Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-264


__ADS_3

Sayangnya, Xika tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Beberapa kerutan mulai muncul di sisi dinding tanah yang berarti tidak lama lagi Xika akan dihujani duri-duri tajam. Tubuhnya terluka, sementara Liang Jihua tak sadarkan diri di sampingnya.


Ia mungkin masih bisa menghindar bila membiarkan Liang Jihua, tapi kalau berusaha menyelamatkan gadis itu? Mustahil. Ada juga ide lain yang lebih kejam muncul di kepala Xika. Ia bisa menggunakan tubuh Liang Jihua sebagai perisai daging. Sayangnya, melakukan hal semacam itu bukanlah gaya Xika.


Melakukan sesuatu yang mustahil, seperti menyelamatkan Liang Jihua sambil menghindari banyak duri tajam yang datang, itu baru gaya Xika. Namun pertanyaannya, bagaimana Xika akan melakukan hal itu?


Xika menoleh dan menatap Liang Jihua yang masih tak sadarkan diri. Ia bahkan melihat Liang Jihua ada dua. Cepat-cepat Xika menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. Penglihatannya mulai fokus lagi. Dantian di tubuhnya mulai bercahaya. Star Glance kembali aktif, kali ini bahkan tanpa disadari Xika.


Tanpa mempedulikan bagaimana dirinya bisa melihat dengan jelas dan merasa kuat kembali, Xika bergegas menuju Liang Jihua dan berniat menggedong gadis buas itu di punggungnya sambil menghindar. Dalam hati Xika berharap semoga gadis itu tidak bangun secara tiba-tiba dan mendadak bahunya. Mengingat karakter Liang Jihua sejauh ini, hal itu mungkin saja terjadi.


Tapi sayangnya, gadis itu menolak disentuh. Bahkan sekalipun tidak sadar, alam bawah sadarnya tidak membiarkan orang lain, atau mungkin lelaki, untuk menyentuh dirinya. Tangan gadis itu bergerak menjauh saat Xika berniat meraihnya.


"Ck, sialan. Kenapa semua gadis bersikap seperti ini sih? Kalau bukan untuk menyelamatkanmu, aku juga tidak ingin menyentuhmu!"


Setelah menghela nafas cepat, Xika mengeluarkan kartunya. Kartu peninggalan ayahnya, bukan kartu dalam arti konotatif. Sekali lagi, ia berharap Liang Jihua tidak bangun secara tiba-tiba. Ia tidak ingin keberadaan Cosmos terekspos sebelum babak final, atau sampai babak ini berakhir.


Tapi mengingat gadis buas di hadapannya ini masih memikirkan hal remeh-temeh seperti bersentuhan itu tabu, padahal nyawanya sedang di ujung tanduk, Xika terpaksa menggunakan kartunya. Pada saat itu, satu-satunya metode yang terpikirkan Xika adalah metode yang ia gunakan pada Xingli dahulu.


Syut!


JLEB!


JLEB!


JLEB!


Xika melempar dua sampai tiga puluh kartu dan menutupi tubuh gadis buas itu. Kemudian mengangkatnya tepat waktu sebelum duri-duri tanah itu menusuk tubuh Liang Jihua. Untungnya, gadis itu tidak menolak ketika kartu Xika mendekat dan menempel. Kalau tidak, Xika mungkin hanya bisa pasrah membiarkan gadis itu ditusuk.


Tapi duri-duri yang datang bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan secara terus-menerus. Sepanjang waktu ketika duri-duri terus ditembakkan, Xika harus terus menghindar dan mengarahkan kartunya untuk membawa Liang Jihua ke tempat yang aman.


Tentunya, hal itu membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit. Xika bisa melakukannya berkat Star Glance. Samar-samar ia mulai menyadari perasaan jernih yang mendadak muncul di kepalanya berasal dari mana. Tapi ia tak tahu berapa lama Star Glance akan aktif dan sampai kapan.


Kalau sampai Star Glance berhenti dan Xika kembali merasa pusing sementara Liang Jihua masih belum sadar....... ia harus membuat gadis buas itu sadar sebelum semuanya terlambat.


Syung!


Sambil menghidar, Xika berteriak pada Liang Jihua yang masih tak sadarkan diri.


"Hoi, Gadis Buas! Bangun!"


Syut!


"Kau mau mati ya? Sekarang bukan waktunya tidur siang bodoh! Cepat bangun kalau tidak mau mati!"


Jleb!


"Sialan! Apa Northern Light Palace hanya mengajarkan murid-muridnya tidur siang disaat rekan berjuang mati-matian?!"


Entah apakah kalimat terakhir itu membangunkan Liang Jihua atau gadis itu memang sudah sadar tapi pura-pura tidur. Yang pasti, gadis itu membalas teriakan Xika dengan lantang tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja pingsan.


"Jangan menghina sekteku, kau pria lemah!"


Pada saat biasa saja, Xika tidak akan peduli apa yang dikatakan gadis buas itu, tapi saat ini ia sudah berjuang mati-matian menyelamatkan gadis itu tapi ini yang dikatakannya? Tentu saja Xika naik pitam.


"Oho? Aku pria lemah? Memangnya siapa yang daritadi tidur siang dengan santai sementara orang lain harus berjuang kesana-kemari agar tidak terkena hujan duri itu? Hah?!"


Mendengar kalimat Xika, Liang Jihua baru sadar akan sekelilingnya dan menoleh ke sana kemari. Banyaknya duri tajam yang bertebaran di sana-sini membuat Liang Jihua sadar akan apa yang Xika lakukan sedari tadi. Pria itu bukan hanya menyelamatkan dirinya sendiri tapi juga menyelamatkan ia, yang pingsan dari tadi.


Entah sudah berapa lama Xika melakukan hal itu dan bagaimana cara ia melakukannya. Tapi yang ada di kepala Liang Jihua bukanlah itu sekarang, melainkan betapa ia merasa bersalah telah memaki bahkan menghina Xika.


"A-aku..........m-maaf......."


Xika tidak terlihat peduli dengan reaksi Liang Jihua. Lagipula ia menolong gadis itu untuk dirinya sendiri. Kalau gadis itu terliminasi, maka ia harus mengalahkan peserta lain seorang diri yang akan semakin berat tanpa adanya rekan.


"Sebarkan hawa dingin. Buat dinding ini membeku. Aku akan menembusnya."


Liang Jihua terbengong sesaat, kemudian tersadar bahwa Xika sudah mengucapkan kalimat yang sama sebelumnya. Ia mengabaikan rasa pusing di kepalanya dan berfokus membekukan dinding yang mengurung mereka. Meskipun ia merasa pusing, tapi tampaknya Xika menderita luka yang lebih parah dibanding dirinya.


Rasanya Xika sempat mendorongnya dari teknik gabungan musuh. Setelah itu ia bimbang sesaat kemudian sesuatu yang keras menghantamnya dan segalanya menjadi hitam. Ketika bangun, ia sudah berada di tempat ini. Kalau tidak salah Xika sempat berhadapan dengan teknik lawan secara langsung. Apa darah di perutnya itu adalah hasil dari teknik lawan?

__ADS_1


Sshhhh!


Krrrtttt!


"Teruskan. Jangan berhenti."


Xika mengamati sekeliling dinding yang mengurung mereka. Duri-duri masih muncul, tapi lebih lambat dibanding sebelumnya berkat es Liang Jihua. Selain itu, es Liang Jihua membekukan dinding ini sampai luar secara perlahan. Ketika waktunya tepat, Xika tinggal mengebor dinding ini dengan elemen angin dan hancurlah dinding ini.


"Pada hitungan ketiga, aku akan melubangi dinding ini. Bersiaplah untuk menerjang musuh."


Liang Jihua hanya bisa mengangguk dalam diam. Setelah rasa bersalah, perasaan berikutnya yang muncul di hatinya adalah amarah. Dalam hati ia berjanji, begitu keluar dari dinding terkutuk ini ia akan mneghajar habis-habisan orang yang menghantamnya hingga pingsan.


"Satu......"


Xika mengubah Space Shifter menjadi tongkat dan menarik kembali kartu-kartunya.


"Dua........"


Angin mulai berkumpul di ujung Space Shifter dan berputar sehingga terlihat seperti mata tombak yang tengah berputar.


"Tiga!'


SYUSH!


DRRTT!


BLAR!


Xika berhasil melubangi dinding sesuai rencana. Liang Jihua langsung melompat maju sambil melemparkan jarum esnya ke segala arah. Dari dalam gua, Xika mendengar teriakan kaget dan tidak percaya dinding hasil teknik gabungan mereka berhasil ditembus.


"Apa?! Ia berhasil menembus dinding kita?!"


"Tidak mungkin! Apa mereka berdua lebih kuat dari gabungan kita berduapuluhempat?"


Selain itu, Xika juga mendengar jeritan kesakitan yang tidak perlu ditebak lagi siapa pelakunya. Ia tersenyum tipis kemudian memejamkan matanya. Telapak tangannya ia arahkan ke luka bekas teknik lawan sebelumnya. Perlahan, air mengalir keluar dari telapak tangannya dan meresap ke dalam perutnya.


Ssrrr!!


Set!


Xika menghentikan penyembuhannya. Meskipun tidak pulih seluruhnya, tapi ini sudah cukup. Kalau terlalu lama di dalam gua bisa-bisa Liang Jihua akan curiga.


Syut!


Jadi Xika juga ikut melangkah keluar dan melihat Liang Jihua tengah dikepung musuh habis-habisan. Sekalipun begitu, gadis tersebut tidak tampak takut. Malahan ia terlihat semakin bersemangat. Matanya berkilat-kilat menengok ke sana kemari entah mencari apa.


Sekitar sepuluh orang mengepung Liang Jihua dan menyerangnya dari dekat menggunakan pedang, tombak, atau senjata lainnya yang terbuat dari tanah. Sementara sisanya mendukung kawan mereka dari jauh dengan mengirimkan pisau atau panah tanah ke arah Liang Jihua.


Syung!


Bret!


Sebuah pisau tanah berhasil menyerempet lengan Liang Jihua. Kemudian satu lagi di pundaknya. Dan beberapa lainya berhasil menorehkan luka gores di tubuh Liang Jihua. Tapi gadis itu masih menolak untuk menyerah. Sebelumnya, Xika telah menolongnya sekalipun terluka berat.


Jadi kali ini ia tidak akan mundur sebanyak dan sehebat apapun musuhnya. Ia merasa malu pada Xika karena telah menunjukkan kelemahannya. Di dalam dinding itu, kalau Xika berniat melakukan hal lain padanya, mungkin tidak akan ada yang tahu.


Tapi ia juga merasa marah, pada dirinya sendiri. Di tengah pertempuran berlangsung, bisa-bisanya ia bimbang? Dan lagi, hal itu malah membuat beban rekannya semakin bertambah. Kalau Xika bisa menyelamatkan dirinya padahal sedang terluka parah, bagaimana dirinya bisa menyerah padahal hanya mengalami pusing sedikit saja?


Di seberang sana, Xika tentu saja tidak tahu apa yang Liang Jihua pikirkan. Tapi ia tidak akan tinggal diam saja melihat rekannya dikepung seperti itu. Ia menutup matanya berkonsentrasi keras mengendalikan angin. Kemudian, matanya terbuka dan berhembuslah angin.


Bersamaan dengan terbukanya mata Xika, gerakan lawan-lawan Liang Jihua jadi semakin lambat, sementara pergerakan gadis itu semakin cepat.


Xika perlu berkonsentrasi beberapa saat untuk mengarahkan angin tanpa menggunakan tangannya. Biasanya, ia mengarahkan tangannya ke arah tertentu untuk memudahkan menentukan target. Tapi kali ini, ia merasa akan membutuhkan tangannya untuk hal lain.


Syut!


Bret!


Jleb!

__ADS_1


Liang Jihua semakin menggila karena dirinya semakin cepat sementara lawan-lawannya semakin lambat. Ia mulai membabi buta menyerang lawannya dengan belati es yang ia pegang. Hal yang membuat Xika mengerutkan kening di seberang sana.


"Jangan membuang tenaga! Mereka itu kultivator tanah, luka yang kau berikan itu tidak ada apa-apanya. Gunakan hawa dingin dulu sebelum melukai mereka, kemudian-"


Sebuah tendangan mengarah ke kepala Xika memaksanya berhenti bicara. Xika menunduk dan berguling ke belakang lawan kemudian memberikan tendangan balik.


BUK!


Xika merasa kakinya menyentuh sesuatu yang keras, lebih seperti batu alih-alih tubuh manusia. Ketika menoleh, ia menemukan perisai tanah mengambang menahan tendangannya dari tubuh lawan.


"Hohoho......rupanya kepalanya itu kau. Pantas saja teknik gabungan penjara tanah berhasil kau pecahkan. Kau memang hebat."


"Terima kasih, tapi aku tidak butuh pujian dari musuh!" Xika meludah setelah bicara kemudian mengayunkan kakinya.


DUAK!


Lagi-lagi perisai musuh berhasil menghadang tendangan Xika, membuatnya berdecak kesal. Sementara musuhnya, Tu Shi kalau tidak salah, tengah tertawa bangga.


"Hahahaha.......apa kau tidak tahu spesialis elemen tanah? Tanah itu keras dan kuat. Kau tidak akan bisa menghancurkan perisaiku berapa kalipun kau menendang. Selain itu, ketika perisaiku menghantam tubuhmu, maka tamatlah sudah, seperti yang terjadi pada gadis itu beberapa saat lalu."


Liang Jihua yang sedang bertarung mendengar sepotong pembicaraan Tu Shi dan Xika. Rupanya, pria itu yang membuatnya pingsan. Tapi sebelum Liang Jihua menerjang Tu Shi dengan gegabah, Xika sudah berteriak duluan.


"Habisi mereka, baru kau boleh kemari. Itupun kalau aku belum membereskannya."


Kalimat itu terdengar arogan, baik oleh Tu Shi maupun Liang Jihua. Tapi setidaknya, Liang Jihua akan berfokus pada pertempurannya sendiri selama beberapa saat kedepan. Jadi Xika juga bisa berfokus menghadapi lawan didepannya ini. Ia tersenyum pada Tu Shi.


"Aku tahu tanah memang keras dan kuat. Tapi selain itu......"


Xika menghilang dari pandangan Tu Shi dan muncul kembali di belakangnya sambil bicara tepat di samping telinganya.


"Aku juga tahu bahwa tanah itu berat dan lambat."


SET!


"S-sejak kapan.....?"


BUAK!


Kali ini, tendangan Xika hanya berhasil ditahan oleh lengan Tu Shi. Tapi itupun sudah cukup untuk membuatnya terhempas beberapa meter. Namun, Xika tahu bahwa serangan seperti itu tidak akan berdampak apa-apa pada Kultivator Tanah yang memiliki pertahanan kuat.


"Hahaha......kau memang cepat, tapi kau lemah! Tendanganmu itu bahkan lebih lemah daripada gigitan nyamuk!"


"Cih!" Tidak menyerah, Xika mengayunkan tangannya beberapa kali dan mengirimkan tebasan angin pada Tu Shi.


WHOSH!


WHOSH!


WHOSH!


BLAR!


BLAR!


BLAR!


Sayangnya, tebasan-tebasan itu tidak berhasil menorehkan luka apapun selain goretan di perisai tanahnya Tu Shi.


"BAHAHAHAHAHA!" Tampaknya Tu Shi sudah tak mampu bicara lagi melihat serangan Xika yang terlampau lemah. Liang Jihua yang masih bertarungpun mengerutkan keningnya melihat hal itu. Kalau ia belum bertarung bersama Xika sebelumnya, ia pasti akan meneriakkan kata-kata makian melihat betapa lemahnya serangan Xika itu.


Tapi setelah bertempur bersama, Liang Jihua sadar bahwa Xika melakukan segala hal bukan tanpa perhitungan. Orang yang tertawa di awal biasanya akan kalah. Jadi untuk kali ini, Liang Jihua menutup mulutnya rapat-rapat sambil menantikan apa yang akan dilakukan Xika berikutnya.


Setelah memberikan tebasan berturut-turut, Xika tampak kelelahan. Nafasnya tidak teratur, tangannya bertumpu lutut berusaha untuk tidak jatuh.


"Kau.......apa tubuhmu juga sekeras tanah.....?" tanya Xika sambil mengatur nafasnya perlahan.


"Hahahaha......tentu saja! Kuberitahu kau, tidak ada yang lebih keras daripada tanah! Tanah adalah materi paling keras di dunia ini!"


"Oh? Terima kasih kalau begitu."

__ADS_1


Mendadak ekspresi kelelahan Xika digantikan oleh senyum penuh kemenangan yang terpampang lebar di wajah Xika.


"Kau baru saja mengkonfirmasi rencanaku akan berjalan dengan baik."


__ADS_2