Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-90


__ADS_3

Xika berjalan ke berbagai belokan untuk membuat bingung orang-orang Paviliun.


Tidak butuh waktu lama, ia sudah menghilang. Orang-orang Paviliun itu menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sosok Xika, namun tidak berhasil menemukannya.


Mereka berkumpul di sebuah gang. Totalnya empat orang.


"Kemana ia menghilang?"


Yang lainnya menggelengkan kepala mereka.


"Apa kau sudah periksa arah sana?" tanya orang pertama sambil menunjuk arah utara.


"Sudah. Aku bahkan sudah mencari ke arah selatan, tapi tetap tidak menemukannya."


"Apa mungkin mereka masuk ke sebuah toko? Mungkin saja tidak kelihatan karena banyak orang."


"Tidak mungkin. Kita sudah memeriksa toko terdekat yang mungkin dikunjungi mereka dan tetap tidak menemukannya."


Keempatnya terdiam.


"A-apa mungkin...........ia sudah mengetahui keberadaan kita?"


"..........."


"Pftttt.......Huahaha........apa yang kau bicarakan? Tidak mungkin anak semuda itu bisa merasakan kita."


Sebelum ia melanjutkan ucapannya, sebuah suara di samping telinganya berhasil mengagetkannya.


"Kenapa tidak mungkin?"


Pria yang berbicara sebelumnya berbalik kemudian melangkah mundur setelah melihat Xika.


Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Xika dan keempat orang itu saling beradu tatap. Kemudian salah satu dari mereka mengambil pisau untuk mengalihkan perhatian Xika sementara sisanya langsung berlari. Mereka tidak ragu sama sekali.


Tugas mereka adalah mengikuti Xika dan berusaha menyelidiki rahasia yang ia miliki. Bukan untuk bertarung dengannya. Sebelum melaksanakan tugas ini mereka sudah diberi perintah bahwa mereka tidak boleh ketahuan. Bila itu sampai terjadi, lari secepat mungkin dan jangan sampai identitas mereka ketahuan.


Tapi tentu saja Xika tidak akan membiarkan mereka lari. Ia mengubah Space Shifter menjadi tali yang cukup panjang kemudian menggunakannya untuk menahan mereka.


Dua orang yang terlalu kaget berhasil tertahan oleh Space Shifter sementara dua lainnya yang cukup waspada berhasil melewati Space Shifter.


Xika melempar dua kartu pada mereka yang berhasil kabur sementara sisanya ia ikat. Tapi ternyata mereka tidak selemah itu. Kira-kira mereka semua berada di tingkat Forming Qi 3. Space Shifter tidak akan menahan mereka untuk waktu yang lama. Tapi itu berhasil memberikan Xika waktu untuk mengejar dua yang kabur.


Xika melapisi kakinya dengan elemen angin kemudian melompat hingga berada di depan keduanya. Mereka terkejut, tapi tidak lama.


Sadar bahwa Xika tidak akan membiarkan mereka lari dengan mudah, mereka memutuskan untuk melawan. Yang kiri mengeluarkan dua buah pisau sementara yang kanan mengeluarkan pedang.


Si pengguna pedang menyerang duluan. Ia menyabetkan pedangnya menuju leher Xika agar Xika menunduk dan menghadapi pisau kawannya. Tapi rencana tidak berjalan lancar.


Alih-alih membungkuk untuk menghindar, Xika mengeluarkan pedang Bai Feng dan menangkis sabetan itu. Dari arah ketiak pengguna pedang, dua buah pisau muncul mengincar perut Xika.


Si pengguna pisau cukup nekat karena menyerang dari balik punggung temannya, yang berarti ia tidak bisa melihat Xika.


Xika menggunakan pangkal pedangnya untuk melepaskan pisau dari tangan si pengguna pisau. Ia berniat melakukan hal yang sama dengan tangan satunya lagi, tapi si pengguna pedang tidak membiarkannya melakukan itu.

__ADS_1


Ia menusukkan pedangnya yang ditahan Xika dengan bagian datar pedangnya. Si pengguna pisau melangkah maju sehingga kini ia berada di samping pengguna pedang.


Xika berjalan mundur. Ia menoleh ke belakang dan melihat Space Shifter tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ia melompat mundur melewati kedua orang yang terikat itu kemudian menarik Space Shifter hingga dua orang yang sebelumnya masih berusaha membebaskan diri kini lepas.


Kini keempatnya berjalan menuju Xika. Si pengguna pedang dan pisau berada di depan sementara dua yang baru bebas berada di belakang mereka. Keempatnya mengambil posisi bertarung.


Sebenarnya mereka hanya ingin menakuti Xika, tapi melihat tatapan di mata Xika, mereka tahu bahwa mereka masih belum berhasil menakuti dirinya.


Si pengguna pedang dan pisau menerjang maju.


Xika sebenarnya masih memiliki berbagai senjata, bahkan Huo Bing maupun Heiliao belum menunjukkan dirinya, tapi ia tidak mau menunjukkan semua kekuatannya. Senjata yang bisa ia gunakan saat ini hanyalah pisau. Ia tidak ingin menggunakan kartu, entah kenapa. Sebelumnya ia melempar kartu karena tidak ada yang melihat, sekarang keempatnya sedang menatap dirinya. Dua diantaranya mengarahkan senjata mereka pada dirinya.


Xika mengambil pisau yang memiliki beberapa warna di atasnya. Pisau tempaannya sendiri.


Ketika jarak antara pedang dan dirinya semakin memendek, ia melompat hingga berada di atas keduanya.


Ia melakukan gerakan tebasan dengan pisaunya, dan seketika itu juga muncullah gelombang energi yang berhasil melukai keduanya cukup parah.


Selama Xika berada di makam, Huo Bing dan Heiliao mengajarinya bertarung. Mereka memang tidak mengajarinya teknik lain, tapi mereka meminta Xika melakukan Single dan Pair sampai batas maksimalnya. Selain itu, mereka juga melatihnya untuk menggunakan teknik itu dengan senjata lain, bukan hanya kartu. Kata mereka itu cukup penting.


Misalnya ia ingin menyembunyikan identitasnya dengan tidak menggunakan kartu, tapi ia terpaksa menggunakan Single, seperti sekarang ini, itu akan sangat membantu.


"First Way : Single."


Xika hanya mengucapkan nama tekniknya dengan singkat, entah kenapa ia memiliki firasat tidak bisa mengungkapkan Capsah Technique untuk saat ini.


Si pengguna pedang dan pisau langsung terjatuh. Keduanya memiliki garis lebar di dada mereka yang terus-menerus mengeluarkan darah.


Ketika Xika berbalik, keduanya mundur selangkah. Ragu untuk melawan. Ia melempar kartu dari balik jubahnya. Karena telah dilapisi elemen angin, maka keduanya tidak dapat melihat dengan jelas benda apa yang dilemparkan Xika.


Mereka berhasil menangkisnya. Tapi Xika sudah mendekat sehingga mereka tidak bisa melihat benda yang Xika lemparkan. Xika mengeluarkan satu pisau lagi dari jubahnya. Kini ia bersenjatakan dua pisau.


"Cuh!"


Ia melemparkan ludahnya pada orang yang menggunakan kapak sehingga penglihatannya terganggu. Tapi ternyata tidak hanya ia yang terganggu. Bahkan rekannya yang menggunakan tombakpun cukup terkejut dengan gaya bertarung Xika.


Baik Huo Bing maupun Heiliao mengajarkan Xika berbagai hal. Terkadang kita harus menggunakan berbagai cara untuk menang meskipun kelihatannya tidak adil. Meludah hanya salah satunya. Tapi itu cukup berguna untuk mengalihkan perhatian mengingat tidak banyak orang yang akan melakukan hal itu.


Xika berhasil mendaratkan pisau tempaannya di perut pengguna kapak karena perhatiannya teralihkan. Xika yakin itu cukup untuk melukainya. Ia berpindah target.


Si pengguna tombak telah menyingkirkan ludah Xika dari matanya sehingga ia bisa melihat. Hal pertama yang dilihatnya adalah pisau Xika yang mengarah pada dirinya.


Tidak butuh waktu lama untuk Xika mengalahkan pengguna tombak itu. Jaraknya cukup dekat dengan pengguna tombak sehingga itu menguntungkan Xika. Tombak adalah senjata jarak menengah. Pertarungan dengan jarak dekat seperti yang Xika lakukan tadi tentu saja merugikan bagi si pengguna tombak.


Meskipun pisau Xika telah mendarat di perut mereka, tapi keduanya masih belum kehilangan kesadaran. Berbeda dengan dua rekan mereka yang telah terkena Single. Mereka sudah terkapar dengan nyawa yang sebentar lagi akan melayang.


Xika memukul wajah si pengguna kapak hingga ia pingsan. Hal yang sama ia lakukan dengan si pengguna tombak.


Kini keempatnya sudah tak sadarkan diri.


"Sekarang apa? Haruskah kubunuh mereka?" tanya Xika.


Heiliao keluar dari balik jubah Xika sementara Huo Bing membentuk wujudnya dan langsung hinggap di pundak Xika. Mereka berdua saling pandang kemudian menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak perlu. Sampai saat ini hubungan kita dengan Paviliun adalah netral. Kita bukan teman mereka tapi juga bukan musuh. Untuk sementara kita tidak perlu membunuh mereka. Tapi mungkin di masa depan akan berbeda."


Xika mengangguk.


"Jadi mereka harus kuapakan sekarang? Tinggalkan saja?"


"Ya. Ayo cepat pergi sebelum orang lain datang."


Xika memasukkan kembali kedua pisaunya kemudian keluar dari gang itu. Ia sudah memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikannya keluar dari gang itu.


Ia kembali berjalan-jalan. Terasa berbeda setelah tahu bahwa kau tidak diikuti orang lagi. Ia menyusuri kota. Singgah ke berbagai kios-kios di pinggir jalan. Ia melihat-lihat berbagai benda yang dijual di sepanjang jalan tapi tidak ada yang menarik matanya.


Huo Bing dan Heiliao? Mereka tidak memperhatikan hal lain selain makanan. Xika sudah membelikan mereka lebih dari sepuluh jajanan tapi mereka masih memintanya lagi. Xika menghabiskan beberapa jam untuk berjalan-jalan mengelilingi kota.


Matahari sudah mulai turun meskipun belum terbenam. Xika merasa ini sudah waktunya ia mencari penginapan.


Ia bertanya pada beberapa orang dimana penginapan yang cukup bagus. Semuanya memiliki jawaban yang sama.


Hot Spring Inn.


Spring artinya musim semi. Tapi pemiliknya menambahkan kata Hot di depannya yang membuatnya menjadi aneh. Meskipun begitu, tak akan ada yang ragu menyebutnya sebagai penginapan terbaik di kota Yuan.


Setelah bertanya beberapa kali, Xika akhirnya sampai. Di depannya berdiri sebuah bangunan besar yang cukup mewah. Di kiri kanan pintunya terdapat pohon-pohon yang menciptakan kesan musim semi. Bangunan itu cukup unik karena seluruhnya terbuat dari kayu. Meskipun begitu, hal itu tidak mengurangi kesan mewahnya.


"Hei Huo Bing, orang-orang Paviliun kan sudah dibereskan. Apakah masih perlu tinggal di penginapan ini?"


"Siapa tahu mereka mengirimkan orang lagi." ucap Huo Bing sambil mengangkat bahu.


"Kalau begitu setidaknya tidak perlu kamar termahal bukan?"


"Tentu saja perlu. Kau dapat mengetahui anggota kalangan atas dengan berada di lantai yang sama dengan mereka. Kau bisa melihat karakter mereka dan memilih mana yang akan kau jadikan musuh dan teman."


Xika mengerutkan keningnya bingung.


"Bukankah mereka harusnya tinggal di klan mereka masing-masing? Kenapa mereka tinggal di penginapan?"


Huo Bing langsung bersiul-siul sambil mengalihkan pandangannya.


"Pokoknya, sewa saja yang terbaik."


Xika mendesah. Ia masuk ke penginapan itu kemudian memesan kamar terbaik sesuai ucapan Huo Bing. Setelah membayar biaya penginapan di muka, resepsionis memberikan kunci kamar sekaligus mengantar Xika pada kamarnya.


Kamar Xika berada di lantai paling atas, jadi butuh waktu untuk mencapainya. Di tengah jalan, sang resepsionis memberitahu letak pemandian dan rumah makan. Ketiganya terpisah, tapi masih dalam satu bangunan.


"Silahkan Tuan, kamar 826."


Setelah menyerahkan kunci kamar, resepsionis itu membungkuk sambil tersenyum kemudian berbalik kembali ke meja penerima tamu.


Xika tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia melihat-lihat sekelilingnya dulu. Kemudian ia melihat ke bawah. Ada tamu lain yang datang.


Awalnya Xika tidak terlalu peduli, tapi pakaian tamu itu menarik perhatiannya. Lebih tepatnya simbol di bajunya.


Simbol burung dan ular yang sedang bertarung.

__ADS_1


__ADS_2