Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-169


__ADS_3

Darah menetes dari tubuh Xika. Pandangannya mengabur sesaat, tapi kembali fokus ketika sadar bahwa ia berada di atas kebun bunga kesukaan ibunya. Kemudian pandangannya beralih menuju sosok putih besar yang menghantamnya barusan.


Xika mengusap darah dari sudut mulutnya dan menatap ular putih itu dengan amarah.


"Pantas saja aku bingung kemana menghilangnya tikus yang satu lagi. Ternyata disini rupanya."


Tanpa mempedulikan ucapan ular itu, Xika berlari dan menerjang musuhnya dengan tongkat dan kartu di kedua tangannya. Tapi amarah membutakan dirinya. Ia lupa bahwa ular putih didepannya itu setingkat dengan Huo Bing dan Heiliao, Low-Jack.


Mengalahkan Spirit Beast Red-9 saja ia kewalahan, apalagi tingkat Black-1. Dengan mudah, ular itu menghindari serangan Xika kemudian mengayunkan ekornya dan kembali menghempaskan Xika.


DUAK!


Bruk!


Tap!


Xika tak gentar. Ia kembali bangkit seolah tak menyadari perbedaan diantara mereka. Hasil yang sama kembali menantinya. Hantaman ekor putih di perutnya. Ia bisa melihat ekor itu datang, tapi tak bisa menghindarinya. Terlalu cepat untuk dihindari dan terlalu kuat untuk ditahan.


Pemuda itu kembali bangkit sekalipun tahu bahwa ia akan kembali jatuh. Ia tak bisa diam saja. Ia harus melakukan sesuatu. Pikirannya kembali menerawang beberapa waktu lalu ketika Huo Bing menanyakan kenapa ia begitu menyayangi kebun Hydrangea itu.


"Apa yang istimewa dari bunga itu? Apa ada arti khusus atau kenangan tertentu?"


"Bunga itu sendiri tidak begitu istimewa. Yang istimewa adalah orang yang menyukai bunga itu. Aku tak terlalu paham mengenai bunga, tapi Hydrangea adalah bunga kesukaan ibuku. Mungkin kau akan menganggapku konyol, tapi keberadaan bunga itu sendiri membuatku berada dekat dengan ibuku.


Aku ingin merasakan perasaan itu selama mungkin. Lagipula, inilah satu-satunya tanda bahwa ibuku benar-benar pernah ke tempat ini."


Xika membuka matanya dan menemukan ekor putih menunggunya. Kali ini ia berhasil melompat, tapi kemudian ular itu menyundulkan kepalanya dan kembali membuat Xika jatuh ke kebun Hydrangea.


Entah sudah berapa banyak bunga yang hancur karena tertimpa dirinya. Xika merasakan hatinya semakin panas melihat hal itu, berbanding terbalik dengan si ular yang menatap Xika dengan senyum.


"Melihatmu mempertahankan kebun bunga ini mati-matian, sepertinya benda itu ada disini kan?"


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Yah, benar atau tidak biar kuperiksa saja sendiri," ular putih itu menoleh pada pasukannya, "tahan dia."


Selesai bicara, ular itu tak melihat Xika. Ia tak mempedulikan Xika yang meraung marah dan memberontak sekuat tenaga. Pada akhirnya, karena luka yang diberikan ular putih, Xika berhasil ditahan oleh para ular. Dan ular putih mulai merusak kebun bunga itu.


Ia menggali tanah dengan qi dan tidak mempedulikan bunga Hydrangea yang hancur karena tindakannya. Matanya mencari ke sana-sini seolah berusaha mencari sesuatu, tapi sekalipun ia telah meluluhlantakkan kebun Hydrangea itu, si ular putih tak berhasil menemukan benda yang ia cari.


"Aneh. Kenapa tak ada? Atau jangan-jangan kau sembunyikan?"


"Sudah kubilang aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, Ular Brengsek!"


Ular putih menampar Xika kembali dengan ekornya, setelah itu menjelajahi tubuh Xika berusaha mencari benda yang sama yang ia cari di kebun. Pada akhirnya yang ia temukan hanyalah kartu-kartu dan beberapa pisau serta keberadaan Nexus.


"Benar-benar tak ada. Kalau begitu kenapa kau melindungi tempat ini sampai sebegitunya?"


Si ular putih berhenti sebentar berusaha mencari jawabannya, kemudian mendesah sambil menggeleng.

__ADS_1


"Yah, aku tak terlalu peduli. Sebaiknya kucari di tempat lain."


Setelah itu ia pergi dan meninggalkan Xika dengan kebun bunganya yang telah hancur. Pasukan ularnya mengikuti di belakang dan tak mempedulikan Xika lagi.


Xika dibiarkan terbaring penuh luka tanpa daya. Matanya bercahaya penuh amarah. Ia marah karena kebun bunga kesukaan ibunya, yang telah ia jaga mati-matian, pada akhirnya hancur karena ketidakberdayaan dirinya. Ia marah karena dirinya lemah. Ia marah pada langit yang membiarkan semua ini terjadi.


Dalam cerita masa kecil yang sering ia baca, sang tokoh utama selalu mendapat bantuan tak terduga di saat yang tepat. Kalau ia adalah tokoh utama dari hidupnya sendiri, kenapa ia tak mendapatkan bantuan seperti tokoh utama dalam cerita itu?


Kenapa tak ada yang membantunya saat desanya terbakar? Kenapa orangtuanya meninggalkan dirinya sendirian di tengah desa yang dipenuhi pembunuh? Kenapa ia harus menderita penghinaan selama sepuluh tahun sebelum bisa berkultivasi? Kenapa ia tak bertemu Huo Bing dan Heiliao lebih cepat? Kenapa ia masih lemah sekalipun sudah memiliki banyak dantian? Kenapa semua desa yang ia kunjungi, desa tempatnya tinggal, desa pamannya, dan desa yang telah dilindungi ayahnya, selalu hancur? Kenapa? Kenapa?


Xika menggenggam tanah dengan erat-erat melampiaskan emosinya, tapi itu tak berguna. Sampai saat ini ia sudah menjadi penyebab kematian dari banyak nyawa. Mulai dari desa tempatnya tinggal, desa pamannya, dan desa ini. Pada akhirnya Huo Bing dan Heiliao akan kalah bukan? Setelah itu ular-ular ini pasti akan membantai para warga dan nyawa mereka semua akan melayang karena dirinya. Karena dirinya.


Apa ia memang tidak seharusnya hidup? Apa dirinya adalah sebuah kesalahan? Sebuah hal yang seharusnya tidak pernah ada? Mahkluk pembawa kesialan kemanapun ia pergi? Huo Bing telah mati sekali dan ia akan mati kedua kalinya karena Xika.


Begitu juga dengan Heiliao. Seharusnya tak usah membiarkan serigala itu mengulang hidupnya. Ia tak perlu sesumbar memiliki alasan untuk hidup sementara hidupnya sendiri adalah sebuah kesalahan. Harusnya ia biarkan saja Heiliao mati saat itu. Dengan begitu darah yang mengotori tangannya akan berkurang sedikit.


Ketika berbagai pikiran itu melintas di kepala Xika, perlahan-lahan cahaya matanya meredup. Ia sudah kehilangan semangat. Ia sudah tak memiliki harapan untuk hidup.


"Berjanjilah Xika....."


Janji?


"Berjanjilah bahwa kau tak akan melupakan kami."


Lupa? Kami?


"Berjanjilah untuk mencari kami."


"Temui ayah sepuluh menit kemudian oke?"


Sepuluh menit? Aku telah menunggu selama lebih dari sepuluh tahun dan aku tak pernah menemukanmu! Di mana kau? Kenapa kau meninggalkanku? Apa yang harus kulakukan agar kau kembali?


"Berjanjilah Xika...."


Aku lelah dengan janjiku.


"Berjanjilah......"


Xika berusaha menolak, tapi satu kata itu terus-menerus bergema di kepalanya. Kemudian suara di kepalanya berganti menjadi suara wanita.


"Aku akan selalu menyayangimu, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun dirimu."


Dimanapun? Kapanpun? Apa kau masih menyayangiku setelah selama ini? Setelah meninggalkanku lebih dari sepuluh tahun dan kau masih menyayangiku? Diriku yang telah membuat banyak nyawa melayang?


Kemudian Xika seolah melihat wajah ibunya yang tersenyum cerah tapi penuh kesedihan sedang mengangguk padanya.


Pada saat itu juga, air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. Perlahan-lahan ia terisak. Dan isakannya semakin lama semakin menjadi sampai akhirnya ia meraung-raung menangis sedih.


Berikan aku petunjuk Ibu, Ayah. Berikan aku semangat. Berikan aku harapan.

__ADS_1


"Hiks....hiks......."


Xika berbaring diam. Merenungkan ayah dan ibunya. Apa alasan mereka meninggalkan dirinya? Dan banyak pertanyaan lainnya. Entah sudah berapa lama berlalu. Xika tak tahu apakah Huo Bing dan Heiliao masih bertahan sementara dirinya enak-enak menangis dan bernostalgia.


Tap!


Set!


Masih dengan air mata di wajahnya, Xika bangkit dan berdiri. Masih ada Heiliao dan Huo Bing. Masih ada para warga yang menggantungkan nasibnya pada Xika. Masih ada anak-anak. Ia tak bisa membiarkan mereka mengalami hal yang sama dengan dirinya.


Ia sudah membuang-buang waktu dengan kembali ke kebun bunga ini. Kebun bunga memang penting, tapi nyawa mereka lebih penting. Ibunya pasti akan marah kalau tahu ia lebih mementingkan bunga daripada nyawa.


Xika tak lagi berdiam diri. Ia langsung berlari. Tapi kakinya terlalu lambat. Sedangkan qi nya harus ia hemat untuk mengganggu konsentrasi pimpinan ular. Jadi ia melompat. Dan dari tubuhnya membesarlah sepasang sayap indah berwarna biru kehijauan sepanjang dua setengah meter.


Ia mengepakkan sayapnya kuat-kuat dan membelah angin. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan pimpinan ular yang dikatakan Huo Bing. Memang, disampingnya ada tiga ular Red-4 yang ikut membantu menyegel ruang ini.


Sekali lihat Xika tahu keempatnya sedang membuat formasi untuk menyegel ruang ini. Aneh. Kalau para ular tak tahu kemana Huo Bing dan Xika pergi, kenapa mereka sampai susah payah membuat formasi untuk menyegel ruang ini?


Padahal kalau tak ada Xika, Huo Bing, dan Heiliao, membunuh para warga bukanlah hal yang sulit sampai harus membuat formasi.


Xika menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini bukan itu yang harus ia pikirkan. Yang harus ia pikirkan adalah bagaimana cara mengganggu konsentrasi keempatnya. Haruskan ia membunuh tiga bawahannya lebih dahulu? Xika yakin si pemimpin akan sadar bahwa formasinya melemah tapi tak ada jaminan ia akan menghentikan formasi. Bisa saja ia mengira bawahannya hanya kelelahan dan berhenti sejenak.


Jadi sepertinya menyerang bawahan bukanlah ide bagus. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah pemimpinnya. Tapi mengganggu konsentrasinya pasti akan lebih sulit.


Apa yang harus ia lakukan? Menerobos ruang berkali-kali hingga formasinya hancur? Heiliao saja tak bisa, apalagi dirinya. Menyerang si pemimpin? Bagaimana? Dengan apa? Apa teknik terkuat yang ia punya? Single? Double? Gabungan lima elemen?


Xika ingat bahwa pertarungannya terakhir dengan Lang Jin, ketika ia menggunakan Double, ayunannya terasa berbeda. Kalau ia bisa merasakan perbedaan itu sekali lagi, kemudian menggabungkannya dengan lima elemen dan memberikan tebasan penuh dengan seluruh qinya.......harusnya itu bisa mengganggu konsentrasi si pemimpin sekalipun ia berada di tingkat High-Jack.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia harus berhasil dalam satu percobaan. Ia tak punya banyak waktu. Sosoknya waktu terbang tadi pasti menarik perhatian. Xika menduga tak lama lagi akan banyak ular yang datang.


Tangannya menggapai tumpukan kartu yang melayang di depan dadanya, kemudian menarik dua lembar.


Kalau langit menyaksikan semua yang terjadi di bawah......


Xika menekuk kedua sikunya sampai kartu yang ia pegang menyentuh tubuhnya.


Kalau takdir memang ada......


Pupil Xika menyala lima simbol, bersamaan dengan kartunya yang mulai tertutupi lima warna.


Maka......


Xika mengayunkan kedua lengannya.


Bantulah aku!


SLASH!


Tiga tebasan. Lima elemen. Pemimpin ular.

__ADS_1


DUARRRRRR!!!!!


__ADS_2