Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-273


__ADS_3

"Ayo maju." ucap Xika menatap tajam Nan Hai. "Aku ingin melihat apakah kemampuan bertarungmu sebagus kemampuan analisismu."


SYUT!


Selesai bicara, Xika melesat dari tempatnya dan memberikan tendangan melayang pada Nan Hai. Nan Hai yang melihat serangan itu datang, hanya bisa menggertakkan giginya. Ia sendiri tahu, bahwa alasan ia disertakan dalam kelompok pengejar kali ini adalah kemampuan analisisnya, bukan kemampuan bertarungnya.


Set!


Nan Hai menyilangkan tangannya dan menerima tendangan Xika. Ia terhempas beberapa meter hingga membuat jejak di tanah karena kakinya terseret menahan dampak tendangan Xika.


"Hah.......Hah....." Nan Hai menatap Xika dengan tajam. Darimana kekuatan sebesar itu berasal? batin Nan Hai. Itu adalah pemikiran yang wajar. Xika memiliki tubuh yang normal, bukan tubuh besar seperti yang biasa dimiliki pria otak otot. Tapi dalam hal kekuatan, belum tentu Xika kalah dengan pria yang tubuhnya lebih besar.


"Heh. Rupanya kemampuan bertarungmu tidak cukup bagus." kata Xika sembari melayangkan tendangan beruntun. Nan Hai berhasil menghindari satu tendangan sementara tiga sisanya berhasil mengenai wajahnya hingga ia mundur terhuyung-huyung.


Gerakan Xika cukup cepat dan tak terduga, sehingga anggota kelompok pengejar yang lain butuh waktu untuk memproses apa yang sedang terjadi.


"L-lindungi Nan Hai!"


"Y-ya!"


Enam sampai tujuh orang mulai berkumpul bergerak mendekati Nan Hai, tapi sebelum mereka cukup dekat, puluhan duri bayangan muncul dari tanah dan membuat mereka mundur.


"Hehehe......" Xika mengacungkan jempolnya pada Li Tang.


"............."


"U-uhh......" Satu dari tujuh orang yang mendekati Nan Hai melakukan gerakan nekat, ia berniat melewati duri Li Tang. Hasilnya?


JLEB!


Ia tertusuk. Tepat di tengah perutnya.


Kemudian sebagai tindakan pencegahan, Li Tang tidak menarik duri-duri itu mundur melainkan tetap menaruhnya di sekeliling Xika dan Nan Hai agar tak ada yang bisa mengganggu pertarungan mereka. Lagipula, itu memang rencana awal mereka. Selain itu, ia membuat durinya berputar mengelilingi keduanya.


"Apa yang kalian lihat? Aku lawan kalian!" ucap Li Tang mengembalikkan tatapan banyak anggota yang masih terpaku pada Nan Hai dan Xika.


SYUT!


Li Tang melesat maju dan menyerang duluan anggota kelompok pengejar. Ia bertarung dalam jarak dekat sekaligus jarak jauh. Sambil melayangkan tangan dan kakinya, ia memberikan duri atau panah bayangan di sela-sela waktu.


Sementara itu, Xika tersenyum menatap Nan Hai. Ia jadi menikmati pertarungan ini. Kalau hanya melawan Nan Hai, maka tak akan membutuhkan waktu lama. Setelah ia mengalahkan Nan Hai, ia akan membantu Li Tang mengalahkan anggota lainnya dan kembali ke Liang Jihua dan lainnya. Lima puluh orang harusnya lumayan berpengaruh di pertarungan puncak nanti.


SYUT!


BUK!


WHUSH!


DUAK!


Tidak butuh waktu lama, Nan Hai menjadi bulan-bulanan Xika. Sekalipun keduanya adalah kultivator elemen angin, tapi ada perbedaan kekuatan di antara keduanya. Lagipula, sejak awal Nan Hai memang bukan kultivator tipe bertarung. Ia lebih ke tipe pemikir.


Untuk melewati babak pertama saja Nan Hai harus berusaha keras. Pemimpin sektenya percaya akan ada babak Battle Royal dimana ahli strategi seperti Nan Hai akan berguna, karena itulah ia mengikuti kompetisi ini.


BUAK!


BRAK!


Xika memukul perut Nan Hai hingga ia terjatuh. Tidak jauh di belakangnya, duri-duri Li Tang tengah berputar menunggu mangsa yang berani mendekat.


"Baiklah, kau mau menyerah, atau aku harus memaksamu menyerah?" tanya Xika tak memberikan pilihan lain.


Nan Hai menatap Xika dan duri bayangan di belakangnya bergantian sementara bahunya bergetar antara menahan kesakitan atau ketakutan. Kemudian sebelum ia sempat menjawab, suara lain telah menjawab pertanyaan Xika.


"Menyerah? Mungkin kalimat itu harus kau tujukan padamu dirimu sendiri."

__ADS_1


Xika segera memasang posisi waspada. Suara itu kedengarannya berasal dari dalam hutan. Xika tidak mendeteksi keberadaannya. Tampaknya Nan Hai tidak hanya beranggotakan kelompok teri seperti ini. Yah, cukup masuk akal bila kelompok lawan memberikan Nan Hai beberapa penjaga.


Srek....


SYUT!


WHUSH!


Tap!


Tap!


Tap!


Dari balik pepohonan, melesatlah tiga sosok ke hadapan Xika, menghentikannya untuk maju lebih jauh. Sementara Nan Hai terlindungi di belakang mereka.


Xika menatap ketiganya dengan hati-hati. Dua orang pria dan seorang wanita. Pria pertama bertubuh besar dan membawa sebuah perisai yang hampir sebesar tubuhnya. Pria kedua bertubuh lebih kecil, kurang lebih sama dengan Xika. Ia membawa sebuah pedang panjang di punggungnya dan dua buah pisah di pinggangnya. Uniknya, yang berdiri paling depan adalah wanita. Tampaknya yang berbicara sebelumnya juga adalah wanita ini.


Melihat Xika yang menatapnya dengan bingung, wanita itu menjawab,


"Kalau kau meremehkanku hanya karena aku seorang perempuan, kupastikan kau menderita."


"Tidak perlu khawatir. Aku sudah menemui banyak wanita dan beberapa diantaranya memang hebat. Tapi aku tidak yakin kau sehebat mereka. Malahan, aku ragu kau bahkan memiliki kemampuan." ucap Xika dengan senyum provokasi di wajahnya.


Grtt!!


Wanita tersebut menggertakkan giginya. Tapi ia tidak terbawa amarahnya dan menyerang Xika sendirian. Ia memberi tanda agar kedua pria di belakangnya bergerak.


SYUSH!


Satu kedipan mata, dan pria yang membawa pedang telah menghilang dari pandangan Xika. Di hadapannya, si wanita dan pria perisai tersenyum seolah kekalahan Xika sudah dipastikan.


"Kenapa......"


SWUSH!


SYUT!


"........kalian tersenyum seperti orang gila?" ucap Xika sambil mendorong punggungnya ke belakang menghindari sabetan pedang lawannya dengan sempurna.


Tindakan Xika itu sukses membuat senyum keduanya membeku. Mereka tak menyangka Xika dapat menghindari serangan pria berpedang, yang adalah anggota tercepat mereka.


SYUSH!


Kali ini giliran Xika yang menghilang dan membuat Li Tang tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum pria perisai dan wanita itu sebelumnya.


Pria berpedang langsung melihat sekelilingnya dengan waspada. Depan, belakang, kiri dan kanan. Xika tidak ada dimanapun. Dari mana dia akan menyerang?


WHUK!


DUAK!


Jawabannya, dari atas. Xika menjatuhkan tumitnya tepat ke ubun-ubun pria berpedang itu hingga membuatnya terhuyung dan berjalan tak tentu arah. Tapi masih belum cukup. Memanfaatkan gaya pantul yang muncul setelah ia menendang ubun-ubun pria berpedang itu, Xika memutar tubuhnya dan kembali melayangkan tendangan lagi.


SYUT!


TANG!


Sayangnya, kali ini tendangan Xika tidak berhasil mengenai sasarannya karena terhalang perisai pria pertama. Ia cukup terkejut dengan kecepatan pria pertama. Sekalipun tubuhnya besar, tapi geraknya cukup cepat untuk menghalangi tendangan Xika.


Tes!


Tes!


Tetes demi tetes berjatuhan ke tubuh Xika. Ia mengernyit dan melihat ke langit atas. Ini bukan hujan biasa. Setelah menguasai lima elemen, indra Xika terhadap alam menjadi lebih peka. Dan indranya mengatakan bahwa ini bukanlah hujan alami, melainkan hujan yang sengaja dibuat oleh kultivator.

__ADS_1


Mampu mendatangkan hujan berarti lawannya memiliki kemampuan yang lumayan. Teri-teri yang ia lawan sebelumnya tidak mungkin melakukan hal itu. Pilihan yang tersisa tinggal ketiga orang ini. Dilihat dari karakteristiknya, pria perisai itu kemungkinan kultivator tanah, sedangkan pria pedang itu kultivator angin atau api.


Yang tersisa tinggal wanita itu. Tapi ketika Xika menyadari hal itu, ia sudah terlambat.


SYUSH!


Pria berpedang mengayunkan pedangnya tanpa arah. Tapi mendadak ia merasakan perubahan angin. Tepat disaat ia masih mencari tahu apa yang sedang terjadi, tetes-tetes hujan yang sebelumnya hanya membasahi kulitnya, kini menjadi tajam dan menyayat kulitnya.


SRET!


BRET!


SLASH!


CRASH!


"UAKH!!"


"Hohoho........sungguh jeritan yang indah. Aku ingin mendengarnya lagi." Wanita itu tertawa dengan kejamnya.


Tes!


CRASH!


Tes!


BRET!


Tetes demi tetes terus menghujani Xika dan membuat tubuhnya penuh sayat dan berdarah-darah. Xika mendecakkan lidahnya kesal. Hanya trik kecil seperti ini dan musuhnya berani sombong?


"Brengsek. Hanya trik kecil seperti ini dan kau sudah tertawa?"


BAM!


Xika menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah dan seketika itu juga angin puyuh yang cukup besar mengelilingi Xika dan menghempaskan hujan buatan itu ke segala arah.


"Pemenang dari pertarungan ini belum ditentukan, sialan!" Xika menendang tanah melesat maju, tapi belum jauh ia maju, tanah bergetar dan membuat Xika terpaksa menghentikan langkahnya. Penyebabnya adalah perisai yang dihentakkan pria pertama.


Di saat Xika mengangkat kepalanya sepuluh tetes air telah mengelilingi kepalanya. Tanpa memberinya waktu untuk berpikir atau menghindar, kesepuluh tetes air itu meledak.


BLAR!


BLAR!


BLAR!


"Hmph. Hanya segitu saja yang disebut jenius? Mengecewakan. Sekarang mari kita urus satu lagi." ucap wanita itu berbalik menatap Li Tang yang tengah sibuk bertarung melawan kira-kira tiga puluh orang.


"Aku tersanjung, Nona."


Segera saja wanita itu berbalik menatap tak percaya ke balik kepulan asap. Mustahil pria itu bisa selamat dari ledakan sedekat itu. Tapi.......bagaimana mungkin?


"Aku tidak pernah dipanggil jenius sebelumnya. Tapi rasanya kau merendahkanku dengan menyamakanku dengan para jenius yang kau maksud."


"Kau.......bagaimana kau bisa lolos dari ledakan tadi?"


"Ledakan? Oh, maksudmu mainan kecilmu tadi?"


BLAR!


Xika membuat gerakan menyentil di udara dan udara di sebelah wanita itu meledak membuat sebagian perutnya terkoyak.


"AKH!"


CPLAT!

__ADS_1


Wanita itu batuk darah sambil memegang perutnya yang terkoyak erat-erat. Pandangannya mengabur, jalannya sempoyongan tak tentu sampai kedua pria itu membantunya.


"Kau ingin bermain ledakan denganku? Heh, belajar lagi sana!"


__ADS_2