
Li Tang dan Xika mengamati dalam diam kerumunan orang yang semakin mendekat itu. Sekalipun kelompok yang mereka lawan sebelumnya lemah, jumlah mereka yang sangat banyak adalah fakta yang tak bisa dibantah. Kalau lawannya kira-kira sekuat kelompok sebelumnya dan berjumlah 400-san Xika masih lumayan percaya diri menghadapi mereka. Sayangnya, ia sudah menghadapi kelompok dengan kemampuan yang lebih hebat. Dan Xika yakin para pria berbaju putih yang ia lawan bukanlah yang paling kuat.
"Hati-hati! Waspada dengan sekitar! Mereka baru menghabisi tiga kelompok, mereka pasti tidak punya banyak tenaga lagi. Cepat cari mereka sebelum mereka memulihkan tenaga mereka!"
Xika menatap pria yang memberi perintah. Sekalipun pakaiannya berbeda dengan kelompok yang datang kali ini, tapi tak ada yang membantah ucapan pria itu. Apa pria itu punya kedudukan tertentu?
"Pria itu," ucap Li Tang yang juga memperhatikan pria yang sama, "ia ada dalam kelompok pertama yang mengejar kita. Ia tipe yang membuat analisis. Setelah aku mengalahkan kelompoknya, ia memilih mundur daripada maju dengan anggota yang terluka. Tapi aku tak menyangka ia akan kembali lagi, meskipun cukup masuk akal karena hanya dia yang berhasil menghindari semua seranganku."
"Apa? Sepertinya bukan berita yang bagus. Itu artinya sedikit banyak ia sudah tahu kemampuanmu."
"Tampaknya begitu." Li Tang mengangguk. "Bisakah kau mengatasinya?"
"Kalau kau bisa menghalangi pria-pria lainnya yang ia bawa, kurasa aku bisa." ucap Xika setengah bercanda. Tapi rupanya Li Tang menganggap serius perkataannya barusan.
"Akan kuusahakan. Kapan kita mulai menyerang?"
"Tunggu sebentar. Mari kita buat mereka bingung lebih dulu. Bisakah kau menyerang dari arah belakang pria itu? Aku ingin melihat bagaimana ia bereaksi."
Li Tang tak menjawab. Ia mengalirkan qi ke dalam tangannya kemudian duri hitam muncul di belakang Nan Hai siap menusuk perutnya. Sayangnya, duri Li Tang tak berhasil mengenai targetnya.
Setengah detik sebelum duri Li Tang mencapai tubuhnya, Nan Hai menyadari ada yang salah dan segera menghindar. Untung saja ia menuruti firasatnya. Ia segera memasang posisi waspada terhadap arah datangnya duri tersebut tapi selain kegelapan malam, ia tak menemukan apa-apa.
Nan Hai baru saja hendak memberitahu pasukannya ketika suara tertusuk beserta teriakan kesakitan terdengar. Ia hendak menolong rekannya tapi tiga suara kesakitan lainnya kembali terdengar di tiga tempat yang berbeda.
"Semuanya, jangan panik! Pelaku sebenarnya tengah bersembunyi sambil memangsa kita satu-persatu! Bentuk kelompok empat orang, masing-masing menjaga arah depan, belakang, kiri, dan kanan sambil terus mencari keberadaan mereka!"
"Ck, dia lumayan hebat, ya?" ucap Xika setengah kesal setengah memuji.
"............."
"Kau tahu, kalau Liang Jihua ada disini mungkin akan lebih membantu. Kita bisa memanfaatkan kekuatan esnya untuk membuat mereka tergelincir dan formasi empat orang mereka hancur, kemudian kau bisa menusuk mereka."
"Tapi sinar bulan bisa saja memantul di es sehingga membuat musuh sadar."
"Betul juga. Yah, sebaiknya kita pikirkan apa yang kita punya saja sekarang. Kalau dari penglihatanku, mereka mengirim sekitar tiga atau empat kelompok. Ada saran?"
"Aku mengalihkan perhatian mereka, kau serang dari belakang?"
"Ide bagus. Aku akan menyatu lagi dengan angin. Kau teruslah bersembunyi dan gunakan duri atau panahmu untuk menyerang dari jarak jauh. Jangan biarkan mereka mengetahui posisimu. Aku akan menyerang mereka selagi menyatu dengan angin. Dalam kasus terburuk, bila posisimu ketahuan, mereka tidak akan berani gegabah karena mengira kau mampu menggunakan teknik bayangan dan menguasai elemen angin sekaligus."
"..............." Sejujurnya Li Tang tak menyangka Xika akan berpikir sejauh itu. Ia hanya menyarankan langkah sederhana, siapa yang menduga Xika akan mengubahnya menjadi rencana yang cukup bagus?
__ADS_1
"Sebelum kita mulai, aku ingin bertanya."
"Ada apa?"
Li Tang merasa agak ngeri karena saat ini Xika tak terlihat wujudnya namun masih bisa bicara dengannya. Tapi ia berusaha bersikap biasa dan bertanya, "Kenapa kita harus bertarung dengan mereka? Mengapa kita tidak mundur saja bersama Yun Xingzhao dan dua idiot itu kemudian satukan kekuatan?"
"Em, secara teknis itu dua pertanyaan. Tapi, baiklah. Aku mengerti maksudmu.
Kau ingat kelompok yang kulawan sebelumnya? Seperti yang sudah kukatakan, mereka lebih kuat dibanding kelompok-kelompok ini. Ketika bertarung dengan mereka, aku berhasil mendeteksi perkiraan kasar jumlah mereka. Kira-kira sekitar empat ratusan. Sebelum kita memulai pertempuran puncak, aku berniat mengurangi jumlah mereka sebanyak mungkin, sekaligus mencari tahu bagaimana kekuatan mereka."
Li Tang mengangguk dalam diam kemudian kembali melayangkan duri-duri secara acak. Tentu saja, kelompok lawan yang kini berkumpul empat-empat dapat menghindari duri itu dengan mudah. Tapi setelah itu Xika langsung memberikan serangan hingga formasi empat-empat itu mulai berantakan.
Selanjutnya, giliran Li Tang lagi. Ia menusuk kelompok yang formasinya berantakan. Tapi langkah ini cukup memakan waktu karena hanya Li Tang yang bisa menghabisi mereka. Xika yang menyatu dengan angin hanya bisa memberikan serangan melalui fisiknya, jadi ia tidak bisa memberikan serangan berdarah.
Menggunakan senjata akan membuat tekniknya terganggu. Selain itu, kalau misalkan ia berusaha membuat senjata dari angin, maka angin yang berkumpul di satu tempat akan membuat musuh curiga dan mengetahui keberadaannya.
Langkah ini berlangsung sekitar setengah jam, lebih lama dari perkiraan Xika, kemudian kelompok lawan menemukan keberadaan Li Tang. Tentu saja pria itu tak akan menyerah dengan patuh. Ia menusuk empat orang secara bersamaan dan membuat sisa lawannya mundur.
Sekalipun agak takut, tapi perlahan lawannya mulai mengepung Li Tang. Ia melirik ke kiri dan kanan untuk mengecek jumlah lawan. Kira-kira masih ada tiga puluh orang lagi. Ditambah kelompok yang mereka lawan sebelumnya, kurang lebih Xika dan Li Tang sudah menghadapi lima puluh orang.
Shrak!
Seberkas angin melewati telinga Li Tang. Pesan dari Xika. Ia meminta Li Tang berpura-pura mengendalikan elemen angin. Cukup gerakkan tangannya saja dan sisanya serahkan pada Xika.
"Jadi daritadi kita kesulitan hanya karena satu orang?"
"Sayang sekali, tapi permainan sudah berakhir. Mari kita berikan dia pelajaran. Tak selamanya murid sekte besar lebih berbakat dari murid sekte menengah dan kecil!"
Li Tang melambaikan tangannya dan seketika tiga orang yang berbicara terhempas hingga menabrak pohon.
"D-dia kultivator angin! Dia juga bisa menggunakan elemen angin selain benda hitam aneh itu!"
Kalau Xika yang ada di posisi Li Tang saat ini, ia pasti akan bicara sepatah-dua patah kata untuk memprovokasi lawan. Namun karena yang berdiri saat ini adalah Li Tang, maka pria itu hanya memberi isyarat pada musuhnya untuk maju dengan jari. Tapi hanya isyarat seperti itupun cukup untuk membuat lawannya terprovokasi.
"Sialan! Jangan pikir kami takut padamu!"
"Benar! Jumlah kita lebih dari dua puluh sedangkan ia hanya sendiri. Sehebat apapun dia pasti akan kelelahan pada akhirnya. Ayo maju, teman-teman!"
"Heah!"
"Makan ini!"
__ADS_1
"Mampus kau!"
Syush!
Satu lagi pesan dari Xika. Isinya: tidak perlu bergerak.
Tiga belas serangan elemen, empat tombak, tiga pedang, lima pisau dan lima panah. Semuanya berhasil ditangkis oleh Xika hingga musuh-musuhnya semakin waspada dengan Li Tang.
Selagi Xika dan Li Tang memainkan sandiwara ini, Nan Hai mengerutkan keningnya. Ia berbeda dengan rekan-rekannya. Ia merasakan ada yang salah. Kalau pria ini memang kultivator angin, kenapa ia tidak menggunakan serangan berbasis angin sejak awal pengejaran? Kenapa ia hanya menggunakan benda-benda hitam dari tadi?
Selain itu, ia tidak merasakan aura angin dari pria itu. Roh Angin tidak mengenalnya. Apa ia berpura-pura? Apa itu artinya masih ada seorang lagi yang bersembunyi?
Rencana Xika ini mungkin bisa berjalan lancar bila Nan Hai tidak ikut dalam pengejaran kali ini. Yang lebih sial lagi, di saat Nan Hai mulai menyadari sandiwara Li Tang dan Xika, Xika keluar dan menampakkan dirinya. Tadinya ia ingin agar musuh merasa terancam. Satu saja sudah sekuat itu, apalagi ada dua? Setidaknya begitulah pikir Xika.
Sayangnya, kemunculannya malah membuat Nan Hai mengonfirmasi bahwa Li Tang bukanlah kultivator angin.
"Yo, saudaraku. Kelihatanya kau sedang kesulitan ya?" ucap Xika sambil berjalan santai tidak gentar terhadap rombongan musuh. Li Tang hanya diam menatapnya. Untuk saat ini, lebih baik ia diam daripada bicara dan membuat rencana mereka terbongkar.
Rombongan musuh membuka jalan bagi Xika sehingga ia bisa tiba di samping Li Tang. Rencana Xika berhasil. Para musuh sudah mulai ketakutan. Satu Li Tang saja mereka kesulitan mengalahkannya, apalagi ditambah satu rekannya lagi.
Untuk membuat sosok Li Tang semakin kuat, Xika menoleh pada rombongan musuh kemudian tersenyum meremehkan. "Apa ini? Hanya dua-tiga puluh orang? Dan mereka pikir mereka bisa mengalahkanmu? Berhentilah bermain-main kawan. Aku mengantuk. Mari kita selesaikan ini dengan cepat kemudian kembali tidur."
Tapi sebelum lawan-lawannya semakin takut, Nan Hai maju menghentikan rencana Xika.
"Itu kau, kan?" tanyanya pada Xika.
"Apa?" ucap Xika tak mengerti.
"Itu kau, kan? Kultivator angin yang sesunguhnya dan yang memberikan serangan tak terlihat daritadi."
Dalam hati Xika mengumpat. Pria analisis ini rupanya cukup pintar. "Benarkah? Aku adalah kultivator angin?" Xika melihat tangannya tak percaya.
Li Tang berdecak kesal karena sepertinya rencana Xika ketahuan. Tapi sekali lagi, Xika mengirimkan pesan melalui angin. Bagaimana cara pria itu melakukannya di hadapan Nan Hai dan pasukannya, Li Tang tidak tahu. Jadi ia hanya melakukan apa yang Xika minta.
Ia melambaikan tangannya dan seketika tombak angin muncul menyerang Nan Hai.
WHUSH!
SWHIRR!
Sayangnya, tombak angin itu berhasil ditangkap oleh Nan Hai. Dan untuk sesaat, Xika lupa menyembunyikan ekspresinya dan mengerutkan kening. Senjata angin tak bisa ditangkap kecuali oleh sesama kultivator angin. Hal yang sama juga berlaku untuk elemen lainnya. Itu artinya Nan Hai adalah kultivator angin.
__ADS_1
"Hehehe........" Nan Hai terkekeh. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya seolah tombak angin yang tadi bukanlah apa-apa. "Aku benar, kan? Melihat dari wajah kalian berdua, kalau pria berbaju hitam itu memang benar kultivator angin harusnya dialah yang terkejut bukan kau." ucap Nan Hai tepat sasaran.
"Sayang sekali," Xika menggertakkan giginya, "tampaknya kita harus mengakhiri permainan ini lebih cepat dari perkiraanku."