Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-136


__ADS_3

"Itu........"


Huo Bing menatap tengkorak yang tergeletak di samping tumpukan batu spasial. Ia tidak pernah tahu bagaimana rupa Tangan Ungu, tapi harusnya ini memang dia karena tak ada orang lain lagi yang bisa kesini. Meskipun begitu, Huo Bing tidak tahu mengapa ahli racun yang banyak ditakuti banyak orang kini berubah menjadi tumpukan tulang tua.


Burung itu menoleh pada Xika meminta penjelasan tapi Xika juga tidak tahu. Ia memberikan gelengan kepala. Sementara Heiliao menatap tulang-belulang itu dengan seksama. Ia seolah sedang menyelediki sesuatu. Keningnya berkerut cukup dalam.


"Ada apa?"


"Ini...........aneh. Tulang ini memancarkan aura yang membuatnya seolah telah berada di tempat ini sangat lama. Berapa lama dari Shu Mang datang sampai kita pergi ke tambang ini?"


"Kira-kira satu bulan. Seharusnya tidak lebih dari itu."


"Mustahil. Tak mungkin mayat manusia berubah menjadi tulang hanya dalam satu bulan."


"Kau lupa aliran waktu di tempat ini berbeda? Bisa saja ia sudah berada di tempat ini ratusan tahun sementara di tempat kita baru berlalu satu bulan."


"Aku tahu. Tapi aliran waktunya tidak seceoat itu juga. Kira-kira hanya 10:1 di tempat ini. Meskipun dikali 30 hari juga tetap tidak bisa membuat mayat menjadi tulang."


Heiliao kembali terdiam. Ia berusaha memikirkan jawaban atas hal ini. Tapi tidak dengan Huo Bing. Burung itu kurang suka berpikir dan lebih suka beraksi. Jadi ia maju dan menyentuh tulang itu.


Tuk!


Krak! Krak!


Huo Bing hanya menyentuhnya dengan pelan, terlebih lagi dia hanya berupa roh jadi sentuhannya harusnya tidak cukup kuat untuk bisa menghancurkan tulang itu dalam sekejap.


"............"


"............"


"Apa kalian merasakan apa yang kurasakan sejak pertama masuk tempat ini? Rasanya seolah ada kekuatan besar yang jauh lebih kuat dariku meskipun dalam masa jaya. Kekuatan itu membuatku ingin menunduk memberi hormat."


"Hmm, ya. Tidak sekuat itu, tapi aku juga merasakannya."


"Eh? Aku tidak merasakannya sama sekali. Malahan aku merasa nyaman di tempat ini. Mengingatkanku akan masa kecil."


"....................Xika."


"?"


"Sepertinya ada kekuatan besar yang mengendalikan tempat ini. Ingat tali dan kartu yang bergerak sebelumnya? Sepertinya mahkluk yang menggerakkan kartu dan tali itu sama dengan mahkluk yang menyebabkan Tangan Ungu menjadi seperti ini."


Raut wajah Huo Bing memburuk. Ia melebarkan sayapnya dan melihat sekelilingnya dengan seksama.

__ADS_1


"Tapi sepertinya mahkluk itu tidak akan menyerang kita. Setidaknya untuk saat ini."


"Kenapa?"


"Karena kau." ucap Heiliao sambil menatap Xika tepat di matanya. Yang ditatap malah menaikkan sebelah alis dan memberikan tatapan bingung.


"Mungkin mahkluk itu punya hubungan baik denganmu jadi tidak menyerang kita, atau karena kau yang memenangkan permainan tadi. Aku tak tahu yang mana. Tapi salah satu dugaanku pasti benar."


Xika menggaruk pelan kepalanya. Sebenarnya ia memang menyadari keberadaan mahkluk yang disebutkan Heiliao. Samar-samar ia bisa merasakan kesadaran lain. Kesadaran itulah yang memberitahunya tentang peta dan letak Tangan Ungu. Tapi entah kenapa kesadaran itu seolah menolak untuk bicara lebih lanjut dengannya. Jadi ia memilih untuk merahasiakannya dari Huo Bing dan Heiliao untuk sementara.


"Berarti untuk sementara tempat ini aman. Apa tak apa kalau kita mengambi batu spasial ini?"


"Aku yakin mahkluk sekuat itu tidak akan mempedulikan batu-batu seperti ini. Mungkin bagi kita ini berharga, tapi baginya ini tak lebih dari tumpukan sampah."


"Kalau begitu ayo kembali. Kita harus mengabari mereka."


Heiliao mengangguk. Xika naik ke punggunya dan mereka berjalan pergi. Tanpa sepengetahuan Xika, Huo Bing dan Heiliao tengah melakukan komunikasi melalui jiwa.


"Di tempat sepert ini........apa kau bisa membuat celah lain? Atau melarikan diri setidaknya?"


"Aku tak yakin. Tapi kalaupun bisa, aku yakin aku tak bisa melarikan diri."


"Menurutmu Tangan Ungu dibunuh dengan cara apa?"


"Cara keji. Mahkluk itu menghisapnya daya hidupnya sampai habis."


"Dugaanku begitu."


"Kalau mahkluk sekuat itu berada di pihak kita, maka itu akan menjadi bantuan yang besar."


"Ya. Tapi aku tak yakin ia akan membantu kita. Meskipun kita tak akan membutuhkan bantuannya untuk waktu dekat."


"Kau benar."


Dan merekapun sampai di depan celah tempat mereka tiba. Entah kenapa, perjalanan kali ini terasa lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin ada kaitannya dengan keberadaan mahkluk misterius itu.


Heiliao hendak melangkahkan kakinya menuju celah, tapi Huo Bing menghentikannya.


"Tunggu dulu. Kalau kita keluar sekarang, apa yang akan kita katakan pada mereka? 'Tangan Ungu telah mati oleh keberadaan misterius. Tempat ini aman. Kejutan!'?"


"Benar juga. Apa yang harus kita katakan pada mereka?"


Jadi Heiliao mengurungkan niatnya untuk melangkahi celah itu. Ia mundur beberapa langkah dan memikirkan apa yang harus dikatakan bersama dengan Xika dan Huo Bing. Pada akhirnya mereka membutuhkan satu jam untuk menentukan apa yang harus dikatakan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita tidak memberitahukan seluruhnya. Mungkin hanya pada Lang Yan dan Xuehao saja. Sisanya kita karang sebagian saja."


"Ya, menurutku juga sebaiknya begitu. Siapa yang akan bicara?"


"Tentu saja kau. Kau pemimpin para serigala. Kau berharap seorang manusia atau roh burung untuk bicara menggantikan sang pemimpin serigala pada para serigala?"


"Ah, ya. Baiklah kalau begitu."


Kemudian mereka menyusun kata-kata untuk disampaikan. Setelah siap, Heiliao melangkahi celah itu dan kembali ke tempat dimana para serigala menunggunya.


WHUSH!


Tap!


Munculnya Heiliao beserta Xika dan Huo Bing menimbulkan tatapan kebingungan bercampur kaget. Baru satu menit berlalu. Kenapa mereka sudah keluar? Apa ada bahaya? Tapi tak mungkin mereka keluar dengan muka seperti itu kalau ada bahaya di balik celah. Apa yang terjadi?


Ada banyak pertanyaan dalam benak para serigala termasuk Lang Yan. Tapi mereka tidak bicara. Mereka menunggu Heiliao bicara lebih dulu.


Serigala hitam besar itu menatap sekelilingnya, kemudian beralih pada salah satu serigala.


"Berapa lama aku pergi?"


"Eh? Ba-baru satu menit." jawab serigala itu karena kaget ditanya Heiliao tiba-tiba.


Heiliao diam sebentar. Ia mengalihkan pandangannya menyusun kata yang harus diucapkannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya.


"Aku tahu kenapa kalian penasaran aku keluar begitu cepat. Apakah ada bahaya? Ya, ada. Tapi tidak dalam waktu dekat. Bagaimana dengan Tangan Ungu? Kami sudah menemuinya. Dan ia sudah tak bernyawa."


Dan seketika itu juga terdengar sorakan dari para serigala. Mereka bersorak atas kematian Tangan Ungu yang merepotkan. Tapi ucapan Heiliao berikutnya menghentikan sorakan mereka.


"Tidak. Jangan bersorak. Bukan kami yang membunuhnya. Ia sudah mati ketika kami menemukannya. Bahaya yang kusebutkan sebelumnya, sepertinya mahkluk itulah yang membunuhnya. Tapi dugaanku ia juga menghabiskan banyak tenaga. Jadi saat kami sampai di tambang itu, mahkluk itu tengah tidur untuk memulihkan kekuatannya.


Tidurnya akan berlangsung cukup lama. Meskipun aku tak yakin berapa lama. Dan satu hal lagi yang masih menjadi pertanyaan bagi kalian, kenapa aku bisa keluar secepat itu? Aku tidak bisa melakukan semua itu dalam semenit.


Dan jawabannya adalah, aliran waktu di tambang itu berbeda dengan di tempat ini. Waktu berjalan lebih cepat di sana. Sejujurnya, aku sudah berjalan selama lebih dari satu jam. Ditambah menyelidiki tambang itu dan mencari mayat Tangan Ungu, mungkin sudah lebih dari dua jam. Tapi bagi kalian, aku baru masuk semenit.


Benar, kita dapat berlatih di tambang itu dan bertambah kuat dengan lebih cepat. Tapi aku melarang kalian melakukan hal itu. Bahkan memasukinyapun tidak. Karena adanya mahkluk berbahaya itu, kalian tidak bisa sembarangan masuk ke tempat itu. Kalian hanya boleh masuk dengan izin kami.


Sekarang, mari kita kembali dan mengadakan pesta perayaa karena bertambahnya harta kita!"


Kalimat terkahir Heiliao kembali menimbulkan sorakan. Kali ini bahkan lebih heboh dari sebelumnya. Mereka bergegas kembali pulang. Ada yang memberitahukan kabar ini pada kerabatnya, ada juga yang langsung mempersiapkan pesta. Tapi tak ada yang memperhatikan Heiliao, Xika, ataupun Huo Bing.


Di tengah keramaian, Heiliao berjalan melewati Lang Yan. Wajahnya serius, tak seperti sebelumnya ketika meminta mengadakan pesta. Dan serigala itu berkata,

__ADS_1


"Panggil Xuehao."


Setelah itu ia pergi dan meninggalkan Lang Yan yang menyadari ada hal lain yang tidak dikatakan Heiliao.


__ADS_2