Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-207


__ADS_3

Heiliao hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Huo Bing. Tampaknya burung itu benar. Heiliao memang tidak percaya pada Xingli, bukan pada Xika.


"Kawan, mereka menciptakan masalah bersama, jadi mereka menyelesaikannya bersama juga. Lagipula gadis itu tidak keberatan menanggung rumor bersama Xika dan berniat menyelesaikan masalah ini bersama, bukan meminta Xika melakukan semua tanggung jawab. Bukankah gadis itu cukup baik?"


"Apa yang kau katakan itu tidak semuanya benar," kata Heiliao, "apa kau lupa apa yang kita lihat ketika datang ke kamarnya? Gadis itu memeluknya, bukan Xika yang memeluknya. Jadi yang menciptakan masalah adalah gadis itu sendiri, bukan mereka berdua. Lagipula aku tak akan menganggapnya baik, tidak pada mereka yang memiliki kekuatannya."


Samar-samar Huo Bing menebak bahwa 'kekuatan' yang dibicarakan Heiliao adalah lubang putih milik Xingli. Padahal kelihatannya mirip sekali dengan kemampuan Heiliao sendiri. Kenapa malah bertengkar?


"Yah, tapi Xika yang memilih untuk tidak meninggalkan gadis itu bukan? Itu juga bisa dibilang salah satu penyebab hal ini. Kalau ia keluar kemarin malam, mungkin tak akan menyebabkan masalah sebesar ini, hanya sebatas rumor saja."


"............."


Heiliao tak berkata lagi. Tapi ekspresinya tetap waspada memperhatikan Xingli. Kalau gadis itu melakukan sedikit saja sesuatu yang mencurigakan, maka ia akan bertindak.


Huo Bing menyadari tatapan Heiliao. Kemudian ia menghela nafas.


"Hei, Serigala Gosong. Tahukah kau bahwa bukan kau saja yang patah hati seorang?"


Heiliao mengerutkan keningnya. Samar-samar mengingat. "Ya, kurasa aku ingat sedikit kisahmu."


"Dengar, aku tahu kisahmu tidak berakhir membahagiakan, begitu juga denganku. Tapi kurasa kisah kita berakhir berbeda, alasan yang berbeda. Kalau tidak salah, intinya wanita itu meninggalkanmu?"


Heiliao mengangguk masam membenarkan.


"Yah, kisahku agak berbeda. Wanita itu meninggal, karena diriku." Huo Bing melihat wajah Heiliao yang tercengang sebentar sebelum melanjutkan, "Ia mengorbankan dirinya untukku. Ada-ada beberapa orang yang mengejar kami. Harusnya aku bisa mengalahkan mereka, tapi-tapi aku tak melakukannya. Yang kulakukan hanyalah berdiam diri sampai wanita itu mengorbankan dirinya. Barulah aku sadar dan melawan. Tapi semuanya sudah terlambat, kau tahu.


Aku tahu kau memiliki sejarah buruk dengan gadis itu, jadi ketika Xika cukup dekatnya kau merasa was-was. Sebagian karena hubungan burukmu dengan gadis itu, sbeagian lagi karena dirimu tak mau Xika mengulang kisahmu. Bukan begitu?


Aku tak menyalahkanmu, tapi aku juga tak ingin Xika mengulang kisahku. Terlambat menyadari bahwa gadis yang ada disampingmu adalah yang terbaik, dan hanya menyadarinya ketika semua itu sudah terlambat, kau tahu. Jadi bagaimana kalau kita mengawasinya dulu sementara? Jujur, aku tak ingin kisah Xika berakhir sama dengan salah satu dari kita. Aku berharap kisahnya berakhir bahagia.


Jadi aku berharap ia bisa melakukan semuanya perlahan secara alami, tanpa ada campur tangan kita di dalamnya. Tapi kalau ia mulai menunjukkan tanda-tanda akan berakhir seperti salah satu kisah kita, barulah kita bertindak. Bagaimana?"


Heiliao diam. Tampaknya ia memikirkan baik-baik apa yang dikatakan Huo Bing. Matanya berganti-ganti menatap Xika dan Xingli. Ekspresinya mengeras tiap kali melihat Xingli. Akhirnya ia menarik nafas panjang.


"Baiklah. Akan kucoba. Tapi kalau sampai gadis itu membuat Xika kecewa, aku sendiri yang akan memotong kepalanya." Mata Heiliao berkilat penuh tekad, tanda bahwa ia akan melakukan apa yang ia katakan.


Huo Bing tersenyum kecil. Ia menepuk punggung Heiliao.


"Lagipula kalau kita terus-terusan ikut campur, bisa-bisa ia menjadi biksu." ucap Huo Bing membayangkan Xika dengan kepala botak dan berjalan meminta sedekah yang menolak untuk menikah karena patah hati.


Heiliao tertawa kecil mendengar ucapan Huo Bing.


Kemudian pandangan keduanya mengikuti sepasang pendekar yang bertarung melawan seluruh penghuni Jade Village. Keduanya membentuk kombinasi yang bagus, sekalipun mereka belum pernah bertarung bersama sebelumnya. Pertarungan melawan Black Scorchpion sebelumnya tidak dihitung karena keduanya bertempur sebagai individu, bukan sebagai tim.


Akhirnya, pertarungan selesai. Dan yang berdiri terakhir adalah Xika dan Xingli. Keduanya berhasil mengalahkan seluruh penghuni Jade Village. Kondisi Xika tidak terlalu bagus selesai pertarungan. Bajunya robek disana-sini, dan ia mengalami banyak luka gores. Tapi hanya penampilannya saja yang buruk, kondisi sebenarnya masih baik-baik saja.


Sementara Xingli, penampilannya masih lebih baik dari Xika. Ada beberapa luka gores, tapi tidak sebanyak Xika. Meskipun begitu, siapapun yang melihat Xingli pasti akan merasa sakit hati. Gadis secantik Xingli tidak cocok dengan luka gores, itu merusak penampilannya. Tapi gadis itu sepertinya tidak peduli.


"Lihat, mereka berhasil bukan? Kau harus melepasnya agar ia bisa berkembang." ucap Huo Bing seolah-olah Xika adalah anak burung yang belajar terbang.


Xika berjalan mendekat dengan senyum di wajahnya. Ia melewati tumpukan penghuni Jade Village yang kini sudah tak sadarkan diri. Xingli mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Yah, mau kemana kita sekarang?" tanya Xika riang, seolah orang-orang yang tergeletak tak sadarkan diri tidak ada hubungannya sama sekali.


"Hm, menantang Seratus Besar? Terakhir kali kau menantang sampai peringkat berapa ya?"


"Ah, ya. Entahlah. Ayo kita cari mereka."


Tapi ternyata Xika tak perlu mencari karena sudah banyak orang berkumpul di depan Jade Village. Sepertinya semua orang di akademi sudah tahu tentang rumor itu. Kebanyakan yang datang membawa senjata dan aura siap bekumpul. Salah seorang dari mereka berteriak.


"Bajingan mana yang berani menodai dewiku? Keluar sekarang! Atau kuhancurkan pintu rumahmu!"


Xika saling pandang dengan Xingli. Sementara Huo Bing dan Heiliao sudah membuat keputusan tak akan ikut campur dalam pertarungan mereka. Kecuali ada beberapa yang diluar batas Xika, seperti para elder, barulah mereka akan turun tangan.


"Sepertinya ini akan jadi hari yang sibuk." ucap Xika sambil berjalan menuju pintu depan.


Pria yang berteriak itu sudah hampir menghancurkan pintu masuk Jade Village ketika Xika keluar bersama Xingli. Untuk sesaat, pria itu terpana melihat Xingli. Kemudian tatapannya berubah menjadi amarah. Ia selalu mengejar Xingli selama ini, tapi selalu diabaikan. Lalu seorang bocah antah berantah tiba-tiba muncul dan merebut kekasih hatinya? Kalau ia tak bisa memiliki Xingli, maka tak ada yang bisa memilikinya.


"Apa kau yang menodai dewiku?" tanya pria itu yang sebenarnya tidak perlu. Xika keluar bersama Xingli sudah bisa dianggap sebagai klarifikasi bagi semua yang hadir bahwa Xika mengakui perbuatannya.


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan." sahut Xika tenang.


"Tampaknya kau tak mau bicara. Tadinya aku berniat mengampunimu selama kau berlutut padaku. Tapi aku berubah pikiran. Kini aku tak akan mengampunimu apapun yang kau lakukan."


Xika menatap pria itu seakan-akan ia orang gila. Memangnya siapa dia? Kenapa Xika harus meminta ampunannya?


"Jadi," pria itu bicara lagi, "Kau mau kemari baik-baik atau aku harus menyeretmu paksa?"


Xika mengerutkan keningnya. Pria itu makin aneh. Kenapa pula ia harus menuruti pria itu?


"Tampaknya aku harus menyeretmu paksa. Baiklah. Biar kuajari kau apa hal yang boleh dan yang tidak boleh kau lakukan." pria itu menyeringai keji. Ia sudah mempersiapkan berbagai rencana untuk menyiksa Xika.


Xingli melompat dan memberikan tebasan mendatar di dada pria itu.


CRASH!


TES!


"A....Nona, kuperingatkan kau, aku ini peringkat 37, sebaiknya kau-"


Belum selesai pria itu bicara, Xingli kembali menyabetkan pedangnya. Pria itu menghindar dengan susah payah karena ia tak mau menyakiti Xingli.


"Nona, aku bermaksud baik-"


SYUT!


"Tujuanku hanya pria itu-"


SLASH!


"Nona-"


WHUSH!

__ADS_1


Tampaknya pria itu tidak ingin bertarung dengan Xingli. Tapi Xingli tidak peduli. Ia terus-terusan menyerang pria itu tidak peduli apa yang pria itu katakan. Lama-kelamaan, kesabaran pria itu mulai habis.


TRANG!


Ia berhasil menangkis pedang Xingli dengan punggung tangannya yang mengeras.


"BAH! Dasar gadis sialan! Aku sudah berusaha bersikap sopan, tapi kau yang memaksaku."


Akhirnya pria itu mulai menyerang. Ia tak lagi menghindar. Dan harus Xika akui, pria itu cukup hebat. Tampaknya ia tidak berbohong tentang peringkatnya. Tapi Xingli juga tidak bisa dianggap remeh. Gadis itu cepat, dan tiap tebasannya mematikan.


Si peringkat 37 itu cukup kewalahan menghindari serangan Xingli sekalipun ia sudah mulai menyerang. Ia merupakan pengguna elemen tanah. Lambat tapi kuat. Sekali saja Xingli kena serangannya, maka berakhir sudah.


DUAK!


Tapi sayangnya pria itu berhasil menyarangkan sebuah serangan. Xingli terhempas hingga menabrak tembok di belakangnya sampai retak. Perut Xingli terasa amat sakit. Ia kesulitan berdiri. Sementara pria itu mendekat perlahan.


"Hah! Rasakan itu! Kau pikir kau hebat? Selama ini semua orang menyukaimu dan tak ada yang berani melakukan apapun padamu, jadi kau pikir kau yang paling hebat ya? Biar kuberi pelajaran kau. Ingat ini, di atas langit masih ada langit."


DUAK!


Pria itu melayangkan tinjunya tapi Xingli berhasil mengelak ke samping.


"Hanya itu yang kau bisa? Menghindar? Melarikan diri? Di mana putri es yang selalu mengacuhkanku, hah?! Kali ini akan kubalas kau! Akan kubuat kau berlutut menjilati kakiku! Rasakan sakitnya hatiku selama ini!"


BLAR!


Xika tidak bisa menahan auranya. Auranya meledak begitu saja. Ia sangat marah sampai-sampai membuat beberapa orang yang berada di dekatnya merasa sulit bernafas. Kalau tidak melihat tatapan Xingli, pasti Xika sudah maju memberikan pelajaran pada pria bajingan itu.


Kalau Xika yang tidak dihina saja sebegitu marahnya, maka bagaimana dengan Xingli yang dihina saat itu?


Kejadiannya mirip seperti Xika. Auranya meledak begitu saja. Tapi auranya tidak membuat orang sulit bernafas seperti Xika. Aura Xingli membuat semua yang ada disekitarnya menggigil kedinginan. Entah bagaimana, sepertinya suhu udara mendadak turun drastis.


"HAH!"


Tapi pria itu tak menyadari perubahan Xingli. Ia menghantamkan tinjunya yang terselimuti batu dan membuat pedang Xingli patah, hanya menyisakan gagangnya saja.


KRETEK!


Udara semakin dingin ketika Xingli berdiri. Ia menatap gagang pedang yang patah di tangannya. Kemudian sebuah lapisan tipis menutupi gagang itu dan perlahan membuat bilah pedang yang baru. Bilah itu tampaknya terbuat dari es.


Xingli menoleh dan membuat si peringkat 37 itu mendadak merasakan takut dalam hatinya. Tapi ia tak menunjukkannya.


"Ma-mau apa kau?"


Tapi kemudian pria itu sadar bahwa ketakutannya tak beralasan. Xingli sudah terkena pukulannya. Tak banyak yang bisa berdiri lagi setelah terkena pukulannya. Xingli pasti menggunakan seluruh tenaganya untuk berdiri. Ia tak perlu takut. Satu hantaman lagi dan namanya akan terkenal sebagai pria yang berhasil menaklukan Xingli.


Jadi ia mulai mengangkat tangannya. Tapi kenapa tangannya tak bergerak? Ia menoleh dan menemukan kedua kaki dan lengannya beku tertutupi es entah sejak kapan.


"A-apa yang....."


Xingli membuat gerakan meremas dengan tangannya, dan seketika itu juga terdengarlah jeritan kesakitan dan menyedihkan.

__ADS_1


PRANG!


"Ice Jade Magic of Valkyrie."


__ADS_2