
Xika tertegun menatap gadis menawan itu. Kakinya terhenti dengan sendirinya. Segala macam pikiran kembali mengalir dalam kepalanya bagai air deras tanpa bisa ia cegah. Rasa ragu mulai memenuhi hatinya. Apa yang harus ia lakukan? Minta maaf? Menjelaskan apa yang terjadi? Atau berpura-pura tak ada yang terjadi?
Sayangnya, sebelum Xika mengambil tindakan, Xingli sudah melakukannya duluan. Tentu saja, itu sama sekali tak diduga Xika.
SWOSH!
Xingli mengeluarkan auranya dan udara mendadak menjadi dingin. Xika hanya bisa berdecak kagum dalam hatinya. Setelah tidak bertemu, sekarang gadis itu ingin langsung membunuhnya?
SYUT!
Gadis itu mengayunkan pedangnya dan mengirimkan gelombang energi yang ternyata menuju kaki Xika. Lebih tepatnya bayangan di kaki Xika.
"Aw!" Xika melompat kaget.
Serangan itu tepat mengenai bayangan Xika, dimana Heiliao bersemayam di dalamnya. Serigala itu langsung melompat keluar dan menggeram dalam wujud manusianya. Agak aneh, memang kedengarannya. Xikapun beprikir seperti itu.
Xingli menatap Heiliao dengan tajam berharap serigala itu pergi, sayangnya Heiliao tidak mengerti atau mungkin menolak untuk mengerti. Akhirnya gadis itu mengalihkan tatapannya pada Xika dan meminta ia mengusir Heiliao.
Tap!
"Heiliao. Bisa tinggalkan kami sebentar?" Xika menepuk pundak Heiliao. Ia menatap tajam Xingli baik-baik untuk memperingatinya agar tidak berbuat macam-macam, sebelum masuk ke dalam Jade Village sambil mendengus.
Dari sekian banyak pembukaan yang bisa Xika pilih, ia hanya mengatakan, "Hai....?"
Xingli menatap senyum canggung Xika tanpa mengatakan apapun. Kemudian tatapannya bergeser ke mata Xika. Untuk beberapa saat, keduanya saling bertatapan, berusaha membaca pikiran masing-masing.
Berbagai emosi melonjak dalam diri Xika. Marah? Malu? Sedih? Rindu? Bahagia? Ia sudah tak tahu apa lagi. Ia tahu Xingli kadangkala bisa membaca pikirannya hanya dari tatapan, tapi untuk kali ini ia benar-benar berharap Xingli tak bisa membacanya.
Mungkin Xingli mengharapkan hal yang sama juga, karena Xika sendiri juga tidak bisa membaca makna dibalik tatapan Xingli.
Adu tatap antara keduanya berlangsung cukup lama. Untung saja Heiliao tidak ada di sini. Kalau tidak ia akan mati kebosanan.
Setelah serangkaian emosi kompleks yang muncul dalam benak Xingli, akhirnya gadis itu bicara.
"Maaf."
Hanya itu. Satu kata. Tanpa pejelasan.
Xika mengerutkan keningnya. Kenapa Xingli meminta maaf? Apa karena gadis itu baru muncul sekarang? Atau karena ia menghilang tanpa penjelasan apapun? Atau gadis itu menduga ia memiliki hubungan khusus dengan Wu Liao? Xika berharap yang manapun itu, semoga bukan yang terakhir.
"Kenapa kau meminta maaf?"
Xingli menatap mata Xika dan Xika dapat melihat ekspresi yang sangat langka di wajah Xingli, rona merah. Sedikit sekali. Tapi itu tak dapat luput dari penglihatan Xika. Biasanya ia senang. Sangat jarang bagi Xingli untuk menunjukkan ekspresinya, apalagi rona merah di pipinya itu, Xika menduga mungkin hanya dirinya yang pernah melihat hal itu.
Tapi kenapa ia merasa kesal? Xingli meminta maaf karena telah memeluknya? Tidak, pasti bukan itu. Atau.......gadis itu mengira Xika sudah memiliki hubungan dengan Wu Liao, jadi merasa tak enak karena telah membuatnya berjanji untuk meninggalkan Xingli?
Setelah rona merah itu menghilang, tatapan tegas muncul di mata Xingli.
"Ke depannya aku tak akan mengganggu hubung-"
__ADS_1
"AKU TAK PUNYA HUBUNGAN APAPUN DENGAN WU LIAO!"
Xingli tampak terkejut karena Xika berteriak. Xika sendiri tak menyangka dirinya akan berteriak. Tapi ketika ia memikirkan bahwa Xingli benar-benar menduga ia memiliki hubungan dengan Wu Liao itu membuatnya sangat kesal.
"Maaf. Aku sama sekali tak punya hubungan apapun dengan Wu Liao. Tolong jangan berpikir seperti itu. Ya?" Kalimat terakhir Xika ucapkan dengan nada memohon dan Xingli dapat mendeteksi kesedihan didalamnya.
Namun gadis itu masih terlalu terkejut untuk bisa menjawab Xika. Apa ia salah paham? Xika tak punya hubungan apapun dengan Wu Liao? Lalu kenapa ia menyelamatkannya waktu itu? Bahkan menggendong Wu Liao dengan mesra seperti itu, sampai berpelukan di tengah malam. Siapapun yang melihat akan berpikir sama dengan dirinya bukan?
"Tapi kenapa-"
"Tolong!" Xika memotong ucapan Xingli. "Aku sangat ingin mendengarmu berbicara, mengobrol denganmu. Kau bilang kau akan bicara setelah aku berjanji, tapi kenapa kau hanya bicara tentang hal ini? Tak bisakah kita membicarakan hal lain saja?"
Mendengar ucapan Xika itu tatapan Xingli mulai dipenuhi amarah. Ia tahu harusnya ia mulai bicara pada Xika. Ia tahu harusnya ia menceritakan semuanya pada Xika. Namun dirinya masih penuh dengan keraguan. Ia tak tahu apakah Xika akan menerima dirinya, apakah Xika akan menganggapnya aneh, apa yang akan dilakukan Xika setelah tahu tentang dirinya?
Keraguan itu semakin besar ketika ia bertemu Xika bersama Wu Liao. Apalagi setelah lelaki itu menghilang seharian tanpa kabar. Malamnya, ketika ia melihat Wu Liao dan Xika berpelukan, keraguannya hilang sepenuhnya digantikan rasa penyesalan.
Betapa bodohnya dirinya. Semua tingkah lakunya selama ini kepada Xika, dan ternyata pria itu sudah memiliki seorang gadis. Ia butuh sehari penuh untuk menenangkan dirinya dan memperjelas masalah ini. Ia membuat keputusan sulit untuk membatalkan janji itu.
Tak seharusnya ia meminta seorang pria yang sudah memiliki seorang kekasih, untuk tetap bersama dengan gadis selain kekasihnya. Tapi barusan, Xika baru mengatakan ia tak punya hubungan apapun dengan Wu Liao? Dan lagi, ia tak berusaha menjelaskan apapun dan berharap semuanya berlalu begitu saja?
JLEB!
Xingli menusukkan pedangnya ke tanah. Ia menatap Xika dengan amarah di matanya. Xika ingin dirinya berbicara? Kalau begitu ia akan berbicara.
"Kau tak ingin membicarakan hal ini? Kau ingin kita membicarakan hal lain saja? Setelah apa yang kau lakukan pada Wu Liao, setelah berjanji padaku, setelah tidur bersamaku, setelah semua yang terjadi kau tak ingin membahas hal ini?"
Untuk kedua kalinya, Xika tertegun. Ia tak pernah mendengar Xingli bicara sebanyak ini sebelumnya. Dalam momen yang berbeda ia pasti akan senang. Sayangnya ini bukan momen yang tepat. Dan ia baru menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Selama ini ia selalu menghindar. Hatinya sudah jelas tak tertuju pada Wu Liao, dan ia bisa memperjelas hal itu pada Wu Liao, tapi ia tak bisa menjelaskannya pada Xingli. Ia tak pernah memberikan kejelasan hubungan apapun pada Xingli. Karena Xingli selalu diam saja selama ini, ia pikir itu tak masalah selama dirinya juga berpura-pura tak ada yang terjadi. Rupanya ia salah.
Ia bukan ragu menyukai Xingli atau tidak, tapi ia takut. Ia takut akan perasaan Xingli terhadapnya. Bagaimana kalau Xingli hanya menganggapnya sebagai rekan? Atau teman? Bagaimana kalau Xingli merasa jijik pada dirinya setelah ia mengungkapkan perasaannya?
Bagaimanapun juga ia tak pernah menjalin cinta. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia terus diam berharap Xingli memberikannya sebuah petunjuk, semacam penanda bahwa gadis itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Harusnya tak usah.
Betapa bodoh dirinya. Tindakan Xingli selama ini sudah jelas. Tak ada yang bisa memahami tatapan Xingli selain dirinya. Tak ada pria yang pernah melihat ekspresi muncul di wajah beku Xingli. Tak ada pria yang selalu bersama Xingli sepanjang hari. Tak ada pria yang pernah memeluk Xingli. Tak ada pria yang pernah tidur bersama Xingli dan masih hidup setelahnya.
Tak ada seorangpun.
Kecuali dirinya.
Semua tindakannya itu sudah lebih dari cukup. Ia saja yang bodoh tak mampu memahami Xingli. Dan sekarang setelah bertemu kembali, ia ingin membicarakan hal lain? Kini ia sadar bertapa bodoh dirinya. Ia hanya bisa tersenyum pahit dan memberikan umpatan pada dirinya sendiri.
"Xingli.....aku......aku......"
Xingli kembali menatapnya. Tapi kali ini tatapan itu dipenuhi dengan rasa kecewa. Bahkan setelah dirinya sadar bahwa ia mencintai Xingli, ia masih tak berani mengucapkannya?
Tes!
Setetes air mata jatuh ke wajah Xingli yang dipenuhi dengan amarah dan sedih. Sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi.
__ADS_1
Aku mencintaimu. Xika ingin sekali mengucapkan itu. Tapi berbagai keraguan kembali memenuhi kepalanya. Apa yang akan terjadi ke depannya? Apakah mereka sungguh bisa bersama? Ia tak tahu apa-apa mengenai Xingli, begitu juga Xingli terhadapnya. Bisakah mereka bersama? Ia hanyalah seorang bocah desa yang baru bisa berkultivasi setelah bertahun-tahun, sementara Xingli adalah seorang gadis jenius yang memiliki ribuan penggemar. Apakah ia bisa membuat Xingli bahagia? Ia masih harus mencari orangtuanya. Apakah Xingli tidak akan keberatan?Begitu banyak pikiran negatif akan apa yang terjadi membuatnya ragu untuk bicara.
Satu lagi ekspresi ditambahkan ke dalam wajah Xingli. Kekecewaan.
Bahkan setelah semua ini, Xika masih menolak untuk bicara? Ia hanya bisa menelan kepahitan yang ia rasakan dalam-dalam di hatinya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Ia berusaha menahan langkahnya, tapi kekecewaan yang ia rasakan menolak untuk berdiam diri lebih lama lagi.
Gadis itupun berbalik dan pergi meninggalkan Xika.
Xika, setelah bergulat dengan sejuta pikirannya, baru menyadari kepergian Xingli. Ketika ia mengangkat kepalanya, sosok Xingli sudah menghilang hanya menyisakan perasaan nan rumit yang terus bergejolak di hatinya.
Berbekal sejuta pikiran, Xika masuk ke kamarnya dan berkultivasi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
----------------------------------------
Sepanjang perjalanan, berbagai Hewan Spiritual terus bermunculan. Bagaimanapun, malam adalah wilayah para hewan. Kera, kadal, beruang, ular, dan hewan-hewan lainnya terus memenuhi pandangan Huo Bing selama ia berjalan.
Huo Bing, benar-benar seorang pria (atau seekor burung jantan ?) yang menepati perkataannya. Setiap kali hewan-hewan itu muncul, ia melemparkan Qing Hu dengan sigap. Adegan yang sama terulang beberapa kali. Setiap kali Qing Hu membuka matanya, setelah jatuh di dekat hewan buas, ia selalu menemukan bahwa hewan yang menjadi ancaman sebelumnya, kini sudah bukan ancaman lagi.
Huo Bing selalu berhasil menyelesaikannya dengan cepat dan rapi. Ia tak menyisakan jejak untuk Qing Hu lihat. Gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana cara Huo Bing menghabisi hewan-hewan itu. Dan burung itu selalu menggunakan alasan yang sama ketika Qing Hu menanyakan bagaimana caranya ia mengalahkan semua hewan itu.
Akhirnya, mereka berhenti untuk beristirahat setelah Qing Hu memohon seharian. Entah gadis itu memang lelah berjalan, atau lelah karena terus dijadikan umpan oleh Huo Bing tanpa tahu bagaimana burung itu membereskan semua hewan itu.
Huo Bing masih ragu untuk berhenti. Menurutnya kondisi saat ini, dimana semuanya gelap dan kau tak bisa melihat apa-apa, belum terlalu gelap. Qing Hu harus berjanji bahwa dirinya akan tutup mulut dan tidak menanyakan yang aneh-aneh agar Huo Bing mau berhenti.
"Apa kau bisa memasang tenda? Aku kurang mahir memasangnya." ucap Qing Hu sambil memajukan bibirnya berharap Huo Bing akan membantunya.
"Tenda? Untuk apa? Kalau sedang bepergian aku tidur begini saja." ucapnya sambil menjatuhkan diri dan tiduran di tanah berumput hijau yang sayangnya tak dapat terlihat karena gelapnya malam.
Ucapan Huo Bing itu terdengar bagaikan sambaran petir di telinga Qing Hu. Ia membayangkan tidur di tanah beserta segala macam mahkluk yang tinggal di dalamnya. Semut, ular, jangkrik, belalang, nyamuk, siput. Cepat-cepat ia mengenyahkan bayangan itu dari kepalanya.
Ia langsung mengeluarkan tendanya dan berusaha membuatnya seorang diri.
"Kau yakin tidak mau tidur di tanah saja? Kau bilang kau belum mahir memasang tenda. Di sini sangat enak loh. Oh, dan ada sesuatu yang bergerak-gerak di kakiku. Rasanya seperti sedang dipijat."
Entah mengapa, mendadak kecepatan gerak Qing Hu meningkat tiga kali lipat sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Qing Hu sudah selesai dengan tenda jadi-jadian yang atapnya terlihat akan roboh kapan saja. Tapi itu masih lebih baik daripada tidur di tanah seperti Huo Bing. Cepat-cepat ia masuk ke dalam tenda sebelum Huo Bing kembali mengajaknya tidur di tanah.
Kemudian, terdengar raungan hewan buas. Bersamaan dengan raungan itu, ledakan aura spiritual yang luar biasa muncul. Qing Hu menyembulkan kepalanya keluar untuk melihat apa yang terjadi, tapi ia tak bisa melihat apa-apa.
Blar!
Di depannya, api menyala dan memperlihatkan Huo Bing yang sedang duduk di depan api unggun. Qing Hu tahu Huo Bing memiliki penglihatan yang jauh lebih tajam dari dirinya. Huo Bing seharusnya tak membutuhkan api unggun itu. Apa Huo Bing sengaja menyalakan api itu untuk dirinya?
"Tidurlah. Besok akan jadi hari yang tidak biasa."
Qing Hu mengangguk sambil tersenyum.
"Ya!"
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kau yakin tidak mau tidur di luar? Tendamu terlihat seperti akan runtuh sebentar lagi."
"TIDAK!"