
Saat ini, masih di kamar Xika, keempatnya duduk dan bicara dengan serius. Meskipun sebenarnya sulit bicara dengan serius melihat penampilan babak belur Xika. Adapun alasan Xika babak belur.......yah, tidak perlu disebutkan.
"Ekhem! Baiklah, mari kembali ke topik sebelumnya."
"Kau ingin mengikuti kompetisi itu kan?"
"Ya, dan bukan karena hewan spiritual."
"Lalu?"
Seketika itu juga sorot jenaka yang ada di wajah Xika menghilang digantikan ekspresi sedih bercampur penyesalan.
"Pamanku."
Hanya satu kata itu berhasil mengubah wajah Huo Bing dan suasana senang sebelumnya.
"Kau ingin memenangkan kompetisi itu untuk menyebarkan namamu pada pamanmu bukan? Dengan kompetisi sebesar itu harusnya dimanapun pamanmu berada ia pasti akan mendengar kabarnya." Heiliao menyimpulkan.
Xika mengangguk muram sementara Xingli hanya diam mendengarkan.
"Yah, kurasa tak masalah. Lalu apa kau sudah memikirkan hal apa yang akan kau pinta pada si botak itu?" ucap Huo Bing.
"Entahlah. Kurasa aku akan meminta janjinya. Tapi aku memiliki satu permintaan pada kalian." Xika menatap semua dengan tatapan dalam satu persatu.
"?"
"Kompetisi kali ini, aku ingin kalian berdua tidak ikut."
".........."
Huo Bing membuat ekspresi pura-pura sakit hati.
"Diamlah, Huo Bing. Hanya saja, aku selalu ditemani kalian selama ini. Aku bersyukur karena itu, tapi aku takut tidak akan bisa berkembang. Aku tidak ingin terlanjur mengandalkan kalian dalam segala hal. Ketika ada musuh yang tak bisa kukalahkan, aku berpikir, 'Tak apa. Heiliao atau Huo Bing pasti bisa mengalahkannya.'
Entah sejak kapan pikiran itu muncul di kepalaku. 'Kalaupun aku tak bisa mengalahkannya, Huo Bing atau Heiliao pasti bisa.' Aku ingin kali ini melakukan hal ini benar-benar sendiri. Yah, sebenarnya aku berharap Xingli bersedia menemaniku."
"Bah. Xika, kau menghancurkan suasana, kau tahu?"
"Hahaha.....maaf. Tapi aku membutuhkan seorang rekan yang tidak jauh berbeda kekuatannya."
Xika menatap Xingli menanyakan kesediaan. Dan di mata Xingli, Xika tak melihat sedikitpun keraguan. Yang ada hanyalah tekad untuk bertarung.
"Ah, satu lagi. Aku merasa ada yang mencurigakan dari pria botak itu. Siapa namanya? Jing Wei? Ya, itu dia. Rasanya ia masih menyembunyikan sesuatu."
"Memang benar. Aku juga merasa seperti itu. Aku bisa mengerti kekhawatirannya terhadap penyusup yang masuk. Tapi alasan yang ia buat terlalu buruk."
Heiliao mengangguk setuju. "Meskipun akademi memiliki lebih banyak teknik dibanding sekte dan klan lainnya, tapi tidak mungkin mereka semua tidak memiliki hal yang berharga. Mungkin akademi memiliki sedikit lebih banyak teknik rendah dan menengah, tapi teknik pamungkasnya? Tidak mungkin."
"Yah, kalau begitu kita semua setuju kalau pria botak itu menyembunyikan sesuatu? Ada yang tahu alasannya? Hal berharga apa yang ada di akademi ini sampai mampu membuatnya khawatir seperti itu?"
Xika menatap Xingli, karena gadis itulah yang paling lama berada di akademi dibanding mereka semua, tapi gadis itupun menggeleng.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka dan muncullah Di He membawakan makanan.
"Maaf, aku tak bermaksud menguping. Aku kemari hanya ingin membawakan makanan. Tapi mengenai pertanyaanmu, sepertinya aku bisa menjawabnya. Mungkin."
Huo Bing mengerutkan kening melihat kedatangan Di He, tapi ia tak mengatakan apa-apa.
"Sebelumnya kau bertanya hal berharga apa yang disembunyikan akademi ini bukan? Aku tak tahu pasti, tapi di buku catatan yang pernah kubaca di klanku, Mu Zhan Akademi menyimpan sebuah rahasia besar yang berkaitan dengan kehidupan."
"Dan rahasia itu adalah?"
__ADS_1
"Kalau aku tahu namanya bukan rahasia, dong."
".........."
"Aku menyesal telah berharap padamu, Di He."
"Ahahaha.....maaf, hanya itu saja yang kutahu. Mungkin ayahku menyimpan informasi lebih lanjut tapi aku tak diperbolehkan membacanya." Di He mengusap tengkuknya.
"Ayahmu, maksudmu Pemimpin Klan Di?"
Di He mengangguk membenarkan perkataan Xika.
Xika mengerutkan keningnya. "Rahasia Kehidupan. Itu terdengar cukup menggoda. Kalau Klan Di saja memiliki informasi tentang hal itu, bagaimana dengan klan dan sekte lainnya? Bukankah rahasia itu adalah alasan yang cukup untuk menyerang akademi?"
Ucapan Xika itu mengejutkan semua orang. Tak ada yang mengharapkan bahwa akademi akan diserang.
"Bukankah masa hidup selalu menjadi permasalahan kultivator? Pada dasarnya mereka adalah manusia yang menginginkan kekuatan dan hidup panjang bukan? Kalau ada tempat yang menyimpan rahasia akan kehidupan, mengapa mereka tak menyelidikinya?"
"Xika, kurasa kau salah. Mereka bukannya tak menyelidikinya, mereka sudah menyelidikinya. Kau lupa mengapa pria botak-Jing Wei itu curiga pada kita? Sepertinya sudah ada penyusup yang masuk ke akademi ini. Mereka sudah mulai menyelidikinya, hanya saja belum mengambil tindakan lebih lanjut." jelas Heiliao.
"Jadi maksudmu, semua murid yang berasal dari kekuatan lain datang hanya untuk menyelidiki Rahasia Kehidupan ini?" Xika melirik Di He.
"Tidak semua. Tapi sepertinya ya. Mungkin hanya aku pengecualian."
Setelah itu, tak ada yang bicara untuk waktu yang cukup lama. Lagipula tak ada yang menyangka akademi yang mereka datangi ini menyimpan sebuah rahasia yang begitu besar.
"Aaah! Pembicaraan mengenai rahasia seperti ini membuatku pusing. Xingli, ayo kita berlatih saja. Kompetisinya dua minggu lagi kan? Kita harus belajar bekerja sama." ucap Xika penuh semangat. Yah, sebenarnya dia hanya malas dengan pembicaraan panjang nan berat ini.
Xingli tidak menolak ajakan Xika. Gadis itu berdiri membawa pedangnya dan berjalan keluar kamar Xika.
"Tunggu dulu!"
Xika berhenti dan menatap Huo Bing dengan bingung.
Heiliao bereaksi persis seperti Xingli. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, serigala itu berdiri dan berjalan keluar.
"Err, kalian keberatan kalau aku menonton?"
Huo Bing menoleh dan memberikan tatapan tajam, "Kau dipersilahkan menonton. Tapi kau harus berada dalam jarak pukul Xika."
Di He menggaruk pipinya tak menjawab. Sepertinya Huo Bing masih belum mempercayai dirinya.
---------------------------
Mereka memutuskan untuk bertarung di tempat yang sama dengan pertarungan Xika dan Xingli melawan seluruh Jade Village. Tempat itu cukup luas, dan kini tak ada orang selain mereka, jadi itu adalah tempat yang cocok untuk bertarung.
Huo Bing dan Heiliao berdiri berhadapan di ujung lapangan.
"Kau siap, Serigala Gosong?" tanya Huo Bing sambil membakar dan membekukan kedua lengannya.
"............." Di sekeliling Heiliao, aura hitam samar muncul seperti asap tipis.
"Heh. Kuanggap kau siap."
Syut!
WUNG!
KRTT!
Huo Bing melemparkan bola api dan es dari kedua tangannya. Beberapa meter sebelum serangannya berhasil mengenai Heiliao, serigala itu menghilang dari tempatnya dan muncul kembali di depan Huo Bing.
DUAK!
__ADS_1
Tumit Heiliao berhasil mengenai dagu Huo Bing. Tapi burung itu berhasil menangkap kaki Heiliao dan membantingnya.
Bruk!
Dengan kelenturan tubuhnya, Heiliao memanfaatkan tenaga jatuhnya untuk melempar Huo Bing yang terlambat melepaskan pegangan.
SYUNG!
WHUK!
Tep.
Huo Bing bersalto di udara dan berhasil mendarat dengan sempurna. Sementara Heiliao menatap kakinya yang sebelumnya dipegang Huo Bing. Bercak es mulai menjalar dari bawah.
Krak!
Heiliao menggerakkan kakiya dan bercak es itu pun pecah berkeping-keping. Ketika ia kembali menengok, tendangan Huo Bing kini sudah berada di depan wajahnya.
WHUSH!
Sayangnya, tendangan Huo Bing hanya berhasil mengenai tanah kosong. Sesaat sebelum Huo Bing berhasil mengenainya, Heiliao berpindah tempat. Kali ini bahkan serigala itu berpindah dengan lebih cepat. Tak ada robekan udara, atau aura hitam yang menyelimutinya. Ia langsung menghilang dan muncul kembali di tempat lain begitu saja.
Heiliao muncul beberapa meter jauhnya dari Huo Bing. Serigala itu menyeringai dan mengangkat tangannya, yang kini dilapisi qi berbentuk cakar serigala.
Dash!
Serigala itu melesat mendekati Huo Bing sambil mengacungkan cakar tajamnya. Huo Bing juga menyeringai-dengan versi burung-dan melapisi tangannya dengan qi yang berbentuk bulu-bulu tajam.
Dan merekapun saling beradu serangan. Bulu dan cakar beradu, menimbulkan suara bagai pedang yang saling beradu.
Heiliao menyabet Huo Bing, Huo Bing merunduk sambil menusuk paha Heiliao, Heiliao menendang tangan Huo Bing, Huo Bing menyiku dada Heiliao.
Masing-masing mundur selangkah untuk bernafas. Kemudian kembali maju. Huo Bing mengayunkan kakinya setinggi kepala Heiliao. Bukannya menghindar, Heiliao melayangkan cakarnya menuju dada Huo Bing.
BUK!
TRK!
Heiliao mengangkat tangannya yang satu lagi untuk menahan serangan Huo Bing, sementara burung itu berhasil membekukan cakar Heiliao sebelum mengenai dadanya.
BLAR!
Kemudian dari cakar Heiliao yang membeku, api mulai menyala merayapi tangannya.
SET!
Heiliao kembali menghilang. Tapi Huo Bing tidak diam saja. Ia menyatukan kedua tangannya dan membentuk sebuah bola angin raksasa yang mencakup dirinya dan 100 meter di sekelilingnya.
Di He yang menonton pertarungan itu tak bisa menutup mulutnya. Kalimat pertama yang ia ucapkan adalah,
"Untuk apa bola angin raksasa itu?"
Xika, yang mengamati pertarungan dengan seksama itu menjawab,
"Untuk mendeteksi Heiliao. Huo Bing mengalirkan angin di sekelilingnya, jadi darimanapun Heiliao muncul, Huo Bing bisa merasakannya dari perubahan angin."
Huo Bing telah membuat langkah yang brilian. Tapi Heiliao juga tak akan kalah. Di sekeliling Huo Bing, muncul tujuh lubang hitam. Dengan begitu, meskipun Huo Bing sudah bisa mendeteksi adanya lubang hitam di udara, ia tak tahu dari lubang yang mana Heiliao akan muncul.
DEG!
Mendadak Huo Bing tersentak. Sebuah adegan tentang asap hitam muncul sekilas di kepalanya. Sekilas yang sangat menentukan. Karena pada saat itu, Heiliao sudah muncul dari depan Huo Bing dan berhasil menghantamkan kakinya keras-keras ke dada burung itu.
DUAK!
__ADS_1