
Xika beserta kultivator lainnya yang telah berkumpul di depan gerbang kota langsung melesat pergi begitu para penjaga menyingkir.
Beberapa orang sudah mulai berkelahi karena hendak keluar duluan, tapi yang melakukan hal itu hanyalah kultivator tingkat rendah.
Xika dan kultivator lainnya memiliki pola pikir yang sama.
Untuk apa bertarung bila belum ada harta?
Jadi selain beberapa kultivator rendahan yang berkelahi di depan gerbang kota, perjalanan Xika menuju makam burung suci itu cukup lancar.
Kini ia sampai di depan gua yang merupakan makam dari burung suci dalam legenda.
Namun entah kenapa, Xika merasa ada yang tidak beres, jadi ia tidak langsung masuk ke dalam makam.
Beberapa kultivator lain juga merasakan hal yang sama dengan Xika. Mereka juga tidak langsung masuk.
Kultivator lain yang datang belakangan juga berhenti karena mengikuti kultivator yang sudah sampai duluan.
Namun ada juga kultivator bodoh yang tidak merasakan apa-apa.
"Hahaha.......kalau kalian tidak mau masuk, biar aku saja yang masuk lebih dulu."
Kemudian kultivator bodoh nan malang itu langsung masuk ke gua itu.
Dan seluruh tubuhnya langsung terbakar.
"AHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!"
Ia berusaha mundur tapi ada sesuatu yang menahannya.
Dan akhirnya, kultivator itu mati terbakar.
"................"
"................"
Para kultivator lainnya diam menyaksikan hal tersebut.
"Apa-apaan ini?"
"Kenapa dia bisa mati terbakar?"
"Semuanya, tolong tenanglah dulu.
Aku akan mencoba memeriksa gua ini."
Disaat kultivator lain mulai ribut dan panik, seorang pria dengan usia yang seumuran dengan Lin Zhu, Qin Mo dan Lian Minjie maju dan memeriksa pintu gua itu.
Yang lain membuka jalan untuk dia.
Pria itu menatap gua itu dengan seksama selama beberapa saat.
"Apa ada sesuatu di depan sana?"
"Benar. Sepertinya ada penghalang disini."
"Apa? Bukankah penghalang itu sudah hilang?"
"Berdasarkan penglihatanku, penghalang ini berbeda dengan penghalang sebelumnya.
Aku belum pernah melihat penghalang sebelumnya yang menjaga makam ini, tapi pasti terasa tua dan tidak berenergi lagi.
Berbeda dengan penghalang yang ini, tidak terasa tua dan penuh dengan energi. Sepertinya ada yang menaruh penghalang ini sebelum kita datang."
Perkataan pria itu kembali membuat kerumunan heboh.
Di tengah kehebohan itu, sesosok mahkluk kecil melompat dari tanah dan menyerang pria yang memeriksa makam sebelumnya.
Pria itu menghindar dengan mudah, namun mahkluk itu malah menyerang orang di belakang pria itu.
"AHH!!!"
Ternyata mahkluk yang menyerang pria itu adalah ular kecil yang berwarna kuning terang.
Saat kerumunan sedang bingung melihat ular yang muncul tiba-tiba dan menyerang salah seorang dari mereka, berbagai serangan lain muncul dan mengincar kaki mereka.
Perasaan Xika sudah tidak enak ketika melihat ular berwarna kuning terang itu dan kini semakin tidak enak ketika tahu bahwa mahkluk-mahkluk yang menyerang para kultivator dari bawah adalah sejenis ular yang sama dengan yang pertama.
Xika langsung melompat mundur ke pohon terdekat.
Beberapa kultivator lain juga mundur untuk menghindari serangan para ular ini. Sementara sisanya ada yang melawan, ada juga yang sudah terkapar tak bernyawa karena racun para ular itu.
"Pertama, penjaga kota menghalangi jalan, setelah itu penghalang di depan makam, dan sekarang serangan dari para ular. Setelah itu apa lagi?"
Xika mendengar salah seorang kultivator yang berada di pohon sebelahnya bicara.
Ternyata ia adalah pria yang sama yang memeriksa penghalang sebelumnya.
Mendadak Xika menemukan hal yang aneh.
"Tunggu dulu, mengapa para penjaga itu menghentikkan kita sebelumnya?"
Pria di sebelahnya menjawab sambil mengangkat bahu.
"Perintah tuan kota mungkin?"
"Benar juga. Tidak ada dari kita yang melihat prajurit tuan kota. Apa kau melihat pasukan tuan kota?" tanya Xika pada pria di sebelahnya.
"Tidak."
"Itu artinya tuan kota sudah pergi lebih dulu sebelum kita. Yang berarti-"
__ADS_1
"-tuan kotalah yang menempatkan penghalang itu?"
Xika dan pria di sebelahnya saling berpandangan.
"Han Mang." ucap pria itu memperkenalkan dirinya.
"Xing Xika."
Xika juga memperkenalkan dirinya.
"Apa kau bisa menghancurkan penghalang itu?"
"Entahlah.......butuh banyak waktu, ditambah ada banyak ular. Begitu aku selesai memecahkan penghalang itu, mungkin harta di dalam sudah habis disimpan oleh tuan kota."
Mereka berdua merenung selama beberapa saat.
Saat ini Xika terpisah dari Lian Minjie, Lin Zhu, dan Qin Mo. Mereka terpisah ketika ular-ular itu mulai menyerang. Masing-masing mundur ke arah yang berbeda.
Ketika Xika masih sibuk berpikir, terdengar suara hantaman yang cukup keras.
BUM! BUM! BUM!
Suara itu berasal dari Qin Mo yang menghantamkan palunya beberapa kali ke tanah membuat para ular kesulitan menyerang karena tanah bergetar.
Kemudian Lin Zhu dan beberapa kultivator lainnya yang berelemen api membakar para ular itu.
Sekarang masalah ular sudah beres, pikir Xika.
Para kultivator kembali berkumpul di depan makam. Xika juga berkumpul dengan Qin Mo, Lian Minjie, dan Lin Zhu.
Han Mang dan beberapa orang lainnya yang sepertinya mengerti tentang formasi maju dan berdiskusi sebentar.
Kemudian mereka mencoba menghancurkan penghalang itu bersama-sama.
-----------------------------------------------------------
Setengah jam berlalu dan penghalang tersebut masih belum hancur.
Salah satu kultivator yang bosan menunggu maju dan melemparkan kapaknya penuju penghalang.
Beruntung Han Mang dan beberapa orang lainnya berhasil menghindari kapak itu.
PRANG!!!!!
"HAHAHA.............untuk apa susah-susah mempelajari formasi. Tinggal hancurkan saja." kata pria itu dengan sombong.
Beberapa orang yang mengerti tentang formasi spiritual cukup tersinggung dengan ucapannya, namun ekspresi Han Mang biasa saja.
Salah seorang kultivator maju dan menginjakkan salah satu kakinya ke dalam gua.
...................
Xika juga lari dengan ketiga orang lainnya.
Gua itu mengarah ke bawah dan setelah berlari selama beberapa saat, Xika dan para kultivator itu menemui banyak lorong dan masing-masing lorong memiliki banyak pintu juga.
Para kultivator itu berpencar dan ketika mereka menemukan harta, mereka mulai bertarung.
Xika dan ketiga orang lainnya mengambil lorong yang cukup sepi dan memasuki pintu yang ada di paling depan.
Pintu itu terbuka dengan mudah.
Ketika Xika melihat ke dalam, ruangan itu sudah kosong.
"Cih, ini pasti perbuatan tuan kota sialan itu."
Kemudian Xika keluar dan memeriksa pintu-pintu lainnya.
Beberapa kosong, sementara yang lainnya masih memiliki harta, tapi tidak terlalu berharga.
"Xika, larilah menuju pintu ketujuh dari paling depan di sebelah kiri."
Xika memanggil Lian Minjie dan lainnya kemudian mereka menuju pintu yang dikatakan Huo Bing bersama.
"Hati-hati."
Xika tadinya ingin langsung membuka pintu itu, tapi ucapan Huo Bing menghentikkannya.
Qin Mo mengambil sebuah batu di tanah kemudian melempar batu itu tepat ke tengah pintu.
TAK!
Lemparan Qin Mo tampaknya telah memicu jebakan.
Beberapa saat setelah batu itu mengenai pintu, beratus-ratus anak panah terbang di depan pintu itu, membuat orang yang berdiri di depan pintu itu akan langsung menerima panah-panah itu.
Beruntung Xika telah diperingatkan oleh Huo Bing dan teman-temannya juga tidak terlalu dekat dengan pintu itu.
Setelah menunggu selama beberapa saat, Xika yakin tidak ada jebakan lagi dan iapun melangkah maju.
Ia membuka pintu dengan tetap waspada.
Tapi sepertinya jebakan yang ada hanyalah panah tadi, dan Qin Mo telah memicunya jadi tidak ada jebakan lagi.
Xika melihat ke dalam dan menemukan ada tumpukan pil di kamar itu.
Ia melihat ke samping, namun tidak ada benda lain.
Tampaknya pil-pil itu adalah satu-satunya harta di ruangan ini.
Lian Minjie menghitung jumlah pil itu dengan cepat.
__ADS_1
"Total ada lima ratus Nirvanna pil."
"Ehh......lima ratus dibagi enam......."
Qin Mo langsung menghitung pembagian jumlah, tapi Heiilao menghentikkannya.
"Aku tidak perlu pil itu. Kalian bagi saja sendiri."
Qin Mo yang mendengar perkataan Heiliao tersenyum senang karena tidak perlu menghitung-hal yang paling tidak disukainya.
"Tidak perlu pembagian jatah. Semua yang ada disini milikku. Kalian pergilah sebelum aku berubah pikiran."
Pria yang sama yang melemparkan kapak tadi muncul dari pintu yang lupa ditutup lagi oleh Lin Zhu yang masuk terakhir.
Pria itu maju selangkah dan Qin Mo langsung menendangnya.
Tendangan Qin Mo berhasil menghempaskan pria itu keluar dari ruangan.
Sambil berjalan keluar, ia berkata,
"Lian Aneh, kau saja yang bagi pilnya. Serahkan orang ini padaku."
Lin Zhu tetap di dalam menemani Lian Minjie kalau-kalau ada bahaya lain, sementara Xika ikut keluar membantu Qin Mo.
Pria itu berdiri berhadapan dengan Qin Mo.
Mereka saling menatap selama beberapa saat.
Kemudian pria itu menganyunkan kapaknya mengincar kepala Qin Mo, sementara Qin Mo mengayunkan palunya untuk menahan kapak pria itu.
Kapak dan palu bertemu dan menciptakan gelombang hantam yang cukup kuat.
Qin Mo dan pria itu saling mengayunkan senjatanya, sementara Xika mengamati dari samping dan membantu bila dibutuhkan.
Pria itu menendang batu dan menggangu penglihatan Qin Mo. Ia langsung mengayunkan kapaknya menuju kepala Qin Mo.
Xika berlari dengan elemen angin di kakinya dan melompat menendang kapak pria itu untuk mengubah arah serangannya.
Kapak pria itu tergeser dan mengenai tanah di samping Qin Mo dan membuatnya retak.
"Cih, sialan."
Pria itu mengangkat kapaknya, hendak menyerang Xika yang paling dekat, tapi belum sempat ia mengayunkan kapaknya, Qin Mo sudah memukulkan palunya ke tanah sampai bergetar sehingga pria itu kehilangan keseimbangan.
Xika langsung menyerang pria itu secepat yang dia bisa menggunakan pisau pemberian Lian Minjie.
Pria itu terus mundur karena serangan Xika sementara Xika tidak menghentikkan serangannya.
Tubuh pria itu cukup besar, mungkin itu alasannya menggunakan kapak, tapi hal itu membuatnya lambat. Xika yang badannya lebih kecil dapat menyerang pria itu dengan mudah.
Xika mengakhiri rentetan serangannya dengan tendangan melompat.
Pria besar itu melangkah mundur beberapa kali karena tendangan Xika kemudian terdengarlah suara perangkap dipicu.
Dan sebuah formasi bersinar di bawah pria itu.
Formasi itu mengurung sekaligus menyerangnya.
"AHHHHHHHHHH!!!!!!!!"
Pria itu berusaha keluar dari formasi itu dengan segala cara, namun tak berhasil.
Tidak lama kemudian pria bertubuh besar itu kehilangan nyawanya di dalam formasi yang ia hina sebelumnya.
Dari balik batu besar dekat formasi itu bersinar sebelumnya, keluarlah sosok Han Mang.
"Heh, bagaimana rasanya mati oleh formasi yang kau hina?" katanya sambil menendang tubuh besar pria itu yang sudah tidak bernyawa.
Xika cukup terkejut melihat Han Mang membantunya.
Ia berdiri dengan santai, tapi tatapannya penuh dengan kewaspadaan.
Kemudian Han Mang menoleh dan melihat Xika.
"Ah, tidak perlu berterima kasih padaku. Aku tidak bermaksud membantu. Hanya dendam pribadi."
Xika hanya diam menatap Han Mang.
"Tidak perlu khawatir, aku tidak tertarik dengan harta yang kau temukan. Sampai jumpa." kata Han Mang berjalan pergi sambil melambaikan tangannya.
Qin Mo datang dan berdiri di sebelah Xika.
"Kau kenal dengannya?"
"Kami hanya berbicang sebentar."
"Dia pria yang berbahaya."
Xika mengangguk setuju dengan ucapan Qin Mo.
Kekuatan pria besar itu cukup kuat karena mampu memecahkan penghalang makam sebelumnya. Namun Han Mang mampu membunuh pria itu dengan formasinya tanpa ketahuan oleh Xika dan lainnya. Ditambah, formasinya cukup mematikan karena tidak butuh waktu lama untuk membunuh pria itu.
Qin Mo menatap sebentar mayat pria besar itu sebentar kemudian berjalan kembali ke Lian Minjie. Xika juga mengikuti.
"Ini bagianmu."
Lian Minjie sudah menyisakan tiga tumpukan terpisah, untuk Xika, Qin Mo, dan Huo Bing, sementara bagiannya dan bagian Lin Zhu sudah disimpan lebih dulu.
'Dengan ini, lunas sudah hutangku dengan Xingli.' pikir Xika.
Setelah menyimpan pil-pil itu, mereka keluar dan mencari harta lain.
__ADS_1