
Xika terbang selama kurang lebih satu setengah jam. Ia terbang dengan gadis berparas cantik bagaikan dewi namun tidak memiliki ekspresi sama sekali.
Gadis itu hanya diam saja tanpa ada perubahan ekspresi sedikitpun seolah pasrah dibawa Xika atau tidak peduli.
Ia menyadari bahwa ia tidak menghabiskan energi sama sekali. Jadi ia cukup santai.
Sebaliknya, Xika lah yang menghabiskan energi. Ia menggunakan elemen angin untuk membawa dirinya pergi dari kepungan Black Scorchpion dan macan ruang, selain itu ia juga membutuhkan konsentrasi yang kuat untuk membawa gadis tersebut dan menjaganya agar tidak jauh.
Jadi setelah satu setengah jam terbang, Xika berhenti kemudian langsung jatuh dari udara karena pikirannya yang terlalu lelah. Qi nya masih ada, namun energi mentalnya sangat terkuras. Jadi Xika jatuh begitu saja dari udara dengan ketinggian 150 meter.
Sementara si gadis yang menemukan bahwa dirinya tak lagi terbang dan jatuh ke tanah, ia sudah siap dan berputar beberapa kali di tanah kemudian mendarat dengan sempurna.
Berbeda dengan Xika yang membuat 'cetakan' dirinya di tanah.
Gadis itu menyeimbangkan tubuhnya kemudian melihat Xika yang kini telah terbenam dalam tanah.
Ia bingung harus berbuat apa.
Awalnya ia berpikir Xika adalah manusia biasa yang mendapat suatu keberuntungan sehingga bisa mengeluarkan aura yang menakuti Spirit Beast. Kemudian ketika ia melihat Xika sedang mandi di sungai ia berpikir bahwa Xika merupakan pria mesum yang ingin melakukan sesuatu padanya jadi ia langsung menyerangnya.
Ia cukup bingung dengan asap yang diciptakan Xika dan kecepatannya yang membuat dirinya menghilang seketika.
Kemudian ia kembali ke hutan dan melanjutkan perburuannya.
Saat dirinya tengah berburu makan siang, sebuah lubang hitam muncul di udara dan menghisap dirinya.
Ia terlempar ke sebuah daerah yang kering kerontang di mana tidak ada satupun mahkluk yang hidup. Hanya ada beberapa pohon kering yang sudah lama mati.
Kemudian ia memutuskan untuk berjalan dan melihat-lihat tempat baru itu.
Dan ia menemukan pria yang sama yang tengah mandi di sungai sedang menyembunyikan dirinya di balik pohon dan sesekali melihat ke arahnya. Orang bodoh sekalipun akan tahu bahwa pria itu berniat melakukan sesuatu padanya.
Tanpa pikir panjang ia menyerangnya dan cukup terkejut bahwa ia bukan manusia biasa. Pria itu bertarung dengan dirinya dan hasilnya cukup seimbang.
Ditambah pria itu memiliki beberapa senjata aneh yang membuat dirinya terpojok. Tapi pria itu cukup adil. Ia mengguanakan senjata pendek ketika dirinya menggunakan senjata pendek dan ketika dirinya menggunakan senjata cukup panjang pria itu juga menggunakan senjata yang panjang.
Tapi entah mengapa ia tahu bahwa pria itu tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya. Meskipun dirinya juga begitu.
Kemudian entah sejak kapan mereka berdua dikelilingi oleh kepungan hewan aneh. Hewan-hewan itu memiliki jumlah yang cukup banyak sehingga membuat dirinya tersudutkan. Pria itu juga sama.
Ketika pria itu berhasil lolos dari kepungan macan aneh yang dapat berpindah ruang, pria itu mendekatinya lagi.
Ia cukup kesal karena meskipun di tengah situasi yang membahayakan nyawa pria itu masih ingin mengambil keuntungan dari dirinya.
Namun pria itu tidak bermaksud buruk. Ia hanya membantu dirinya melarikan diri.
Pria itu membawa dirinya dengan metode yang aneh, tapi cukup nyaman bagi dirinya karena tidak ada kontak fisik sama sekali.
Dan setelah membawa dirinya melarikan diri dari kepungan mahkluk-mahkluk aneh itu, pria itu terjatuh dari udara, entah karena kelelahan kehabisan energi atau ada sebab lainnya.
Kemudian ia mendengar pria itu mengeluarkan suara.
Setelah didengar lebih seksama lagi, ternyata pria itu sedang tidur dengan mukanya yang menghadap tanah. Ia tidak tahu bagaimana pria itu bernafas. Mungkin sekarang sudah tidak bernafas.
Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal sebentar sampai pria itu bangun-kalau ia bangun-untuk berterima kasih padanya.
Namun pria itu tidur cukup lama. Meskipun begitu ia menunggu dengan sabar.
Tanpa sadar, gadis itu menatap Xika saat dirinya tengah memikirkan apa yang terjadi sebelum berakhir di tempat ini.
Xika bangun keesokan harinya setelah tertidur 15 jam. Tidurnya begitu lama karena kelelahan melarikan diri ditambah tidurnya sebelumnya diganggu oleh Huo Bing.
Dalam tidurnya Xika beberapa kali bergerak sehingga kini posisinya menghadap atas.
Ketika ia membuka matanya ia melihat seorang gadis secantik dewi duduk tidak jauh dari dirinya. Jadi Xika menutup kembali matanya dan berpikir itu hanyalah mimpinya.
Xika menunggu beberapa saat kemudian membuka matanya kembali. Ia menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Jadi ia berpikir ia masih bermimpi.
'kenapa mimpi ini tidak selesai-selesai?'
Xika membuka matanya untuk yang ketiga kalinya dan akhirnya sadar bahwa pemandangan gadis secantik dewi di hadapannya bukanlah mimpi.
Ia berbisik pada Huo Bing.
"Psttt..... Huo Bing....."
"Hm? Ada apa?"
"Apa gadis itu di sana selama diriku tidur?"
"Ya."
"Apa yang dilakukannya selama diriku tidur?"
__ADS_1
"Menatap dirimu."
"Sepanjang hari?"
"Tidak juga. Ia menatapmu sekitar setengah jam kemudian mengurusi dirinya sendiri."
"Apa yang dia lakukan sampai menatapku selama itu?"
"Entahlah. Tapi menurutku ia memikirkan berbagai cara untuk membunuhmu."
Dan setelah setengah jam akhirnya ia menemukan metode yang tepat untuk membunuhmu."
"Lalu kenapa aku masih hidup sampai sekarang?"
"Mungkin karena ia ingin membunuhmu ketika kau bangun agar memberikan rasa sakit yang lebih dibanding saat tidur."
"Jadi apa aku terus tidur saja?"
"Mungkin itu ide yang bagus."
"Kira-kira kapan dia akan pergi?"
"Mungkin sekitar seminggu lagi. Setidaknya sampai ia yakin dirimu sudah mati."
Xika cukup merinding mendengar perkataan Huo Bing. Dalam benaknya, alasan wajah cantik seperti itu tidak memiliki ekspresi karena sudah sering membunuh. Dan tidak lama lagi dirinyalah yang akan dibunuh.
Akhirnya Xika memilih untuk bangun karena tidak yakin dirinya bisa bepura-pura tidur selama seminggu. Setidaknya bila ia bangun, ia dapat memberikan perlawanan. Xika lupa sama sekali bahwa dirinya seimbang dengan gadis itu. Perkataan sesat Huo Bing telah mengacaukan pikirannya.
Xika bangun dari lubang tempat ia jatuh sebelumnya.
Ia bangun tanpa mengatakan apa-apa. Begitu juga dengan gadis itu. Ia hanya menatap Xika selama sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.
Xika duduk tidak terlalu jauh dari gadis itu tapi masih dalam jarak yang aman. Kemudian ia menciptakan api.
"Apa kau tidak takut ia mengetahui seluruh kemampuanmu?"
"Tidak apa. Lagipula sudah terlambat. Ia harusnya sudah melihatku menggunakan empat elemen secara bersamaan ketika melawan kepungan hewan-hewan aneh itu sebelumnya."
Gadis itu memperhatikan apa yang Xika lakukan.
Setelah apinya cukup besar, Xika mengeluarkan beberapa mayat Black Scorchpion yang ia bawa sebelumnya.
"Kau tidak takut ia menginginkan cincin spasialmu?"
Lagipula apa yang kau lakukan? Kenapa kau daritadi seolah membuatku curiga dengan gadis itu?"
"Karena aku ingin melihatmu melakukan tindakan konyol di hadapan gadis itu."
"Sialan!"
Xika mengubah Space Shiter mnejadi pisau kemudian menguliti Black Scorchpion. Kulitnya ia buang, sementara ekornya yang beracun ia simpan dengan hati-hati. Kemudian setelah benar-benar bersih dari kulit luarnya, Xika mencuci daging Black Scorchpion itu.
Setelah dicuci bersih, barulah Xika melemparkannya ke api.
Ia melemparkannya begitu saja. Tidak ditusuk kayu atau semacamnya terlebih dahulu, hal yang cukup aneh di mata gadis itu.
Selama Xika menguliti Black Scorchpion, gadis itu menatapnya terus.
Lebih tepatnya menatap Black Scorchpion di tangannya.
Tanpa perlu bertanya pun Xika tahu bahwa gadis itu lapar, tapi ia masih mencoba berbasa-basi dengan gadis itu.
"Apa kau lapar?"
Gadis itu menoleh pada Xika sesaat kemudian kembali memandang Black Scorchpion di tangannya. Ia tidak menjawab, tapi Xika tahu bahwa ia kelaparan.
Setelah bertarung terus menerus kemudian melarikan diri siapa yang tidak kelaparan? Sebenarnya hanya Xika sih yang kelelahan karena melarikan diri. Gadis itu hanya diam, bahkan sempat memulihkan energinya dan beristirahat saat di bawa Xika.
Xika menunggu beberapa saat sampai daging Black Scorchpion benar-benar matang.
Ia tidak mencoba memulai percakapan dengan gadis itu karena kelihatannya gadis itu lebih tertarik menunggu daging Black Scorchpion matang dibanding bercakap-cakap dengan dirinya.
Daging itu sudah matang. Terlihat dari warnanya yang kecoklat-coklatan. Tapi gadis itu bingung bagaimana mengambilnya dan apakah Xika memperbolehkan dirinya memakan dagingnya.
Xika yang melihat hal itu melemparkan kartunya ke daging, kemudian memadamkan apinya.
Kemudian ia memanggil kartunya kembali dan memakan daging itu dengan kartu sebagai pegangannya.
Xika makan dengan lahap tanpa memperhatikan gadis yang kelaparan itu.
"Kenapa kau tidak membagi makananmu? Sebelumnya kau betindak seolah sangat perhatian dengannya kemudian sekarang kau bertindak seolah tidak peduli dengannya. Manusia memang aneh."
"Apa kau mau?" tanya Xika yang telah mengambil potongan daging kedua dan menyodorkannya ke arah si gadis.
__ADS_1
"......." gadis itu hanya diam menatapnya. Bahkan menganggukpun tidak.
"Kau tidak lapar?"
"......."
"Siapa namamu?"
"........"
"Apa kau tidak bisa bicara?"
"........"
Gadis itu benar-benar membuat Xika pusing. Ia bahkan tidak menggerakan kepalanya untuk menjawab. Kini Xika tidak yakin apakah gadis itu tidak dapat berbicara atau tidak mau berbicara. Ekspresinya tidak berubah sama sekali, bahkan ketika Xika makan dengan lahap di depannya.
"Kau boleh makan........"
Gadis itu langsung mengulurkan tangannya.
Tapi Xika melemparkan kartunya mencegah gadis tersebut mengambil daging.
"........Kalau kau memberitahuku namamu."
Akhirnya Xika yakin bahwa gadis itu bisa bicara hanya saja ia ta mau melakukannya. Ia terpaksa menggunakan metode ini. Tadinya kalau percakapan berjalan lancar, ia akan berbicara sambil makan dengan gadis itu, tapi keadaannya tidak berjalan lancar.
"......."
Gadis itu terdiam. Sepertinya ia cukup bergumul meskipun hal itu tidak terlihat di wajahnya. Gadis itu sedang berpikir, namun karena tidak ada perubahan ekspresi pada wajahnya, Xika berpikir ia menolak.
Jadi ia mengambil daging terakhir dan hendak memakannya.
"Yin Xingli."
Xika hendak memakan daging terakhir ketika gadis itu akhirnya berbicara dan memberitahukan namanya.
Suara gadis itu cukup enak didengar karena merdu, jadi Xika ingin mendengarnya lagi.
Ia berpura-pura tidak mendengar perkataan gadis itu jadi Xika membuka mulutnya.
"Yin Xingli." kata gadis itu dengan suara yang lebih keras.
Xika menutup mulutnya sebentar, ia berpura-pura berusaha mendengarkan, kemudian kembali membukan mulutnya.
"Yin Xingli." kali ini suaranya cukup keras hampir teriak.
Namun Xika masih berpura-pura tidak mendengarnya.
Akhirnya gadis itu melemparkan pisau pada Xika.
Xika menghindar kemudian tertawa.
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda."
Xika melemparkan daging dengan kartu yang menancap. Gadis itu menangkapnya dan segera memakannya dengan lahap, tapi tidak kehilangan keanggunannya.
Daging itu langsung habis.
"Apa kau masih lapar?"
"......"
Gadis itu tidak menjawabnya. Kembali seperti sebelumnya.
"Sepertinya kau sudah tidak lapar. Tadinya aku ingin membakar beberapa lagi, tapi kalau kau sudah tidak lapar apa boleh buat."
Gadis itu menatap Xika masih tanpa ekspresi.
"Apa kau masih lapar?"
"......."
"Aku tidak akan memberikanmu daging bila kau tidak menjawabku."
Akhirnya gadis itu mengangguk setelah berpikir dengan muka datarnya selama semenit penuh.
Xika mengeluarkan beberapa daging Black Scorchpion kemudian mengulitinya dan membakarnya.
Gadis itu menunggu dengan sabar.
Setelah matang, ia langsung mengambilnya tanpa menunggu Xika berbicara.
Xika hanya terdiam melihat ini, tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1