Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-183


__ADS_3

Slash!


Tas!


Tebasan Xingli berhasil memotong beberapa helai rambut Xika.


"Uwa....baiklah, baiklah.....aku salah, aku salah....." Akhirnya Xika mengaku salah dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Xingli masih mengayunkan pedangnya beberapa kali baru berhenti. Dari awal sampai akhir, wajahnya tidak memiliki perubahan. Tapi Xika berhasil menangkap beberapa perubahan di matanya. Dan saat ini mata Xingli masih menunjukkan kekesalan pada Xika yang hanya ditanggapi dengan cengiran lebar oleh pria itu.


Gadis itu membuang muka menanggapi cengiran Xika, membuat pria itu mengubah cengirannya menjadi senyum kering. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada kerumunan murid yang sudah tiba sebelum dirinya. Dari sekian banyak murid, tak ada yang mengenakan pin seperti Xingli.


Jadi Xika menebak bahwa mereka yang datang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu peserta ujian dan penonton. Mereka yang memiliki aura kuat jelas datang untuk menjadi Murid Dalam sementara sisanya hendak menyaksikan kehebatan para senior mereka. Xika dapat melihat beberapa murid yang bertarung kemarin.


Para elder itu mempehatikan kerumunan murid sambil mengangguk sesekali. Akhirnya tatapannya mendarat pada Xingli dan Xika. Pandangan rumit tak terbaca memenuhi matanya. Dan pandangan itu bukan hanya ditujukan untuk Xingli seorang, tapi pada Xika, Huo Bing, serta Heiliao.


Setelah mengamati keempatnya sebentar pria-pria tua itu memalingkan wajahnya. Meskipun mereka membawa kertas yang sepertinya akan digunakan untuk ujian, tapi mereka tidak terlihat akan memulai ujian. Sebaliknya, para elder itu terlihat seolah sedang menunggu seseorang.


Xika melihat murid-murid lain dan mereka semua tampaknya masih menunggu seseorang, jadi iapun ikut menunggu. Ia sendiri penasaran siapa yang sebenarnya ditunggu oleh para elder itu?


Sambil membunuh waktu, Xika berusaha mengobrol dengan Xingli, tapi gadis itu hanya memberinya pandangan dingin nan galak tanpa menjawabnya sedikitpun. Biarpun begitu, sesekali Xingli memutar matanya ketika Xika memberi lelucon konyol.


Tidak mendapat reaksi lagi dari Xingli, Xika menghela nafas dan mengeluh pada Heiliao dan Huo Bing. Tanpa ia sadari, ia kembali menjadi sasaran kutukan para pria. Meskipun Xingli tidak menjawabnya, tapi gadis itu masih menanggapinya.


Berbeda sekali dengan tanggapan yang ia berikan pada pria lain. Bahkan tidak bisa disebut tanggapan karena Xingli hanya mengabaikan sepenuhnya setiap pria yang mengganggunya. Tapi tidak dengan Xika. Karena itu banyak orang penasaran sekaligus kesal dengan Xika.


"Huo Bing, dia benar-benar gadis yang aneh. Dia gadis yang galak tapi juga dingin."


"Hm? Memang apa bedanya?"


"Begini, kalau seorang gadis disebut gadis yang galak, biasanya ia banyak bicara. Hanya saja ia mudah marah dan sering ngomel tidak jelas. Tapi ia selalu menanggapi pertanyaan orang. Sedangkan gadis dingin biasanya tak banyak bicara, tapi juga tidak menanggapi pertanyaan orang. Normalnya, gadis dingin itu sebenarnya pemalu.


Tapi Xingli berbeda. Dia perpaduan antara galak dan dingin. Ia tidak menanggapi pertanyaan orang, tapi ia mudah marah dan sering ngomel tidak jelas. Hahhh......aku penasaran mahkluk seperti itu datang dari mana....."


"........"


"Semoga beruntung Xika."

__ADS_1


Melihat tatapan Heiliao dan Huo Bing yang aneh Xika jadi merasakan firasat buruk.


"Apa maksudmu semoga berun-" ucapan Xika terhenti ketika ia berbalik dan melihat Xingli yang kini memegang dua pedang. Kali ini terpancar nafsu membunuh dari gadis itu.


"Sial! Kenapa kalian tidak memberitahuku?" bisik Xika dengan kesal yang hanya ditanggapi dengan siulan Huo Bing.


WHUSH!


Tepat sebelum Xingli mulai mengayunkan pedangnya, angin yang kuat berhembus menerpa semua murid. Itu bukan angin biasa yang berasal dari alam, tapi berasal dari kultivator. Bersamaan dengan munculnya angin itu, Xika dan lainnya merasakn aura kuat yang mendekat.


Tidak lama kemudian angin beserta aura tak biasa itu menghilang. Xika menduga munculnya angin tak biasa itu terkait dengan orang yang ditunggu para elder. Tapi ia tak melihat siapapun datang.


Set!


Xika menoleh dan menemukan semua murid sudah menunduk setengah badan. Xingli juga menunduk meskipun tidak sampai setengah badan. Xika mengikuti arah pandang Xingli dan menemukan seseorang yang tak ada di sana sebelumnya sedang duduk di tengah para elder.


Ia memutuskan untuk mengikuti Xingli, menunduk juga, namun tak sampai setengah badan.


"Hormat pada Penatua Fen!"


Semua murid itu mengucapkan salam dengan serempak. Pria yang dipanggil Penatua Fen hanya mengangguk santai saja. Entah mengapa, Xika merasakan Penatua Fen itu memperhatikan dirinya. Hanya sekilas, tapi ia yakin sekali.


Xika bisa melihat pria itu bukanlah orang yang gila hormat. Meskipun ada elder yang menuangkan teh untuknya, Penatua Fen menerimanya dengan sikap seorang teman, bukan seorang atasan pada bawahan.


"Ekhem! Jadi ujiannya kita mulai saja sekarang."


Mendengar ucapan Penatua Fen, para murid kembali berisik. Mereka saling berdiskusi menebak-nebak seperti apa ujian tahun ini. Ujian peringkat tidak pernah sama tiap tahun. Tapi biasanya memiliki kemiripan satu sama lain. Normalnya, ujian peringkat terdiri dari dua bagian, ujian teori yang menguji seberapa dalam pemahaman para murid terhadap jalur kultivasi, dan ujian praktek yang menguji kemampuan bertarung para murid.


Namun tahun ini berbeda dari biasanya. Ujian peringkat tahun ini dipimpin oleh Penatua Fen yang yang terkenal aneh. Pernah suatu ketika ia membuat ujian peringkat yang terdiri dari dua bagian menjadi satu bagian. Ujiannya pun sangatlah aneh dan tidak bisa ditebak.


Ia pernah meniadakan ujian teori, yang disambut senang oleh banyak siswa, hingga para siswa hanya perlu bertarung satu sama lain agar bisa menjadi murid dalam. Pernah juga ia menghilangkan ujian praktek, yang menuai banyak protes dari para murid, hingga hanya ada ujian teori. Murid yang lulus dalam ujian itu kurang dari setengah yang diperkirakan.


Jadi tidak heran saat ini para murid sangat gugup. Xika berhasil mengetahui informasi itu dari para murid yang berdiskusi. Huo Bing mengajarinya menggunakan auranya untuk berbagai macam hal. Salah satunya adalah untuk mencuri dengan seperti ini. Sementara kegunaan lainnya masih banyak.


"Baiklah. Kurasa sudah cukup kalian berdiskusi. Sekarang akan kuumumkan ujiannya. Karena aku sedang bosan, maka dalam ujian ini kalian harus....."


Tak ada yang bicara. Kali ini bukan karena rasa hormat mereka pada Penatua Fen, tapi karena mereka menanti dengan cemas sambil berharap.

__ADS_1


"Bertarung."


Ucapan itu langsung disambut sorak sorai dari para murid. Bagaimana tidak? Kebanyakan murid lebih mementingkan kekuatan bertarung dibanding pemahaman terhadap kultivasi. Padahal keduanya sama penting dalam jalan keabadian.


"Ah, satu lagi. Agar tidak membosankan, semua murid yang ada disini harus berpartisipasi, tidak peduli murid apa. Dua puluh Murid Luar terkuat akan naik menjadi Murid Dalam. Peringkat lima besar dari keseluruhan akan mendapatkan hadiah dariku."


Perkataan Penatua Fen yang sebelumnya disambut dengan semangat kini langsung memadamkan semangat para murid. Biasanya, murid yang lulus dalam satu ujian peringkat berjumlah empat puluh sampai lima puluh orang. Tapi kali ini hanya dua puluh murid yang akan lulus, jumlah itu tentu saja membuat para murid meneteskan keringat dingin.


Kalau sebelumnya mereka yakin akan lulus karena ujiannya hanya bertarung, maka kini kebanyakan dari mereka tidak yakin bisa menjadi dua puluh besar.


"Kalian akan terus bertarung hingga hanya dua puluh orang yang tersisa. Setelah itu, pertarungan akan dilanjutkan besok."


Kali ini para murid langsung menatap satu sama lain dengan penuh waspada. Beberapa yang lebih cerdas membentuk tim untuk bisa lulus ujian ini. Masalah siapa yang terkuat dan terlemah dalam dua puluh besar tidak menjadi urusan. Yang penting saat ini mereka lulus dulu ke dalam dua puluh besar.


Xika yang melihat suasana semakin memanas hendak melangkahkan kakinya mundur dan menyerah. Ia tidak berencana bergabung dalam pertarungan ini. Bagaimanapun juga, ia baru sehari menjadi murid disini. Tidakkah terlalu cepat langsung mengikuti Ujian Peringkat di hari kedua?


Sring!


Tapi sayangnya sebuah pedang menutup jalan mundurnya. Dan pemilik pedang yang terhunus itu adalah Yin Xingli.


"Permisi? Aku tidak berniat terlibat dalam pertarungan ini."


Xingli menggeleng menolak menarik pedangnya. Ia menatap Xika dengan tatapan teguh. Kalau di artikan dalam kalimat, kira-kira begini bunyinya:


'Aku yakin kau bisa melewati ujian ini. Daripada menunggu setahun lagi, kenapa tidak sekarang saja? Lagipula ada hadiah menanti.'


Xika jadi ragu melihat tatapan Xingli. Haruskah ia mengikuti ujian ini? Bukankah itu terlalu menarik perhatian? Tapi bagaimanapun juga mereka sudah menarik perhatian dari awal. Sudah terlambat kalau hendak menyembunyikan diri sekarang. Jadi akhirnya Xika memutuskan untuk mengikuti ujian ini.


Lagipula, tidak ada larangan untuk membentuk kelompok jadi harusnya ia aman untuk sementara. Dengan Huo Bing, Heiliao, Xingli serta dirinya, Xika yakin tak banyak murid yang bisa mengalahkan mereka.


Ketika Xika selesai berpikir, sudah banyak murid yang membentuk kelompok masing-masing. Ada yang membentuk berdasarkan kepercayaan, ada juga yang hanya didasarkan kekuatan semata. Tapi, dari sekian banyak kelompok, kelompok Xikalah yang menjadi incaran utama.


Mengenai penyebabnya, tentu saja karena cemburu dengan Xika. Mayoritas murid yang ada disini merupakan laki-laki. Jelas mereka tidak senang melihat dewi mereka berdekatan dengan pria lain yang tak jelas asal-usulnya.


Pada saat ini, ketika banyak murid mulai menatap satu sama lain dengan penuh kewaspadaan, dua orang pria tua di dalam bangunan utama akademi sedang menyaksikan apa yang terjadi di Halaman Utama dengan jelas.


"Batle Royal ya......lumayan juga ide Si Tua Fen....."

__ADS_1


"Tapi tidakkah dia terlalu berlebihan? Bukankah Ujian Peringkat diadakan sehari setelah Ujian Masuk untuk menunjukkan kekuatan para senior pada junior yang baru masuk? Kenapa ia malah mengharuskan semua murid ikut serta?"


"Entahlah....Siapa tahu? Mungkin saja ia melakukan itu untuk memancing bibit khusus." jawab pria terakhir dengan senyum misterius yang tak dimengerti rekannya.


__ADS_2