Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-282


__ADS_3

"Heh......pantas saja kau percaya diri dengan muridmu, Saudara Jing. Rupanya ia menguasai dua elemen. Tapi apakah kau pikir itu cukup untuk mengalahkan putraku? Selain itu, keadaan tampaknya tidak terlalu baik bagi muridmu. Masih belum terlambat kalau kau ingin menyerah sekarang." ucap Han Li setengah mengejek.


"Yah, entahlah.......kenapa tidak kita lihat saja sampai akhir?" jawab Jing Wei tidak mempedulikan ucapan Han Li dan lebih berfokus menonton perkembangan situasi yang tak terduga ini.


-----------------------


"Hahaha..........rupanya aku membuat pilihan yang tepat untuk tidak mempercayai Immortal Pearl Pavillion." ucap Xika dengan santai sekalipun kini ia tidak bisa menggerakkan punggungnya.


Mendengar perkataan Xika itu Zhen Fang mengerutkan alisnya.


"Saudara Xing, kurasa kurang tepat bagimu untuk bicara seperti itu bukan? Lagipula kaulah yang mengkhianatiku duluan." Mendadak wajah Zhen Fang berubah. Sorot ramah nan hangat di matanya hilang digantikan tatapan kebencian penuh haus darah. "Dan aku sangat membenci pengkhianatan."


"Pftttt........dasar bodoh. Coba katakan itu setelah kau mengurusi cabang-cabangmu dengan benar. Tapi kurasa aku juga sama denganmu. Aku juga membenci pengkhianatan. Dan dalam kasusku kali ini, Immortal Pearl Pavillion telah mengkhianatiku lebih dulu, jadi aku tak pernah menganggapmu sebagai teman."


Zhen Fang menghela nafas gusar. "Saudara Xing, kurasa kau tidak menyadari situasimu saat ini ya? Terserahlah. Aku akan menghajarmu lebih dulu, setelah itu baru kita bisa bicara."


"Bagaimana kalau aku yang menghajarmu, baru setelah itu kita bicara?" ucap Xika masih tidak takut sekalipun lawan bertambah dan keadaan saat ini empat banding satu.


Zhen Fang mengepalkan tangannya. Terdengar suara tulang yang saling bergesekan saat ia mengepalkan tangannya. Namun sebelum ia berhasil memukul Xika, sebuah es muncul di punggung Xika dan melepaskan totokan Zhen Fang, sehingga Xika dapat menghindari serangan Zhen Fang dengan mudah.


Tidak ada ekspresi terkejut di wajah Zhen Fang. Tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa pelaku yang memunculkan es tadi. Di belakangnya, berdirilah sesosok wanita cantik dengan aura dingin di sekelilingnya. "Kurasa ini adalah pilihanmu, Saudari Liang?"


SYUT!


Liang Jihua melompat dan mendarat tepat di antara Xika dan Zhen Fang. Sementara Tian Li, Han Feng, dan Di Lang sedang menonton di belakang, tampaknya akan ada pertunjukkan yang menarik.


"Benar. Ini adalah pilihanku." Liang Jihua menatap Zhen Fang dengan tatapan yang tajam sekaligus kokoh. Tampaknya ia tak akan mengubah keputusannya.


"Kalau begitu, kurasa aku tak memiliki pilihan lain selain menyerangmu. Tenang saja, aku akan berusaha berhati-hati agar tidak menyerang wajahmu." Zhen Fang mengambil kuda-kuda dan bersiap menyerang. Begitu juga dengan Liang Jihua. Keduanya saling bertatapan dan akan menyerang di detik berikutnya kalau saja Xika tidak menyela.


"Tunggu sebentar."


Liang Jihua dan Zhen Fang menatap Xika. Liang Jihua berdecak kesal karena ia tidak jadi menyerang Zhen Fang.


"Kau telah membuat pilihanmu. Aku menghargai pilihanmu." ucap Xika pada Liang Jihua. "Tapi aku juga telah menentukan pilihanku. Karena itu, tolong jangan ikut campur. Aku menghargai niat baikmu barusan, tapi mulai dari sini, adalah pertarunganku. Aku akan meladenimu nanti kalau kau masih ingin bertarung."


Tak ada yang menyangka Xika akan berkata demikian. Semuanya refleks membelalakkan mata mereka. Apa Xika baru saja menolak Liang Jihua? Terserah kalau ia punya masalah pribadi dengan Liang Jihua tapi bukankah ini adalah situasi krisis? Setidaknya ia harus menggunakan segala bantuan yang ia miliki, urusan pribadi dapat diselesaikan belakangan.


Liang Jihua menatap Xika tak percaya. Kakinya mundur selangkah seolah meminta konfirmasi dari Xika apakah ia benar-benar yakin tak membutuhkan bantuannya. Namun ketika melihat tatapan Xika, ia segera menggertakkan giginya. Setelah itu melesat pergi ke batang pohon untuk menonton jalannya pertarungan sambil mendengus kesal.


"Sauadara Xing, aku tidak mengerti apakah kau sangat percaya diri atau harga dirimu terlalu tinggi hingga tak membiarkan seorang gadis membantumu."


"Kenapa? Kau takut kalau dia membantuku?"

__ADS_1


"Heh, bicara menggunakan logika, kau seharusnya tahu bahwa kami menang jumlah. Bahkan tanpa menghitung Saudara Han yang berada di Royal Realm, kekuatan kami sudah melampauimu."


"Bah. Sampah. Bukankah sudah kukatakan tadi? Logika tak berlaku untukku."


"Kalau begitu, biarkan kekuatan kita yang saling berbicara." Sekali lagi, Zhen Fang mengepalkan tangannya dan melayangkannya menuju Xika. Namun kali ini serangan Zhen Fang jauh lebih cepat dan kuat.


Tapi ketika bertarung dengan Xika, Zhen Fang tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Keduanya setara. Tapi yang membuat Zhen Fang kesal adalah sikap Xika. Rasanya Xika masih belum mengeluarkan seluruh kemampuannya dan masih bermain-main.


Selama beberapa saat, Xika dan Zhen Fang saling bertukar serangan tanpa ada yang mengganggu. Selama itu juga, Xika terus memperhatikan Zhen Fang dan pola penyerangannya. Xika belum pernah bertarung dengan ahli totok seperti Zhen Fang, karena itu ia terus berusaha mencari celah dalam serangan Zhen Fang.


SYUT!


Zhen Fang menusukkan jarinya ke punggung Xika. Xika terlambat menghindar sehingga jari Zhen Fang menusuk punggung Xika dengan tepat, dan seketika itu juga perasaan mati rasa yang ia rasakan sebelumnya kembali datang. Punggungnya terasa kaku dan ia tidak bisa menggerakkan punggungnya dengan bebas.


"Heh, bagaimana rasanya? Deadly Fingersku." ucap Zhen Fang sambil tersenyum percaya diri.


"Hm." Xika melihat punggungnya. Sejujurnya, ia tidak memiliki petunjuk sama sekali untuk menghadapi ahli totok. Tapi es Liang Jihua sebelumnya berhasil memberinya ide. Ia menutup matanya kemudian merasakan baik-baik punggungnya yang telah ditotok oleh Zhen Fang.


"Hahaha........kau berniat melepaskan totokanku dengan mengalirkan qi? Percayalah, itu tak akan berhasil. Lebih baik kau menyerah dan memohon ampun padaku sebelum aku menghabisimu."


Sementara itu, Han Feng memperhatikan Xika dalam diam. Sebelumnya, Xika dapat bertarung dengan seimbang dengannya, bahkan berhasil memukul mundur dirinya. Ia tidak percaya Xika dapat dikalahkan dengan mudah oleh anak bawang macam Zhen Fang. Setidaknya, harga dirinya tak membiarkan mangsanya dikalahkan oleh orang lain.


"Ah! Jadi begitu. Pantas saja aku merasa ada yang aneh." Xika menggerakkan kepalanya beberapa kali kemudian terdengar suara tulang yang saling bergesekan.


Zhen Fang menatap Xika tak percaya. Di hadapannya, Xika baru saja menggerakkan punggungnya dengan bebas seolah tak pernah terkena Deadly Fingersnya. Ia terlambat menyadari tendangan Xika yang datang dan hampir saja dihantam kaki Xika kalau Di Lang tak memunculkan akar yang menuju perut Xika.


Xika terpaksa menghentikan tendangannya dan menghindari akar Di Lang.


"Hoi, Zhen Fang! Kurasa sudah saatnya aku juga ikut bergabung!" teriaknya yang berhasil menyadarkan Zhen Fang. Tapi itu tak membuat wajah Zhen Fang jadi lebih baik. Ia masih menatap Xika dengan tak percaya.


"B-bagaimana.......? Selama ini tak ada yang pernah lolos dari teknik Deadly Fingersku. Bahkan mereka yang memiliki pertahanan terkuat sekalipun. Apa yang kau lakukan sampai menghancurkan teknikku?!" Zhen Fang berteriak marah.


"Hahh.....kau sama saja dengan Han Feng. Ketika kebanggaanmu dipatahkan malah berteriak marah sambil menyalahkan orang lain bukannya introspeksi diri. Sederhana saja, aku sudah mengetahui teknikmu. Kau sebenarnya adalah kultivator tanah bukan? Totokan yang kau berikan sebenarnya tidak terlalu berguna. Itu hanyalah penyamaran.


Yang sebenarnya kau lakukan adalah memasukkan qi tanah ke dalam tubuh lawan hingga membuatnya kaku dan tak bisa bergerak. Dalam beberapa kasus, kau bisa menggerakkan qimu dengan bebas di dalam tubuh lawan sehingga dapat menyebabkan mereka tak bisa bernafas atau mengganggu jalannya organ dalam mereka."


"Sudah cukup penjelasannya brengsek!" teriak Di Lang sambil mengerahkan akar-akarnya menuju Xika. Xika menangkis akar-akar itu sambil perlahan-lahan bergerak mundur. Ketika Di Lang merasa puas karena telah memukul mundur Xika, ia mendekati Zhen Fang untuk menyadarkannya dari syok.


"Sadarlah, bodoh."


Sayangnya itulah yang ditunggu Xika. Angin berputar di sekelilingnya, kemudian mendadak ia menghilang dari tempatnya semula. Detik berikutnya ia muncul di belakang Di Lang dengan santai.


"Apa kau kenal Di He, putra ketiga dari Patriarch Di Clan?"

__ADS_1


Di Lang segera melompat mundur menjaga jarak. Ia tak tahu kapan dan bagaimana Xika dapat berpindah secepat itu. Satu hal yang membuatnya semakin mewaspadai Xika.


"Maksudmu anak tak berguna yang sama sekali tak memiliki loyalitas pada klan?"


"Ah....jadi begitu. Tadinya aku ingin bertanya apakah Di He akan marah kalau aku menghajarmu, tapi rasanya itu tak perlu mendengar pandanganmu terhadapnya."


"Brengsek! Berhenti bicara dan hadapi aku!" Di Lang mengerahkan kedua tangannya dan kali ini sulur tanaman muncul di sekeliling Xika membuatnya terjebak di dalam.


Masih dengan ekspresi santai, Xika mengalihkan tatapannya pada Zhen Fang yang tampaknya masih tak bisa menerima fakta bahwa Xika dapat mengerti tekniknya yang dilatihnya bertahun-tahun dalam sekejap.


"Hehehe......kau ingin tahu kenapa aku bisa mengerti teknikmu dalam sekejap?"


Zhen Fang mengangkat kepalanya menanti jawaban dari Xika.


"Yang pertama, adalah bakat. Yang kedua adalah........" Xika membiarkan ucapannya menggantung, kemudian perlahan-lahan ia tenggelam ke dalam tanah di bawahnya.


Han Feng melotot hebat melihat Xika yang tenggelam ke dalam tanah dengan mudah.


"Sinting! Ia bukan manusia!" Bahkan Han Fengpun dipenuhi keterkejutan sekaligus teror ketika melihat apa yang bisa dilakukan Xika.


"A-apa maksudmu?" tanya Tian Li tak mengerti. Tapi ia tahu bahwa sesuatu yang dapat membuat Han Feng yang berada di Low-Jack terkejut dan takut, bukanlah hal biasa.


"Dasar bodoh! Kau masih tak mengerti juga? Lihat baik-baik apa yang barusan ia lakukan? Ia tenggelam ke dalam tanah, bodoh! Itu artinya ia juga menguasai elemen tanah! Api, angin, tanah! Tiga elemen, bodoh!"


Liang Jihua, Tian Li, Zhen Fang, dan Di Lang sekaligus para petinggi sekte yang sedang menonton babak final membelalakkan mata mereka lebar-lebar.


"Gila! Itu tidak mungkin! Tidak mungkin ia bisa menguasai tiga elemen! Dua memang mungkin sekalipun jarang, tapi tiga? Itu mustahil!" Di Lang berteriak tak percaya dengan penjelasan Han Feng.


"Kalau begitu coba jelaskan bagaimana ia bisa menghilang ke dalam tanah kalau ia tidak menguasai elemen tanah? Sebelum itu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ia menggunakan elemen angin dan api!"


Di Lang terdiam tak mampu membalas. Tapi ia masih tak percaya bahwa ada manusia yang dapat menggunakan tiga elemen sekaligus. Ia berpikir keras mencari jawaban yang masuk akal. Saking kerasnya berpikir, ia tak menyadari Xika yang sudah muncul di belakangnya dan melayangkan tendangannya.


"Brengsek, awas!"


Terlambat. Di Lang menoleh ketika Xika melayangkan tendangannya sehingga hidung Di Lang berciuman dengan kaki Xika.


DUAK!


BRUK!


SHHHH!!!!!


Hening. Tak ada suara sama sekali. Semua pasang mata tertuju pada Xika. Tak ada yang menyangka bahwa seekor monster telah mengikuti babak final ini. Dan bodohnya, mereka telah membuat musuh dengan monster seperti itu. Kini perasaan menyesal mulai memasuki hati masing-masing, namun tak ada obat bagi penyesalan di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2