Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-263


__ADS_3

Angin kencang berhembus dan berhasil menerbangkan kelompok yang berisikan belasan anggota sekte kecil dan menengah. Tak lama kemudian, duri-duri tajam yang terbuat dari es muncul dan menusuk belasan mangsa empuk yang tak dapat berbuat banyak di tengah udara.


JLEB!


Suara benda tajam menembus tubuh terdengar berkali-kali diiringi erangan kesakitan. Xika sebenarnya tidak berniat melukai mereka semua separah itu, tapi tampaknya Liang Jihua tidak terlalu peduli.


Set!


Liang Jihua menarik kembali es-esnya, alhasil belasan tubuh tak berdaya berjatuhan ke tanah. Sebagian yang masih memiliki tenaga tersisa menggunakan jimat dan kembali ke Akademi, sebagian lagi yang tidak memiliki tenaga tersisa hanya bisa pasrah menunggu nasib.


Xika berjalan menuju mereka yang tak memiliki tenaga tersisa, dan membantu mereka kembali ke Akademi. Liang Jihua di belakang menatap Xika dengan aneh.


Setelah selesai mengirim mereka kembali ke Akademi, Xika menoleh dan mendapati gadis buas itu memandangnya dengan heran.


"Apa?"


"Untuk apa kau membantu mereka?"


Sambil mengangkat bahunya, Xika menjawab, "Tujuan kita di babak ini hanya mengeliminasi, bukan membunuh. Serangan yang kau berikan tadi terlalu ganas hingga dapat mengancam nyawa."


Liang Jihua kelihatannya masih memiliki sesuatu di kepalanya, tapi memilih diam. Setelah beberapa saat, gadis buas itu kembali bicara.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?"


Beberapa saat kemudian, Liang Jihua terkejut dengan pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. Ia jarang mengandalkan orang lain, bahkan dalam masalah besar sekalipun. Hanya orang-orang tertentu yang ia mintai bantuan. Dan biasanya bukanlah lelaki.


Mungkin karena strategi Xika terbilang baik dan berjalan lancar sejauh ini, Liang Jihua tanpa sadar jadi mengandalkan Xika. Dalam hati gadis itu mengumpati dirinya sendiri, dan berjanji tidak akan mengandalkan Xika lagi.


Xika juga terdiam selama beberapa saat dengan kening berkerut.


"Rupanya kelompok berisikan sekte besar yang mereka bicarakan adalah kita. Melihat banyaknya jumlah anggota mereka tadi, aku khawatir anggota sebenarnya dari kelompok mereka lebih banyak lagi. Mungkin saja saat ini seluruh anggota sekte menengah dan kecil telah bersatu membentuk aliansi."


"Ka-kalau begitu......." Liang Jihua hampir saja bertanya apa yang harus kita lakukan, tapi untungnya ia berhasil menghentikan dirinya sendiri.


"Kita harus menghubungi Zhen Fang dan lainnya. Mereka perlu tahu hal ini."


Pada saat itu, muncullah pertanyaan yang sama di benak Xika dan Liang Jihua. Bagaimana caranya? Mereka telah berpencar dan tidak memiliki alat komunkasi satu sama lain. Xika pernah dengar ada artefak yang dapat membuat dua orang yang berjauhan dapat saling berkomunikasi, tapi Xika ragu baik Yun Xingzhao maupun Zhen Fang memiliki artefak langka semacam itu.


Mendadak sebuah ide terlintas di benak Liang Jihua.


"Sebelumnya, ketika kita mendengar perkataan mereka, bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"


"Hm? Ah, aku hanya mengubah arah angin hingga suara mereka terbawa ke jarak yang dapat dijangkau telinga kita. Kenapa memangnya?"


"Bisakah kau melakukan sebaliknya? Ubah arah angin itu ke jarak yang dapat dijangkau telinga yang lain."


Mata Xika melebar. "Benar juga. Nona Liang, kau jenius!"


Liang Jihua mendengus puas. "Huh. Tentu saja."


Setelah menutup matanya sebentar, Xika membuka matanya kembali kemudian bicara. Sambil bicara, ia mengalirkan angin untuk membawa suaranya ke segala arah, karena ia tidak tahu pasti di mana letak Zhen Fang dan lainnya.


"Sekte kecil dan menengah bersatu. Sekte besar akan beraliansi. Teman-teman, kita harus bersatu!"


Suara Xika itu terbawa angin dan tersebar ke segala arah. Tidak peduli dimanapun Zhen Fang dan lainnya berada, mereka pasti mendengar ucapan Xika itu. Selain itu, kalimat yang diucapkan Xika tampaknya dua arah. Jadi baik lawan maupun kawan yang mendengar tidak akan langsung bisa membedakan, apakah yang bicara adalah musuh atau teman.


Tapi seharusnya Zhen Fang dan lainnya mengenali suaranya. Itupun kalau para bajingan yang lain mengingat suaranya. Kalaupun mereka tidak tahu, seharusnya mereka mengerti arti dari kalimat itu. Setidaknya mereka tahu bahwa sekte kecil dan menengah semuanya bekerja sama dan tantangan yang mereka hadapi kini semakin besar.


"Sekarang apa?" tanya Liang Jihua. Harus diakui, ia kagum dengan kemampuan Xika dapat menyebarkan suara seperti itu, apalagi pemilihan katanya cukup baik sehingga membingungkan musuh, tapi teman-teman mereka seharusnya mengerti.


"Apa lagi? Kita harus mengeliminasi peserta lain sebanyak yang kita bisa."


Liang Jihua mengangguk, kemudian melesat pergi menyusul Xika.

__ADS_1


Di perjalanan, Xika mendiskusikan langkah berikutnya yang akan mereka lakukan ketika bertemu musuh. Kali ini ia berniat memberikan langkah yang berbeda. Untuk menghemat penggunaan qi, mereka hanya akan menyebarkan serbuk es untuk menghalangi penglihatan dibantu angin Xika.


Serbuk es disini tidak perlu diubah menjadi duri tajam untuk menghemat qi. Setelah mengganggu penglihatan lawan, Xika dan Liang Jihua akan melancarkan serangan diam-diam. Entah berapa banyak lawan yang dapat mereka jatuhkan dalam serangan diam-diam itu, tapi setidaknya lumayan untuk menghemat qi. Selebihnya mungkin mereka harus berimprovisasi tergantung keadaan.


Tak lama kemudian, mereka menemukan mangsa untuk bahan percobaan strategi mereka. Dari kejauhan, terlihat banyak sosok yang tengah mengelilingi sebuah batu. Di atas batu itu, berdiri seorang pria yang tengah mengatakan sesuatu.


Xika menyipitkan matanya melihat jumlah sosok yang ada. Kali ini bahkan lebih banyak dibanding sebelumnya. Lebih dari dua puluh. Kalau mereka bisa menjatuhkan lima orang saja dalam serangan menyelinap, itu akan mempermudah alur pertarungan.


Karena banyaknya jumlah sosok yang ada, keduanya sepakat untuk langsung menyerang tanpa mendengarkan pembicaraan lawan terlebih dahulu. Liang Jihua melemparkan serbuk esnya dan Xika langsung menyebarkannya menggunakan angin.


Srak!


Whush!


"Hei, ini perasaanku saja atau udara menjadi semakin dingin?"


"Ssshhh......jangan berisik, Tu Ge sedang bicara!"


"Tapi....."


"Ssshhhh!!!!"


Beberapa orang lain melotot pada pria pertama karena terlalu berisik. Mereka sedang mendengarkan pemimpin kelompok mereka, orang yang paling berbakat di sekte mereka.


Syung!


Duk!


Bruk!


Xika melayangkan kakinya dan berhasil menjatuhkan seorang. Ia melapisi kakinya dengan angin dan membungkus tubuh lawannya dengan angin, jadi suara yang terdengar tidak terlalu keras dan jelas.


Awalnya, tidak ada yang sadar dengan pria yang dijatuhkan Xika, karena ia adalah pria yang berisik sebelumya. Teman-temannya yang lain malah senang karena ia diam. Tapi beberapa saat kemudian, suasana menjadi semakin hening. Pada saat kelompok itu menyadari mereka sedang diserang, Xika sudah menjatuhkan dua orang lagi.


"Hati-hati! Musuh sengaja menebarkan kabut ini!"


Kemudian, di tengah kepanikan yang menyebar, sebuah suara yang tenang dan dalam berteriak, "Tenang! Jangan panik. Buat formasi! Jangan biarkan musuh bertindak seenaknya!"


Suara yang tenang dan dalam itu berhasil meredakan kepanikan. Anggota kelompok yang lain segera duduk dan mulai menutup mata sambil perlahan-lahan menghubungkan qi satu sama lain. Beberapa saat kemudian, tanah naik dalam jumlah yang banyak dan cukup tebal hingga mengelilingi kelompok tersebut.


DRTT!


SRAK!


"Tch!"


Xika berdecak kesal karena sudah ketahuan musuh padahal ia belum menumbangkan banyak anggota musuh. Sekarang di hadapan keduanya berdirilah sebuah dinding batu yang keras dan tebal. Di saat Xika dan Liang Jihua masih berpikir bagaimana cara menembus benteng itu, salah satu sisi benteng itu mengerut kemudian meluncurkan rentetan duri-duri tajam.


Dan yang berada dalam jalur tembak duri tajam itu adalah Liang Jihua. Tanpa pikir panjang, Xika segera menghempaskan gadis buas itu agar luput dari duri tajam.


TRAK!TRAK!TRAK


SYUSH!


Liang Jihua selamat, tapi itu tidak menghentikannya untuk memberikan tatapan tajam pada Xika. Bukannya berterimakasih, wajah gadis itu malah kelihatan seolah akan membalas Xika untuk hal ini nanti.


GREB!


SRAK!


Dari bawah, tanah naik dan membelit kaki Xika, lalu sebagai pelengkap, duri-duri tajam juga naik dari tanah. Tanah yang menahan kaki Xika memiliki kualitas tidak biasa dibandingkan teknik-teknik lawannya sebelumnya. Rasanya lebih kuat dan kokoh sehingga sulit dipecahkan.


Liang Jihua dengan sigap membentuk dinding es yang menahan duri tajam itu. Sayangnya, dinding es Liang Jihua kurang kuat untuk menahan duri itu, sehingga ia terpaksa berdiri di hadapan Xika dan menahan laju duri tajam itu. Liang Jihua berharap esnya dapat menghentikan duri itu, tapi yang mampu ia lakukan hanyalah memperlambatnya.

__ADS_1


"Cepat menyingkir, bodoh! Kenapa lama sekali?"


Xika berdecak kesal. Ia terpaksa menggunakan qi dalam jumlah yang banyak sekaligus untuk menghancurkan belenggu kakinya. Setelah itu, ia cepat-cepat menyingkir. Liang Jihua juga segera menghindar setelah melihat Xika berhasil lepas.


Syut!


Setelahnya, benteng tanah itu terus menembakkan duri-duri tajam yang memaksa Xika dan Liang Jihua terus menerus menghindar. Setelah beberapa ratus duri tajam yang ditembakkan, bahu Xika bertemu dengan bahu Liang Jihua yang sukses membuat gadis itu memberikan tatapan tajam.


"Sebarkan hawa dingin. Buat benteng itu membeku. Aku akan menembusnya."


Liang Jihua baru saja mengangguk, ketika benteng itu terbelah dan menunjukkan lebih dari dua puluh orang yang melakukan pose yang sama. Insting bahaya Liang Jihua menyuruhnya untuk segera kabur.


"Menyingkir!"


"SERANG!"


Suara yang sama yang berhasil meredakan kepanikan kini meneriakan perintah menyerang. Segera saja tubuh lebih dari dua puluh orang itu bersinar dengan cahaya yang sama, kemudian cahaya tersebut membentuk tubuh mammoth sebesar dua puluh meter.


Kemudian tubuh mammoth itu hilang diserap oleh gadingnya, yang kini berputar merobek angin menuju Xika dan Liang Jihua. Di saat yang bersamaan, terdengarlah teriakan,


"TWIN TUSK REVOLVER!"


Xika mendorong bahu Liang Jihua agar gadis itu menyingkir kemudian mengangkat kedua tangannya menahan putaran gading kembar itu. Sayangnya, ia tidak berhasil. Xika hanya berhasil memperlambat putaran gading itu sedikit. Sambil berdecak kesal, Xika mengubah Space Shifter menjadi tongkat dan melapisinya dengan angin yang juga berputar.


"HEAH!" Xika tak terpikirkan nama yang cocok, jadi hanya itu yang bisa ia teriakkan. Yah, setidaknya tekniknya  cukup mampu bersaing dengan putaran gading musuh.


WHOSH!


BRAK!


Space Shifter Xika bertemu dengan gading kembar lawan hingga tercipta bentrokan besar. Xika kembali mengangkat kedua tangannya dan melapisi Space Shifter dengan angin yang terus-menerus berputar. Sayangnya, itu masih belum cukup.


Kombinasi putaran kedua gading itu masih mampu mendorong Space Shifter Xika sedikit demi sedikit. Yah bagaimanapun juga, teknik gading berputar itu menggabungkan qi lebih dari dua puluh orang. Xika dapat bertahan selama ini saja sudah lebih dari hebat.


Pada saat ini, Liang Jihua harusnya membantu Xika menahan serangan itu, atau memberikan serangan pada musuh karena kini benteng mereka bolong. Mungkin mereka melakukan itu untuk dapat melihat Xika dan Liang Jihua dengan jelas, tapi hal itu membuat mereka rentan serangan.


Sayangnya, Liang Jihua tidak bisa memilih. Ia bingung mana yang harus ia lakukan lebih dulu, antara menolong Xika atau menyerang lawannya. Alhasil, memberikan kesempatan bagi lawan untuk menyerang.


SYUT!


DUAK!


BRUK!


Dinding tanah itu memanjang dan menghantam Liang Jihua dengan keras hingga dirinya terpental beberapa meter. Sekalipun tidak berupa duri tajam, tapi hantaman itu cukup membuat kepala Liang Jihua pusing dan tidak bisa berdiri untuk sementara waktu.


Tidak lama kemudian, Xika juga menyusul. Akhirnya, putaran gading kembar lawannya berhasil memukul mundur Space Shifter Xika dan menabrak Xika dengan telak. Kalau Liang Jihua hanya terhempas dengan keras, Xika terhempas sambil berputar dengan perutnya yang sobek bekas teknik lawan.


BRUK!


Darah menetes dari mulut Xika. Matanya mengernyit melihat sekelilingnya yang mulai membayang. Meskipun begitu, ia masih berusaha untuk berdiri.


SYUT!


BRAK!


Mendadak sekeliling Xika menjadi gelap. Awalnya Xika menduga ia hilang kesadaran. Tapi samar-samar ia masih bisa melihat sosok Liang Jihua yang terbaring tidak jauh darinya. Kalau begitu ia belum hilang kesadaran. Namun, kenapa sekeliling mereka jadi gelap?


"Hahaha......mudah sekali.......Sesuai rencana, kalian masuk rencanaku. Berani-beraninya menantangku, Tu Shi (土石)? Rasakan akibatnya!"


Beberapa saat kemudian, barulah Xika sadar bahwa kini mereka terjebak dalam benteng musuh. Tanah mengelilingi mereka dan mengurung mereka hingga sekelilingnya menjadi gelap.


Sekarang, apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


__ADS_2