Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-243


__ADS_3

Liu Shang dinyatakan kalah karena ia menginjak tanah di luar arena, sementara Xika masih senantiasa mengambang. Setelah pertandingan selesai, barulah ia turun. Tapi ia tidak langsung pergi, ia membawa Liu Shang yang pingsan ke ruang pengobatan.


Tindakannya itu sukses menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai penonton dan para tetua sekte. Para penonton memuji tindakannya yang berbeda di banding pemenang lainnya. Kebanyakan pemenang yang lain tidak bersikap merendah pada Xika. Mereka bahkan tidak repot-repot melihat lawan mereka setelah pertandingan selesai.


Tapi Xika, bukan hanya ia menahan momen terakhir Liu Shang, Xika juga membawa lawannya sendiri langsung ke ruang pengobatan. Ia tidak bersikap sombong dan mengudara seperti pemenang lainnya. Para penonton setuju dengan sikap Xika. Buat apa berbakat kalau tidak memiliki karakter yang baik?


Namun, rupanya para tetua dari sekte dan klan lain tidak sependapat dengan penonton. Bagi mereka, sikap Xika itu tidak diperlukan. Untuk apa mempermalukan diri sendiri dengan membawa lawan ke ruang pengobatan? Meskipun bakatnya bagus, tapi tampaknya mereka enggan untuk menjalin kerja sama atau sekedar memupuk hubungan baik dengan Xika.


Ketika pertandingan Xika selesai, beberapa pertandingan yang lain juga sudah selesai. Kebanyakan pertandingan biasa saja sehingga membuat penonton bosan. Pertandingan antara dua sekte kecil tentu saja tak menarik untuk ditonton. Paling-paling, hanya pertandingan dari sekte besar seperti Burning Abyss Sect melawan sekte kecil yang lumayan menarik untuk ditonton. Tapi itupun hanya pertarungan sepihak. Tak ada yang mengejutkan seperti misalnya, peserta dari sekte kecil mengalahkan lawannya dari sekte besar.


Sejauh ini, pertandingan Xika dan Liu Shang-lah yang paling menarik. Apalagi, Liu Shang berhasil mengubah bayangan bahwa sekte kecil tak selamanya lemah. Meskipun ia kalah, tapi ia telah menunjukkan kemampuan yang menakjubkan. Beberapa sekte besar mulai melirik Rising Flow Sect.


Bahkan, beberapa berpendapat bahwa Liu Shang seharusnya bisa lanjut menuju babak selanjutnya, hanya saja ia kurang beruntung karena mendapat Xika sebagai lawannya. Tentu saja, pendapat mereka bukan tidak berdasar. Pada dasarnya kultivator hanya dapat memanipulasi elemen yang ada di dekat mereka. Beberapa yang lebih berbakat, dapat mengubah qi mereka menjadi sebuah elemen. Tapi mengubah qi menjadi elemen tidaklah semudah kelihatannya. Tidak banyak yang bisa melakukannya dalam jumlah yang besar.


Di pertarungan Xika dan Liu Shang tadi, Xika memiliki keuntungan sebagai kultivator angin. Di sekeliling arena terdapat angin yang dapat ia gunakan sesuka hati. Sedangkan Liu Shang, ia adalah kultivator air. Dan di arena tidak ada air sama sekali. Artinya, ia harus mengubah qinya menjadi elemen air dulu baru bisa menyerang Xika.


Dari fakta inilah banyak yang menganggap Liu Shang cukup jenius. Liu Shang mampu mengubah qinya menjadi air dengan jumlah yang cukup banyak. Mulai dari naga air, akuarium, dan teknik terakhirnya, semuanya itu membutuhkan elemen air yang banyak. Liu Shang yang bahkan belum mencapai Tahap Royal dapat mengubah qinya menjadi air sebanyak itu cukup untuk membuktikan dirinya sebagai jenius.


Di beberapa sudut penonton, ada beberapa pasang mata tajam yang mengamati pertarungan Xika dan Liu Shang barusan. Mereka adalah para peserta dari sekte besar yang mendapat giliran cukup akhir. Mata mereka menyipit ketika melihat pertarungan Xika. Tidak masalah kalau Liu Shang yang menang, karena pria itu berasal dari sekte kecil jadi ia tak akan memiliki banyak teknik dan besar kemungkinan semua tekniknya sudah ia keluarkan di pertarungan barusan.


Tapi masalahnya, yang menang adalah Xika. Mereka menyadari beberapa hal dari pertarungan Xika tadi. Pertama, setelah beberapa pertandingan yang berlangsung, mereka tak mendengar ada peserta lain dari Akademi. Itu artinya, Xika adalah satu-satunya peserta dari kompetisi kali ini. Apa maksudnya itu? Apa Akademi sangat percaya diri dengan Xika sehingga hanya menunjuk dia sebagai satu-satunya peserta? Mereka harus mewaspadai pria itu.


Kedua, Xika tak menggunakan teknik apapun selama pertandingan tadi. Inilah yang membuat mereka cukup resah karena Xika maju ke babak berikutnya. Liu Shang telah mengeluarkan cukup banyak teknik untuk sekte kecil dan Xika berhasil mematahkan semuanya tanpa menggunakan satu teknikpun. Itu artinya, kontrol Xika terhadap elemen sangat menakutkan sampai bisa mengalahkan lawannya tanpa menggunakan teknik. Satu lagi alasan mereka harus mewaspadai Xika.


Juga, Xika berhasil menyembunyikan kemampuannya dengan baik. Berhasil menang tanpa menggunakan satu teknikpun artinya, tidak ada yang mengetahui tekniknya satupun. Musuh yang misterius lebih sulit dihadapi.


---------------------------


Arena 17, Burning Abyss Sect vs Earthquake Sect.


"HEAH!"


WUSH!


BUK!


Han Feng menghantamkan tinjunya tepat ke perut lawannya. Seketika peserta dari Earthquake Sect terbakar seluruh tubuhnya dan tak lagi bisa melanjutkan pertandingan. Pengawas Arena mengernyitkan alisnya melihat Han Feng menghabisi lawannya dengan kejam.


Padahal lawannya beberapa kali hendak menyerah, tapi Han Feng terus menghajarnya tanpa memberi kesempatan bicara. Pada akhirnya, ia mengakhiri pertandingan dengan membakar tubuh lawannya. Sekalipun masih bisa selamat, mungkin akan butuh waktu lama bagi lawannya untuk pulih, dan pada saat itu ia akan tertinggal jauh.


"Hei, Tuan Pengawas, aku menang kan? Kenapa diam saja?"


"Arena 17, Han Feng dari Burning Abyss Sect menang!"

__ADS_1


"Huh, daritadi harusnya."


-------------------------------


Arena 8, Di Clan vs Huang Clan.


Di Lang menutup matanya sesaat, setelah itu membukanya sambil mengentakkan kedua tangannya. Dari bawah tanah, muncul sulur-sulur tanaman yang menyerbu maju menyerang peserta dari Huang Clan. Lawannya berusaha menebas sulur-sulur itu dengan pedangnya, tapi gagal karena sulur Di Lang terlalu kuat.


Akhirnya, Di Lang berhasil membelit lawannya. Melihat lawannya belum menyerah, ia menggerakkan jarinya dan satu lagi sulur penuh duri muncul dari tanah. Ia menodongkan sulur itu ke leher lawannya hingga lawannya terpaksa menyerah.


"Arena 8, Di Lang dari Di Clan menang!"


Setelah melepaskan belitan sulurnya, Di Lang membungkuk hormat kemudian turun dari arena. Pengawas Arena menatapnya dalam diam. Kekuatan Di Lang mungkin tidak kalah dengan Han Feng dari Burning Abyss Sect. Tapi sikapnya masih lebih baik. Meskipun, pandangan sombong masih terlihat di mata Di Lang.


-----------------------------


Arena 19, Immortal Pearl Pavillion vs Coiling Dragon Sect.


Zhen Fang menghilang hingga membuat lawannya menengokkan kepalanya kebingungan. Kemudian, dari empat arah mata angin, pisau angin yang tajam muncul dan menyerang peserta dari Coiling Dragon Sect. Pria itu meraung kemudian mengayunkan tangannya yang telah mengeras hingga ditumbuhi semacam sisik naga dan menghalau keempat pisau angin itu.


SYUSH!


Dari belakang, Zhen Fang muncul. Lawannya cukup percaya diri dengan teknik pertahanannya jadi membiarkan Zhen Fang menyerang. Sayangnya, itu adalah kesalahan besar. Zhen Fang menusuk beberapa titik di punggung lawannya, kemudian berputar dan menusuk titik lain di bagian depan lawannya.


Darah menyembur dari titik-titik yang ditusuk Zhen Fang sebelumnya. Lawannya terdiam kaku tanpa bisa bergerak. Kulitnya mulai mengendur disertai hilangnya sisik-sisik naga di tangannya. Setelah beberapa saat, urat-urat mulai muncul dikarenakan tubuhnya yang tegang dan tak bisa bernafas.


"Tuan Pengawas, apakah saya sudah menang? Tampaknya ia tak bisa bertarung lagi."


"Arena 19, Zhen Fang dari Immortal Pearl Pavillion menang!"


"Terima kasih." Zhen Fang menangkupkan kedua tangannya. Kemudian ia berjalan menuju lawannya dan menusuk beberapa titik lain di tubuhnya.


"Hosh....hosh.....hosh......"


Lawannya langsung menghembuskan nafas keras-keras. Selama beberapa saat tadi, ia benar-benar tak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya benar-benar berhenti. Kalau Pengawas Arena tidak langsung menghentikan pertandingan dan Zhen Fang tidak cepat-cepat membantunya, mungkin ia akan mati.


Banyak orang menatap perwakilan dari Immortal Pearl Pavillion dengan penasaran sekaligus terkejut. Tak ada yang menyangka bahwa Immortal Pearl Paviliion akan ikut berpartisipasi juga dalam Kompetisi Penyambutan tahun ini. Ini pertama kalinya mereka ikut berpaprtisipasi, biasanya mereka hanya menjadi sponsor dan menonton di samping.


Tahun ini, bertambah satu lagi pesaing kuat. Setelah bertahun-tahun, Immortal Pearl Pavillion mulai menunjukkan kekuatannya. Banyak kekuatan besar yang sudah curiga, tapi mereka tak menyangka bahwa Paviliun sekuat ini. Mereka bukan orang bodoh, jadi mereka tahu bahwa dibutuhkan kekuatan yang besar untuk bisa memperdagangkan materi kultivasi. Kalau tidak, Paviliun sudah lama dimakan oleh kekuatan besar lain beserta seluruh kekayaan mereka.


Sebelumnya, ada beberapa sekte besar yang sudah mulai ragu dengan kekuatan Paviliun. Namun, mereka masih dalam tahap penyelidikan. Untunglah mereka tidak terburu-buru. Kalau tidak, melihat kekuatan yang ditampilkan Paviliun hari ini, bisa-bisa sekte mereka tinggal sejarah.


------------------------

__ADS_1


Arena 45, Sky Devouring Castle vs Mammoth Break Clan.


"A-aku menyerah!"


Bahkan sebelum Pengawas Arena mengumumkan dimulainya pertandingan, peserta dari Mammoth Break Clan telah menyerah. Ia tak cukup gila untuk menantang siapapun dari Sky Devouring Castle, bahkan sekalipun itu hanya murid baru. Untuk bisa diterima oleh Sky Devouring Castle artinya ia memiliki kemampuan yang jauh diatas rata-rata.


Tian Li hanya menatap lawannya sekilas sebelum mendengus dan mengalihkan pandangannya.


Pengawas Arena agak kecewa karena tidak dapat menyaksikan murid baru dari Sky Devouring Castle. Ia penasaran dengan kemampuan mereka. Tapi apa boleh buat, lawannya terlalu lemah. Menurutnya, hanya segelintir orang yang akan memilih untuk tetap bertarung meskipun lawannya berasal dari Sky Devouring Castle. Sisanya akan langsung menyerah seperti peserta dari Mammoth Break Clan ini.


"Arena 45, Tian Li dari Sky Devouring Castle menang!"


--------------------------------


Huo Bing memperhatikan beberapa pertandingan. Sama seperti kebanyakan orang, ia juga memperhatikan pertandingan mereka yang berasal dari sekte besar. Sejauh ini, tidak ada yang terlalu berbahaya. Tapi ada beberapa yang patut diwaspadai. Juga, sulit menilai kemampuan mereka karena ini hanya babak penyisihan, jadi mereka hanya mengeluarkan kemampuan mereka seadanya.


Tapi ada yang menarik perhatian Huo Bing. Immortal Pearl Pavillion. Ia mendengar bahwa sebelumnya Paviliun tidak pernah berpartisipasi dalam kompetisi semacam ini. Mereka selalu menjadi sponsor. Apa yang menyebabkan Paviliun menunjukkan taringnya?


Ia jadi teringat dengan pertarungan Xika dan Tian Yin dulu. Sebelum keduanya bertarung, Immortal Pearl Pavillion berhutang pada Xika. Namun pada saat pertarungan, bahkan ketika Xika dihajar habis-habisan, pihak Paviliun hanya diam saja tak melakukan apapun. Hal itu meninggalkan kesan buruk bagi Huo Bing. Kini, ia tak bisa memandang siapapun yang berasal dari Paviliun tanpa pandangan curiga.


---------------------------


Di ruang pengobatan, Xika duduk di samping Liu Shang. Pria itu sadar tidak lama setelah Xika membawanya ke ruang pengobatan. Sepertinya lukanya tidak terlalu parah.


"Kenapa.....kau disini? Apa kau menungguku bangun?" tanya Liu Shang bingung.


"Ada yang ingin kutanyakan. Seingatku, aku tidak terlalu terkenal. Dari mana kau tahu namaku? Mengapa kau menyebutku jenius? Juga, kenapa menetapkan aku sebagai targetmu?"


Liu Shang tersenyum agak kecewa. Ia kira Xika kemari karena khawatir pada dirinya. Tapi sepertinya pertanyaan Xika memang masuk akal. Ia sudah mengetahui Xika lebih dulu daripada orang lain. Pasti Xika merasa curiga karenanya.


"Dua tahun yang lalu, kalau aku tidak salah, beredar sebuah rumor. Di sebuah kota kecil yang tak terlalu terkenal, terjadi pertarungan yang menghebohkan. Kabarnya, pertarungan itu melibatkan jenius nomor satu dari Dinasti Lin, yaitu Tian Yin.


Memang kapanpun sang jenius bertarung pasti akan menyebabkan keributan. Tapi kali ini berbeda. Yang menjadi sorotan utama adalah lawan dari jenius nomor satu ini. Katanya, ia hanyalah seorang pemuda tak dikenal. Namun, ia mampu menyebabkan Tian Yin yang hampir tak pernah terluka menderita luka parah. Bahkan, sekalipun pemuda itu sekarat, ia tetap mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Mungkin, di seluruh Dinasti Lin, hanya pemuda itu yang tak takut terhadap Tian Yin Sang Jenius. Aku tiba di kota itu beberapa hari setelah pertarungan. Sekalipun sudah berlalu, tapi para penduduk kota masih terus membicarakan pertarungan itu seolah baru terjadi beberapa saat yang lalu.


Ketika mendengar kabar pertarungan itu, aku langsung tertarik. Aku bukanlah anak yang berbakat. Sejak dulu, aku hanyalah anak yang biasa saja. Rata-rata dari rata-rata. Kadang kala aku berusaha menantang mereka yang lebih kuat dariku, lebih berbakat, sang jenius. Tapi aku selalu kalah. Jadi, aku yakin bahwa sampai kapanpun aku hanya akan selalu menjadi anak yang biasa. Aku tidak akan pernah melampaui sang jenius sampai kapanpun juga.


Itulah alasan kenapa aku tertarik dengan pertarungan itu. Aku merasa masih ada harapan bagiku yang biasa-biasa saja. Kisah pertarungan antara jenius nomor satu dengan pemuda tak dikenal itu berhasil memotivasiku. Sekalipun ia hanya pemuda biasa, sekalipun ia hanya pemuda tak dikenal, tapi ia mampu memberikan luka berat bagi sang jenius.


Setelah itu, aku menanyai hampir seluruh orang di kota itu untuk mendengar lebih jelas tentang pertarungan itu. Aku ingin mengetahui tiap detailnya, bagaimana kronologisnya, bagaimana mereka bisa bertarung, darimana asal pemuda itu, dan siapa sebenarnya pemuda itu? Aku bahkan melihat bekas pertempuran mereka.


Lalu akhirnya, aku mengetahui nama sang pemuda yang tak dikenal itu.

__ADS_1


Xing Xika."


__ADS_2