereka lakukan bukanlah hal penting.
"Serigala gosong sialan! Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mati? Kuberitahu kau, kalau kau berniat mati seperti itu lagi, aku akan membunuhmu dulu sebelum kau mati, sialan!"
Heiliao hanya menatap sosok burung transparan itu dengan mulut tertutup. Begitu juga dengan Lang Yan. Serigala tua itu menatap Xika dengan bingung.
"Kau," Xika menunjuk Lang Yan dengan senyum iseng, "Suatu saat nanti aku akan membasahi bulumu itu dengan ludahku! Ingat itu."
Semua mata serigala menatap dua sosok itu tanpa mengerti omong kosong yang mereka bicarakan.
Huo Bing menatap Xika sejenak. "Kuserahkan padamu," ucapnya yang dibalas anggukan oleh Xika. Kemudian Cygnix itu berputar sekali sebelum masuk kembali ke dantian Xika.
Xika menatap Heiliao dan menepuknya beberapa kali.
"Bukankah kau sudah bilang akan mencoba hal yang tidak kau lakukan di kehidupan sebelumnya? Kupikir ini saat yang tepat untuk melakukannya."
Butuh sedetik bagi Heiliao untuk memahami apa yang Xika katakan. Mereka memang pernah membicarakan hal itu sebelumnya. Kemudian ia menggeleng.
"Tidak," katanya, "Tidak perlu. Aku sudah punya keluarga. Sudah cukup. Aku tak perlu keluarga yang membuangku. Ayo pergi." Serigala hitam itu berbalik dan berjalan pergi.
__ADS_1
Tapi Xika menahan ekor Heiliao.
"Kawan, sudah berapa lama kau berada dalam hubungan seperti ini? Tidakkah kau lelah? Kau marah pada mereka, aku mengerti. Begitu juga dengan mereka. Dan mereka hendak menebus kesalahan mereka. Tidak bisakah kau memberi mereka kesempatan?"
"Tidak perlu. Kami tidak butuh dia. Ratusan tahun yang kami habiskan untuk menunggunya terbuang percuma. Ia tak layak. Tidak perlu membujuknya lagi. Pergilah kalau kau memang ingin pergi. Aku tak akan mneghentikanmu."
Xika mendekat pada Lang Yan kemudian merangkulnya dengan susah payah karena ukuran serigala itu yang terbilang besar.
"Pak Tua, jangan keras kepala seperti itu. Salah satu pihak harus melangkah lebih dulu." Xika mendekatkan kepalanya, "Ia juga ingin berteman seperti serigala lainnya. Tapi kau tahu ia menutup dirinya dengan berbagai alasan. Bisakah kau membantunya?"
Lang Yan melepaskan rangkulan Xika dengan mudah. Ia menatap anak itu dengan curiga.
"Aku tak bohong." kata Xika yang mengerti tatapan Lang Yan.
"Kalau begitu kenapa kau berbisik?"
"Apa ia akan mengaku kalau aku berbicara dengan lantang?"
Lang Yan tak menjawab.
"Dia terluka. Ia membenci dan menyalahkan dunia. Kalian terkena imbasnya. Aku tahu. Aku pernah mengalaminya. Dan yang bisa menyembuhkannya hanyalah kalian, para serigala. Perlu waktu lama, memang. Tapi perlahan-lahan ia akan berubah. Aku tak bisa menyembuhkannya. Aku tidak menyangkal ia adalah saudaraku. Tapi aku juga tak akan menyangkal kami adalah mahluk yang berbeda. Ia adalah serigala dan aku adalah manusia.
Baik kau dan dia maupun para serigala memiliki luka. Dan luka itu sudah terlalu lama dibiarkan. Dia menyalahkan kalian dan kalian menyalahkan dia. Ini saatnya untuk menyelesaikannya. Dan hanya kalian yang bisa, bukan aku. Aku adalah manusia. Dan yang bisa kulakukan hanyalah membuka jalan diantara kalian berdua. Apakah kalian berdamai atau tidak, itu terserah kalian. Jangan terlalu keras kepala dan menjaga harga diri. Itu hanya akan melukai kalian berdua lebih jauh. Turunkan sedikit harga dirimu."
"Harga mati. Tidak bisa ditawar."
Xika tersenyum mendengar ucapan Lang Yan yang setengah bercanda.
"Ada hal yang lebih berharga dari nyawa kita, yaitu harga diri. Dan ada hal yang lebih berharga dari harga diri, yaitu persahabatan dan keluarga." ucapnya sambil melihat Heiliao dan Lang Yan.
".............."
".............."
"Baiklah, ini sudah terlalu malam. Mari kita dinginkan kepala dan bicara lagi besok. Sampai jumpa!"
Xika mendorong Heiliao pergi karena serigala itu kelihatannya sedang mengadakan lomba tatap dengan Lang Yan dan akan terus melakukannya kalau tak dihentikan.
__ADS_1
"Ayo."
Mereka berjalan pergi. Para pemimpin lainnya menatap sosok mereka sampai menghilang, kemudian satu-persatu berbalik dan pergi. Lang Yan yang terakhir pergi. Ia memikirkan kata-kata Xika. Jangan terlalu keras kepala dan menjaga harga diri. Itu hanya akan melukai kalian lebih jauh.
Ia pergi dengan kata-kata Xika yang terus berulang dalam kepalanya. Harga diri lebih berharga dari nyawa. Dan keluarga lebih berharga dari harga diri. Sepanjang malam ia memikirkan kata-kata Xika serta apa saja yang sudah ia lalui selama ini.
Tapi ada satu serigala yang tidak pergi. Serigala putih yang terlalu bingung melihat banyak hal yang terjadi hari ini. Menjelajah tambang, memeriksa Tangan Ungu dan mahkluk penghuni tambang, mengadakan pesta, dan pertarungan antar serigala yang mencintai dan dicintai. Ia terlalu bingung dengan semua itu. Jadi ia tidur di tebing favoritnya, yang sudah banyak menyimpan kenangan.
Hari berlalu dengan banyak pikiran di tiap kepala serigala. Masing-masing menyimpan apa yang terjadi baik-baik dalam hati mereka. Tentu saja, mereka tak akan melupakan dua sosok yang telah menyebabkan perubahan sangat banyak.
Xika bangun dengan nyeri di seluruh tubuhnya. Semalam ia menggunakan jurus Pair dengan seluruh qi nya yang diubah menjadi elemen. Tapi tentu saja itu tak akan cukup untuk menghentikan serangan dari pemimpin serigala yang sudah berumur ratusan. Lalu mengapa ia masih hidup sampai saat ini?
Xika menghancurkan setengah serangan Lang Yan, sementara sisanya yang tak bisa ia tahan ia pindahkan menggunakan elemen ruang. Sayangnya, karena terburu-buru, ia tak tahu kemana ia memindahkan serangan Lang Yan itu. Mungkin di suatu tempat di hutan ini, mungkin juga di tempat lain. Yah, ia tak akan memberitahu mereka untuk saat ini.
Ia menoleh mencari Heiliao. Tapi tak menemukan serigala besar itu di mana-mana. Huo Bing tidak mengatakan apa-apa. Mungkin karena ia kelelahan dan sibuk memulihkan qi yang ia habiskan kemarin. Tadinya Xika ingin berlatih tanding dengan serigala lain. Melihat pertarungan Heiliao dan Lang Yan semalam membangkitkan semangat bertarungnya.
Tapi sepertinya kabar tentang pertarungan itu sudah tersebar dan ia tidak yakin akan ada serigala yang mau latih tanding dengannya. Jadi ia duduk bersila dan berkultivasi. Terakhir kali ia berhasil membentuk tiga pola di tubuhnya, namun gagal untuk yang keempat. Perbincangannya dengan Heiliao tentang ruang dan pengalamannya di Simulocus telah banyak menambah wawasannya.
Jadi ia hendak mencoba lagi untuk membuat empat pola. Kalau ia berhasil, maka kecepatannya berkultivasi akan sama dengan orang lain. Selangkah lebih dekat untuk membalas dendammnya pada Tian Yin si bajingan itu dan selangkah lebih dekat dengan orangtuanya.
Ia menutup matanya dan memfokuskan pikirannya menuju dantian. Ia menyerap qi lalu mengalirkannya pada dantian pertama dengan pola pertama. Berhasil. Selanjutnya mengalirkan melalui pola di dantian kedua, tidak terlalu berbeda dengan pola pertama dan ia berhasil. Pola ketiga, dantian ketiga, sedikit lebih sulit dari dantian kedua, tapi ia masih berhasil.
Sekarang tinggal pola keempat. Ia sudah pernah melihat pola yang ada di dantian keempat, tidak jauh berbeda dengan pola-pola sebelumnya. Tapi yang mencegahnya tidak bisa membentuk empat pola di tubuhnya adalah konsentrasinya. Membuat tiga adalah batasnya, lebih dari itu membuat kepalanya pusing serasa mau meledak.
Tapi setelah apa yang ia alami kemarin, sepertinya ia telah melihat hal yang lebih memusingkan daripada membentuk empat pola dantian. Jadi ia percaya ia bisa melakukannya kali ini. Ia membagi sedikit qi menuju dantian keempatnya. Tapi qi yang ada terlalu sedikit untuk mencukupi empat dantiannya, jadi ia menggunakan lubang hitam.
Whush!
Lubang itu menyerap qi disekitar Xika dengan kecepatan yang luar biasa. Kini qi yang tersedia lebih dari cukup untuk empat dantiannya. Ia mulai mengalirkan qi menuju dantian keempatnya. Titik pertama, titik kedua, dan terus belanjut hingga ia menyelesaikan pola keempat.
Wuuuuush!
Setelah berhasil membentuk empat pola di empat dantiannya, Xika merasakan tubuhnya lebih baik. Luka-luka yang ia terima dari serangan Lang Yan semalam mulai beregenerasi meskipun lambat. Persepsinya juga lebih luas. Ia bisa melihat apa saja yang terjadi dalam jarak satu kilo dari dirinya. Sebelumnya, hanya beberapa ratus meter.
Ia melihat tebing tempat para serigala berkumpul semalam dan melihat dampak serangan Heiliao pada tebing utara, kemudian melihat Lang Hu sedang bermesraan dengan Lang Hongbao, beberapa serigala lainnya yang sedang mengejar atau menikmati cinta mereka. Sepertinya kabar itu belum menyebar. Setidaknya di generasi muda.
Kemudian ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dua sosok serigala yang hendak saling bertarung kemarin, kini sedang duduk bersebelahan menatap serigala-serigala muda yang sedang berlatih.
__ADS_1