Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-93


__ADS_3

Xika menghela nafas kemudian ia melangkah masuk ke dalam bangunan besar nan megah itu.


Sama seperti kunjungan sebelumnya, lantai satu dipenuhi berbagai macam pedagang dan membuat tempat itu kotor dan kumuh. Xika masih menarik perhatian seperti biasa dan ia mengucapkan kata-kata yang sama dengan kunjungan terakhir.


Ia melewati lantai pertama dan menaiki tangga yang menuju lantai dua. Kali ini ia tidak berhenti dulu. Ia langsung menyerahkan biaya masuk tanpa berhenti melangkah. Namun si pelayan tersebut tidak keberatan dengan sikap Xika. Entah karena ia memang sudah biasa diperlakukan seperti itu atau karena ia sudah melihat hal-hal yang di sebabkan Xika kemarin dan tidak berniat menyebabkan masalah.


Ia menatap sekelilingnya dan mencari keberadaan Gong Tao namun tidak menemukannya. Xika berjalan kembali ke arah si pelayan yang menjaga lantai dua.


"Dimana atasanmu?"


Pelayan itu mengerutkan keningnya sedikit.


"Apakah anda adalah Tuan Muda Xing?"


"Benar."


Kerutan di kening pelayan itu langsung menghilang dan digantikan senyum yang cukup ramah.


"Kepala Gong masih memiliki beberapa urusan. Mungkin beberapa menit lagi ia akan selesai. Apakah Tuan Muda ingin menunggu sambil melihat-lihat?"


Xika mengangguk.


"Kalau begitu aku akan melihat-lihat sebentar."


Pelayan itu membungkuk kemudian berkata.


"Semoga anda puas dengan pelayanan kami."


Xika mulai berjalan mengelilingi lantai dua. Tidak banyak yang berubah, tentu saja. Ia baru mengunjungi tempat ini kemarin. Hanya beberapa senjata pajangan yang diganti. Salah satunya adalah pedang yang Xika hancurkan.


Ia hendak meminta salah satu pelayan untuk mendapatkan berbagai bahan yang Heiliao minta-yang, tentu saja kebanyakan tidak berguna untuknya saat ini. Namun matanya menangkap sesuatu.


Ia melihat Cao Ping sedang berjalan-jalan dengan gadis yang sama yang menaiki kereta kuda terakhir kali mereka bertemu. Cao Ping berusaha menarik perhatian gadis itu tapi tidak berhasil.


"Nona Wu, kalau ada sesuatu yang Nona suka, katakan saja. Tidak perlu sungkan. Aku, Cao Ping akan membelikannya untukmu."


Wu Liao hanya mengangguk pelan sambil berkata,


"Terimakasih Tuan Muda Cao."


Tapi dari tatapan matanya, Xika tahu bahwa kalaupun gadis itu menginginkan sesuatu, ia akan membelinya sendiri.


Xika hendak mengalihkan pandangannya sebelum gadis itu melihatnya tapi sudah terlambat. Gadis itu menoleh tepat ke arahnya dan menemukan dirinya.


Xika hanya mengangguk sedikit kemudian berbalik pergi berharap gadis itu tidak terlalu memperhatikannya. Tapi harapannya gagal.


Gadis itu berjalan mendekat dengan Cao Ping di belakangnya. Awalnya muka Cao Ping ceria, namun ketika melihat Xika, ekspresi wajahnya berubah.


Wajahnya menampilkan kemarahan yang cukup besar, tapi Wu Liao seolah tidak menyadarinya. Ia terus berjalan sampai tiba di depan Xika.


Ia mengangguk lembut kemudian berkata,


"Kita bertemu lagi."


Xika balas mengangguk dengan kikuk, ia hampir tidak memiliki pengalaman dengan wanita. Xingli adalah yang pertama, meskipun hampir tidak menambah pengalaman apa-apa selain sabetan pedang.


"Kau!"

__ADS_1


Cao Ping menunjuk Xika dengan mukanya yang merah.


Xika menoleh kemudian tersenyum sopan.


"Ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Wajah Cao Ping semakin memerah sementara Wu Liao tertawa kecil. Tawa yang berhasil menarik perhatian semua pengunjung pria di lantai dua. Semua kecuali Xika.


"Kita sudah bertemu dua kali, mungkin ini takdir. Boleh saya tahu nama anda?"


Xika menggaruk kepalanya dengan canggung. Bahasa yang digunakan gadis itu membuatnya tidak nyaman. Ia hampir tidak pernah berbicara secara formal.


"Eh, Ya. Tidak perlu terlalu sopan. Kau bisa memanggilku Xing."


"Kalau begitu Saudara Xing."


Xika kembali mengangguk dengan kikuk.


"Namaku Wu Liao. Kau dapat memanggilku Saudari Wu."


"Saudari Wu." ucap Xika dengan kikuk. Ia tidak tahu mengapa dan apa tujuan Wu Liao mendekati dirinya secara tiba-tiba.


Terpancar sedikit kekecewaan dalam mata Wu Liao. Xika tidak memberikan nama lengkapnya, hanya marganya saja. Ia memberitahu nama lengkapnya dengan harapan Xika juga melakukan hal yang sama.


Wu Liao memperhatikan Xika. Sementara yang diperhatikan menoleh ke kanan dan kiri secara canggung.


Cao Ping melihat ketertarikan Wu Liao pada Xika dan tidak menyukainya. Ia berusaha mengalihkan perhatian gadis itu dari Xika tapi tidak berhasil. Sudah cukup menyebalkan bahwa Wu Liao tertarik pada Xika dan bukan dirinya, Xika bersikap lebih menyebalkan lagi. Ia seolah tidak tertarik dengan Wu Liao dan Wu Liao seolah tak mempermasalahkannya.


"Saudara Xing, ada urusan apa kau kesini?"


"Ah, aku ada sedikit urusan dengan kepala toko ini."


"Kalau kau tidak keberatan, mau berkeliling bersama?"


"Eh, ah.......ya......."


Xika bingung mau menjawab apa. Ia tidak terlalu nyaman dengan perhatian yang diberikan gadis itu tapi ia juga tidak punya alasan untuk menolak ajakannya berkeliling bersama.


Dan wajah Cao Ping semakin merah. Kini ia sepenuhnya diabaikan. Xika berjalan dengan kikuk dengan Wu Liao yang anggun berjalan di sampingnya. Sementara ia mengikuti di belakang seperti seorang pelayan. Beberapa kali ia berusaha masuk ke dalam percakapan tapi tidak berhasil. Akhirnya ia hanya bisa pasrah mengikuti di belakang sambil mengumpat pada Xika dalam hati.


Setelah Xika mengatakan sesuatu yang membuat percakapan mati, tidak ada yang berbicara lagi. Pengunjung-pengunjung lantai dua tak ada yang berbicara. Mereka tidak berani berisik di depan Wu Liao dan Cao Ping yang wajahnya merah.


Xika berkomunikasi dengan Huo Bing dan Heiliao melalui jiwanya.


"Psttt.....Huo Bing, Heiliao! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa wanita ini mendekatiku secara tiba-tiba? Apa dia bermaksud merampokku?"


Seketika itu juga tawa Huo Bing dan Heiliao bergema dalam kepala Xika. Mereka menertawakan betapa polosnya pikiran Xika. Sementara Xika malah tambah bingung.


"Kenapa kalian tertawa? Bukankah kau biasanya mendekati orang yang tak dikenal sambil tersenyum karena ingin mencuri?"


"Pftttt........Kau sungguh polos. Atau mungkin bodoh. Atau mungkin keduanya." Tawa Huo Bing kembali terdengar.


"Hoi bocah cacat! Menurutmu kenapa seorang perempuan mendadak bersikap baik padamu?"


"Ehh......ingin mencuri?"


"Bukan, bodoh! Tentu saja dia suka padamu"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu baik Huo Bing maupun Heiliao kembali tertawa. Kali ini lebih keras dan mengganggu dari sebelumnya.


"Tapi jangan berpikir terlalu jauh. Mungkin saja ia penasaran dengan asal-usulmu."


"Asal-usulku? Aku juga sama. Kenapa dia penasaran?"


"Mungkin karena ia tidak pernah melihat atau mendengarmu sebelumnya. Di usiamu yang masih muda kau berhasil mengalahkan bocah Cao itu dengan mudah pasti membuat gadis itu penasaran."


Jawaban Heiliao lebih bisa diterima dibanding jawaban Huo Bing. Tapi Xika tidak merasa nyaman dengan gadis itu. Bahkan percakapanpun mati. Berbeda ketika ia bersama dengan Xingli. Percakapan selalu mengalir dan berbagai topik memenuhi kepalanya.


Yah, tidak terlalu tepat juga bila disebut mengalir. Lalu mengenai topik, Xika dapat berhenti bicara secara mendadak untuk mencari topik tanpa perlu dikira aneh. Kenapa? Karena gadis itu lebih aneh. Pokoknya, ia lebih nyaman dengan Xingli daripada gadis ini.


Xika masih diam sementara Wu Liao kehabisan topik.


"Psttt.....Hoi, Xika! Ajak dia bicara. Tanyakan makanan kesukannya kek, tujuannya disini. Pokoknya jangan biarkan percakapan mati. Setidaknya tunjukkan rasa hormatmu."


"Tapi percakapan memang sudah mati. Lagipula, kenapa aku harus menghormati gadis seumuranku yang baru kukenal beberapa menit yang lalu?"


Huo Bing tidak menjawab lagi. Ia sibuk menertawakan Xika bersama Heiliao. Jadi Xika tidak punya pilihan selain mengikuti saran Huo Bing.


"Eh, anu......Saudari Wu, apa tujuanmu disini?"


"Hm? Aku hanya berjalan-jalan saja."


Di belakangnya, Cao Ping berjalan dengan muka yang semakin muram. Wu Liao tidak menyebutkan apa-apa tentang dirinya. Gadis itu jelas lebih tertarik pada Xika dibanding dirinya. Dan hal itu membuatnya kesal. Kenapa? Karena ia sudah berusaha mencari topik dan bersikap baik padanya, tapi Wu Liao tetap tidak tertarik padanya. Sementara Xika, bocah itu tidak berusaha mencari topik sama sekali, tapi Wu Liao lebih tertarik dengan dirinya.


"Saudara Xing, aku tidak pernah melihat atau mendengarmu sebelumnya. Dari mana kau berasal?"


Xika menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu untuk saat ini."


Sorot mata gadis itu kembali terhiasi dengan kekecewaan. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Tatapannya kembali seperti sebelumnya, tenang, lembut dan anggun.


Setelah Xika berbicara, suasana kembali hening. Xika sedikit merasa bersalah karena hal itu.


"Ah, bagaimana dengan saudari Wu? Dari mana asalmu?"


Ketika Xika selesai bertanya, seluruh pasang mata di lantai dua menatap dirinya, termasuk Wu Liao dan Cao Ping. Hal itu membuatnya bingung. Apa ia salah bicara?"


Cao Ping kembali menunjuk Xika.


"Bocah! Kau tidak tahu identitas Nona Wu meskipun sudah mendengar namanya?"


Xika menatap Cao Ping seperti orang bodoh. 'Bagaimana aku bisa tahu identitasnya hanya dengan namanya?' setidaknya itulah yang ingin ia katakan.


Sebelum Xika sempat bicara, Cao Ping kembali bicara.


"Apa kau hidup di gua? Bahkan tidak tahu Nona Wu."


Dan semua pengunjung tertawa mendengar ucapan Cao Ping. Wu Liao tidak terlihat tersinggung. Ia justru semakin antusias ingin melihat bagaimana Xika akan menanggapi ejekan Cao Ping.


Xika mengangkat bahu.


"Yah, setidaknya di gua tidak ada monyet bodoh seperti dirimu."


Dan pengunjungpun kembali tertawa. Wajah Cao Ping memerah.

__ADS_1


"Sialan! Beraninya kau!"


Cao Ping menatap Xika dengan tajam. Xika juga membalas dengan tatapan yang tidak kalah tajam.


__ADS_2